Regrets and Revenge chapter 13

YA ALLAH IT'S BEEN A MONTH!!

Setiap hari selama UKK kertas soal gue berisi coretan coretan plot RAR.
And it's like booms, here we goessss!

***

"Faldy?" Suara parau itu membuyarkan konsentrasi Faldy. Cowok itu beranjak bangun dari sofa di kamarnya lalu membuka pintu. Sesosok cowok dengan kaus V neck hitam berdiri dengan wajah gusar. Faldy menghela nafas lalu mempersilahkannya masuk.

Tak butuh waktu yang lama sampai Faldy membaca apa yang akan cowok itu katakan. Tahun demi tahun yang mereka lalui cukup membuat Faldy begitu hapal tabiat sahabat karibnya, Biru Samudra Nusantara.

"Gue mau bicara sama elo." Ucapnya lirih setelah beberapa menit mereka terdiam dalam keheningan. Tiba-tiba Syena masuk dengan membawa 3 cangkir cokelat panas. Faldy mengerutkan keningnya, "bukannya lo di rumah nenek?"

"Enggak," Syena menggeleng lalu menyodorkan cangkir bening dengan ornamen China kepada Faldy, "gue nganter Biru. Lo tahu lah dia mau ngomong apa."
"Kenapa harus libatin dia sih, Syen? Ini kan masalah keluarga kita." Kata Faldy ketus.
"Fal.. Dia yang memicu semuanya. I wont be here, gue bakal di ruang TV ko. Enjoy your chocolate, Bi." Ujar Syena sambil menepuk bahu Biru. Cowok itu mengangguk dan tersenyum kecil.

Setelah Syena berlalu, Faldy menyeruput cokelat panas buatan sepupunya lalu tersenyum kecil. "Apa ini penting untuk dibicarakan?"
"Gue harap lo bisa hargain Resha seperti lo hargain Pevita, Fal. Lo sadar kan mereka berdua bagian dari diri lo? Pevita sahabat lo dan Resha adalah sepupu lo. Jangan terlalu keras lah sama Resha.."
"Lo gak tahu Bi segimana alimnya dulu Resha. Lo gak tahu kenapa gue jadi males sama cewek itu. Apa lo inget perceraian orang tua gue? Itu karena Mama gampang banget akrab sama cowok. Itu bikin Mama ngehancurin keluarga kami."

Biru menghela nafas. "Tapi lo gak lupa kan alasan nyokap lo? Bokap lo sibuk banget pas itu Fal. Semua orang pasti punya alasan kok untuk melakukan hal itu. Walaupun gue gak tahu bagaimana detilnya, tapi gue percaya Resha punya alasannya."

"Tapi dia merebut elo dari Pevita!" Seru Faldy. "Dan itu buat sahabat gue sengsara."
"Lalu apa dengan lo giniin Resha, semua bakal kembali seperti semula?" Tanya Biru ketus.
"Lo sendiri gak bisa nentuin kan lo mau tetep di Resha apa balik ke Pevita?"
"Ah! Jangan ngalihin pembicaraan, gue cuman mau elo hargain pacar gue! Lo bilang lo sahabat gue. Taunya lo gini."
"Kita bukan anak SMP lagi, Bi. Tahun depan kita lulus. Gue punya alasan melakukan ini."
"Ya tapi lo gak kasian sama Resha? Resha cewek. Elo selalu nyalahin dia, berlaku kasar sama dia. Kenapa sih lo gak bisa seramah pada Pevita?" Tanya Biru berapi api.

Faldy tertawa terbahak. "Lo gak punya hak untuk menghakimi gue kalo diri lo sendiri juga kayak gitu. Harga mati, gak ada yang bakal ngebenerin elo seandainya mereka tahu elo... Sejahat ini sama dua orang yang berharga untuk gue." Suara Faldy mengecil.

"Dulu gue deket sama Resha, dia alim dan baik. Entah sejak kapan dia jadi suka ganti ganti cowok dan gue mulai males. Apalagi setelah orang tua gue cerai dan Resha ngerebut elo dari Pevita, gue takut.. Gue takut saudara gue ngalamin hal yang gak enak karena ulahnya sekarang. Tapi lo tahu sendiri gue gak bisa ngomong baik baik kalo udah kesal. That's why gue kasar sama Resha."

