Regrets and Revenge chapter 1

Premiere. Bismillah...

***


"Mungkin Khansa bisa bantu Biru mengerjakan semua proposal ini?" Tanya Ibu Ranti menghentikan langkah seorang gadis dengan rambut kepang samping yang terlihat buru buru. Gadis itu menggerutu. Kenapa harus sama Biru lagi, sih?

Gadis itu berbalik lalu tersenyum kecut. "Sasa banyak kerjaan Bu..." Ujarnya. Ia lalu melirik sekilas ke arah cowok dengan tinggi sekitar 175cm dan iPhone 5 hitam yang digenggamnya erat. Cowok itu berdehem.

"Iya, Bu. Pevita kan sekarang jadi ketua eskul Jurnalistik. Dia gak ada waktu buat bantu anak basket. Pasti tugasnya banyak. Iya kan, Vi?" Tanyanya dengan senyum separuh khas milik Biru. Ibunya menatap gadis itu dengan tatapan berharap. Gadis itu tersenyum tak tega tapi ia tetap tak mau melakukannya. Baginya ini sama saja membuka luka yang tak mau ia sentuh lagi.

Gadis dengan nama lengkap Khansa Pevita Raisana atau yang biasa disapa Pevita adalah ketua eskul Jurnalistik SMA Bakti Wardhani. Ia jago menulis essay dan memotret. Keahliannya itu membuat banyak guru menyukainya terutama Ibu Ranti. Ibu Ranti lebih senang memanggil Khansa dibandingkan Pevita.

Bukan hanya guru yang menyukai gadis dengan dua lesung pipi manis di wajahnya tapi teman teman sekolahnya pun juga. Pribadi Pevita yang manis, rajin dan ramah membuat ia disukai banyak orang. Tak terkecuali cowok yang berdiri di hadapannya.

Sejujurnya Pevita tak mau memandang ke arah cowok ini lagi. Hatinya sudah terlalu sakit untuk mengingat betapa sayangnya ia pada cowok itu namun ia disia siakan. Cowok itu buta akan kesenangan. Buta akan gadis lain yang tampaknya lebih cantik.

Biru Samudra Nusantara menatap Pevita dengan tatapan tak biasa. Pevita tak bisa menerjemahkan apa arti tatapan itu. Biru selalu misterius dan ini hal yang dulu membuat Pevita tergila gila pada Biru seorang. Tapi kini semuanya telah berubah. Pevita kapok berusaha positive thinking pada Biru.

Ibu Ranti berdehem dan lamunan Pevita pun buyar. Biru masih memandangi gadis itu dengan tatapan misteriusnya. Pevita menggeram pelan.

"Ibu selalu berharap bisa ngandelin Khansa, lho.. Khansa kan kebanggan Ibu." Ujarnya. 
"Kenapa Ibu minta tolong sama saya kalo Biru sekarang udah punya gadis lain yang bisa ngebantu dia lebih baik daripada saya?" Tanya Pevita dengan emosi tak terkontrol.
Biru mendelik. "Apa maksud lo sih, Vi?"

Pevita tak menghiraukan Biru sementara Ibu Ranti terus meminta Pevita untuk membantu Biru. Tekad Pevita bulat. Ia tak mau membantu Biru. Tapi tiba-tiba Biru menatap Pevita begitu dalam. Bola matanya yang coklat seakan meleleh dipandangan Pevita. Pevita tersentak. Ia tak boleh luluh.

"Maafin Sasa Bu.. Sasa gak bisa.. Sasa permisi dulu ya Bu.."

Belum sempat Ibu Ranti bicara ia langsung berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang. Ia takut pendiriannya goyah jika sempat menatap lagi mata cowok yang pernah menjadi nyawa dari dunianya..

***

"Vi, lo kenapa sih harus gitu?" Tanya Biru yang tiba-tiba sudah duduk di depan Pevita. Gadis itu tersentak kaget.
"Mau ngapain lagi sih, Bi? Gue udah bilang gue gak bisa. Gak usah maksa." Sergah Pevita sedikit kasar.
"Gue kira lo akan profesional masalah kerjaan, Vi.. Nyatanya lo gini."
"Gue gak mau ngehancurin proposal lo, Bi. Mangkanya gak gue bantuin."
"Kenapa sih Vi lo masih gini sama gue? Apa karena gue sama Resha?" Tanya Biru dengan suara bergetar. Pevita mendengus pelan.

"Lo tanya sama diri lo. Lo tanya sama temen temen lo. Lo tanya sama dunia lo. Siapa yang bikin kita berdua berantakan? Pasti bukan gue orangnya."

***

"Biru gak ikut jalan sama kita, Vit?" Tanya Salma sahabat karib Pevita. Pevita yang sedari tadi tampak gelisah menunggu tak bereaksi apa apa selain mengigit bibirnya.

"Dia sibuk banget ya setelah aktif di Basket." Ujar Faldy, pacar Salma. Salma memukul pelan bahu sahabatnya memperingatkan pacarnya itu.
"Jangan aneh aneh.." Bisik Salma.
"Maaf deh, aku lupa.." Sahut Faldy cengengesan.

Pevita tahu tak seharusnya ia menunggu cowok yang sudah satu tahun ini menjadi pacarnya. Biru tak mungkin datang. Ia bilang ia sibuk karena ada latihan mendadak. Ia tak bisa berjanji akan datang sore ini menonton film bersama Pevita. Tapi gadis itu tetap menunggu dan berharap Biru datang.

"Udah deh Vit masuk yuk? Bentar lagi mulai. Lo gak mau kan ngelewatin adegannya Chris Pine yang hits banget itu?" Tanya Salma dengan hebohnya berusaha mengalihkan pikiran Pevita.
"Dua menit lagi ya, Sal? Maaf lho.. Apa kalian masuk duluan aja?"
Faldy tertawa. "Mana mungkin kita ninggalin sahabat kita sih, Vit.. Udah ah santai aja."

Pevita tersenyum kecil lalu kembali mengetuk ngetukan kakinya. Kemana Biru? Ia terus bertanya tanya. Jarum jam terus berputar, dua menit berlalu. Biru tak membalas pesannya ataupun menelpon gadis itu. Akhirnya Pevita pun menyerah. Ia bangkit lalu berjalan sambil merangkul Salma ke arah pintu studio.

Faldy merogoh kantongnya dan mengeluarkan struk pembelian Sistagor miliknya, Salma dan Pevita. Ketika ia mendekati konter take away, sejurus pandangannya ada dua orang yang sangat ia kenal lebih dari siapapun.

Dua orang yang tak seharusnya bersama saat ini. Dua orang yang akan menghancurkan hati seorang gadis. Faldy bergegas meraih plastik berisi 3 porsi Sistagor dan berbalik untuk mencari Salma ketika ia baru menyadari Salma dan Pevita menunggu tepat di belakangnya.

Raut wajah Pevita berubah ketika melihat cowok yang berada kurang dari 10 meter dihadapannya merangkul gadis lain. Ia kecewa. Hatinya patah seketika.

Mengapa ia harus selalu maklum dan percaya ketika cowok yang ia sayangi terus mengkhianatinya?

"Vit.. Jangan nangis lagi..."



To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}