Regrets and Revenge chapter 10

I give my best to you, nothing for me to do..

***


Pevita terdiam, ia kehabisan kata kata. Apa yang harus ia lakukan jika Raka meninggalkannya? Tidak. Ia tak bisa membiarkan itu terjadi. Tapi kenapa ia ragu Raka akan setia menunggunya sampai semua permainan ini selesai?

Pevita ingat betul Raka berjanji untuk menunggunya sampai mereka berdua bisa resmi berpacaran. Tapi kenapa pagi ini Raka bicara seolah olah ia akan meninggalkan gadis itu? Pevita menghela nafas.

"Kalo kamu sayang sama aku kenapa kamu meragukan aku, Rak?" Tanya Pevita akhirnya. Raka tersenyum kecil.
"Keraguanku datang semenjak kamu lebih sering menghabiskan waktu sama dia, orang yang lebih dulu bersama kamu. Siapa yang takkan merasa patah hati?"
"Kamu gak ngerti, Rak.. Ada hal yang harus aku lakukan buat Biru sebelum aku pergi."
"Kenapa sih Vi kamu masih perduli sama orang yang jelas jelas udah nyakitin kamu? Please, Vi. Aku disini! Aku nyata! Aku gak akan ninggalin kamu!"

Pevita terisak. Air matanya menetas sedikit demi sedikit. "Jangan berjanji lebih banyak lagi, Rak... Kamu gak akan tahu kemana kita akan berakhir."

Raka tersentak kaget. Tak terpikir olehnya bahwa gadis yang ia sayangi akan bicara seperti itu. Raka menghentikan mobilnya tepat di samping pintu gerbang sekolahnya. Ia menghela nafas dengan begitu berat seakan beban yang dipikulnya sudah terlalu berlebihan.

"Kamu mau kita seperti mobil ini?" Tanya Raka pelan. 
Ia menoleh namun Pevita tetap diam.
"Kamu mau kita berhenti? Kamu mau pergi sama cowok yang udah nyakitin kamu?"
"Kamu gak ngerti Rak...."
"Aku gak akan pernah ngerti kalo kamu gak pernah ngasih tahu aku!" Suara Raka yang naik satu oktaf membuat Pevita kaget dan meremas tangannya sendiri.

"Aku gak tahu gimana caranya ngasih tahu kamu.."
"Kalo kamu gak berniat buat balikan sama Biru, lalu ngapain kamu deket sama dia lagi? Kamu tahu kan dia ngarep lagi sama kamu?"
"Aku sayang sama kamu, Rak..."

"Kamu  gak tahu betapa sayangnya aku sama kamu, tapi kalo kamu gini terus mana bisa aku bertahan sih, Vi? Kenapa selalu Biru yang kamu dahulukan?" Tanya Raka sambil memandang mata Pevita. Pevita menangis lalu mengalihkan padangannya.

"Maaf.." Ujarnya lalu langsung keluar dari mobil Raka dan berlari memasuki sekolah.

***

"Kalo lo terus jalanin revenge lo ke Biru, lo bakal kehilangan Raka, Vit.." Kata Faldy ketika Pevita selesai bercerita. Pevita menghela nafas.
"Tapi Biru begitu berharga buat gue. Cuman ini yang bisa nyadarin dia dan gak ada waktu lagi. Sebentar lagi kita lulus.."
"Emangnya progress lo sama Biru sekarang gimana?"
"Kita makin intens telponan, dia makin merasa bersalah ninggalin gue.."
"Bagus dong, berarti sebentar lagi semuanya berakhir."
Pevita mengigit bibirnya. "Justru gue bingung menentukan akhir dari semua ini, Fal.." Ucapan Pevita membuat Faldy mengerutkan dahinya keheranan.

