Regrets and Revenge chapter 7

Jangan kepo kalo males patah lagi. Capek kan beresin hati sendirian?

***


"Resh? Resha? Vareshaaa?" Panggil Syena sembari membawa 2 mangkuk sereal kesukaannya. Resha tadi malam menginap di rumah Syena setelah bertengkar hebat dengan Biru karena perasaan cemburunya pada Pevita.

Resha tak pernah merasa secemburu ini pada Biru. Ia selalu memaklumi sikap Biru yang ramah pada semua cewek termasuk mantannya. Ia tak pernah protes jika ada fans yang meminta foto bareng dengan Biru setelah mereka bertanding.

Resha sudah merasa sangat sabar menghadapi Biru.

Resha tak pernah melarang Biru pergi dengan siapapun. Resha cukup pengertian untuk seorang gadis yang harus melihat pacarnya dekat dengan banyak cewek. Apa Resha tak pantas meminta imbalan atas segala kesabarannya?

Yang Resha mau hanya waktu lebih dari Biru.

Rasanya sakit hati mendengar Biru berkata Resha tak pernah mencoba mengertinya. Resha selalu menuntutnya. Resha tak menghargainya. Resha tak seperti Pevita.

Resha menggeram. Lagi lagi ia menangis. Syena menarik nafas satu dua. "Lo cantik, Resh. Kalo lo putusin Biru, masih banyak yang lebih baik yang mau sama elo."

"Itu gue yang dulu, Syen. Sekarang gak bisa.. Gue sayang banget sama Biru."
"But I couldnt understand why... Lo cemburu banget sama Pevita? Maksud gue, Biru juga sering godain dan ngebecandain mantannya yang lain. Lo cemburu tapi bisa lo tahan. Sekarang?"
"Karena Pevita berada tepat sebelum gue. Karena Pevita punya waktu yang jauh lebih lama bersama Biru dulu. Karena Pevita tahu semua tentang Biru.."
"Emangnya lo gak tahu? Please deh, Resh. Pevita tuh masa lalu. Sekarang tuh elo dan Biru. Lagian lo tau kan Pevita sekarang bareng Raka terus.."

"Tapi matanya Biru selalu menyala nyala kalo cerita tentang Pevita dan tanpa disadari, setiap ucapan Biru mengandung perasaan yang tersisa buat cewek itu.."
"Lalu lo mau nyerah?"
"Kalo gue berubah jadi Pevi..."
Syena langsung menggebrak meja kecilnya. "No sweetheart, it won't help anything. It will ruin you and him. Udahlah, perbaiki sikap lo yang nuntut waktu terus ke Biru. Tahan diri lo. Bukannya itu yang Biru mau?"

Resha berpikir keras, mungkin itu yang harus ia lakukan sekarang. Mengalah lebih banyak, lebih mengerti Biru, lebih perhatian, lebih menyampingkan perasaannya.. Biru pasti akan melihatnya berusaha untuk lebih  baik dan cowok itu takkan melihat Pevita lagi.

Tapi ada rasa yang mengganjal di hati Resha. Perasaan yang tak bisa ia hilangkan. Hatinya berusaha keras menyetujui rencana di otaknya walaupun sebenarnya tak sejalan. Resha akan melakukan apapun demi Biru, tapi....

"Syen.. Kalo lo berusaha berubah demi orang yang lo cintai tapi dia tetap sama dan gak berubah bareng bareng elo, is he worth it to fight for?"

***

"Halo, Vi.." Sapa Biru dengan suara halus di tengah ramainya suara ruang ganti timnya. Pevita terdengar tertawa kecil.
"Hai, Bi.. Gila, rame bener! Main di pasar lo?"
Biru tertawa lebar. "Jayus parah, Vi. Aku mau main nih bentar lagi..."
"Hm... Terus?" Tanya Pevita sok jutek. Biru cengegesan.
"Doain aku ya?"
"Always am, Bi. Sukses ya kamu!"
"Hehe iya.. Ini kayak dulu ya tiap aku mau tanding selalu telpon kamu.." Ujar Biru yang hanya di balas tawa kecil dari Pevita. Tiba-tiba Resha menghampiri Biru sambil membawa sebotol air mineral.

