Regrets and Revenge chapter 11

Yes, I do regret. But no, I wont do any revenge.
Not to a coward-betrayer-good liar like you.
That's just stupid and wasting my time.
And lucky you, I wont.
 ***


"Final Match berakhir dengan score yang cukup membanggakan. 85-59. Menurut saya sendiri Staretrix sudah berkembang dengan baik sampai bisa memenangkan juara Nasional seperti ini.. Terima kasih atas liputannya, Nak Khansa.. Kalau tidak ada Jurnalistik, saya rasa pendukung Staretrix tidak akan sebanyak ini. Apalagi sampai rela dari Jakarta ke Bandung.." Jelas Pak Rama, pelatih basket di SMA Bakti Wardhani. 

Pevita yang tadinya mengerutkan dahi karena dipanggil Khansa lagi oleh Pak Rama pun tersenyum lebar dan mengangguk. "Kehormatan bagi saya mengahbiskan sisa jabatan saya meliput dan menulis artikel tentang Staretrix. Sekali lagi selamat ya Pak!"

Pak Rama hanya tersenyum kecil lalu beranjak pergi meninggalkan Pevita. Suasana pinggir lapangan kanan pun masih saja ramai. Ia bisa melihat hampir setengah sekolahnya datang ke Bandung untuk menonton pertandingan ini.

Nama sang kapten basket pun terus dielu elukan. Pevita sendiri belum sempat bicara dengan Biru setelah 15 menit yang lalu pertandingan selesai walau jarak mereka tak begitu jauh. Setelah memastikan isi laporannya lengkap, Pevita pun beranjak menuju kerumunan yang sedang asyik merayakan kemenangan Staretrix.

Tiba-tiba Biru menggenggam tangan Pevita lalu melepaskannya saat mata mereka berdua bertemu. Pevita tertawa kecil, "congrats ya Bi.. I know its easy for you."

Biru terkekeh, "thanks Vi. Actually nothing is easy."
"But at least you wont die even you've running a lot."
"Haha.. Hey, aku punya janji sama kamu.."
Pevita mengerutkan keningnya. Biru lalu menyeka rambut Pevita dan tersenyum kecil.
"Pelupanya gak pernah hilang, nih. I'll give you everything you want."
Pevita tertawa kecil. "Oh iya.. Aku sampe lupa. Apapun ya, Bi?"
"Iya, apapun.."

Pevita mulai berpikir. Ia bisa meminta apapun pada Biru dan mungkin ini bisa mengakhiri rencana balas dendamnya. Ia bisa meminta Biru berubah dan cowok itu harus menepatinya sesuai dengan janji yang ia katakan. Tapi Pevita membuyarkan pikiran itu. Biru takkan berubah semudah itu dan semua yang Pevita lakukan belum benar benar membuat Biru jera.

Pevita harus membuat Biru merasa seakan akan ia ingin cowok itu kembali. Ia harus membuat Biru yakin pada dirinya bahwa Pevita akan menerimanya kembali. Biru pasti akan memilih Pevita dan menjauhi Resha. Resha pasti kesal karena sikap Biru. Pada saat itu Pevita akan meninggalkan Biru dan ketika Biru ingin kembali pada Resha, gadis itu akan marah padanya atau lebih parahnya.. Meninggalkan Biru.

Pevita tertawa sambil mengangguk angguk mengiyakan idenya. Jenius, kamu benar benar jenius, Khansa Pera! Serunya dalam hati. Biru tersenyum manis semanis biasanya. Senyuman yang begitu hangat namun bisa mematikan.

"Jadi kamu mau apa?" Tanyanya pelan.
"Do our used to, yuk?" Ajak Pevita.
Biru memutarkan bola matanya. Pipinya memerah. "Date?"
"Ah, enggak gitu.. Not a date, not officially date. Kamu udah punya pacar, Bi."
"Lalu?" Tanya Biru dengan suara menggoda.
"Oh come on, I just want to spend my time with you.." Ujar Pevita ramah. Ia sendiri bingung apa yang ia katakan hanya sandiwara atau benar benar dari hatinya. Biru mengangguk mengiyakan.

"On Sunday, I'll pick you up at 7am. Be ready."


