Regrets and Revenge chapter 8

Mencintai kamu seperti spotlight. Terlihat memukau dan terjangkau. Namun nyatanya begitu sulit untuk digenggam.

***

Cerita sebelumnya...


"Ya elo kalo udah sama Resha gak usahlah inget Pevita lagi. Pevita tuh udah lewat, Bi. Lo udah milih sama Resha. Jadi ngapain lo masih mikirin masa lalu lo ketika masa depan lo udah ada digenggaman lo?" Cecar Faldy ketika Biru lagi lagi mengeluhkan tentang Pevita.

Faldy tahu sebenarnya Biru tidak benar benar mencintai Resha. Tapi ia tak bisa mencegah sahabatnya itu untuk tidak mendekati sepupunya. Biru tipikal orang yang mudah bosan dan gampang membuat keputusan. Walaupun ia orang yang bertanggung jawab dan ramah pada semua orang, tapi sifatnya yang satu ini sering membuat Faldy merasa kecewa.

Faldy masih ingat ketika tiba-tiba Biru berjalan ke kelasnya dan Pevita lalu memutuskan gadis itu begitu saja. Faldy masih ingat betapa kejamnya Biru selalu menyuruh Pevita mencari cowok lain ketika ia sudah mulai sibuk dengan Resha. Faldy juga takkan pernah lupa bagaimana hancurnya perasaan Pevita ketika melihat Biru pergi nonton berdua dengan Resha sementara saat itu ia tak membalas satupun pesan Pevita.

Biru terdiam. Ia memang selalu begitu dan Faldy tahu tak ada gunanya ia bicara sampai mulutnya berbusa. Toh Biru menganggapnya seperti radio rusak yang berceramah. Toh Biru tak pernah menerapkan apa yang selama ini Faldy katakan.

Faldy tahu tugasnya hanya mengingatkan. Faldy tahu Biru lah yang berhak memilih. Tapi sebagai sahabat, apakah ia tega melihat sahabatnya salah melangkah?

Walau sebenarnya Faldy tak pernah merestui Biru bersama Resha, tapi ia mencoba untuk mengikhlaskan sahabatnya itu. Ia tahu betul tabiat Resha yang manja, suka mengatur dan cepat bosan jika si cowok tidak menuruti keinginannya.

Resha berbeda dengan Pevita dan Faldy tahu Biru takkan menyukai itu.

Awal mereka pacaran, Biru masih bisa bersabar dengan sikap Resha. Lama kelamaan ia semakin kesal dan mulai menoleh pada Pevita. Faldy masih ingat Biru begitu kaget menyadari perubahan Pevita yang drastis semenjak ia tak menoleh ke arahnya lagi.

Pevita berubah menjadi gadis yang cantik dan seorang Ketua Umum Jurnalistik yang disegani banyak orang. Pevita menjadi sangat percaya diri dan semakin ramah. Biru tak menyangka Pevita bisa berada dipuncak seperti ini padahal terakhir kali ia melihat Pevita, gadis itu masih tersedu dipojokkan kelas.

Faldy tak bicara banyak saat Biru membicarakan Pevita baru. Faldy hanya bisa tersenyum menyadari betapa bodohnya Biru meninggalkan yang sudah ada untuk mencari yang menurutnya lebih baik namun nyatanya jauh lebih rendah dari yang lama.

Biru tak pernah bisa melihat kecantikan Pevita semenjak Resha hadir. Di mata Biru hanya Resha lah yang terbaik. Biru meninggalkan permatanya demi permata baru yang terlihat begitu memukau namun ia tak pernah tahu apakah kilaunya akan pudar atau selamanya.

Karena yang lama akan terlihat begitu menarik ketika kita tinggalkan memang benar adanya..

***

"Salmaaa, sorry gue harus banget ngeliput kesana. Jadi gue gak bisa nemenin lo cari kado buat Faldy. Maaf banget.." Ujar Pevita setelah mendapat pesan dari Ibu Kelsha, pembina Jurnalistik sekolahnya. Salma mengerutkan dahinya.

"Lo kan Ketum Jurnal, Vit. Lo kali bisa nyuruh bawahan lo. Apa emang dasarnya lo mau ketemu Biru?" Tanya Salma sinis. Salma mulai tak suka Pevita dekat lagi dengan Biru karena ia takut sahabatnya malah kembali ke tangan si cowok itu.
"Iya, tapi Ibu Kelsha suruh gue ngawasin anak anak kelas XI sama beberapa anak kelas X baru. Lagian kalo gue kesana kan gue bisa ngelancarin aksi gue ke Biru.."
"Aksi lo apa aksi hati lo?" 
Pevita menghela nafas. "Sal.. Please, cuman elo yang dukung gue sama rencana ini. Jangan bikin gue down dong dengan gituin gue."
"Tapi kado buat Faldy? Next week, Vit. Gue gak tahu harus carinya sama siapa..."
Pevita memohon mohon. "Yah sorry, Sal.. Mau gimana lagi, kerjaan gue nih sebelum STJ."

