[FLASH FICTION] Cinta Datang Karena Terbiasa

Orang bilang cinta menyapa selalu pada saat yang tak terduga. Cinta tak bisa dipaksakan ataupun diatur kedatangannya. Semuanya serba kejutan. Kita bahkan tidak tahu pada siapa kita akan menjatuhkan hati kita.


Melihat kamu tertawa merupakan salah satu bagian menarik dari hariku. Sudah kubilang, kamu terlalu menarik untuk aku lewati begitu saja. Aku berharap perasaan tertarik ini akan berhenti ketika aku bisa sedikit mengenal pribadimu. Tapi aku salah. 

Setiap detik yang kita habiskan bersama membuat aku semakin tidak bisa melewatkan kamu.

Senja menyapa langit ketika aku menyadari sudah terlalu sore untuk menunggu kamu latihan eskul. Aku selalu suka melihat kamu berlari dengan pakaian Merpati Putih yang membuatmu tampak jauh lebih gagah daripada biasanya.

Lima belas menit kemudian kamu sudah berjalan sambil membawa tas ke arahku. Kuputuskan untuk terlihat jauh lebih sibuk saat menyadari kamu semakin dekat. Aku terkekeh melihat wajahmu yang begitu lelah.

Aku selalu melihat kamu, kamu selalu melihat aku, tapi kita tak pernah bertegur sapa.

Sebenarnya latihan paduan suaraku sudah selesai setengah jam yang lalu, tapi kusibukkan diriku untuk tetap melihat kamu. Aku teringat hari pertama aku masuk sekolah ini dan melihatmu. 

Kamu berjalan di koridor kelasku. Kelasmu berada di gedung kedua dan menghadap lapangan. Setiap istirahat atau jam olah raga aku selalu menyempatkan diri melihat ke atas. Tapi aku hanya bisa tersenyum sendiri setiap kali aku melihatmu.

Salah satu bagian favoritku saat bertemu denganmu adalah ketika kamu bermain gitar di mimbar sekolah. Sore itu sudah terlalu gelap untuk kamu tetap berada di sekolah, tapi kamu dengan santainya masih duduk di mimbar dan bermain gitar sesukamu.

Kita sering berpapasan, tapi entah apa kamu memperhatikanku atau tidak.

Aku ingat saat itu ujian tengah semester, kamu diminta oleh guruku untuk duduk di kelas dan mengawasi sementara ia pergi keluar. Aku sedang dalam keadaan kacau saat itu. Kugerai rambutku untuk menutupi pipiku yang merona saat teman temanku meledekku.

Kamu selalu bisa membuat hariku lebih berwarna walaupun kita tak pernah bicara.

Aku selalu mendambakan suatu hari nanti bisa bicara denganmu. Sebentar lagi hari kelulusanmu tiba. Aku tak bisa melihatmu lagi dari depan kelas. Aku tak bisa lagi mengagumimu dari jauh.

Kuputuskan untuk berhenti mengirimimu salam lewat teman temanku semenjak aku sadar bahwa kita takkan pernah kenal ataupun bicara. Tapi mungkin ini yang namanya perasaan.

Bahkan tanpa bicara pun, aku sudah bahagia.

Jadi saat kamu melewatiku, kuputuskan untuk bicara. Mungkin ini momen sekali dalam seumur hidup. Mungkin aku takkan pernah punya momen ini lagi untuk bicara denganmu. Aku menarik nafas satu dua lalu bangkit dan berusaha tersenyum.

Aku berjalan mengikutimu dan ketika aku sampai tepat dibelakangmu, aku tersenyum lagi. "Mas.. Mas Arya..." Sapaku agak gugup.

Kamu menoleh lalu tersenyum kecil. Senyuman yang kupastikan selalu menjadi daya tarikmu. Menjadi alasan kenapa perasaan konyol ini terus tumbuh setiap hari. Membuat jantung berdetak lebih kencang dan pipi merona kasmaran.

Mungkin setiap harinya tatapan mata kita yang selalu bertemu membuatku terbiasa untuk tersenyum karenamu. Mungkin karena itu aku jauh lebih berani untuk bicara. Kamu membuka mulutmu lalu mengangguk.

"Iya Dhira..."

Mungkin memang cinta datang karena terbiasa.


Cirebon, 21 Juli 2014
Well, habis tugas negara....


You may also like

2 comments:

  1. lis, flash fiction apaan sih? cerpen? tapi kok pendek bingit ya? =D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karangan kayak cerpen yang berkisar 250-1000 kata tan jadi pendeeek:D

      Delete

Leave me some comment! Thank you, guys:}