Regrets and Revenge chapter 15

It's funny how those sweet things end up with nothing.
Some people could leave it behind.
But others keep those memories and live with pain.

***


"Resh, mau makan gak lo?" Tanya Faldy dari pintu kamar Resha. Gadis itu menggeleng sambil terus asyik menatap layar laptopnya. Faldy pun masuk sambil berdehem.

"Lo harus makan kalo enggak sakit lagi. Lo mau gak bisa latihan cheers?" Tanya Faldy sedikit perhatian. Sejujurnya Faldy memang menyayangi sepupunya, hanya saja tingkah Resha yang membuat Faldy gerah berada disekitarnya.
Resha tersenyum kecil lalu menggeleng, "gakpapa kok, Fal. Gue pasti kuat. Thanks ya."
"Lo nungguin telpon Biru?" Tanya Faldy akhirnya. Resha menoleh dengan ekspresi kaget. Tak biasanya Faldy membicarakan Biru dengannya. Resha mengangguk pasti.

"Iya.. Seharian ini gak ada kabar."
Faldy berdehem, "lo gak mau berhenti?" 
"Kenapa harus berhenti?" Tanya Resha sambil menaikkan alisnya. Faldy berjalan semakin mendekat dan duduk di sofa yang berada tepat di depan tempat tidur Resha. Faldy tertawa.
"Barangkali aja lo udah capek diginiin.."
"Diginiin gimana sih? Gue gak ngerti deh..."
"Gak usah berlaga bego, gue tahu pasti lo cukup dewasa untuk mengerti situasi ini. Pevita masih segala galanya untuk Biru.." Ujar Faldy lirih.

Entah kenapa hati Resha tak lagi sakit mendengarnya. Resha sudah biasa dibandingkan dengan Pevita. Resha juga sudah tahu bahwa sampai kapanpun ia takkan bisa menyaingi Pevita.

"Gue sedih, Resh. Gue tahu lo cewek baik. Tapi kenapa lo jadi kayak gini?"
Resha tertawa kecil, "semua orang punya alasan, Fal. Maybe it seems wrong on you, but for me it's the right way."
"Kenapa elo jadi gampang ganti ganti cowok? Kenapa elo bikin image lo buruk di depan orang lain? Gue gak suka liat lo kayak gini.." 

Resha bangkit dari duduknya lalu berjalan dan duduk di samping Faldy. Ia tak menyangka sepupunya akan bicara seperti itu.

"Tapi gue sudah berhenti seperti itu, Fal. Semenjak gue ketemu Biru, semuanya berubah. Gue bener bener sayang sama Biru.."
"Apa lo gak sadar lo cuman dijadiin pelampiasan nafsu Biru doang? Apa lo gak sadar Biru gak sesayang itu sama elo? Di hatinya, Pevita menempati ruang utama, Resh.. Lo udah merebut kebahagiaan cewek lain. Apa lo gak takut karma akan datang kepada elo?"

Resha terisak mendengar setiap perkataan Faldy yang begitu tajam, sakit dan memilukan. Resha tak bisa mengelak, semua yang Faldy katakan ada benarnya. Tapi hatinya tak mau meninggalkan Biru.

"Fal..."
"Resh, jangan lo harapkan kisah yang bahagia dari hasil merebut. Jangan, Resh. Berhentilah.."
Resha menarik nafas dalam, "terus Pevita kembali pada Biru? Terus apa arti dari perjuangan gue selama ini untuk Biru, Fal?!" Teriak Resha dalam dalam.

Faldy langsung memeluk sepupunya, "terkadang cinta memang tak selalu memiliki, Resh.."

***

Setelah berganti pakaian di suatu pom bensin, Biru dan Pevita memutuskan untuk berkeliling Jakarta sampai akhirnya mereka tiba di daerah Ancol. Mereka berdua sedari tadi asyik bercakap cakap.

Jakarta cukup macet hari ini dan sudah hampir setengah jam Biru dan Pevita berhenti di tengah jalan. Bahkan keadaan jalan terlalu macet untuk meminggirkan mobil mereka. Karena kebosanan, Pevita meraih dompet Biru lalu membuka buka isinya.

Dompet hitam itu membuat Pevita tersenyum lalu disambut oleh tawa kecil dari Biru. Dompet Levis itu merupakan hadiah ulang tahun dari Pevita saat Biru berusia 16 tahun. Ketika membuka dompet Biru, Pevita agak sedikit terkejut mendapati ada foto Biru dan Resha sedang berdua.