Salma terdiam lalu melahap rotinya. Pevita masih memohon mohon karena merasa bersalah lalu tiba-tiba Raka datang menghampiri dua sahabat tersebut. Raka duduk tepat di samping Pevita lalu mencomot kentang keju milik Pevita.

"Ih, kamu tuh kebiasaan banget!" Seru Pevita kesal. Raka terkekeh.
"Hehehe minta punya kamu tuh enak sih.. Wes, ini cewek cewek kenapa mukanya ditekuk gitu?"
Salma menggerutu. "Ini nih si Pevita udah janji nganterin gue beli kado buat Faldy, taunya malah pergi ngeliput basket! Bete!"
"Kamu kok ingkar janji gitu sih demi basket? Mau liat siapa sih?" Raka melemparkan pandangannya ke Pevita.
"Kok Raka ngomong gitu? Ini kan tugas aku, lagian mau liat siapa sih disana.." Ujar Pevita lemas. Ia paling tidak ingin membuat Raka cemburu tentang Biru.

Raka tertawa. "Becanda kok, Bu Ketum! Udah deh, Sal gue yang nemenin gimana? Kasian Bu Ketum harus buru buru STJ, udah lelah dia.."

"Eh gak usah Rak, kamu kan harus istirahat..." Kata Pevita merasa tidak enak.
"Cuman ini kan yang bisa aku bantu untuk kamu? Aku gak mungkin nurunin surat biar kamu gak ngeliput, jadi ya.. Gakpapa lah. Lagian sama Salma ini. Mau kan Sal?"
"Kamu baik banget sih, Rak.. Makasih ya..." Kata Pevita lembut.
Raka menatap mata Pevita dalam dalam. "Sama sama, cantik.."

Salma menatap mereka berdua sambil tersenyum lebar. Ia yakin hanya Raka yang bisa menjaga Pevita sekarang. Ia lalu tertawa kecil, "lo berdua lucu amat sih, kenapa gak jadian aja?" 

Mereka berdua bertatapan lalu terkikik malu. Raka pun meraih tangan Pevita lalu menggenggamnya, "jodoh pasti bertemu, kok."

***


Biru Samudra Nusantara
Hari ketiga, nih! Will you come? :}

Khansa Pevita Raisana
Sorry baru bales, kode banget sih minta disemangatin..

Biru Samudra Nusantara
Hahaha gak kode juga kok emang anak SMP :p My match will begin around 4pm

Khansa Pevita Raisana
I know:}

Biru Samudra Nusantara
I hope I could meet you here, Vi.. If it's possible for you.

Khansa Pevita Raisana
What would I get if I could be there?

Biru Samudra Nusantara
Everything you want.

Khansa Pevita Raisana
Promise me you will give me everything I want?

Biru Samudra Nusantara
Sure, but I hope you're here. Sudah makan belum?

Khansa Pevita Raisana
Lagi di kantin nih sama Salma. Faldy lagi ngurusin acara Bridge jadi cuman berdua.

Biru Samudra Nusantara
Dulu sih kita berempat ya...

Khansa Pevita Raisana
Iya dulu, kalo kamu... Ah udahlah. Well, udah makan?

***

"Bi..." Panggil Resha dengan suara lembut. Biru yang ingin membalas chat dari Pevita pun refleks memencet tombol home lalu tersenyum kecil. Resha yang melihat pacarnya gelagapan hanya bisa mengerutkan dahinya. Ia ingin bertanya seperti biasanya namun ia langsung mengunci rapat bibirnya. Ia tak boleh membuat Biru kesal.

"Iya, kenapa Resh?"
"Sebentar lagi matchnya mulai..."
Biru tersenyum. "Kamu pasti bakal jadi anak cheers paling cantik disana."
"Makasih.." Pipinya merona lalu ia terkekeh. "Kamu udah makan kan?"
Biru tersenyum kecil menyadari hal yang sama juga Pevita tanyakan pada chat terakhirnya. Ia menggeleng. "Belum laper."

"Makanlah, kan mau match. Ntar kamu lagi tanding terus drop gimana? Kasian kan tim kamu.. Duduk sini ya, Resha ambilin makanan.."

Biru mengerutkan dahinya. Ia bingung melihat sikap Resha yang berubah jadi manis dan begitu perhatian. Dulu Biru lah yang jauh lebih perhatian sementara Resha hanya duduk manis. Sekarang Resha semakin memperhatikan Biru.

Biru tersenyum kecil. Mungkin ini pertanda dari Tuhan supaya ia tidak meninggalkan Resha. Mungkin Resha memang yang terbaik untuknya. Tapi kenapa Biru tak pernah bisa berhenti membandingkan Resha dengan Pevita? 

