Regrets and Revenge chapter 12

Are we friends or are we more?

***


"Vit, thanks banget ya udah ngebantuin bikin laporan hasil program kerja ini. Gue gak tau deh gimana Bridge kalo enggak ada elo.." Kata Faldy seraya berjalan menuju motornya yang ia parkir di garasi luar rumah Pevita. Gadis itu tertawa lebar.

"Lebay ah, kerjaan sekretaris lo udah bener kok. Tadi kan cuman ngebenerin beberapa bagian aja.."
Faldy terkekeh. "Ya kalo enggak dibenerin sama elo, mungkin besok gue mati kutu dihadapan Syena dan Raka."
"Iya deh iya, udah deh lo balik. Jam 9 nih, ntar lo telat bangun lagi.."

Faldy mengangguk lalu memakai helmnya. Sembari menunggu Faldy bersiap siap, Pevita membuka iPhone nya lalu tertawa kecil melihat sederet chat dari para pengurus eskul lain yang meminta bantuannya. Hal ini sering Pevita dapatkan semenjak ia menduduki jabatan ketua Jurnalistik dan orang kepercayaan Bu Ranti, Wakasek Kesiswaan di sekolahnya.

Deretan chat itu sengaja tidak Pevita balas sesuai dengan permintaan Syena. Gadis itu meminta Pevita untuk tidak membantu eskul lain dalam 2 rapat pertanggung jawaban terakhir. Walaupun begitu, ia tetap membantu Faldy dan Biru secara diam diam. Ia selalu menganggap apa yang ia perbuat sebagai "misi rahasia" nya sebelum lepas jabatan.

Faldy membuka kaca helm nya lalu menatap Pevita keheranan. Gadis itu sedari tadi tersenyum terus sambil memainkan iPhone-nya. Faldy sengaja meminta Pevita tidak menjawab satupun chat selama bersamanya supaya Pevita tetap fokus. Faldy tau banyak sekali ketua eskul yang mengirimi pesan pada Pevita tak terkecuali Biru.

Faldy tahu Pevita sedang tersenyum karena Biru.

"Kayaknya Biru mau kesini deh..." Ujar Faldy pelan.
Pevita tertawa lepas. "Kok elo bisa tau sih?"
"Hah? Yang bener aja sih, Vit! Udah jam 9 malam.."
"Gue cuman suruh ngecek laporannya doang, kok! Lagian dia udah dijalan."
"Lo gakpapa gue tinggal? Maksud gue udah malam, di rumah lo cuman ada pembantu sama supir lo dan ada cowok yang mau ke rumah lo.." Kata Faldy cemas. Pevita tertawa kecil lalu menepuk pundak sahabatnya itu.
"Ini di rumah gue, Fal. Mana mungkin dia berani macem macem sama gue? Udah deh, gue pasti bisa jaga diri kok. Lagian ini kan Biru?"
Faldy menghela nafas. "Justru gue lebih tenang elo sama Raka, Vit."

Pevita menyeka rambutnya lalu menggeleng. "Gue gak ngerti maksud lo apa.. Biru kan sahabat lo, dia juga gak bakal macem macem kali." Ujarnya agak ketus.
"Gue gak berpikir Biru bakal ngapa ngapainin elo, Vit. I mean, gue takut lo jatuh cinta sama dia, lagi. Gue gak mau lo balik sama dia lagi."
"It's my revenge, Fal.." Sahut Pevita sambil tertawa renyah.
"I know, Vit. Tapi.. Terlalu deket sama Biru bikin elo membuat jarak yang nyata sama Raka. Gue gak mau lo ngorbanin diri lo buat memperbaiki Biru tapi malah kehilangan orang yang jauh lebih baik daripada dia."

Pevita menghela nafas. Pandangannya kembali tertuju pada layar iPhone-nya. Diantara deretan chatnya, ada nama Raka Dimastrya A tertera dengan satu pesan yang sudah ia baca. Ia tak tahu harus membalas apa. Ia bingung. Hatinya kacau sekarang.

"Gue.. Gue gak tahu, Fal. Gue ragu sama ragu sama diri gue. Gue ragu sama kami."

Faldy menyalakan mesinnya lalu tersenyum kecil. "Be brave to choose, Pevita."

***

"Terima kasih, Stefani. Akan saya ajukan ke sekolah untuk masalah pelatih itu. Tapi sejauh ini eskul Paduan Suara berhasil memenuhi program kerjanya dengan baik. Saya sudah mengadakan rapat dengan seluruh anggota MPK dan Ibu Ranti. Serah terima jabatan eskul akan diadakan setelah LDK OSIS & MPK dilaksanakan. Jadwal acara akan dibacakan oleh Raka.." Jelas Syena sebagai pemimpin rapat pertanggung jawaban eskul.

