Regrets and Revenge chapter 5

Late post. Something ruined my mind, I'm so sorry..


And thank you guys for run this far with me.

***



"Pevita?" Ujar cowok itu lirih. Pevita terdiam, ia membeku melihat mata cowok itu memerah. Wajahnya pilu seakan habis menangis. Pevita bingung apa yang harus ia lakukan melihat cowok itu duduk di sampingnya. Kenapa dia terlihat begitu sengsara?

"Aku numpahin cola ke Biru, Rak.. Hey, kamu ngapain? Sorry jadi basah.." Sahut Pevita dengan suara lembut dan canggung. Raka menarik napas dalam dalam. Wajahnya tertekuk setelah mendengar Pevita memanggil nama cowok itu. Ia menyandarkan diri lalu memutuskan untuk tidak bertanya lagi.

Biru tersenyum masam. "Tak apa, lanjutkan saja menontonnya." Mood Biru pun bertambah kacau setelah menyadari ada Raka di samping Pevita. Raka berdehem, ia seakan ingin mengusir Biru pergi dari hadapan Pevita. 

"Kamu kenapa, sih? Kok sedih gitu?" Tanya Pevita heran.
"I'm fine, Vi. Gak ada yang salah kok."
"Kalo kamu lagi gusar wajah kamu merah, kamu pasti seperti ingin menangis saking kesalnya." Cecar Pevita yang memang sudah hapal dengan tabiat Biru. Biru mendengus pelan lalu tertawa.
"Kamu masih inget ya, Vi.."

Pipi Pevita memerah, ia merasa serba salah sekarang. Di satu sisi ia ingin mengabaikan Biru, tapi di sisi lain ia merasa sangat amat penasaran akan apa yang terjadi pada cowok ini. Raka juga tampak sibuk dengan film nya. Pevita menggerutu dalam hatinya, bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.

"Aku berantem sama Resha, Vi." Kata Biru tiba-tiba. Pevita menoleh kaget.
"Hah? Lalu? Bukannya wajar orang pacaran berantem?"
"Kalo dulu sama kamu bisa dihitung jari dan manis aja kalo berantem. Kalo sama Resha, tiap hari, Vi. Aku seperti gak punya waktu untukku sendiri. Aku capek. Dia gak pengertian kayak kamu." Ujar Biru dengan nada agak kesal. Pevita mendengus pelan. Hah, tentu saja!
"Jadi kamu mau nonton dan dia gak dateng?" Tanya Pevita berusaha antusias mendengar cerita Biru.
"Iya, dia terus ngajak putus semenjak aku sibuk sama basket.."
"Dan kamu gak tau gimana caranya ngasih tau dia kalo dunia kamu bukan tentang dia aja?"
Biru mengangguk pasti, "bener! Aku capek.. Aku gak pernah ngadepin kayak gini soalnya kamu dulu pengertian, Vi.."

Pevita tersenyum kecil. "Jelaslah kamu capek, jangan ngebandingin terus, Bi.."
"Tapi mau gimana lagi, yang ini emang lebih rese daripada yang dulu."

Mangkanya jangan asal ninggalin! Gerutu Pevita dalam hati. Ia ngin sekali memaki cowok yang duduk disampingnya namun ia sadar ia tak bisa melakukan itu. Ia tak mungkin memaki Biru di depan Raka. Ia tak mau Raka merasa salah paham.

Pevita berusaha tetap tenang. Ia terus mencoba mengatur moodnya supaya tetap antusias mendengar cerita Biru. "Ya kamu sih apa apa buru buru, belum kenal betul langsung dipacarin."

Biru tersenyum kecil. Ia ingin mengiyakan perkataan Pevita namun itu sama saja membuatnya memberi tahu gadis itu bahwa Biru sangat menyesal telah meninggalkannya. Pevita belum seharusnya tahu perasaan Biru sampai cowok itu bisa menentukan apa yang akan dilakukannya.

Ia sebenarnya ingin meninggalkan Resha dan kembali pada Pevita. Ia yakin betul dalam hati Pevita, selalu dan tidak akan pernah melupakan dirinya. Tapi ia tak bisa melakukan itu sekarang karena Raka sedang berusaha mendapatkan Pevita.

Biru harus mencari cara secara perlahan tanpa diketahui Raka. Biru harus kembali mendapatkan perhatian dari Pevita. Tapi bagaimana caranya?

Film sudah mulai habis ketika handphone Biru bergetar tanda pesan masuk. Ia menghela napas panjang setelah membaca pesan itu. Ia merasa hidupnya seperti dalam sinetron.