Biru terdiam lalu mengangguk. Ia mengerti apa yang Faldy rasakan. Faldy sebenarnya khawatir dan sayang sekali dengan Resha sehingga ia melakukan hal tersebut. Hanya saja Resha tidak tahu apa maksud Faldy sehingga ia berpikir bahwa Faldy membencinya.

"Kalo detik ini harus ada orang yang disalahin atas tindakan kasar gue pada Resha, ya itu pasti elo. Karena elo merebut hati Pevita, meninggalkannya untuk Resha, lalu sekarang elo mau balik ke Pevita tapi berat untuk meninggalkan Resha. Coba lo pikir baik baik.. Apa lo pantes menghakimi gue?"

***

Raka berjalan lebih cepat dari biasanya setelah ia melihat sosok orang yang ia cari. Sembari menenteng sebuah buku, ia bertanya tanya dalam hatinya apakah benar ia akan bertemu dengan orang itu. Tanpa ragu Raka pun menepuk bahu orang tersebut lalu berdehem.

"Mas Iraz ya?" Tanyanya agak canggung. Cowok yang sedang asik bermain dengan MacBook nya pun menoleh lalu menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.
"Eh, elo Raka kan? Bawa sampel bukunya?" Tanya cowok berkaca mata itu lalu menyuruh Raka duduk. Raka mengangguk lalu menyodorkan buku yang ia bawa.
"Bawa dong, Mas.. Sorry nih tadi kena macet, udah lama ya?"
Cowok itu tertawa renyah. "It's okay, gue juga udah lama gak nongkrong di Jakarta. Ini udah tahap editing kan? Kapan terbit?"
"Insya Allah 2 bulan lagi.. Wah akhirnya bisa ketemu sama penulis favorit gue juga nih hahahaha." Sahut Raka sambil tertawa.

Cowok yang duduk di depannya bernama Kendira Keenan Razanto. Ia adalah penulis novel favoritnya Raka. Buku bukunya sudah habis dilalap oleh Raka. Walau Iraz sudah kuliah selama 3 tahun di Melbourne, ia masih aktif menulis novel berbahasa Indonesia.

"Akhirnya kopdar juga sama tukang curhat di e-mail gue.. Oh iya, elo kelas 3 kan? Anak mana sih? Masih mau aja keluyuran malem di hari sekolah!" Seru Iraz.
"Sorry deh Mas tapi elo kan ngebantu banget dalam proses penulisan buku gue. Iya Mas, gue di Bakti Wardhani. Ujian masih tahun depan Mas, sepele hahaha."
Iraz mengerutkan keningnya. "Eh elo anak BW juga? Gue alumni angkatan 2011. Dulu sempet jadi Ketos terus aktif Staretrix. Pokoknya gaul  banget jaman SMA!"
"Mas Iraz juga Ketos? Gue juga Ketos sekarang. Gue anak Staretrix, tapi gak aktif. Gila bisa sama gini ya..."

Iraz tertawa lagi. "Ternyata reader gue adik kelas gue juga toh. Ntar deh gue pengen main ke BW. Udah lama banget gue gak kesana.."
"Gampang, ntar kabarin gue aja. Btw lo nyampe kapan Mas? Terus ngapain ke Indonesia tumben banget.."
"Tadi pagi.. Ini gue ambil break kuliah demi ngawasin adik gue, Sasa. Dia super sibuk dan tahun depan UN juga sama kayak elo. Orang tua kami lagi long trip business jadi terpaksa deh gue..."

"Jadi kakak yang baik ya? Hahaha adik lo anak mana Mas?"
"Anak BW juga tuh! Gak tahu tenar apa enggak, cupu dia mah, baca buku mulu."
Raka memutarkan bola matanya. "Sasa yang mana ya.. Kok gue gak tahu anak BW ada yang adiknya elo.."
"Hahaha kapan kapan gue kenalin deh. Eh iya Rak, gimana kabarnya cewe yang selalu lo ceritain di e-mail? Kapan nembak lo?"

Raka menelan ludahnya, ia tersenyum masam. "Gantung, Mas..."