Seluruh petinggi OSIS, MPK dan ketua eskul pun menatap Raka yang sedari tadi tak berhenti memutarkan bolpoinnya. Raka tampak tidak fokus pada acara kali ini. Syena yang duduk disebelah Raka pun menyikut pelan tangan teman kerjanya itu.

"Raka? Siap?" Tanya Syena pelan. Lamunan Raka pun buyar. Ia menghela nafas lalu mengangguk pelan.
"Sorry, iya iya. Jadi sampai mana?" Tanya Raka dengan wajah linglung. Syena menghela nafas sementara para peserta rapat yang lain mulai berbisik membicarakan Raka.
"Pembacaan jadwal. Lo kenapa sih?" Tanya Syena heran. Raka mengangguk angguk.
"Oh iya iya, maaf gue lagi banyak pikiran.. Eum, okay I get it. Perhatian!" Seruan Raka membuat ruang rapat kembali hening dan kondusif.

"Kita punya waktu satu setengah bulan untuk serah terima jabatan. 2 minggu untuk eskul, 2 minggu untuk LDK lalu 2 minggu kemudian pelantikan. Seperti biasa, setiap 2 eskul memiliki 2 hari yang sama untuk diperbolehkan memakai area sekolah. Jika ingin menganti jadwalnya, silahkan dibicarakan dengan eskul tersebut..." Raka menoleh ke arah Almira, sekretarisnya dan memberi isyarat untuk membagikan jadwal serah terima jabatan eskul.

Di SMA Bakti Wardhani, acara serah terima jabatan eskul sangat menarik karena diisi dengan kegiatan yang berhubungan dengan eskul tersebut. Layaknya Latihan Dasar Kepemimpinan di OSIS, sebelum para anggota eskul menjadi pengurus, mereka akan diuji dan dibekali pengetahuan untuk mengurusi eskul tersebut.

"Dimohon koordinasi yang baik antara para pengurus eskul dengan sekbid OSIS yang membawahi eskul kalian. Jadwal yang baru saja sekretaris saya bagikan adalah jadwal yang valid. Jika sudah ada kesepakatan untuk dirubah, mohon kabari pihak OSIS. Ada yang ingin ditanyakan?" Jelas Raka dengan penuh wibawa. 

Mata Raka menyapu bersih seluruh ruangan rapat namun ia tak berhenti bergerak setelah melihat Pevita. Pevita duduk tepat disamping Biru. Raka menghela nafas ketika ia menyadari mereka berdua tampak asyik berbincang. 

Pikiran Raka kembali melayang ke tadi pagi. Ia sudah menunggu jawaban dari pesannya tadi malam, tapi Pevita hanya membaca pesannya. Raka merasa sedih sekaligus kesal. Apalagi yang harus ia perbuat supaya Pevita memberikan seluruh hatinya pada Raka?

"Rak? Rak? Hello, are you there?" Panggil Syena dengan sedikit kesal.
"Oh.. Sorry, Syen. I'm not good today."
"Yes you are. Anak DKM ada yang mau nanya tuh, cepetan jawab. Gue mau balik." Ujar Syena mencoba mengerti Raka. 
"Iya, gimana, Dam?" Tanya Raka sambil menatap Damarsatya Wijaksana, ketua DKM SMA Bakti Wardhani.
"Iya, Rak.. Gimana masalah surat surat STJ? Apa masih sama kayak tahun lalu?"
"Masih sama, Dam. Kalo arsip butuh bantuan bisa minta ke sekbid yang membawahi DKM atau langsung ke sekretaris OSIS. Ada lagi yang lain?"

Peserta rapat menggeleng lalu Raka mengangguk kepada Syena. "Baiklah rapat kali ini saya tutup. Kita akan kembali rapat setelah LDK OSIS & MPK dilaksanakan. Setelah itu akan dilaksanakan sidang pleno dan masa bakti kita ditutup oleh pelantikan pengurus yang baru. Terima kasih atas kehadiran kalian. Sukses untuk semuanya. Selamat siang."
 
Seluruh peserta bertepuk tangan lalu keluar dari ruang rapat. Raka menghela nafas lelah. Syena membereskan bindernya lalu menepuk bahu Raka, "jangan campurin hati sama kerjaan, Rak. Nanti lo makin sengsara."

***

"Vi.. Pevita.. Please, jangan gini..." Ujar Raka sembari menggenggam tangan Pevita. Pevita menggigit bibirnya.