Ghinaa Varesha Girsang (Mobile)

Maafin aku. Aku cuman gak mau kehilangan kamu.
Aku juga sayang kamu, dear.

Sementara itu Raka menyentuh jemari Pevita lalu berbisik, "kamu pulang sama aku kan?" Tanyanya dengan nada sedikit khawatir. Pevita tertawa kecil menyadari bahwa Raka takut ia akan pergi bersama Biru dan meninggalkannya. Ia mengangguk.

"Aku datang dengan mas ketos, masa pulang dengan ketua eskul basket?" Tanyanya bergurau. Raka tertawa lebar.
"Syukurlah, beli Chatime dulu, yuk!" Ajak Raka.
Pevita mengangguk. "Gantian aku yang bayarin ya.."
"Tadinya aku mau bayarin kamu, tapi yaudah deh mau gimana lagi kalo kamu maksa.."
"Aku gak maksa, Rak! Ih yaudah kamu yang bayarin hahaha."

Lampu teater sudah dinyalakan. Pevita dan Raka bergegas bangun sementara Biru masih duduk di tempatnya. Pevita berdehem, "kamu jangan galau aja, aku sedih nih liatnya.." Ujarnya sembari berjalan melalui Biru.

Biru tertawa. "Aku pengen cerita deh sama kamu, kamu bisa?" Tanyanya dengan nada penuh harapan. Raka sudah melambai pada Biru dan berjalan duluan sementara Pevita masih di belakangnya. Pevita lalu berputar dan tersenyum.

"You know when you could find me tonite, Bi. See you."

*** 

Setelah menghabiskan Chatime mereka, Raka baru mulai berbicara. Ia merasa ia harus menegaskan hubungannya dengan Pevita mengingat Biru mulai datang lagi. Raka tak meminta Pevita menjadi pacarnya sekarang, hanya saja ia ingin tahu apa perasaan Pevita.

Bagaimana pun Raka tak mau kalah saing karena kenangan yang Biru punya bersama Pevita.

Pevita tersenyum kecil melihat Ketua OSIS nya terlihat tegang sekali. "Kamu kenapa sih?"
"Aku mau tanya.. Tapi aku butuh jawaban jujur." Ujarnya.
"Gak usah sok serem gitu, ada apa, Rak?" Pevita menatap Raka keheranan.
"Vi... Mungkin gak kita lebih dari ini?" Tanya Raka akhirnya. 

Pevita terdiam. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Ia memang sudah merasa nyaman pada Raka, tapi hatinya tak bisa memberikan tempat untuk Raka secepat ini. Pevita berdehem, ia melepas ikat rambutnya untuk menutupi pipinya yang memerah.

"Aku gak minta kita untuk lebih sekarang kok, Vi." Sahut Raka yang terlihat gusar. Pevita tersenyum kecil.
"Aku gak tahu gimana caranya ngejelasin ke kamu.. Iya aku nyaman sama kamu."
Raka tersenyum lebar. "Jadi apa kita mungkin?"
"Pada saatnya, jika setelah semua yang kita lewati, aku dan kamu masih punya perasaan yang sama, jodoh pasti bertemu.."

Raka bergumam. "I love you, Vi."

Pevita menarik napas panjang. Sudah lama tak ada seorang pria yang berkata seperti itu padanya. Banyak yang mendekatinya tapi ia tak pernah benar benar merespon karena hatinya masih terpaut pada Biru. Tapi entah kenapa Raka mampu menggeser Biru sedikit demi sedikit. Pevita tersenyum kecil.

"I couldnt ask for more, Rak. Thank you..."

***

Dalam perjalanan pulang, Resha terus menelpon Biru. Biru merasa agak risih karena dalam pikirannya, ia ingin cepat cepat pulang dan menelpon Pevita. Sudah lama sekali Biru tak menelpon gadis itu.

Sesampainya di kamar, Biru langsung merebahkan dirinya dan meraih iPhonenya. 10 panggilan tak terjawab dari Resha membuat hatinya luluh juga. Biru masih ingat bahwa di hatinya masih ada tempat untuk Resha dan ia masih merasa perasaan takut kehilangan itu walaupun mulai terasa hambar.

Biru memutuskan menelpon Resha. Beberapa detik kemudian telponnya diterima oleh Resha lalu ia mulai tersenyum kecil mendengar suara manja Resha. Suara takut kehilangannya. Ini salah satu hal yang membuat Biru agak berat meninggalkan Resha. Resha seperti tak bisa hidup tanpanya.