Di foto itu, Biru sedang mencium pipi Resha dan merangkulnya. Latar foto itu berada di lapangan basket tempat Biru biasa latihan. Pevita tertawa geli, ia sendiri tak pernah membiarkan Biru mencium pipinya di depan umum.

Biru menoleh lalu mengigit bibirnya. Ia agak sedikit canggung ketika menyadari Pevita tertegun cukup lama pada fotonya dan Resha. Dengan cepat Biru langsung menyalakan radio dan membesarkan volumenya. 

Pevita tersenyum lebar saat menyadari lagu yang mengalun dari speaker mobil Biru merupakan lagu favoritnya. "Bi, jangan dipindahin ya!" Serunya sambil menatap Biru. Cowok itu tersenyum kecil sambil mengangguk.

The story starts when it was hot and it was summer
And I had it all, I had him right there where I wanted him
She came along, got him alone, and let's hear the applause
 She took him faster than you can say sabotage


"Pevita masih suka banget ya sama Taylor Swift?"
"Iya, enak banget lagunya!"



I never saw it coming, wouldn't have suspected it
I underestimated just who I was dealing with
She had to know the pain was beating on me like a drum
She underestimated just who she was stealing from


Pevita kembali sibuk dengan dompet Biru. Ia iseng membuka satu persatu tempat yang berada di dompet tersebut. Namun matanya kembali ke arah tempat foto. Dulu Biru menaruh fotonya dan Pevita yang diambil saat pergi ke Dufan. Pevita ingat sekali mereka berdua suka menikmati pemandangan Jakarta saat naik wahana Bianglala. 

She's not a saint, and she's not what you think
She's an actress, whoa
She's better known for the things that she does
On the mattress, whoa

 

Pevita tiba-tiba terdiam. Ia meremas tangannya sendiri. Jika saja Resha tidak hadir, foto yang berada di dompet Biru masih foto itu -atau mungkin foto baru lainnya. Bukan foto Biru dengan Resha..

Soon she's gonna find stealing other people's toys
On the playground won't make you many friends
She should keep in mind, she should keep in mind
 There is nothing I do better than revenge, ha


Ketika Pevita merogoh tempat foto, ia terkejut mendapati fotonya dan Biru terletak di belakang foto Resha dengan Biru. Pevita berusaha sekuat mungkin menahan tawa sekaligus air mata yang ingin mengalir. 

Hatinya semakin yakin untuk melanjutkan revenge ini. Ia merasa begitu sakit hati mendapati dompet yang ia berikan kini berisi foto mesra cowok yang begitu ia sayangi dengan cewek lain. Cewek yang begitu saja merebut bagian terpenting dari hidupnya.

I'm just another thing for you to roll your eyes at, honey
You might have him, but haven't you heard?
I'm just another thing for you to roll your eyes at, honey
 You might have him, but I always get the last word whoa oh 

Biru menatap Pevita keheranan. Ia merasa gadis itu menyembunyikan sesuatu. Ia tampak begitu menikmati lagu Better Than Revenge ini dengan tatapan mata berapi api. Apa yang sebenarnya Pevita lakukan? Apa ia ingin balas dendam pada Biru?

And do you still feel like you know what you're doing?
'Cause I don't think you do, oh
Do you still feel like you know what you're doing?
 I don't think you do, don't think you do 

Tidak. Pevita tidak akan melakukan hal itu. Sangkal Biru dalam hati. Pevita lalu mengeluarkan foto Biru dengannya. Ia tertawa kecil sambil bergumam, "aku kangen ini.."

"Iya.. Udah lama ya kita gak lihat kota Jakarta dari Bianglala Dufan.." Sahut Biru.
"Kamu pasti pergi ke sana sama Resha.." Ujar Pevita lirih. Biru langsung menggeleng.
"Enggak, cuman kamu cewek yang selalu naik Bianglala itu sama aku."
Pevita tersenyum malu sementara Biru tertawa renyah.

"Aku gak gombal.. Aku serius.."
"Kamu gak pernah bisa dibedain antara gombal sama seriusnya.."