***

"Bi.. Kok kamu tahu aku disini? Aku lagi berantakan banget..." Ujar Resha kaget sembari menata rambut dengan jemarinya. Biru tersenyum kecil lalu menaruh buket bunga mawar yang ia bawa di meja rias kamar tersebut.

Resha terlihat begitu pucat. Matanya sembab. Biru tak tahu harus bagaimana. Ia sadar semua kekacauan yang terjadi pada pacarnya ini disebabkan oleh dirinya. Biru menghampiri Resha lalu langsung memeluknya.

"Kamu kalo sakit kabarin aku... Jangan diem gini. Aku gak akan pernah tahu kalo kamu gak pernah ngasih tahu."
"Aku gak apa apa kok.. Aku baik baik aja.." Ujar Resha lalu terbatuk. Biru membelai rambut kekasihnya lalu tersenyum kecil.
"Maafin aku keadaannya jadi kayak gini.."
Resha menghela nafas. "Kita bicarainnya nanti aja ya? Aku gak mau mikirin itu."

Biru memeluk Resha lagi. "Resh..."
"Iya Bi..."
"Aku sayang kamu..." Ujarnya. 
Resha mempererat pelukannya lalu tersenyum kecil.

"Resh..."
"Kenapa Bi..."
"Maafin aku..."
"Aku selalu-"
"Maafin aku... Tapi aku sendiri bingung kenapa dia masih ada disini. Rasanya bahagia ada kamu, tapi itu gak cukup. Sakitnya selalu ada. Sakitnya selalu membawaku kembali ke masa lalu.. Maafin aku..."

Resha mempererat lagi pelukannya. Ia tak tahu harus bicara apa. Ia hanya menangis dan menangis. Mungkin sampai kapan pun seribu Resha takkan pernah cukup untuk menggantikan seorang Pevita...

Resha kecewa.

***

Pevita baru saja pulang ke rumah setelah kemarin menginap di rumah Salma. Kejadian kemarin sore di sekolah membuat Pevita tak bisa berpikir jernih. Raka benar benar mengaduk aduk hatinya.

Sebenarnya Pevita tak punya hak untuk membela diri, tapi ia sendiri belum bisa mengatakan pada Raka tentang rencana balas dendamnya untuk Biru. Ia takut Raka berpikiran bahwa Pevita gadis yang jahat atau Pevita masih mencintai Biru.

Walau sejujurnya, ia memang masih mencintai cowok itu.

Entah kenapa Biru selalu mengisi setiap ruang di hati Pevita bahkan setelah cowok itu menyakitinya. Pevita begitu menyayangi Biru sampai ia sendiri bingung kenapa ia masih mau bertahan walau hatinya selalu dihancurkan?

Pevita membuka pintu kamarnya dengan setengah hati. Ia benar benar lelah hari ini. Ada ulangan matematika dadakan dan rapat Jurnal yang membuat harinya begitu memuakkan. Sebenarnya ia ingin tinggal lebih lama di rumah Salma karena di rumahnya ia hanya sendirian, tapi ia rasa ia butuh waktu untuk berpikir. Berpikir untuk dia, Biru dan Raka.

Mata Pevita yang sudahh setengah tertutup segera terbuka ketika menyadari seorang cowok yang selalu ia rindukan duduk di pinggiran tempat tidurnya sambil menonton TV. Tanpa pikir panjang, ia langsung melemparkan tasnya dan memeluk cowok itu.

"IRAAAAZ! Kok elo balik gak kabarin gue sih? Kapan balik deh?" Tanya Pevita heboh. Cowok itu langsung terbatuk batuk saking kencangnya pelukan Pevita. Pevita lalu melepas pelukannya dan tertawa.
"Lo mau bunuh kakak lo apa, Sa? Mangkanya jangan sibuk banget dong! Gue nyampe kemarin pagi, kata si Mbok lo lagi nginep di rumah Salma jadi gak gue ganggu.. Padahal gue check in di Path tau!" Cecar Iraz, kakak sematawayang Pevita dengan kesal.
Pevita terkekeh. "Hehehe sorry deh Kendira Keenan Razanto-ku tersayang, gue lagi gak cek Path. Iya nih gue kabur ke rumah Salma, suntuk bangeeet..."

