Regrets and Revenge chapter 16

Sure was fun being good to you
-Paper Doll, John Mayer

***


"Ehm, puas jalan jalan sama Biru?" Tanya Raka sambil  berusaha meredam emosinya. Pevita mengigit bibirnya. Raka tahu gadis ini takkan menjawab. Pevita menyibakan rambutnya lalu tersenyum kecil.

"Ya.. Puas gak puas, udah lama gak pergi sama temen main. How's your day, Rak?" Jawab Pevita berusaha menceriakan suasana. Pevita berharap dengan sikapnya yang seperti ini akan membuat Raka tidak berpikir bahwa gadis itu akan kembali pada Biru. 
Raka berdehem, "temen main? Kok cuman berdua?"
"Oh itu.. Iya dulu waktu kita SMP tuh kalo cuman keliling kota sih berdua. Nah kalo pergi ke Dufan dan lain lain-"
Raka langsung memotong pembicaraan Pevita. "Handphonenya harus dimatiin? Harus gak ada kabar?" Tanya Raka sedikit geram.
"Sorry, Rak.. Aku sama Biru udah janjian buat matiin handphone selama seharian. Kami berniat membuat perjalanan rahasia. Tapi kamu kok tahu aku pergi sama Biru?"

Raka menghela nafas mendengar perkataan Pevita. Pevita bisa menepati janjinya pada Biru sementara ia lupa pada janji mereka untuk selalu saling mengabari. "Kamu kenapa gak kabarin aku?"

"Aku pikir kamu masih marah sama aku..."
"Aku ke rumah kamu, nungguin kamu seharian! Aku coba hubungin kamu tapi kamu gak ngerespon. Sampai malam pun kamu gak ngasih aku kabar."

Pevita menduduk, ia tak berani menatap Raka. Mata coklat Raka memancarkan emosi yang sudah tak bisa ditahan. Namun Pevita bisa merasakan kekecewaan yang mendalam dari tatapan mata ketua OSIS itu. 

Pevita sadar ia salah. Pevita tahu Raka benar benar marah kali ini.

"Maafin aku, Rak.."
"Sebenarnya kamu ada apa sih sama Biru? Aku capek, Vi. Kalo kamu mau balik sama Biru, ngapain kamu mengiyakan aku waktu aku ngajak kamu untuk berkomitmen?"
Pevita terisak, "Rak... Kamu gak ngerti..." Pevita meraih tangan Raka tetapi cowok itu menghempaskannya.

"Aku gak akan pernah ngerti selama kamu gak pernah ngejelasin, Vi." Ujar Raka sambil berbalik dan meninggalkan gadis yang begitu ia sayangi. Pevita menangis. Hatinya teriris.

Apa yang harus ia pilih? Bahagia dengan Raka dan meninggalkan Biru atau mengorbankan Raka sedikit lagi sampai rencana balas dendamnya terlaksanakan?

Karena Pevita sadar hati Raka takkan bisa menunggu lebih lama lagi.

***

"Sayang..." Panggil Biru pelan. Resha yang sedang mengerjakan tugasnya pun mendongak lalu tersenyum kecil. Biru mengecup dahi Resha lalu membelai rambutnya. 

"Gimana keadaan kamu? Udah enakan?" Tanya Biru. Resha mengangguk kecil.
"Udah kok, Bi.. Kamu kemarin kemana aja?"
Biru memutarkan bola matanya. Ia tak berani menatap Resha. "Oh... Itu aku..."
"Kamu pergi sama Pevita ya?" Tanya Resha halus.

Skakmat, Bi. What you'll say to her? Biru menggerutu dalam hati. Tangan Biru langsung tegang sementara Resha tertawa kecil melihatnya. Sebenarnya tanpa bertanya pun ia sudah tahu jawabannya.

