Regrets and Revenge chapter 14

I need to try to get you where you are,
Could it be you're not that far?

***



"Non Sasa.. Itu di luar temennya." Ujar Mbok Marni sambil mengetuk pintu kamar Pevita. Pevita yang baru saja mengikat rambutnya langsung menengok ke arah jendela kamarnya. Sebuah mobil Pajero Sport sudah terparkir tepat di depan rumahnya. Pevita tertawa.


Gadis itu bergegas keluar kamar. Ia lalu menuruni tangga dan menyambangi meja makan. Diteguknya segelas susu stroberi dingin sembari melirik jam. Jam dindingnya menunjukkan pukul 7 pagi. Sesuai dengan perjanjian mereka.

"Non Sasa gak mau sarapan dulu?" Tanya Mbok Marni. Pevita menggeleng.
"Mbok  bikinin buat Iraz aja, aku mau pergi sarapan sama Biru.."
Mbok Marni tertawa. "Mas Biru udah lama ya Non gak ke rumah. Biasanya kalo ada Mas Biru kan rame di rumah, apalagi kalo Non Salma dan Mas Faldy ke rumah."

Pevita tertawa mendengar perkataan Mbok Marni. Jelas Biru sudah tidak pernah ke rumahnya, mereka sudah cukup lama putus. Dulu setiap kali orang tua Pevita pergi, Biru sering ke rumah Pevita untuk menemaninya.

Mereka biasanya duduk di taman belakang atau nonton TV di ruang tengah. Sesekali Biru masuk kamar Pevita untuk mengambil buku, tapi mereka tak pernah berada di kamar gadis itu dalam waktu yang lama. Biru dan Pevita sangat menghindari hal itu.

Karena itulah Mbok Marni sangat senang jika Biru menemani Pevita. Selain sopan, ia juga cukup ramah dan baik pada Mbok Marni. Biru juga humoris. Di mata orang orang rumah Pevita, Biru sudah mempunyai nama yang cukup baik.

Sayangnya hubungan mereka berakhir begitu saja. Orang rumah Pevita menyadari itu semenjak hanya Salma dan Faldy yang datang ke rumah. Pevita tak pernah membahas Biru lagi, ia selalu kabur jika ada yang bertanya tentang Biru.

"Biru nya sibuk Mbok hehe. Udah deh, aku pergi dulu yaa.."

Pevita bergegas ke teras depan rumahnya ketika ia menyadari gelak tawa Iraz dan Biru bercampur menjadi satu. Dulu juga saat Iraz sedang di rumah, Biru selalu dengan mudahnya berbicara dengan Iraz. Entah karena mereka sama sama anak basket, tapi Iraz tampak nyaman bicara dengan Biru.

Terkadang Iraz bisa menjadi kakak yang paling menyebalkan di dunia jika ia tahu cowo yang mendekati adiknya itu brengsek. Tapi walaupun Iraz tahu Pevita sudah putus dengan Biru, ia tetap baik pada cowok itu.

"Hai, Bi.." Sapa Pevita sambil tersenyum. Biru tersenyum kecil lalu tertawa.
"Pagi ini dalam rangka apa sih jalan bareng lagi? Balikan ya, Sa?" Tanya Iraz asal bicara. Pevita mencubit tangan kakaknya lalu tertawa kecil.
"Hahaha balikan apaan sih, cuman mau jalan aja."
"Iya Mas, udah lama gak main sama Pevita.. Diculik dulu ya Mas!"
"Yaudah, hati hati ya Sa.. Jagain adik gue ya, Bi! Tahun depan mau ujian, awas kalo sampe lecet!" Seru Iraz yang disambut oleh anggukan pasti dari Biru.


Biru berjalan mendahului Pevita sementara gadis itu mendengus pelan. Andai kamu tahu Raz apa yang dia lakuin ke aku, mungkin kamu gak akan seramah ini pada cowok itu... Ujarnya dalam hati.


***

"Vita! Pevita!" Seru Salma heboh. Faldy menarik tangan pacarnya untuk menjauh supaya Pevita dan Biru tidak melihat mereka. Salma mengerucutkan bibirnya.
"Apaan sih, Fal? Aku pengen nyamperin mereka!" Protes Salma. Faldy mengacak acak rambutnya sambil menggeleng.

"Duh.. Jangan deh Ay. Biarin aja. Faldy males liatnya.."
"Ya tapi kenapa? Kan biar kita bisa pantau mereka..." Kata Salma kesal. Faldy tetap menggeleng sementara Salma langsung melepaskan tangan Faldy dari tangannya.
"Kalo Faldy gak mau, Salma bisa sendiri!" Seru Salma sambil berjalan cepat menuju Pevita dan Biru. Faldy menggerutu lalu mengikuti pacarnya dari belakang.