"Pasti lo ribet STJ ya? Tuhkan, istirahat lo! Udah mau ujian!"
"Iya bawel! Ini juga mau kelarin STJ dulu. Oh iya, Mom nyamperin elo ke Melbourne?"
"Iya tapi cuman bentar, udah gitu Daddy gak ikut ke Apartement gue lagi.. Dia nitipin koper gitu, katanya sih isinya buat lo semua. Ada buku pesenan lo juga, dia dapet pas di Bangkok."

Mata Pevita langsung menyala kegirangan. "Yeaaay! Bahagia banget deh gue, terus mereka kapan balik?"
"Mungkin pas New Year's Eve.."
"Jadi.. Lo sampe New Year disini dong? Finally rumah rame juga Raz, gila gue disini sendirian mulu! Lo kemarin kemana aja?"
"Lebay deh lo.. Gue kemarin malem ketemu reader gue gitu, Sa. Dia udah sering kirim kiriman e-mail sama gue dari satu tahun yang lalu.."
"Oh ya? Canggih juga lo Raz punya reader hahaha."

"Rese lo! Dia calon penulis nih. Dia suka cerita soal cewek yang dia suka gitu. Sedih deh dengernya, dia setia banget sama ceweknya tapi si cewek malah milih cowok yang suka nyakitin dia."
"Oh.. Selain jadi tukang nulis lo juga jadi tukang dengerin orang curhat ya, Raz?" 

"Heh, Raisana dengerin gue deh.. Pilih cowok yang konsisten sama elo, Sa. Bukan yang cuman iseng mampir atau jadiin lo rumah kedua." Cecar Iraz ceramahi adiknya.

Pevita mengangguk mengiyakan. "Gak usah ngeraguin love life gue lah, I can handle kok hihihi. Tapi thanks ya, Raz!"

"Sama-sama, Sa. Dia itu ketos sekolah elo lho!"
Mata Pevita terbelalak. "Hah? Ketos, Raz?"
"Iya.. Lo kenal gak? Ganteng tuh.. Coba aja dia yang naksir adik gue.." Ujar Iraz ringan.

Pevita terdiam, ia lalu bangkit dan berjalan meninggalkan kakaknya.

***

"Bahagia banget deh Ay udah Minggu lagi..." Ujar Salma sambil menghirup udara pagi di taman kota. Faldy tertawa kecil.

"Besok juga udah Senin lagi, Ay. Bentar lagi juga UN." Goda Faldy. Salma mencubit tangan pacarnya lalu menggerutu.
"Rese, gak seneng banget liat orang seneng.."
"Seneng kok, cuman lagi pengen ketawa aja. Lagi pusing nih mikirin STJ. Belum ketemu calon Ketum yang tepat."
Salma meraih tangan Faldy lalu tertawa kecil, "duuuh pacar aku ketum sih jadi sibuk banget."

Mereka berdua lalu memutuskan untuk duduk disalah satu kursi taman sambil mengobrol. Beberapa saat kemudian, Salma melihat dua orang yang begitu familier untuknya sedang berjalan berdua dari track jogging. Ia menyikut Faldy.

"Fal, aku gak bisa lihat.. Itu siapa ya?"
Faldy lalu menoleh melihat ke arah pengelihatan Salma. "Siapa sih..."
"Kayak Pevita deh.. Tapi sama siapa? Itu bukan Raka kayaknya.."

Dari kejauhan, Faldy bisa melihat seorang cewek dengan baju putih polos dan disampingnya ada cowok dengan baju biru sedang tertawa berdua. Mereka berjalan semakin mendekat ke arah Faldy dan Salma. Faldy mengigit bibirnya lalu menggerutu dalam hati, "tuhkan apa gue bilang!"

Sementara Faldy teringat akan apa yang Biru lakukan beberapa hari yang lalu, Salma sedang panik menyadari dua manusia itu berani pergi berdua ke tempat umum seperti ini. Ia tidak habis pikir kenapa Pevita tak memikirkan apa reaksi orang orang?

"Oh my God, Faldy.. Serius.. Serius itu Pevita! Pevita jalan sama Biru!"


To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}