Hati Resha mulai merasakan kekecewaan nya, tapi otaknya terus bersugesti untuk bersabar. Resha harus menjadi cewek manis dan pemaaf. Ia tidak boleh terlalu cemburu pada Pevita. Pevita hanya masa lalu Biru. Pevita sudah bersama Raka sekarang dan Biru takkan pergi kemana mana. Mereka hanya berteman kembali. 

Apa salahnya jika mereka berteman kembali?

"Bi, gak usah tegang gitu deh. Aku gakpapa kok. Biru boleh temenan sama siapa aja.."
Biru mengerutkan dahinya. "Resh? Resha serius?"
"Aku ngerti pasti kamu kangen deh main sama Pevita, Faldy dan Salma. Kalian kan dulu sering main bareng. Aku gak mau karena ada aku sekarang kamu jadi kehilangan teman teman kamu. Lagian aku gak punya alasan untuk cemburu lagi sama Pevita. Pevita udah sama Raka sekarang dan aku percaya, kamu gak akan kemana mana..." Jelas Resha sambil menggenggam tangan Biru.

Biru tersenyum lebar. Ia tak menyangka Resha sekarang menjadi sangat dewasa. Mungkin Faldy sudah bermaafan dengan Resha dan memberikan Resha sedikit wejangan. Biru memperhatikan mata Resha. Tak ada kebohongan di dalam sana. Biru percaya yang Resha katakan tadi adalah ketulusan.

"Iya.. Aku pergi sama Pevita. Kami cerita banyak hal. Aku cerita tentang kamu dan dia cerita tentang Raka. Kami berdua emang gak ngasih tau siapa siapa. Kemarin itu perjalanan rahasia.."
"Tapi gak ada yang bisa kamu rahasiakan dari aku, Bi.." Ujar Resha sambil tertawa. Ia lalu berkata, "aku gakpapa kok kalo kamu temenan lagi sama Pevita. Aku gak mau ngekang kamu. Aku mau kita saling percaya aja."
"Makasih banyak ya, Resh... Maafin aku kalo sempet buat kamu cemburu kalo aku lagi sama Pevita..." 

Resha tersenyum lebar, "apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan kita, Bi.."

***

Syevina Amelia Girsang (Mobile)

Lo ke ruang OSIS sekarang ya, ada pergantian jadwal STJ eskul. ASAP.

Raka berjalan lebih cepat daripada biasanya. Ia tak pernah suka dipanggil untuk bertugas saat istirahat makan siang tapi ia bersugesti bahwa sebentar lagi masa jabatannya akan berakhir. Sesampainya di ruang OSIS, Raka sudah bisa melihat banyak ketua eskul yang berkumpul membuat ruangan itu terasa sesak.

Almira, sekretarisnya sedang sibuk bolak balik membawa setumpukan file yang tampaknya baru saja ia ambil dari ruangan Wakil Kepala Sekolah. Raka menghela nafas pelan lalu berjalan mendekati Almira.

"Al, kenapa diganti lagi? Ini semua proposal yang kemarin kita ajuin, kan?" Tanya Raka keheranan. Almira duduk di meja sekretarisnya lalu mengangguk.
"Iya, Rak. Gue kira jadwal yang MPK bikin kemarin udah fix kan, taunya wakasek udah bikin lagi dong. Semuanya di switch dan kita harus pakai yang dari mereka. Iya, udah diajuin, tapi ada beberapa eskul yang ditolak. Kata Bu Indah, kalo udah lebih dari 5 kali ditolak suruh bareng MPK aja majunya, gak usah sama elo lagi." Jelas Almira dengan sangat cepat. Raka menggeram.

"Arrrgh, ini sih ngulang kerjaan lagi. Udah deh gak usah pake rapat, langsung sebar aja!"
Syena menepuk pundak Raka lalu menggerutu. "Rese nih wakasek. Kemarin katanya jadwal gue gakpapa di rilis aja, ini malah diganti pas lagi pekan ulangan. Ketua eskul pada ngomel ngomel ke gue apalagi anak anak di CMA. Ngamuk semua!"