Pevita dan Biru tampak sedang tertawa kecil sembari menikmati sinar matahari pagi. Ini adalah salah satu kebiasaan mereka dulu. Setiap hari Minggu pagi, Biru akan menjemput Pevita lalu mereka akan pergi ke suatu tempat untuk olahraga dan sarapan.

Sesekali Pevita mencuri pandang pada Biru. Biru benar benar menepati janjinya. Ia menjemputnya pagi pagi dan melakukan segala hal yang biasa mereka lakukan dulu. Biru juga tak menyentuh Pevita sama sekali. Biru tetap menjaga jarak tapi bibirnya terus menerus menyisipkan cerita lama tentang mereka.

Bukan salah Biru juga ia terus mengingat masa lalu mereka. Apalagi sekarang mereka sedang melakukan kebiasaan mereka. Di satu sisi Pevita benar benar bahagia rencananya berjalan dengan sempurna, tapi di sisi lain ia juga berpikir bagaimana bisa ia mematahkan hati Biru saat ia sampai dipuncak balas dendamnya?

Pevita menggeleng, bukan hanya hati Biru. Hati Resha dan Raka. Resha akan sangat sakit hati mengetahui Biru masih mencintai Pevita. Sementara Raka.. Cowok itu akan membenci Pevita karena ia begitu jahat.

Pevita sadar ia memang jahat. Ia menyuruh Raka menunggu sementara ia balas dendam pada Biru. Alasan balas dendamnya pun karena ia masih menyayangi Biru dan ia perduli pada pribadi Biru.

Pevita menghela nafas satu dua. Biru menoleh, "kamu capek Vi?" 
"Eh.. Engg..."
"PEVITAAAA!  BIRUUUU!" Seru Salma dari kejauhan.

Biru dan Pevita pun menoleh. Mereka berdua terkejut mendapati ada Salma dan Faldy pagi ini. Pevita sengaja memilih tempat ini karena ia tahu Faldy bilang dia dan Salma akan pergi main bulu tangkis, bukannya jogging.

"Fal... Katanya lo gak mau kesini." Ujar Pevita agak kesal. Ia tidak enak pada Biru karena cowok itu bilang jangan sampai mereka bertemu dengan orang yang mereka kenal.
"Tuhkan elo lagi sama Biru!" Seru Salma heboh.
Biru tak bicara apapun, ia hanya tersenyum kecil mencoba menutupi kepanikannya.

Biru takut jika Faldy bilang pada Resha tentang ini. Tapi Biru tidak perduli jika Salma bicara pada Raka. Yang Biru takutkan Resha akan marah karena Biru hanya minta izin untuk pergi dengan teman lama tanpa memberi tahu namanya.

Faldy tersenyum kecil, "gimana Bi? Udah bisa milih mau ke Pevita atau ke Resha?"

***

Ghinaa Varesha Girsang
Dit.. Kamu dimana? :(

Rizki Raditya Perfernandi
Resha! Kamu kemana aja? Kenapa telponku gak pernah diangkat?

Ghinaa Varesha Girsang
Sorry, Dit.. Aku lagi sakit. Dit.. Aku butuh ketemu kamu..

Rizki Raditya Perfernandi
Kamu sakit apa sih, Resh? Sorry, Resh.. Aku gak bisa

Ghinaa Varesha Girsang
Lho? Kenapa, Dit? :(

Rizki Raditya Perfernandi
Sejak kemarin aku coba ngehubungin kamu, aku mau pamit sama kamu.
Aku mau balik ke London hari ini...

Ghinaa Varesha Girsang
Kamu bilang kamu bakal selalu ada saat aku butuh kamu!
Kamu gak boleh pergi, Dit:(

Rizki Raditya Perfernandi
I have to, Resh. Exams week nya tinggal seminggu lagi.
Just let me go..

Ghinaa Varesha Girsang
Tapi aku butuh kamu, Dit:(

Rizki Raditya Perfernandi
Kamu disini baik baik ya. Kan ada Syena..
Kamu juga ada Biru kan?

Ghinaa Varesha Girsang
Dit....
Rizki Raditya Perfernandi
But I will be back soon. I promise you, dear.

***


Sampai makan siang pun Pevita masih merasa tidak enak pada Biru. Ia juga takut jika Raka tahu bahwa hari ini mereka menghabiskan waktu berdua. Biru terus tertawa setiap kali Pevita minta maaf.

