Regrets and Revenge chapter 6

When you find somone who looks like your special one in the past, but he's got something different with the old one, you're curious of him, you tried to know him more, he's interesting and you may fall in love but...

Are you in love with him because he is he or he reminds you of him?

***


Resha duduk di salah satu kursi kedai J.Co sambil tersenyum masam. Ia baru saja selesai latihan bersama klub basket dan anak Cheers. Walaupun ia sekarang sedang menunggu Biru pergi ke ATM, hatinya tetap saja tidak sebahagia biasanya.

Biru terlihat terpaksa. Itu yang bisa Resha simpulkan sejak beberapa saat belakangan ini. Resha tahu betapa sibuknya Biru dan ia juga mulai menghargai atas usaha Biru untuk tetap memperhatikannya. Tapi Biru sudah tak setulus dulu lagi...

Resha mencoba mengalihkan segala pikiran negatif tentang Biru namun hatinya terus mengoceh bertanya tanya. Apa yang sebenarnya membuat Biru seperti ini? Apa karena Biru lelah saking ia sibuknya? Atau Biru sudah lelah pada Resha? Atau Biru sudah dapat penggati?

Resha menggeleng cepat menolak pemikirannya. Biru pasti sangat menyayanginya. Resha tahu itu. Tangan Resha merogoh tas hitam dari Victoria Secret miliknya yang ia dapat saat ulang tahun. Ia mengeluarkan iPhone milik Biru yang sejak tadi Resha ambil secara diam diam.

Resha mengetik perlahan password yang dulu Biru berikan. Ia tersenyum kecil saat menyadari masih sama, 1802 -inisial nama Resha dan Biru. Resha tahu ini tidak sopan tapi jemarinya bergerak menyentuk aplikasi Line.

Resha memutuskan melihat kontak Line milik Biru. Nama Resha, Faldy, Rendy dan Mamanya Biru masih berada di grup favorit. Sambil menggigit donatnya jemari Resha pun bergerak ke bagian chat. Seketika donat milik Resha jatuh saat menyadari hanya ada 2 chat yang tetera disana. Chat paling atas menyesakkan dada Resha. Chat paling atas mematahkan semua kepercayaannya.

Resha tersenyum kecil menyadari betapa menyedihkannya ia sekarang. Ia baru sadar betapa kuatnya hati mereka, betapa kokohnya benteng perasaan yang tak mungkin Resha hancurkan. Hati Resha hancur berkeping keping sampai tak terasa masih berada di tempatnya lagi.

Ia sadar di mata Biru, Resha bukan apa apa dibandingkan gadis ini.

***

Biru tersenyum kecil ketika Pevita terus berusaha menenangkannya setelah ia bercerita panjang lebar tentang Resha. Biru tak menyangka Pevita masih perduli padanya. Hati Biru mendadak kacau, ia terus teringat pada masa lalunya.

Ia ingin sekali meminta Pevita kembali namun sepertinya tak ada jalan untuk kembali. Pevita terus menyemangatinya untuk berjuang bersama Resha namun apa yang ia lakukan malah membuat Biru ingin cepat cepat meninggalkan gadis itu...

Dan memperjuangkan kembali Pevita. Biru terkekeh saat pemikiran untuk kembali bersama Pevita muncul di benaknya. Biru baru sadar, hatinya memang tertinggal pada Pevita.

"Iya Vi, aku pasti berusaha kok.. Tapi kalo pacaran dan hatiku udah di dia, aku capek juga.." Keluh Biru. Pevita menghela nafas.
"Kebiasaan kamu berhenti tanpa memperjuangkan sampe akhir."
"Yaa.. Mau gimana lagi. Eh bentar lagi Serah Terima Jabatan ya ke angkatan baru?" Tanya Biru mengalihkan pembicaraan. Pevita bergumam.
"Mm, aku mungkin ngadain setelah pameran dari divisi Photography selesai. Kalo Basket gimana nih Mas Ketum? Pasti nungguin event lomba Nasional itu kelar."
Biru terkekeh. "Tau aja sih kamu, lombanya mulai hari Senin."
"Kamu udah kelas 12 masih aja suka dispen.."
"Aku kan emang gak suka sekolah, yang suka sekolah kamu. Hahaha. Kamu mau nerusin kemana, Vi? Masih jurusan Hukum di UI?"
"Iya, kalo Biru jadi ke Bisnisnya?" 
"Jadi, aku mau ngambil di UI kayaknya." Sahut Biru ragu ragu.
"Lho kok UI juga? Pindah haluan?" Tanya Pevita heran.