Ia merasa seperti benar benar terikat pada gadis itu, padahal ia tidak mau seperti itu terus. Ia memang menyayangi Resha, tapi bukan berarti seluruh hidupnya harus dihabiskan dengan gadis itu. Biru menghela napas.

"Aku tadi lagi nyetir, Resh.. Sorry. Lagian kamu kenapa gak datang sih? Jangan begini terus dong, Resh. Aku tuh capek habis ngerjain banyak hal, aku selalu berusaha untuk ada buat kamu. Tolong jangan nuntut lebih terus..."
"Memangnya salah jika aku meminta sedikit perhatian dari kamu?" Tanya Resha tak mau kalah. Biru menggeram pelan.

Apa sih yang dipikirkan oleh gadis itu? Tanya Biru dalam hati. Biru akhirnya memutuskan untuk diam dan mendengarkan gadis itu mengoceh saja. Sesekali ia berdehem mengiyakan atau bilang "enggak, bukan gitu, Resh.." 

Setelah hampir 1 jam berdebat, Biru merasa lelah lalu memutuskan untuk mengakhiri percakapan itu. "Udah malem, besok kamu latihan cheers kan? Selamat tidur, sweetheart."

Biru langsung mengakhiri telponnya tanpa sempat memberi kesempatan Resha untuk berbicara. Ia menghela napas. Ia begitu lelah. Separuh hatinya ingin memaklumi Resha yang seperti itu, tapi separuhnya lagi terus membandingkan dengan Pevita.

Beberapa menit kemudian Resha mengirimi pesan pada Biru.

Ghinaa Varesha Girsang (Mobile)

Good night, Biru. I love you.

Biru tersenyum kecil namun ia tak membalas pesan itu. Matanya berlari ke jam dinding di kamarnya lalu ia segera meraih BlackBerry-nya. Ia lalu mencari nama seseorang dalam kontaknya dan bergegas memencet tombol hijau. 

Setelah beberapa kali deringan, telponpun diangkat. Suara lembut nan familier langsung membuat Biru teringat pada masa lalunya. Ia tersenyum lebar.

"10.30 pm, after you do your homework or watch your favorite movie. Every Saturday night. Am I wrong?" Tanyanya dengan penuh keyakinan. Gadis itu tertawa kecil.
"I thought you wont remember."
Biru terkekeh. "I couldnt forget you."

***

Malam Minggu yang panjang untuk Pevita membuatnya terbangun cukup siang. Alarm nya sudah berbunyi semenjak pukul 5 pagi namun ia terus memanjakan diri sampai Salma datang dan menggedor pintunya tanpa henti.

Salma langsung duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan TV di kamar Pevita. Ia mengeluarkan dua kotak makanan dan dua kaleng susu kedelai. Pevita berlari menghampiri Salma ketika mencium aroma pancake pisang buatan mama Salma. Ia menjerit.

"You'll always be my best!" Serunya sembari menyambar Pancakenya.
"How's your saturday night? Dia cerita apa aja?" Tanya Salma penasaran. Pevita tertawa kecil. Tadi malam ia baru selesai telponan dengan Biru sekitar pukul 2 pagi dan ia langsung mengirimi Salma pesan untuk datang ke rumahnya pagi ini. 

Pevita dan Biru bercerita banyak hal. Bukan hanya tentang Resha atau Raka, namun tentang masa lalu mereka juga. Biru terus memancing Pevita. Hal itu membuat Pevita tak tahan dan meladeni bahasan Biru. Salma terkekeh setiap kali Pevita menyebutkan betapa ia bisa mendengar Biru yang begitu menyesal memilih Resha.

"Then in the end of his late night call, he asked me..."
"Nanya apa?"
"Do you ever miss me, katanya gitu. And I said, you dont know how it feels. Dia menghela nafas dan bilang, I'm sorry, if I could go back, maybe it will change anything. Tapi gue gak jawab apa apa.. Gue bingung."
"Dia jelas jelas pengen lo balik, Vi." Ujar Salma kesal.
"I know. Gue tuh masih sayang sama dia, Sal. Tapi gue gak suka kalo dia kayak gini.."
Salma mengerutkan dahinya. "Jadi setelah apa yang dia lakuin ke elo, lo mau balik gitu?"
"Tapi...."

"He doesnt deserve you."
"Tapi kalau setelah semua ini dia malah berubah dan minta gue kembali...." 

Salma menarik napas. "Unrespect. Gak tahu diri."


To be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}