***

"Resh! Resh!" Seru Jessica teman satu team Cheers Resha menggedor gedor pintu kamar mandi dengan tidak sabaran. Resha segera membuka pintu dengan wajah bete. Sedari tadi ia menahan keinginan untuk buang air kecil sampai pertandingan selesai. Ia tahu ia akan Staretrix akan menang dan ia ingin sekali bertemu dengan Biru.

Tapi seusai pengumuman, Biru langsung tenggelam di tengah pendukungnya. Resha sudah mencari tapi Biru hilang entah kemana dan itu jelas membuat Resha kesal. Gadis itu melepas ikatan rambutnya dan langsung berlari ke kamar mandi.

"Apa sih, Jess? Lo tau kan kalo gue-"
"Resh, parah Resh! Tadi gue liat si Biru ngedeketin Pevita gitu. Terus ngobrol ketawa ketawa gitu. Ayo balik ke lapangan!" Cecar Jessica lalu menarik tangan Resha.

Resha mengigit bibirnya. Masa iya Biru benar benar berhubungan lagi dengan Pevita? Tapi kenapa? Kenapa dia setega itu?

Sesampainya di lapangan mata Resha langsung mencari cari keberadaan Biru. Jessica pun celingak celinguk dengan wajah kesal karena kehilangan Biru dari pandangannya. Resha menghela nafas.

"Mana? Gak ada tuh, Jess. Ah salah liat kali lo.." Kata Resha melegakan diri. 
"Gue gak bohong, Resh.. Gue jelas jelas liat sendiri!" Seru Jessica tak mau disalahkan. 
Resha berbalik. "Ah udah, gue mau ngambil mi-"
"Resh! Itu Biru sama Pevita lagi duduk disana!" Kata Jessica sambil menarik Resha. Resha berbalik dan kedua mata cokelat susunya langsung menemukan cowok yang ia sayangi dengan cewek yang dulu merupakan mantan pacar cowoknya.

Biru. Biru. Kenapa kamu mengkhianatiku?

Biru, ini sakit.

***

Radit menggenggam bunganya sambil terus mencari Resha diantara kerumunan orang orang di lapangan itu. Ia tak perduli jika ada pacar Resha hari ini. Ia hanya ingin memberikan bunga pada orang yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

Adiknya sendiri.

Radit menghela nafas. Radit tahu jelas Resha dulu menyukainya -atau mungkin masih sampai sekarang. Namun Resha tak pernah tahu, Radit sebenarnya juga pernah menyimpan rasa pada gadis itu. Adik kelasnya itu cantik dan periang. Ia baik hati dan cukup membuat Radit merasa nyaman.

Radit bukanlah tipikal orang yang mudah jatuh cinta tapi Resha bisa membuatnya jatuh cinta. Ia pikir ia hanya tertarik pada gadis itu, namun perasaannya terus berkembang. Radit jadi benar benar menyukai Resha.

Tapi pada saat Radit menyadari perasaannya, gadis itu sudah memiliki pacar dan itu membuat Radit mundur. Radit pun memilih fokus pada sekolahnya dan merubah pemikirannya. Resha hanyalah adik perempuannya. 

Ia berprinsip, secinta apapun kita pada orang itu, kita tidak boleh merebut. Jika kita tidak ingin apa yang kita miliki direbut oleh orang lain. Karena sesuatu yang kita ambil secara tidak baik tidak akan berdampak baik untuk kita.

Namun beberapa saat kemudian, saat Radit berhasil melupakan Resha, gadis itu mulai menunjukan perasaannya. Tapi perasaan Radit sudah berubah dan ia pun tak pernah berusaha merespon Resha.

Resha tak pernah menyerah, tapi Radit selalu menolak. Lalu tiba-tiba Resha berubah menjadi gadis super cantik dan banyak disukai cowok cowok disekolah Radit. Resha jadi sering berganti ganti pacar. Resha berubah drastis di depan orang lain tapi masih sama di depan Radit. Resha masih Resha yang manis.

Radit sendiri tidak mengerti apa tujuan Resha berganti ganti pacar. Radit saat itu sedih. Ia tidak mau adik kesayangannya disakiti cowok cowok brengsek. Radit selalu menasehati tapi Resha tidak pernah mau mendengarkan.

Pikiran Radit pun melayang pada Resha yang sekarang. Apa kabarnya gadis itu dengan Biru? Apa Biru juga hanya pelarian baginya?