Siang ini mereka berdua pergi ke salah satu rumah makan padang langganan mereka. Biru dan Pevita sama sama penggila masakan padang. Kali ini Pevita memilih memesan seporsi sate padang sementara Biru memesan nasi dengan gulai ayam.

"Gimana, Vi? Rasanya masih enak?" Tanya Biru sambil tersenyum kecil. Pevita mengangguk pasti. Ia tersenyum puas.
"Masih sama enaknyaaa! Gila udah lama gak makan disini ya, Bi!"
"Iya.. Biasanya kan tiap seminggu sekali kesini ya, Vi.."

Pevita tiba tiba menunduk. "Ini salah,  Bi. Gak seharusnya kita disini. Maafin aku udah minta hal seperti ini sama kamu.."
"Vi... Ini gak salah, kita cuman jalan aja kayak  biasa kan? Toh gak ada yang terjadi diantara kita. Udahlah..."
"Aku gak enak sama Resha, Bi.."
Biru mendesis, "andai cewek itu sama pengertiannya seperti kamu, Vi.."

Pevita tersenyum kecil. Here's my revenge, Bi!

"Jangan bandingin aku sama Resha terus dong..."
"Tapi kamu emang jauh lebih baik kok daripada dia.."
Pevita menaruh sendoknya lalu menatap Biru dalam dalam. "Tapi kamu milih dia, Bi.."
"Tapi... Gak ada yang melarangku kan untuk kembali memperjuangkan kamu?" Tanya Biru sambil menggenggam tangan Pevita.

Pevita tersentak kaget, namun ia tak melepaskan tangan Biru. Ia membiarkan Biru menggengam tangannya diatas meja, seperti apa yang biasanya ia lakukan.

"Apa kamu merasa masih mampu untuk memperjuangkan aku?"
"Masih." Jawab Biru yakin.
"Apa kamu masih pantas untuk dapat kesempatan kedua dariku?"
"Aku tahu kamu masih mencintai aku..."
"Sok tahu." Pevita tersenyum. Namun dalam hatinya ia terus menggerutu. 

"Kalau aku berjuang untuk kamu.. Apa kamu mau kembali padaku, Vi?"

Pevita terdiam, ia tak menjawab. Ia melepaskan tangan Biru lalu kembali melahap sate padangnya. Sementara Biru hanya tersenyum. Penolakan kecil dari Pevita tadi tidak membuat hatinya merasa kecewa. Ia malah semakin tertantang untuk kembali menaklukan hati milik gadis yang duduk depannya.

***

"Raka? Lo kok tau rumah gue?" Tanya Iraz ketika mendapati Raka lah yang memencet bel rumahnya dengan tidak sabaran. Raka memandang Iraz aneh.

"Gue mau ketemu sama Pevita, Mas... Eh berarti lo kakaknya Pevita dong?"
Iraz tertawa. "Iya.. Tapi gue manggil dia Sasa. Ayo masuk!" Ajak Iraz.
"Pantesan gue ngerasa lo mirip sama Pevita, selera sastra kalian sama. Gue tahu Pevita dipanggil Sasa, tapi gue gak nyangka aja dia itu adiknya elo.." Jelas Raka sambil mengikuti langkah Iraz.

"Dunia sempit banget ya! Oh iya, lo ngapain mau ketemu adik gue?"
Raka mengigit bibirnya. "Gue mau minta maaf sama dia atas kejadian beberapa hari yang lalu. Belum seminggu gak kabar kabaran aja gue udah mau mati berdiri.."

Iraz memutarkan bola matanya lalu tawanya pun meledak. "Oh! Jadi cewek yang lo ceritain selama ini tuh adik gue?" 
"Hehehe gitu deh Mas..."
"Gokil juga lo. Emang kenapa berantemnya?"

"Hmm.. Dia deket lagi sama Biru, Mas. Padahal gue sama dia udah buat janji gitu. Gak tahu deh, mungkin emang salah gue terlalu sensi sama Biru."
"Bagus juga lo mau minta maaf.. Tapi sayang, Sasa lagi pergi."
"Pergi kemana Mas?" Tanya Raka heran.
"Tadi pagi dia dijemput Biru, sampe sore gini masih belum pulang. Mungkin bakal sampe malem..."
"Apa? Biru, Mas?!" Tanya Raka kaget. Iraz mengangguk.

Raka tersentak kaget. Tangannya mengepal. Kenapa Pevita melakukan ini padanya?


To be continued....


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}