Biru tersenyum kecil. "Biar ketemu sama kamu lagi..."

"Kamu sadar gak sih kamu punya cewek?" Tanya Pevita lirih. Biru bergumam.
"Tapi gak tahu kenapa aku lebih nyaman ngobrol sama kamu."
"Sebagai teman ya, Bi? Aku gak mau ngerusak hubungan orang. Apalagi kamu."
"Emangnya kalo aku gak punya pacar, boleh lebih dari teman?" Goda Biru.

Pevita terdiam. Skakmat. Ia tak tahu harus bicara apa.

"Oh iya.. Pevita kan sekarang udah sama Ketos ya. Kelasnya sebelahan, sih."
"Berisik, aku cuman temenan aja sama Raka. Dia baik, pinter, gak suka bolos kayak kamu."
Biru mendecak kesal. "Ya iyalah gak suka bolos, pasti jaga image tuh! Namanya juga Ketos."
"Ya kamu punya jabatan Ketua Eskul Basket plus Kapten Basket nya malah bolos bolos aja. Gak tahu diri." Ujar Pevita sambil tertawa. Biru pun ikut tertawa.
"Emangnya cowok yang Ibu Ketum Jurnal mau tuh gimana sih? Mau tau dong..."
"Yang jelas bukan kayak mantanku, Mas. Mantanku malesin." Jawab Pevita jutek. Biru mengerucutkan bibirnya.

Pevita terdiam lalu tersenyum kecil, "mantanku matanya bagus sampe aku selalu iri sama dia, jadi aku males lagi liat matanya. Pengen aku ambil buat mataku."
"Lebay banget parah!" Biru dan Pevita tertawa bersama.

"Vi.. Aku boleh nyanyi gak?" Tanya Biru ketika teringat dulu mereka berdua sering sahut sahutan lagu. Pevita bergumam mengiyakan.
"Go ahead, toh kamu yang telpon aku. Pulsa kamu yang abis ntar."
"Hahaha, dengerin ya..."



Biru menarik nafas panjang, "I couldn't forget you, Vi."

"Aku... juga, Bi."

***

Biru duduk di depan Resha sambil berusaha menghilangkan ingatan akan obrolannya tadi malam dengan Pevita. Biru menatap Resha lalu tersenyum kecil. "Hari ini kamu mau ngapain aja?"

Resha tak menjawab, ia bungkam sambil memainkan iPhone Biru. Biru menghela nafas, apa lagi sih drama yang mau dimainin sama cewek ini? Entah kenapa semakin hari yang Biru rasakan semakin tak nyaman dengan Resha.

"Resh, kamu kenapa sayang?"
"Gakpapa." Jawab Resha jutek.
"Aku gak bakal ngerti kalo kamu gak ngomong.."
"Kamu emang gak pernah mau ngerti bahkan setelah aku ngomong."
"Kenapa lagi sih Resh? Besok kita tanding lho tolong jangan tambahin pikiran aku.."

Resha menghela nafas. Entah apa yang ia lakukan ini benar atau tidak namun hatinya sudah sesak sekarang. Jika Biru masih cuek dan sibuk sendiri, Resha masih bisa tahan. Tapi jika Biru kembali berhubungan dengan gadis ini....

Resha menaruh iPhone Biru di meja bundar itu sambil tersenyum kecil. 

"Move on dulu baru mulai yang baru, Bi."

***

Biru Samudra Nusantara
Pagi Bu Ketum, thank you udah dengerin tadi malam!:}

Khansa Pevita Raisana
Yo, pagi. Sama sama, Bi. Jangan galau aja.

Biru Samudra Nusantara
Nope, hari ini kamu mau ngapain Vi?

Khansa Pevita Raisana
Paling istirahat. Kamu mau kemana? Pasti latihan.

Biru Samudra Nusantara
Hehehe iya nih.. Doain senin lancar ya!

Khansa Pevita Raisana
Sip!:p Jangan lupa makan.