"Jangan deketin aku lagi, Rak.." Ujar Pevita sambil menahan tangisnya.
Raka tersentak, "tapi kenapa, Vi? Please, kita udah jalan sejauh ini. Aku gak mau kehilangan kamu.. Aku sayang sama kamu.."
"Aku bingung, Rak. Aku sayang sama kamu, tapi.. Kamu terus raguin aku."
"Aku cuman pengen tahu apa yang terjadi antara kamu sama Biru. Aku tahu itu buat kamu gak nyaman, maafin aku Vi.. Aku gak mau kamu balik sama Biru. Aku cuman pengen meyakinkan hatiku kalo kamu emang sama aku."
"Aku takut aku malah beneran balik sama Biru, Rak.."
"Just leave him, Vi. I love you."
"I can't leave him now, Rak. Semuanya belum selesai.."
"Apanya? Cinta kamu ke dia?" Tanya Raka sedikit emosi. Pevita meringis. 
"Bigger than that, but I cant tell you now..."

Raka melepaskan genggamannya dari tangan Pevita. "Setelah semua yang kita lakukan, kamu masih gak percaya sama aku?" Tanyanya tak percaya. Pevita terisak.

"I dont mean that.."
"So what do you mean? I just need the truth, Vi."
"Aku udah bilang sama kamu, bersabar.. Tolong sabar.."
"Dan melihat kamu sama Biru lagi? Kamu sadar gak sih kalo kamu balik sama Biru, kamu melakukan apa yang Resha lakuin ke kamu? Merebut milik orang? Apa kamu gak sadar?"
"Cukup, Rak.. Cukup.. Aku butuh waktu untuk sendiri.." Ujar Pevita sambil menangis.

Raka terdiam, ia menghela nafas. Apa ia sudah salah pilih? Apa Pevita bukan gadis yang ia cari selama ini? Ia mundur beberapa langkah lalu kembali menghela nafas. Namun kali ini lebih berat, lebih sakit, lebih sesak. Ia seakan mati rasa.

"Aku sayang sama kamu, Vi. Lebih dari apapun yang kamu tahu dan mungkin lebih dari apa yang Biru bisa berikan untuk kamu. Tapi maaf.. Aku gak bisa nunggu kamu tanpa kepastian."

***

"Gue kira lo langsung balik, Syen." Sahut Biru ketika melihat Syena duduk di depan kelasnya. Gadis itu menggeleng.
"Gue nungguin Faldy, mau langsung ke rumah sakit.."
Biru mengerutkan dahinya. "Ngapain? Oh iya, Resha mana?"

Syena menatap Biru tak percaya. "Lo gak tahu? Resha sakit. Dia habis berantem hebat sama Faldy dengan masalah yang sama, tentang elo lagi. Dia demam tinggi dan akhirnya gak masuk. Dia lagi check up sekarang.."
"Ya Tuhan... Sejak final match gue gak ketemu. Resha juga gak angkat telpon gue. Dari kemarin cuman kabar kabaran bentar. Dia bilang dia baik baik aja.."
"Lo tau kan maksud baik baik ajanya seorang cewek?" Tanya Syena ketus.
"Yaudah deh ntar malem gue ke rumah neneknya. Pasti dia kalo lagi gak enak badan disana kan?" Tanya Biru memastikan. Syena mengangguk.

"Tapi sebaiknya lo ketemu sama Faldy dulu. Parah tu anak, gue udah gak ngerti cara ngomong sama dia."
"Emangnya kenapa?"
"Dia gak pernah ngehargain Resha sebagai pacar lo. Okay, gue tahu hubungan lo dan Resha berawal dari hal yang gak baik -Resha ngerebut lo dari Pevita. Gue tahu setiap omongan ketus Faldy ke Resha itu karena dia sayang sama saudaranya. Dia gak suka liat Resha gonta ganti cowok mulu, cuman.. He's just too cruel now."

Biru menggelengkan kepalanya. Ia tahu Faldy memang benar benar tidak suka dengan Resha, tapi ia tidak mengira hal itu menyebabkan perpecahan antara kedua saudara itu. Biru menghela nafas, "ini semua gara gara kebodohan gue."

"Haha enggak kok, Bi. Dari dulu Faldy emang ketus semenjak Resha ganti ganti pacar."
"Emang dulunya Resha gak gitu, Syen?"
"Enggak.. Dia susah banget yang namanya nerima cowok, banyak yang dia tolak. Tapi ada hal yang bikin Resha berubah jadi gampang ganti cowok gitu."
Biru mengangguk angguk. Oh jadi Resha yang dulu begitu....
"Kenapa dia nolakin cowok cowok? Gak sesuai sama yang dia mau?"

Syena menggeleng. "Suatu saat juga elo tahu kok. Tapi gue rasa sekarang bukan saat yang tepat untuk lo kepoin masalah ini. Yang jelas Resha gak ngelirik siapa siapa lagi semenjak ketemu elo, Bi.. Matanya tuh selalu bercahaya setiap ngomongin elo, beda sama pas ngomongin cowok cowoknya yang lain."