Let's hear the applause
C'mon show me how much better you are
See you deserve some applause
'Cause you're so much better
She took him faster than you can say 'sabotage'


Biru menatap Pevita dalam dalam, lalu ia menggenggam tangan Pevita. "Vi.. Masih punya Annual Pass Dufan, kan?" Tanyanya halus. Pevita tertawa kecil lalu mengangguk kecil.

Sorry, Resha. I may hurt you the way you've hurted me. But I have to do my revenge.

***

"Udah sore banget, Mas.." Ujar Raka lirih. Iraz menghela nafas sembari menaruh telpon rumahnya.
"Handphone nya masih gak aktif. Sebaiknya lo pulang aja deh, Rak. Besok lo harus sekolah kan?"
"Tapi gue mau nungguin Pevita, Mas..."
"Sebenarnya kanapa sih Pevita seperti ini?" Tanya Iraz keheranan.

Raka telah menceritakan semua hal yang ia ketahui pada Iraz. Tentang bagaimana ia jatuh cinta pada gadis itu, bagaimana akhirnya mereka bisa menjadi dekat dan bagaimana Biru tiba-tiba masuk lagi ke kehidupan Pevita.

"Entahlah, Mas. Gue sendiri gak ngerti apa yang Pevita mau. Yang jelas Biru masih bersama Resha sampai saat ini."
"Kalo gue lihat sih, ini seperti tulisan novel gue. Mereka akan kembali bersama, Rak."
"Kalo gitu kenapa Pevita harus singgah di gue Mas? Apa dia gak sadar apa yang dia lakuin cuman nyakitin hati gue?"

Iraz tersenyum kecil, "cinta itu datang dan pergi, Rak. Mereka tidak pernah benar benar menetap sampai ikatan pernikahan menyatukan mereka. Mungkin sudah saatnya Pevita pergi untuk kembali pada hari dimana tidak ada Biru yang akan memisahkan kalian."

"Tapi, apa Pevita akan menyesal kalo gue pergi?"

Iraz terdiam lalu mengangguk, "semua orang pasti akan menyesal, Rak. Tapi tidak semua orang akan mengetahuinya."

***

Pevita selalu menyukai pemandangan dari atas Bianglala Dufan ketika malam tiba. Cahaya lampu kota membuat suasana begitu romantis. Malam ini wahana Bianglala cukup sepi sehingga Biru dan Pevita diperbolehkan untuk menaiki satu tempat hanya berdua.

Biru duduk di depan Pevita sembari menggenggam tangan gadis itu erat. Pevita selalu menikmati saat saat genggaman Biru. Biru selalu membuatnya nyaman dan aman. 

Biru terus menerus menatap Pevita hingga akhirnya gadis itu merasa risih. Pevita tertawa kecil, "kamu ngapain sih Bi..."

"Vi maafin aku udah ninggalin kamu..."
Pevita tersenyum kecil. "Semuanya udah lewat lama, Bi.."
"Vi aku selalu berharap bisa kembali bersama kamu.."
"Biru.. Kamu udah punya Resha..."
"Tapi hatiku tertinggal padamu."

Pevita terdiam. Ia sadar cara bicara Biru sudah berubah menjadi formal. Sudah menjadi kebiasaan Biru untuk bicara begitu formal ketika ia serius. Pevita tahu apa yang Biru katakan bukan sekedar kata kata. Biru pasti sungguh sungguh.

Disatu sisi Pevita sedih karena apa yang ia lakukan hanya untuk balas dendam. Namun disisi lain Pevita begitu bahagia, sebentar lagi ia bisa menyelesaikan misinya dan meninggalkan cowok itu.

"Kamu mau minta maaf berapa kalipun gak akan merubah apapun. Kita sudah berpisah seperti ini."
"Tapi mungkin aja kan Vi kita balik lagi?"
Pevita terdiam, ia memalingkan pandangannya.
"Kalau aku berjuang kamu mau kan kembali padaku?"
Pevita tak menjawab, ia mengigit bibirnya.
"Vi.. Kamu masih sayang kan sama aku?"
"Aku.. Memang masih sayang sama kamu, Bi."

"Aku mungkin gak bisa ngasih kepastian saat ini, tapi aku harap kita bisa jalanin dulu seperti ini. Aku bener bener merindukan kamu. Tapi aku takut aku salah langkah. Aku gak mau berakhir menyesal lagi. Tapi kamu harus percaya, aku benar benar menyayangi kamu, Pevita.." Jelas Biru dengan suara begitu sendu namun nyaman didengar.