"Lo mau klimaksnya gimana?"
Pevita menggeleng. "Entahlah, Fal.. Keliatannya sih Resha udah mulai jenuh dan mau ninggalin Biru. Gue sendiri kasian kalo gara gara gue mereka malah putus."
"Kalo mau jahat tuh sekalian aja, Vit. Gak usah setengah setengah hahahaha."
"Rese lo! Niat gue kan gak jahat, gue mau bikin Biru sadar. Gue harap ada kejadian yang bikin dia terpukul banget dan gak bakal gampangin cewek lagi. Ketika dia ngerasa semuanya berantakan gara gara ulah dia dan gak ada tempat dia buat berpulang.. Baik ke gue ataupun ke Resha."

"Hmm nice idea. Walau sebenernya gue gak suka sama ide balas dendam lo, gue tahu maksud lo baik. Gue berterima kasih karena elo masih sudi ngurusin sahabat gue dan semoga dia sadar.."
Pevita menyikut Faldy lalu tertawa. "That's what friends are for kan?"
"Semoga Resha juga ikut sadar deh biar gak ganti ganti cowok mulu. Risih gue liatnya."
"Eum, I guess she's reason. Everything happens for a reason, right? And I believe, mereka punya alasan kenapa mereka kayak gitu. Semoga mereka sadar."

Faldy bergumam. "Hmm, use your time wisely. Don't take too long. Membuat orang menunggu kamu bukanlah hal yang baik."
"I know, thank you for always here, Faldy."

***

Pintu ruangan OSIS terbuka lebar ketika Biru berjalan lunglai menuju ruang OSIS. Sebelum pertandingan finalnya nanti sore, Biru harus melaporkan kegiatan kerjanya selama inii pada Raka mengingat sebentar lagi waktunya serah jabatan kepengurusan eskul.

Raka duduk di belakang meja kayu yang cukup besar dengan MacBook Pro di hadapannya. Ia tampak serius dengan beberapa kertas berserakan di samping laptopnya. Biru mengetuk pintu lalu tersenyum kecil ketika Raka menyuruhnya masuk.

Biru menghela nafas melihat aura Raka yang begitu dingin. Semenjak Biru dekat lagi dengan Pevita, Raka tak pernah bertegur sapa dengannya lagi. Raka terlihat sibuk setiap kali bertemu Biru sampai ia segan untuk menyapa Raka. 

Raka begitu cocok untuk Pevita. Setidaknya begitulah di mata Biru. Raka baik, pintar dan penyabar. Ia juga Ketua OSIS. Hidupnya tak serampangan sepertinya. Pevita pasti begitu menyukai cowok itu.

Tapi jika Pevita menyukai Raka, kenapa ia terus meladeni Biru? Kenapa ia memberi harapan pada Biru? Apa Pevita masih menyayangi Biru?

Biru membuyarkan semua pertanyaannya ketika Raka berdehem. "Jadi gimana? Kapan mau STJ?" Tanya Raka dengan suara dingin. Biru tersenyum.
"Secepatnya setelah gue menemukan orang yang tepat."
"Bukannya lo udah punya? Kenapa harus cari lagi?"
Biru mendelik. "Karena yang sekarang ada tak sebaik yang gue kira. Selama gue bisa mencari, kenapa harus berhenti?"
"Terus kenapa dulu lo milih dia kalo akhirnya mau lo tinggalin juga? Apa tabiat lo ninggalin orang ketika lo mikir dia gak sesempurna yang lo harapkan?"

Biru menggeram kesal. "Apa sih mau lo?"
"Gue?" Raka menatap Biru keheranan. "Gue cuman ngasih advice buat elo supaya gak terlalu ceroboh dalam memilih calon ketua eskul basket."
"Enggak, gue tahu maksud lo bukan itu! Kalo lo gak bisa bersaing secara sehat buat dapetin Pevita, mending lo mundur aja."
"Gue gak pernah nyampurin urusan kerjaan sama pribadi, Bi." Kata Raka tegas.
"Tapi kata kata lo menjelaskan betul elo ngomongin gue, Pevita dan Resha. Bukan basket. Gak usah sok tenang, Rak. Gue tahu Pevita pasti udah bosen sama elo. Pevita sekarang deket sama gue dan gue tahu gue bisa bahagiain dia."