"Ay, masuk yuk. Udah mau mulai, nih. Sini handphonenya." Kata Resha dengan suara lembutnya. Biru gelagapan mengangguk mengiyakan lalu berjalan menjauhi Resha. Pevita tertawa puas.
"Gila lo kayak lagi selingkuh aja. Udah sana ntar pacarnya marah!"
"Hehehe pacar gue kayak singa sih jagain gue mulu. Kapan ngeliput kesini?"
"Gak tahu, tunggu kabar dari ketos tercinta dulu..."
Biru mengerutkan dahinya. "Oh, tercinta? Udah jadian lu?"

Pevita terdiam, apa yang harus ia katakan sekarang? Biru pasti kesal mendengarnya berkata seperti itu. "Engg... Ya.. Good luck, bye, Bi!" Pevita bergegas memencet option end call lalu melemparkan iPhone nya ke sampingnya.

"Good luck, I wish I was there.."

***

Raka mengacak acak rambutnya saking kebingungan mencari Pevita. Sudah seharian ini gadis itu tidak bisa dihubungi. Pevita langsung menghilang setelah bel pulang sekolah berbunyi. Tidak biasanya Pevita tak meninggalkan kabar. Raka mencoba tetap tenang tapi ia tak bisa mengingat hari ini Biru bertanding.

Apa Pevita sengaja pergi kesana? Raka terus bertanya tanya. Hatinya tak tenang. Sebentar lagi mereka sudah menginjak usia dua bulan "jalan bersama" seperti ini. Raka tak masalah jika belum ada status, tapi kalau ia ingat akan Biru...

Raka tah habis pikir kenapa Biru masih saja mencoba menghubungi Pevita. Padahal mereka berdua sudah cukup lama putus dan Biru juga sudah punya Resha. Raka mengerti Pevita mungkin sulit melupakan Biru karena hubungan mereka yang sampai 2 tahun, tapi kenapa sesusah itu melupakan orang yang telah menyakiti kita?

Pevita dan Biru berakhir dengan sangat tidak baik. Biru bilang ia bosan padahal beberapa saat kemudian ia sudah resmi jadian dengan Resha. Hal itu tentu saja membuat Pevita begitu kecewa. Tapi kenapa Pevita tak melupakannya?

Raka bisa merasakan Pevita nyaman bersamanya. Tapi ia juga tidak bisa menepis aura pembanding yang selalu Pevita keluarkan. Pevita selalu memandangnya dari dua sisi yang berbeda. Di satu sisi ia memandangnya sebagai Raka di sisi lain gadis itu memandangnya "Raka berbeda dengan Biru".

Raka ingin menghapus bayangan Biru dari Pevita tapi cowok itu malah kembali masuk ke kehidupan Pevita lagi. iPhone milik Raka akhirnya berdering tanda mention masuk. Raka mengerutkan dahinya lalu membuka aplikasi Twitter.

Pevita Raisana. @khansapera
iPhone ku eror.. Maaf gak ngabarin. Aku lagi di rumah, kamu dimana?

Raka tersenyum lebar mengetahui Pevita ternyata tak pergi ke tempat Biru bertanding. Dengan cepat ia mengetik lalu memencet option tweet.

Raka Dimastrya A. @dimastryaraka
Dikirain bu ketum ilang hahaha. Noprob asal kamu baik baik aja. Aku di rumah kok. Jadi aku gak bisa telpon kamu dong?

Raka dan Pevita sudah terbuka di muka umum. Mereka tak malu malu lagi untuk saling memberi perhatian. Hal ini membuat Raka merasa seperti mengunci Pevita dari cowok lain dan tentu saja bagus untuk perkembangannya dengan Pevita. Ia tak mau Pevita meninggalkannya setelah mereka berjalan sejauh ini.

Pevita Raisana. @khansapera
Gak usah alay deh mas ketos:p Bisa kok ke hp ku yang satunya. Kangen banget ya?