Biru Samudra Nusantara
Gak bakal lupa, gak bakal makan pedes, gak bakal tidur malem malem:p

Khansa Pevita Raisana
Bagus deh inget, gue udah kayak babysitter lu aja ya hahaha

Biru Samudra Nusantara
Gue sih seneng elu yang ngurusin gue hahaha

Khansa Pevita Raisana
Ngaco, urus sana pacar lu

Biru Samudra Nusantara
Ngurusin terus tapi gak pernah diurusin balik malesin gak? Ngertiin terus tapi gak pernah dingertiin balik malesin gak?

Khansa Pevita Raisana
Kalo udah gak niat ya putusin, cewek gak mau digantung tau.

Biru Samudra Nusantara
Kalo aku putus sama Resha, aku gak bisa jamin aku gak bakal berhenti ngejer kamu lagi...


***

"Chatnya malesin banget sih, Vit." Ujar Salma setelah membaca isi chat dari Biru. Pevita terkekeh.
"Lah kok elu yang sewot sih, harusnya Resha yang sewot.. Biru ngode mulu pengen balikan."
"Bagus dong! Semakin sering dia kayak gitu, semakin lancar semuanya..."
"Tapi gue tuh suka ngerasa kasian.. Ngerasa pengen balik dan ngebenerin semuanya. Gue tau Sal, Biru tuh orang yang baik. Cuman dia suka kebawa suasana dan bikin keputusan tanpa mempertimbangkan orang di sekitarnya."
"Lho, yang lagi lo lakukan sekarang kan buat ngerubah dia? Kok elo malah... Jangan jangan lo pengen balik beneran sama dia?" Tanya Salma agak kesal. Pevita terdiam.

"Vit, kan sekarang lo udah ada Raka.. Cobalah sepenuhnya sama Raka. Jangan ngeliat ke Biru terus. Toh Raka jauh lebih baik dan sempurna daripada Biru, iya gak? Dia pinter, sama sama suka sastra kayak elo, gak serampangan kayak Biru..."

Pevita tersenyum kecil. "Kalo elo nemuin cowok yang mirip sama orang di masa lalu lo, lo tertarik, lo kepoin dia dan akhirnya lo merasa jatuh cinta sama dia... Apa lo mencintai dia karena dia adalah dia atau karena dia mengingatkan elo sama masa lalu lo?"

***

Resha menangis, ia sudah tak tahan lagi menahan air matanya. Biru menghela nafas setelah tahu Resha membaca isi chatnya dengan Pevita. Ia tahu ia jahat. Ia tahu sekarang ia bisa meninggalkan Resha. Tapi....

"Kamu kenapa sih, Bi? Aku kurang apa sama kamu? Aku selalu nemenin kamu.. Tapi kenapa kamu malah kayak gini? Kenapa kamu gak pernah berhenti ngeliat ke dia..."
"Aku cuman ngehubungin temen lamaku, becandaan kayak biasanya. Tuh, Pevita nya aja gak ngerespon lagi kan, Resh? Kamu kan tahu becandaanku sama temen temenku tuh kayak gini."
"Aku akan selalu maklum kalau itu bukan Pevita."
"Kenapa? Karena dia mantan aku? Perasaan aku ngobrol sama mantanku yang lain biasa aja.. Jangan terlalu genggam aku, Resh. Lama lama aku pergi perlahan."

Resha terdiam lalu  terisak. "Apa sih yang buat kamu gak bisa ngeliat ke aku seutuhnya?"

"Aku selalu ngeliat kamu dan ngehargain kamu kok, tapi kamu yang selalu nuntut aku. Aku capek, Resh."
"Jadi kamu capek bareng sama aku? Kamu gak sayang sama aku?"

Biru menarik nafas panjang lalu menggengam tangan Resha. "Aku sayang kamu, sweetheart. Tapi kamu harus tahu, pasir yang dibiarkan saja akan jatuh. Pasir yang digenggam terlalu erat akan jatuh sedikit demi sedikit. Tapi pasir yang digenggam dengan perasaan saling menghargai bakal bertahan jauh lebih lama..."

"Apa sih yang bikin kamu gak bisa lupain Pevita, Bi?" Tanya Resha sambil menatap mata Biru. Biru menghela nafas lagi lalu teringat kata kata Pevita. Jujur lebih baik.

"Dia menghargaiku, dia gak menuntutku, dia tahu batasan, dia tahu duniaku bukan cuman tentang dia, dia membuatku tulus menjalani hari tanpa beban.... gak seperti kamu."


To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}