"Oh, okay.. Thanks ya, Syen. Nanti gue coba ngobrol deh sama Faldy baru ke rumah nenek lo. Lo bakal disana kan? In case malah terjadi pertengkaran lagi, ada elo yang bakal jadi penengah."

Syena mengangguk. "Iya pasti gue disana, tolong banget ya Bi lo ngomong sama Faldy..."

***

"Mungkin kamu takut Biru selingkuh karena percintaan kamu sama dia diawali oleh selingkuh.." Ujar Radit sambil mengaduk kopinya. Resha tak mengangguk, ia terus menangis.

"Aku bingung harus gimana, Dit. Aku sayang banget sama Biru. Cuman dia yang bisa balikin aku jadi aku yang dulu.."
Radit berdehem. "Aku boleh tanya sama kamu sesuatu gak?"
"Boleh..."
"Ka.. Kamu kenapa sih dulu berubah? Kamu kenapa jadi gonta ganti pacar gitu? Bukannya kamu dari dulu suka nolakin cowok ya kalo kamu gak suka? Kenapa, Resh? Ada apa?"

Resha tersentak kaget mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibir Radit. Kenapa Radit harus mengingatkannya pada masa lalunya lagi? Kenapa?

"Pasti ada hal yang pengen kamu tunjukkin kan? Aku gak suka kamu kayak gitu, aku gak mau kamu disakitin cowok cowok apalagi nangis kayak gini. Aku sayang banget sama kamu, Resh.."

Resha mengigit bibirnya. "Tapi kamu selalu sayang sama aku sebagai adik kan? Iya kan? Kamu gak pernah ngeliat aku kan? Itu! Itu yang jadi alasan aku, Dit. Aku berusaha untuk jadi cantik biar kamu tertarik sama aku. Kamu malah terus terusan nolak aku. Hal itu bikin aku cari pelarian, bikin aku melampiaskan kekesalan aku pada cowok cowok itu. Aku berpikir kamu akan menyesal karena aku pergi atau aku akan menemukan yang bisa bikin aku.. Lupain kamu.."

Tangis Resha pecah. Setelah bertahun tahun ia menutupi semuanya, ia tak bisa lagi menahan perasaannya. Ia kesal, ia benci pada dirinya sendiri. Ia sadar sudah banyak cowok yang ia sakiti karena itu. Ia sadar hal itu membuatnya dibenci oleh banyak cewek, tak terkecuali...

"Tapi hal itu bikin kamu dibenci banyak orang kan? Termasuk cewek cewek yang tanpa kamu sadari malah tersakiti oleh kamu? Contohnya mantannya Biru...."
Resha mengelap air matanya. "Aku memang merasa bersalah sama Pevita, tapi aku gak akan mengembalikan Biru. Cuman dia yang bisa mengalihkan pikiranku dari kamu, Dit. Cuman Biru. Aku cuman butuh Biru. Aku gak mau kehilangan Biru.."

"Tapi kamu merebut, Resh. Kamu merebut. Jadi jangan berharap kamu bisa menghalangi Pevita untuk mengambil kembali apa yang memang miliknya. Mungkin Biru memang ada untuk kamu, secara fisik.. Tapi hati.. Hati tak bisa bohong, Resh."

Resha terisak. "Ini semua gara gara kamu! Kenapa kamu gak pernah mencintai aku juga setelah semua hal yang kita lakukan? Kenapa kamu gak pernah lihat aku?!"

"Aku..." Radit menghela nafas. "Dulu kamu punya pacar, Resh. Aku gak mau merebut kamu, aku mau lihat kamu bahagia. Aku berusaha melupakan kamu dan aku mampu. Tapi tiba-tiba kamu kembali lagi dan aku merasa aku gak pantas untuk kamu. Kamu terlalu sempurna, Resh. Lalu kamu.. Kamu berubah. Kamu jadi liar. Kamu jadi tidak terkendali. Aku kecewa, aku ingin kamu kembali. Namun rasa sayangku gak bisa kembali."

"Ra... Radit..."

"Aku sangat mencintai kamu, Resh. Tapi itu dulu. Sekarang cintaku sudah menjadi abu, berubah menjadi kasih kakak dan adik. Aku gak tahu semua hal yang berubah pada diri kamu dikarenakan aku. Maafkan aku Resha, tapi andai aku tahu kamu juga suka sama aku dulu, aku gak bakal merebut kamu dari pacar kamu yang dulu. Karena hal yang berawal dari merebut takkan pernah berakhir dengan baik..."


To be continued..


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}