Raka menghela nafas. "Watch your words, ini gak nyambung sama urusan STJ.."
"Dan kalo lo udah tahu Pevita deket lagi sama gue, lo seharusnya tahu diri dan mundur aja. She'll come back to me. Gue percaya dia masih sayang. Lo gak tahu apa apa tentang Pevita."

"Lo bilang gue gak tahu apa apa? Lo sadar gak, lo tinggalin Pevita demi Resha, lalu sekarang lo bosen dan menyadari Pevita udah berubah, lo mau ambil dia dan tinggalin Resha? Lo gak tahu kan gimana sakitnya dia?" Raka akhirnya tak bisa mengendalikan emosinya. Biru benar benar tak tahu diri.

"Everyone can makes mistakes, as you too! Gak usah ngerasa jadi hero disini, Rak. It won't work. I'll get my Pevita back from you."
"And you'll leave Resha like you left Pevita for her a few months ago?"

Biru terdiam. Ia tersadar kata kata Raka benar. Ritmenya sama seperti dulu ia meninggalkan Pevita. Tapi....

"Lo orang baru, lo gak punya banyak kenangan sama Pevita kayak gue. You don't know about us!"
"And you too. Lo gak tahu tentang gue dan Pevita. Let's make it in gentlement way. Kalo lo ngerasa lo bakal menang karena masa lalu lo dengan Pevita, it's up to you. But remind yourself, you've hurted her, then now you want her back, how dare you?"

Biru bangkit dari kursinya lalu keluar dan membanting pintu ruang OSIS. Raka melemparkan sekaleng Coca Cola ke arah pintu lalu membenamkan kepalanya dengan kedua tangannya. Ia menggeram.

Mungkin ia tak tahu Pevita lebih awal, mungkin ia tak punya sejuta kenangan bersamanya. Tapi ia tahu, ia tak boleh melepaskan Pevita untuk cowok sepengecut itu. 

***

I messed up. Gerutu Resha di depan bayangannya sambil membenarkan ikatan rambutnya. Sebentar lagi final match akan berlangsung tapi hati Resha merasa tak disini. Semenjak bertemu dengan Radit, ia mulai berpikir bahwa semua yang ia usahakan pada Biru akan berakhir sia-sia seperti dulu.

Dulu yang begitu kejam. Dulu yang begitu menyakitkan.

Resha begitu berusaha membuat Radit jatuh cinta padanya, namun ia tak pernah berhasil. Radit selalu menganggap Resha sebagai adiknya. Radit tak pernah menyukai Resha. Hal itu membuat Resha dengan mudahnya berganti ganti pasangan. Ia berpikir dengan begitu hatinya akan bisa melupakan Radit walaupun sebenarnya tidak.

Kini Resha berusaha supaya Biru bisa melihatnya lagi dan melupakan Pevita. Ia ingin Biru memandangnya seperti saat Biru pertama kali menyukainya. Tapi semakin keras ia berusaha semakin ia sadar semua takkan berguna.

Ia takkan pernah bisa membuat Pevita menghilang dari hati Biru.

***

"Biru... Kamu sadar gak sih kita udah terlalu dekat untuk cuman jadi teman?" Tanya Resha ketika Biru selesai menghabiskan makanannya. Biru tersenyum kecil.

"Aku tahu kok.."
Resha tertunduk malu. "Lalu kita akan terus begini?"
"Entahlah... Tapi aku emang udah sayang sama kamu, Resh. Kamu bikin hariku berwarna. Kamu bikin aku kembali ngerasain perhatian semenjak Pevita sibuk sama urusannya.."

Resha mendadak cemberut lalu tak melanjutkan pembicaraan. Biru menghela nafas. Ia sendiri bingung harus bagaimana. Ia tak mungkin memutuskan Pevita begitu saja. Namun di sisi lain ia sudah terlanjur menyayangi Resha..

"Kamu sayang sama aku juga, Resh?"
Resha mengangguk.
"Maafin aku ya, Resh.. Aku belum bisa ngasih kepastian buat kamu. Kamu sabar ya..." Ujar Biru sambil menggenggam tangan Resha. Resha tersenyum kecil.

"Aku akan nunggu kamu kok, Bi."


To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}