"Bi..."
"Vi, aku tahu kamu sayang juga sama aku. Please, tunggu aku. Please jangan sama Raka.."
"Biru..." Ujar Pevita lemas. Biru merengkuh wajah Pevita sambil menatap mata gadis itu dalam dalam. Matanya begitu sendu dan pilu. Bibirnya seakan ingin tersenyum namun tak mampu. Ia menahan nafasnya.

"Aku benar benar menyesal meninggalkan kamu, Vi.."

***

Resha terbangun tepat pukul 2 pagi. Ia memeluk dirinya sendiri sambil mencoba menenangkan diri. Mimpi buruk kembali menyambangi tidurnya. Perasaan bersalah pada Pevita terus menghantui malam malam Resha.

Entah sejak kapan Resha merasa sangat bersalah pada Pevita. Tapi ia sendiri tak mau minta maaf atau mengembalikan Biru pada Pevita karena bagi gadis itu, Biru Samudra Nusantara adalah segalanya.

Pikirannya melayang layang mengingat Radit. Ketika bersama Radit, Resha bisa melupakan Biru. Resha bisa kembali menjadi dirinya yang dulu. Tapi ia tahu semua itu salah. Ia tak mau berselingkuh dan meninggalkan Biru untuk cowok yang dulu menolaknya.

Kenapa Radit baru datang sekarang ketika Resha sudah berhasil berpindah hati pada Biru?

Resha menguap. Tangannya meraba raba tempat tidur mencari iPhone 5C warna pink miliknya. Ketika ia menyalakan handphonenya, ia mendapati banyak miss call dan puluhan chat dari Biru baik melalui BBM ataupun Line.

Jemari Resha menari nari di layar handphonenya. Ia tak membalas satupun chat dari Biru. Ketika ia membuka aplikasi SMS, terdapat satu pesan dari Biru.

Biru Samudra Nusantara (Mobile)

Ay, hp aku mati tadi. Aku bbm kamu gak deliv sih? Udah tidur ya? Aku minta maaf banget gak ngabarin kamu hari ini.. Kamu cepet sembuh ya.. Besok kita pergi, okay? I love you sweetheart. Sleep tight there;}

Resha tersenyum kecil namun beberapa saat kemudian ia menangis. Ia bertanya dalam hatinya apakah Biru benar benar mencintainya? Apa yang Faldy katakan tadi benar? Apa Biru hanya melampiaskan nafsunya pada Resha karena ia bosan dengan Pevita?

Untuk malam ini, pertama kalinya semenjak Biru mengucapkan kalimat itu pada Resha, ia tak lagi bisa merasakan kalimat "I love you" yang semanis dulu...

***

Upacara bendera pagi ini terasa jauh lebih lama daripada biasanya. Pevita semenjak tadi terus mengintip jam tangan Casio hitamnya. Ia ingin segera pergi dari sini dan masuk ke dalam kelasnya. Hatinya merasa tidak nyaman. 

Tentu saja Pevita merasa seperti itu karena orang yang ingin ia hindari berdiri tepat di sampingnya dalam keheningan. Biasanya cowok itu mengajak Pevita ngobrol atau menjahili Pevita. Namun pagi ini tatapannya kosong, wajahnya begitu dingin.

Pevita lupa memberi kabar pada Raka. Seharian dengan Biru kemarin membuat Pevita tidak  ingat bahwa ia dan Raka saling berjanji untuk memberi kabar setiap hari. Raka terus mengiriminya pesan dan beberapa kali menelpon, tapi tidak ada yang ditanggapi oleh Pevita karena handphone-nya sengaja ia matikan. Pevita dan Biru memang janjian untuk mematikan handphone selama jalan jalan kemarin.

Ketika upacara dibubarkan, Salma tak langsung mengajak Pevita kembali ke kelas. Ia malah berbincang dulu dengan Faldy di lapangan. Tiba-tiba seseorang menyentuh pundak Pevita sehingga ia refleks menoleh.

Pevita menelan ludah. Ups, Raka's here.

Mata Raka menatap Pevita tajam dan dingin. Ia berdehem. "Ehm, puas jalan jalan sama Biru?"

Pevita terdiam, ia mengigit bibirnya. Oh no, Khansa Pevita Raisana. You're in trouble now.



AAAAK BIRU RESE BANGET! To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}