Ketika Radit berbalik, ada seorang cewek dengan baju Cheers SMA Bakti Wardhani menabraknya lalu jatuh  tepat di hadapannya. Cewek itu tidak bangun lagi. Ia malah memeluk lututnya dan menangis. Rambutnya di gerai jadi Radit tak bisa melihat siapa cewek itu. 

"Hey, kenapa kamu nangis? Kamu anak Cheersnya BW kan? Liat Resha gak?" Tanya Radit ramah. Cewek itu terisak lalu mengadahkan kepalanya. Tangisnya pecah ketika menyadari Radit yang ada di depannya.

"Raaadiiit... Huhuhu."

Radit panik. Ia langsung mendekap gadis itu. "Resha, kamu kenapa de?"

***

Salma mencibir ketika Pevita selesai bercerita tentang janjinya bersama Biru. Pevita terikik malu. "Gue gak tahu gue seneng karena ini  bisa ngelancarin rencana gue atau gue senneg karena gue bakal jalan sama Biru.."
"Wey, inget lo.. Udah ada Raka sekarang. Ntar lo dimakan Raka lho kalo macem macem!" Seru Salma sambil tertawa.
Wajah Pevita berubah suasana. "Gak tahu nih, Sal.. Gue ragu sama Raka."
"Ih apaan nih lo. Raka udah tulus gitu, Vit. Gak usah balik ke Biru lagi!" Seru Salma kesal.
"Iya iya.. Cuman Raka tuh.. Gimana ya, dia terus terusan ngungkit Biru."
"Ya dia sedih lo deket lagi sama Biru."
"Ya kita belum ada hubungan apa apa."
"Tapi lo udah ada janji kan sama dia?"

Pevita terdiam lalu menunduk. "Iya sih.. Cuman Raka bikin gue risih dengan mojokin gue sama Biru terus. Bisa bisa apa yang dia omongin kejadian, Sal."
"And dont let it happen." Kata Salma sambil tersenyum kecil.
"Kenapa sih Sal lo gak mau banget gue balik sama Biru?" Tanya Pevita heran.
"Oh my sweetie pie.. Apa lo lupa dengan semua yang dia lakuin ke elo? Setelah semua yang dia lakuin, lo mau balik sama dia? Lo udah sering ngasih dia kesempatan, Vit. Jangan jadi orang bodoh dengan menghabiskan waktu di orang yang jahat sama elo."

Pevita mengangguk mengiyakan. Salma benar, ia hanya akan membuang waktunya untuk Biru. Ia sudah berulang ulang kali memberi kesempatan kedua, tapi Biru selalu begitu. Biru tak pernah berubah. Kali ini, ia harus bisa membuat Biru berubah tanpa ia harus menoleh dan kembali bersamanya.

Pevita berjalan menuju cermin besar di kamarnya lalu memfokuskan matanya pada bayangan matanya. Ia menatap matanya sendiri dengan penuh keberanian.

"No, Pevita. Just dont go back. He just another pieces of your past. He'd left you. Dont ask him to come back. Dont try to be back. Just go. Leave him. He'd hurted you." Ujarnya sambil tersenyum kecil pada bayangannya.

"That's my sister. You're brave!" Seru Salma sambil memeluk Pevita hangat.
"Thank you for everything, Salma.."

***

"Lo nangis kenapa sih, Resh.." Ujar Syena sambil memeluk Resha. Resha terus menangis tanpa henti. Ia bicara namun sepatah patah. Syena mempererat pelukannya.

Faldy masuk ke ruang keluarga rumah Kakek dan Neneknya lalu menggerutu ketika melihat Syena sedang memeluk Resha yang sedang menangis. Ia baru saja pulang dari pertandingan basket dan mengantar Salma dan Pevita ke rumah Pevita.

Faldy tahu betul kenapa Resha menangis. Resha pasti habis melihat Biru berdekatan dengan Pevita. Faldy tertawa kecil, begitu jahat, terdengar sangat licik. Ia senang melihat Resha menangis seperti itu.

Gadis perebut milik orang harus tahu rasa akibat dari kejahatannya.