Dengan keadaan seperti ini, Biru semakin bingung untuk bersikap. Siapa yang seharusnya ia perjuangkan? Resha atau Pevita?

***

Biru Samudra Nusantara
Sorry baru bales, Vi.. Habis makan, sebentar lagi match..

Khansa Pevita Raisana
Lo baru makan? Mau mati jam segini baru makan? Pasti dari kemarin gak makan kan?

Biru Samudra Nusantara
Vi kalem... 

Khansa Pevita Raisana
Kebiasaan banget deh kalo lagi stress. Ntar sakit gimana?

Biru Samudra Nusantara
I will be fine, Vi.. As long as I could talk to you. Tadi apa sih yang mau diomongin? Jangan bikin kepo-_-

Khansa Pevita Raisana
Boyband abis. Kepo banget sih.. Pikir aja sendiri.

Biru Samudra Nusantara
Hmm.. Kalo dulu aku gak pergi?

Khansa Pevita Raisana
Sorry baru bales, lagi rempong. Gak tahu deh.

Biru Samudra Nusantara
Udah setengah 4 nih.. Kamu dateng gak? Kayaknya enggak ya, pasti lagi sibuk sama Ketos HAHAHA. Yaudah deh, selamat hari Rabu! Doain aku ya.

Khansa Pevita Raisana
Row 4 sebelah utara. Canon 60D. Lensa 18-200

Biru Samudra Nusantara
I know you'll come:}
Khansa Pevita Raisana
Remember, everything I want ya, Bi:p

***

Biru bermain lebih semangat dari biasanya ketika ia melihat Pevita asyik bermain dengan kameranya. Biru tahu perasaan ini salah karena ia mempunyai Resha, tapi hatinya tak bisa berbohong selalu Pevita lah yang ia pikirkan.

Di sisi lain Resha terus berdoa semoga Biru kembali memenangkan pertandingan ini. Resha berdoa semoga usahanya untuk jauh lebih sabar dan perhatian akan membuat Biru tidak meninggalkannya. 

Resha bukanlah tipikal cewek setia seperti Pevita. Dari dulu ia mudah sekali berpindah pindah hati. Tapi entah kenapa pada Biru hatinya tak mampu berpindah lagi. Seperti sudah terikat dan tak pernah lepas.

Dan ia berharap Biru juga merasakan hal yang sama dengannya.

***

Salma melahap es krim nya ketika Raka kembali dengan segelas Tropical Float dan Riser KFC. Mereka sudah seharian berkeliling Mall namun tetap saja tidak menemukan kado yang tepat untuk Faldy.

Salma merasa senang melihat Raka bisa bersama Pevita. Hatinya tenang meninggalkan Pevita berdua dengan cowok ini. Raka bisa menjaga, mengayomi dan membuat Pevita bahagia. Salma juga melihat Pevita begitu menyukai cowok itu.

Namun ia juga bisa merasakan kegelisahan Raka setiap kali Pevita berhubungan dengan segala hal yang menyangkut Biru Samudra Nusantara. Salma mengerti Raka pasti khawatir. Namun ia sendiri bingung harus bagaimana pada Raka. Ia tak mungkin membocorkan rencana Pevita tapi ia juga tak mau Raka pergi dari sahabatnya.

"Jadi kapan lo mau nembak Pevita?" Tanya Salma membuka percakapan lagi. 
Raka menggeleng. "Gak tahu, Sal. Belum ada waktu yang tepat.."
"Waktu yang tepat gak pernah ada, Rak. Yang ada elo yang ciptainnya."
"I've tried tapi gak bisa sama sekali."
"Kenapa?" Tanya Salma heran.

"Tatapan Pevita setiap kali bicara tentang dia dan Biru. Senyumya, nada suaranya, gestur tubuhnya.. Gue mungkin memang selalu sama dia. Gue juga paling dekat dengannya. Tapi ada koneksi antara dia dan Biru yang gak gue mengerti dan itu membuat gue merasa apapun yang gue lakukan selalu dibandingkan dengan Biru.."

Salma menghela nafas. "Yah.. Pevita pacaran sama Biru lama banget, Rak. Wajarlah susah untuk move on.."
"Kenapa susah move on jelas jelas dia udah disakitin gitu?"
"Ya kenapa elo gak nembak dia?"
"Apa gue bisa nembak dia kalo setiap hal yang gue lakukan selalu dibandingkan dengan Biru?"
"Perasaan elo doang kali..."
"Gue sebenernya pengen nanya sama elo, Sal..."
Salma tersenyum kecil. "Go ahead."

"Pevita serius gak sih sama hubungan kami? Kenapa dia terus buat gue berharap sementara pintu hatinya gak pernah benar benar dibuka untuk gue? Jadi siapa gue buat dia kalo selalu Biru yang ada di bayangannya?"


To be continued...


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}