Raka tersenyum kecil lalu membalas tweet itu.

Raka Dimastrya A. @dimastryaraka
Pake nanya lagi! There's no a day I dont miss you, bawel. I'll call you soon.

***

Resha tertawa cekikikan setelah melihat timeline twitternya. Raka dan Pevita semakin hari semakin dekat saja. Resha yakin dalam waktu dekat mereka berdua pasti akan jadian. Resha menyeruput teh manis panasnya sambil tertawa kecil membayangkan betapa hebohnya satu sekolah jika ketua OSIS dan ketua umum Jurnalistik jadian.

"Ay, gak tidur?" Tanya Biru sembari menghampiri Resha ke balkon ruang tengah di rumah Rendy yang menjadi tempat tinggal anak Basket & Cheers selama lomba. Resha tersenyum kecil.
"Capek nih.. Paling bentar lagi juga ke kamar. Biru kok gak tidur?"
Biru duduk di samping Resha lalu meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Tadi liat pacar aku senyum senyum sendiri, takut diambil orang jadi di samperin deh.."

Mereka berdua tertawa lepas lalu Resha menyandarkan diri ke bahu Biru. "Bi.. Maafin Resha ya yang kemarin. Gak seharusnya aku secemburu itu."
"Eum.. Aku juga salah kok. Apa aku harus jauhin Pevita?"
Resha tersenyum kecil. "Kamu gak perlu ngejauhin dia kok.. Lagian dia juga udah sama Raka kan? Jadi mana mungkin balik ke kamu.."

Biru menelan ludahnya. "Emang udah jadian?"
"Nih liat aja twitter.. Aku tidur dulu ya, Ay. Titip HP. Good night." Sahut Resha setelah menyodorkan handphonenya. Biru mencium kening Resha lalu tersenyum terpaksa. "Good night sweetheart."

Resha berjalan menjauhi Biru sementara cowok itu membuka timeline twitter Pevita. Ia tersenyum kecil walaupun sebenarnya hatinya menjerit. Ia kesal, hatinya merasa panas. Tapi apa yang harus ia lakukan?

Ia tak akan membiarkan Raka mendapatkan gadisnya.

Biru meringis kesal. Ia menyadari segala kebodohannya di detik detik terakhir bersama Pevita. Kenapa ia menyerah melawan perasaan bosannya? Kenapa dengan mudahnya ia meninggalkan Pevita demi orang baru seperti Resha?

Andai ia bisa, ia ingin memperjuangkan Pevita lagi seperti apa yang gadis itu lakukan saat Biru memutuskan untuk pergi...

***

"Kamu besok tanding, Bi?" Tanya Pevita dengan suara antusias. Biru berdehem tak bersemangat.
"Hmm, yaa.."
"Aku bikinin sarapan ya? Kamu pasti ntar lupa makan deh."
"Hmm, gak usah, Vi. Gak mau ngerepotin kamu."
Pevita menelan ludah. "Apaan sih, aku udah biasa gak sih bikinin kamu sarapan? Mana pernah kamu ngerepotin aku."

"Yaudah sekarang sekarang gak usah lagi." Ujar Biru ketus.
"Bi, kamu kenapa sih? Salah aku apa sih? Udah dong juteknya.."
"Aku cuman capek aja, Vi.."
"Capek akan apa? Aku gak pernah minta kamu untuk nemenin aku kok, aku sadar kamu sibuk. Aku selalu nungguin kamu sampai kamu punya waktu buat aku walaupun cuman sedetik."

"Sorry kalo aku bikin kamu kecewa.."
"Aku.. Gak.."
"Kamu mending cari yang lebih baik aja."
Pevita terisak. "Apaan sih, Bi..."

"Di luar sana banyak yang lebih baik untuk kamu.."
"Bi..."
"Dan mungkin bukan kamu yang aku cari."
"Biru...."
Biru bergumam. "Hmm, Vi?"
"Aku ngebosenin?" Tanya Pevita ragu ragu. Biru menarik nafas satu dua.

"Iya, aku bosen sama kamu, sama kita. Aku capek gini terus, Vi."


To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}