[FLASH FICTION] Regrets and Revenge: Unbelieveable

I'm a grenade and at some point I'm going to blow up and I would like to minimize the casualties, okay? - Hazel Grace, The Fault in Our Stars

***

Cerita sebelumnya...

 KHANSA PEVITA RAISANA'S POV

Biru lagi lagi tidak menelpon.
 
Entah ini hari ke berapa yang aku lewati tanpa kabar sama sekali dari pacarku. Kami satu sekolah dan jelas tahu kesibukan masing masing. Beberapa hari yang lalu aku masih bersabar menunggu dia menghubungiku. Tapi semenjak aku sadar dia tak pernah absen mengperbaharui status Pathnya, aku jelas geram sendiri.
 
Apa aku harus terus mencoba mengertinya sementara ia sendiri tak mengerti aku? 
 
Ku lemparkan pandanganku ke cermin lalu menghela nafas. Apa yang telah kau perbuat sehingga orang yang paling kau sayang menghindarimu, Pevita Raisana? Hal bodoh apalagi yang kau perbuat?
 
Biru tak biasanya seperti ini. Sesibuk apapun ia, ia pasti akan meninggalkan beberapa pesan atau menelponku setidaknya 2 menit sampai aku tenang mengetahui ia baik baik saja. Pikiranku berlari kemana mana. Tak seharusnya aku begini, tapi hatiku tak mau diam dan terus bertanya.
 
Faldy terus mencari tahu keberadaan Biru sementara Salma memelukku hangat. Mereka adalah dua sahabat terbaik di dunia dan aku sangat beruntung memiliki mereka. Mereka tak pernah meninggalkanku walau aku sedang sengsara seperti ini.

Bi.. Kamu kemana, sih?

Biru sedang latihan? Tidak mungkin sampai semalam ini. Biru tahu batasan waktu dalam bermain basket. Jika aktivitas, latihan, pola makan dan tidurnya tidak seimbang, badannya tidak akan sebugar biasanya.

Biru sedang belajar? Aku tertawa kecil. Tidak.. Biru pintar dan jenuis, tapi ia tidak rajin. Sama sekali tidak. Ia benci PR.

Atau jangan jangan... Biru tidak mungkin nongkrong dengan anak nakal. Tidak, Biru tidak suka asap rokok. Biru tak pernah mau minum minuman bersoda apalagi alkohol. Biru takut akan Narkoba. Ia sadar betul Narkoba akan menghancurkan dunia Basketnya sementara ia takkan pernah bisa meninggalkan dunia itu.

"Jangan mikir aneh aneh deh, Vit!" Seru Faldy seakan akan mengerti apa yang sedang aku pikirkan. Aku tertawa lebar.
"Ya abis Biru gak ngasih gue kabar..."
Salma tertawa. "Pasti lo mikir Biru jadi anak nakal gitu kan? Idih mana mau dia main sama anak kayak gitu." Cecar Salma.
"Ah, sotil lo. Gue mikirin Biru lagi belajar! Dia kan anti banget tuh sama belajar, kayak mau mati hahaha."

Tawa mereka bertiga meledak. "Wah parah banget lu, pacar sendiri!"
"Iya ih Vitaaaa..." Sahut Salma sambil menepuk bahu Pevita agak keras. Pevita terkejut lalu menggerutu. Salma tersenyum meminta maaf sementara Faldy berlari ke arah stop kontak dan meraih iPhone nya yang berbunyi SMS masuk.

Wajah Faldy berubah seketika. Ia lalu berjalan lunglai dan menarik tangan Salma. "Pulang yuk, Sal. Gue anterin sekalian.."
"Kok buru buru sih, Fal? Ah ntar deh..."
Pevita mengerutkan dahinya. "Iya, kok buru buru amat, Fal? Gue kesepian nih!"
"Eum... Gapapa, kok. Udah yuk! Bye, Vit. Jangan nangis mulu ya.." Ujar Faldy sambil membelai rambut Pevita lembut. Pevita tersenyum kecil, "iya.. Makasih ya, Fal.."

"Gue balik ya, Raisana. Good night." Salma memeluk Pevita lagi lalu keluar mengikuti Faldy. Pintu kamar Pevita langsung ditutup oleh Faldy. Pevita menghela nafas. Siapa yang akan ia ajak bicara sekarang?

Beberapa saat kemudian, ia berjalan menuju balkonnya untuk melambaikan tangan pada kedua sahabatnya. Namun suara perdebatan mereka berdua terlalu kencang sampai membuat Pevita mengurungkan niatnya.

"Gila si Biru, gak tahu diri banget! Pake selingkuh segala."
"Iya, berarti selama ini dugaan gue bener kan, Sal? Mangkanya gue pengen buru buru ke rumah Syena. Biru lagi sama Resha disana..."
"Sumpah gue gak tega sama Pevita.."
"Resha jahat banget ya."

Pevita mengigit bibirnya supaya tidak menjerit. Hatinya begitu sakit. Biru? Selingkuh? Dengan gadis cheers yang baru masuk Padus beberapa haru yang lalu? Gadis yang baru ia kenal? Ghinaa Varesha Raisana?

Pevita meremas jemarinya lalu mulai menangis. Ia menangis dan terus menangis. Seakan akan ia sedang memanaskan diri untuk meledak. Sesuatu yang manis pada akhirnya akan meledak dan hancur tanpa menyisakan apa apa jika kita tidak memperlakukannya dengan baik.

Dan Pevita pun akan menemukan titik puncak kesabarannya dan meledak. Ia sakit. Ia tak bisa terus bertahan dan berpikir positif. Ia menghindari semua isu yang ada supaya kepercayaannya pada Biru tidak hancur.

Namun apa daya jika kita menjaga sementara ia tidak?

Pevita patah. Pevita hancur. Unbelieveable truly untrusted anymore.
 
Cirebon, 18 April 2014
Berusaha keras menulis. Maafkan aku belum bisa post chap11...


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}