CMA atau Creative, Music & Arts adalah eskul paling ternama di SMA Bakti Wardhani. Eskul itu membawahi lebih dari 5 divisi dengan ketua umum bernama Stefani Maharani Wijaya. Raka tertawa kecil, "dikit lagi kelar kok. Bantuin kasih pengertian ke ketum ya. Sukses!"

Syena pergi meninggalkan Raka sementara cowok itu membantu sekretarisnya memisahkan proposal yang diterima dan yang tidak diterima. Ditengah keramaian ruangan OSIS, tiba-tiba seorang cewek berdiri di sebelah Raka lalu tersenyum kecil pada Almira.

"Al, sorry baru dateng. Kenapa jadwalnya dirubah? Boleh minta jadwal Jurnal?" Tanyanya dengan halus. Raka menghela nafas lagi, tanpa menoleh pun ia sudah hapal suara cewek yang berada disampingnya. Almira mengangguk lalu memberikan jadwalnya pada cewek itu.
"Kebijakan wakasek, Vit. Pevita sih enak dari minggu pertama jadi hari terakhir di minggu kedua... Eh Biru, lo kemana aja sih! Tadinya mau gue kasih ke Rendy aja. Abis lo gak dateng dateng." Gerutu Almira ketika Biru datang dan berdiri tepat di samping Pevita.

Cowok itu terkekeh, "sorry Al.. Lo kan anak basket juga, kenapa enggak ngambilin aja sih.."
"Ah, Biru sih kapan bisa diharepin sih Al!" Sahut Pevita yang diikuti tawa Almira.
"Gak usah rese deh, Vi! Basket kapan STJ nya?" Tanya Biru sambil mengambil kertas yang Pevita pegang.



"STJ Basket barengan sama STJ Jurnal. Selamat, ya. Kalian bisa sama sama lagi." Ujar Raka sinis sambil membereskan file proposal yang diterima lalu berbalik dan meninggalkan meja Almira.

Pevita berusaha tersenyum tetapi tidak bisa. Ia melihat Almira tertawa kecil lalu kembali ke pekerjaannya. Pevita menghela nafas lalu menoleh ke arah Biru ketika menyadari cowok itu terus memperhatikannya sambil tertawa.

"Kenapa lo?" Tanya Pevita kesal.
Biru tertawa kegirangan, "lucu aja. Awkward moment."

***

Sesampainya di rumah, Pevita bergegas mandi dan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia tak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang. Di satu sisi memang sebuah kesalahan untuk tidak mengabari Raka mengingat perjanjian diantara mereka. Tapi disisi lain, Raka sedang marah dengan Pevita jadi untuk apa gadis itu memberi kabar?

Langkah kaki Iraz yang begitu berisik membuat lamunan Pevita pun buyar. Beberapa saat kemudian kakaknya masuk lalu ikut merebahkan diri di samping adiknya. Ia lalu menyalakan TV dan mulai bicara.

"How's your day?" Tanya Iraz tanpa melihat adiknya.
"Pretty good. Jadwal STJ untuk eskul gue diundur. I'm so happy! How's yours?"
"Glad to know. I'm okay." Jawab Iraz singkat.
"Lo gak mau pergi kemana gitu? Mau gue temenin, Raz?" Tanya Pevita menawarkan.
Iraz menggeleng, "No, thanks. Gue masih pengen males malesan di rumah. Well, Sa... May I ask you?" 
Pevita menelan ludahnya. Ia mengangguk, "sure."

"Sebenarnya apa yang gue gak tahu antara lo, Biru, pacarnya Biru dan Raka? Gue gak bermaksud untuk mencampuri urusan lo, Sa. Lo harus tahu, kemarin Raka nungguin elo seharian dan dia bukan pacar lo. Tapi dia setia untuk elo dan elo sudah berjanji mau membuka hati untuk dia. But I dont understand why..."