"Apaan sih nangis mulu, berisik tau, gak." Ujar Faldy ketus. Syena menggelengkan kepalanya.
"Jangan jahat dong, Fal.. Resha lagi sedih. Tadi dia liat Biru deket deket sama Pevita. Dia takut cewek  itu ngerebut Biru."
Tawa Faldy meledak seketika saat mendengar apa yang Syena katakan. "Apa? Resha takut Biru direbut Pevita? Lucu banget. Yang seneng ngerebut punya orang juga bisa ya punya rasa takut kehilangan." Kata Faldy enteng.

Resha menggeram. Ia biasanya bisa menahan emosinya ketika Faldy berulah. Tapi kali ini tidak. Tidak, tidak ada yang boleh merebut Biru darinya. Ia melepaskan pelukan Syena lalu berbalik dan menatap Faldy dalam dalam. Matanya merah dan sembab. Ia benar benar marah.

"KENAPA SIH ELO BENCI BANGET SAMA GUE?!" Seru Resha.
"Udah sabar Resh, sabar.." Ujar Syena.
"Apa? Lo nanya? Lo gak punya otak sama hati ya?" Tanya Faldy kesal. Resha meremas jemarinya.
"Faldy! Jangan gitu banget dong, kita kan saudara.."
"Gue tahu Fal, Pevita dan Biru itu sahabat lo. Cuman gue kan saudara lo dan sekarang Biru pacar gue. Apa lo gak ngerasa takut kalo Salma direbut mantannya?!"
Faldy tertawa. "Ngapain takut kalo gue mulai baik baik tanpa ngerebut?"

"Kenapa sih Fal.. Kenapa lo gak pernah ngehargain gue sebagai pacar dari sahabat lo.."
"Kenapa sih lo terus nanya, Resh? Gue tau lo gak setolol itu."
Resha terus terisak. Syena menghela nafas. "Kenapa sih kalian tuh, udahlah..."
"Enggak, gak  bakal pernah selesai sampe cewek tukang gonta ganti cowok ini sadar kalo apa yang dia perbuat gak pernah bener!"
"Gue dulu ganti ganti cowok karena ada alasan yang lo gak pernah tahu itu!"
"Dan gue gak mau tahu. Ngapain ngurusin elo? Buangin waktu. Cewek model elo sih terkenal good liar."

"CUKUP! CUKUP! BERHENTI!" Seru Resha sambil terisak.
"Kalo lo sadar, ada rasa sayang disetiap amarah gue ke elo. Tapi elonya aja gak bisa gue baikin."
"Hargain gue Fal.. Gue pacar sahabat lo.. Gue saudara lo.. Pevita bukan siapa siapa lo.."

Faldy menghela nafas. "Apa yang harus gue hargain dari orang yang suka ngerebut punya orang? Basi."

Faldy berjalan menuju pintu keluar lalu membantingnya kencang. Resha menjerit, ia kembali menangis.

***

Raka memutar mutarkan iPhone-nya. Apa ia terlalu jahat pada Pevita? Tapi ia cemburu. Ia tidak mau Pevita diambil oleh orang lain, apalagi cowoknya adalah Biru. Pevita harus tahu Biru begitu jahat, ia tak pantas untuk Pevita.

Raka lalu memutuskan menelpon Pevita namun seperti dugaannya, nomornya sedang sibuk. Raka mengacak acak rambutnya. Apa yang sebenarnya Pevita mau dari Biru jika ia tidak mau kembali pada cowok itu?

Pevita pasti punya alasan. Tapi apa?

Raka menghela nafas. Ia segera mengetik pesan ke kontak Line milik Pevita lalu merebahkan dirinya. Ia tahu, Pevita pasti punya alasan yang pasti. Alasan yang membuat dia melakukan semua itu. Tapi...

Belum sempat mencari jawabannya, Raka langsung terlelap dalam tidurnya.

***

Raka Dimastrya A

Vi.. Aku sayang kamu. Maafin aku. Maaf. Maaf. Maaf. Aku tahu kamu kecewa sama aku. Maaf.. Aku cemburu. Aku tahu kamu punya alasan yang jelas. Aku cuman pengen tahu apa alasan itu. Aku gak pernah mau ninggalin kamu, gak sedetik pun aku berpikir seperti itu. Aku gak pengen kehilangan kamu. Aku terlalu sayang sama kamu, Pevita..


To be continued..


Note: sorry for the late post! xoxo


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}