Pevita tertawa renyah, "kenapa gue masih jalan sama Biru? It's a revenge, Raz."
"Revenge?" Tanya Iraz keheranan. Pevita bangkit dari tidurnya lalu duduk sambil menyandar di sandaran tempat tidurnya. Iraz berdehem lalu mematikan TV.
"Semuanya baik baik saja sampai gadis itu datang. Namanya Ghinaa Varesha Girsang..."

***

Setelah sekian lama akhirnya sore ini Biru pergi berdua dengan Resha. Ia menemani Resha makan sushi di salah satu restoran dekat sekolah sampai matahari terbenam. Entah mengapa hari ini Biru merasa Resha jauh lebih menyenangkan daripada biasanya.

Resha menjadi super manis dan pengertian. Pembicaraan mereka pun kembali asyik dan tidak lagi menyulut emosi satu sama lain. Resha terasa berubah sekarang. Ia seperti Resha yang pertama kali Biru kenal namun lebih baik. Biru merasa kini gadis itu mirip dengan Pevita.

Pevita.. Pevita.. Biru terkekeh. Kenapa gadis itu kembali tepat disaat ia merasa jenuh dengan Resha? Kenapa Resha menjadi sesempurna ini ketika Pevita mulai memberikan jalan untuk Biru kembali?

Biru meneguk jus melon nya lalu terkekeh. Mungkin ia sudah gila sekarang. Mungkin ia takkan kembali waras semenjak dua gadis itu membuat harinya menjadi lebih bahagia belakangan ini. Tapi Biru baru menyadari, ia tak bisa seperti ini terus..

Biru harus memilih. Tapi ia tak mau menanggung resikonya.

Kedua gadis yang berada di hadapannya kini adalah gadis yang selama ini ia impikan. Baik Resha maupun Pevita, mereka gadis yang Biru cari. Biru tak ingin memilih meski ia harus memilih.

Karena hatinya ingin kedua gadis itu terus bersamanya tanpa perlu ada yang dikorbankan.

***

"Niat gue tuh mau minta maaf sama Pevita karena gue kasar pas terakhir ngomong sama dia. Gue gak bisa pisah dari cewek itu, Sal. Udah lama gue naksir sama dia, gue gak mau ngelepasin dia gitu aja.." Ujar Raka kesal.

"Gue ngerti, Rak.. Gue tahu lo sayang banget sama Pevita dan lo juga harus tahu, dia juga sayang banget sama elo.."
"Tapi kenapa dia deket lagi sama Biru, Sal?"
"Kita kan dulu sahabatan Rak dan-"
"Siapa yang akan percaya kalo kedekatan mereka cuman sebagai sahabat? Elo? Faldy? Iraz? Resha?! Karena gue gak pernah percaya itu, Sal. Gue yakin ada sesuatu yang Pevita sembunyikan."

Salma menepuk bahu Raka. "Kalo lo udah sayang sama Pevita, lo harus percaya sama dia Rak. She has her reason. Mungkin sekarang belum saatnya dia kasih tahu elo, mungkin nanti.."

Salma tahu apapun yang ia katakan pada Raka sekarang takkan diterima olehnya. Otak dan hatinya akan selalu menolak. Pikirannya terus bersugesti bahwa Pevita akan mengkhianatinya. Salma tidak mau Pevita kehilangan cowok sebaik Raka, tapi ia juga mau Pevita melanjutkan revenge-nya...

"Pevita masih sayang kan sama Biru?"

Salma meringis. Oh ayolah, Vit. Selesaikan revenge lo!

***

Setelah hampir 30 menit Pevita baru selesai bercerita sementara Iraz tak berkomentar apa apa. Pevita menceritakan awal kedatangan Resha, kehancuran Pevita dan Biru, kedatangan Raka dan rencana revenge-nya. Ia juga mengakui bahwa ia salah membuat Raka menunggu terlalu lama.

"Kenapa elo gak bilang ke Raka tentang revenge lo, Sa?" Tanya Iraz akhirnya. Pevita menggeleng.
"Gue gak siap lihat reaksinya, Raz. Gue takut Raka mikir gue masih sayang sama Biru atau lebih parahnya dia mikir gue cewek yang jahat. Gue gak mau..."
"Well, elo emang masih sayang kan sama Biru?"
Pevita menunduk lalu mengangguk. "Gue gak bisa lupain dia semudah itu.."
"I can see it kok, Sa. Walaupun gue gak bisa membenarkan revenge lo, tapi alasan lo melakukan semua ini juga karena lo pengen orang yang lo sayang itu berubah. Lo pengen dia dapet tamparan dari penyesalannya."

"Tapi gue bingung, terkadang gue pengen kembali sama dia Raz.."
"Lo mau kembali pada orang yang udah nyakitin elo?"
"Tapi..."
"Sa, masa depan lo ada di Raka. Gue gak lihat apapun kalo lo tetep sama Biru. Dengan lo kembali sama Biru, revenge lo bakal sia sia. Gue tahu lo cuman kebawa suasana doang."
"Apa pantes gue sama Raka setelah apa yang gue lakuin?"
"Lo sayang sama Raka kan? Lo bilang sama Raka, lo jelasin semuanya."
"Apa dia gak bakal sakit hati kalo tahu alasan gue melakukan ini sama Biru?"

"At first, pastilah. Siapa sih yang gak bakal sakit hati kalo tau cewek yang dia sayangi tuh sayang juga sama cowok lain? Tapi kan lo juga sayang sama Raka dan sekarang keadaannya rasa sayang lo sama Biru itu cuman lo pake buat memperbaiki Biru -seorang cowok yang pernah menjadi bagian hidup lo dan terhitung teman dekat lo. Raka pasti ngerti kok, Sa.."

"Apa gue bisa, Raz?" Tanya Pevita ragu.
Iraz mengangguk pasti. "Love will find their way."


To be continued....


You may also like

6 comments:

  1. kurang ajar.
    kurang ajar.

    dari kemarin kurang terpanggil baca cerbung yang satu ini, gara gara udah ketinggalan dari yang nomor 1.
    trus entah kenapa coba iseng baca yang chapter ini.

    padahal nggak tau cerita awalnya. padahal nggak tau cerita tengahnya. PADAHAL BARU BACA SEKALI. BUT THIS. IS. JUST. SO. DAMN. GREAT.

    ah entahlah kok saya langsung terbawa ya
    nyesal ga baca dari awal.

    kurang ajar
    kurang ajar

    -tertanda. pembaca yang menyesal. mengetik komentar dengan geram. assalamualaikum *baca Regrets and Revenge chapter 1*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah.. Ini orang baru kelar shalat malah baca kayak ginian wkwk. Semangat bacanyaaaa!:p

      Delete
  2. Bener tu Vi lo harus cepet nyelesain revenge digantung itu nggk enak loh apa lagi kalo disuruh nunggu. Ohia Raka juga nggk boleh plimplan udah punya resha malah mau balik ke Pevitaa,labil banget-__- cowok baik itu harus punya komeitmen*cieh ileeh*.. Btw maap ya Ti baru ngomen sekarang karena gue pikir fuelnya penulis itu ya commentnan readersnya jadi ya baru ngomen skrg ckck .. Maap lagi telat baca hehe btw NEXTnya ASAP yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiii kamu makasih yaaa udah baca aku seneng banget kamu leave comment ikikik:p Btw itu bukan Raka kali maksud kamu tapi Biru.. Hehehe insya Allah, target seminggu 1 kok rutin. Terus baca yaaaaa!:3

      Delete
  3. Dafuk bgt lah ini... drama bgt gilak ribet bgt gilak gilakkkkkk

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}