Regrets and Revenge chapter 17 [Give Away Quiz]

GIVE AWAY QUIZ!


Baca chapter ini sampai selesai & jawab pertanyaannya!^^

***


Suasana lapangan utama Bakti Wardhani sangat ramai siang ini. Panitia OSIS dan MPK sedang memberikan arahan kepada calon pengurus baru. Sekarang mereka sedang dalam masa pemilihan. Namun karena pekan ulangan yang diumumkan tiba-tiba saat Sabtu kemarin, kegiatan pemilihan yang disebut LKS (Latihan Kepemimpinan Siswa) ini dihentikan untuk sementara waktu.

Raka selaku Ketua OSIS tampak tidak terlalu sibuk. Ia memilih berdiri di pojokan lapangan sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya memandang ke arah para peserta tapi pikirannya tidak berada disana. Ia masih memikirkan kejadian tadi siang di Sekretariat OSIS.

Raka memang sedang marah pada Pevita dan kemarahannya bertambah setelah tahu Wakasek merubah jadwal STJ eskul Pevita menjadi bersamaan dengan eskul Biru. Ia tahu STJ Basket tidak mempunyai kegiatan khusus selain berkumpul di sekolah untuk cek skill, bermain beberapa game lalu pemilihan kepengurusan. Tapi tetap saja, Pevita akan bersama Biru di hari yang sama.

Raka tidak perduli akan Resha. Resha takkan membuat Biru menjauh dari Pevita. Raka bisa melihat itu dari setiap sikap Biru pada cewek yang begitu ia sayangi. Raka sendiri bingung harus berbuat apa. Ia tak mau menggenggam Pevita terlalu erat, tapi ia takut kehilangan gadis itu jika tak menjaganya.

Syena melambai memberi tanda bahwa sosialisasi kelanjutan LKS sudah selesai dan Raka harus menutupnya. Dengan langkah tak bersemangat, cowok dengan alis tebal itu berjalan menuju mimbar upacara dan menutup sosialisasi tersebut.

Hampir 100 siswa yang mengikuti kegiatan LKS ini langsung berhamburan pergi meninggalkan lapangan. Beberapa anggota OSIS dan MPK pun pergi satu persatu. Setelah sedikit berbincang, Syena memutuskan untuk pulang duluan. Raka hanya mengangguk mengiyakan sambil tak beranjak dari duduknya di mimbar upacara.

Pikirannya terus melayang layang kepada Pevita. Ia tak tahu bagaimana akhirnya kisah mereka berdua. Ia selalu berharap setelah lulus SMA nanti bisa terus bersama Pevita. Baginya gadis itu tak bisa tergantikan oleh siapapun.

Pevita cantik, pintar, rajin, ulet dan mandiri. Raka begitu menyukai sosoknya yang cerdas baik dalam keseharian ataupun saat memimpin eskul. Eskul Jurnalistik berkembang cukup pesat saat masa jabatan Pevita.

Raka sadar betul dirinya tak sesempurna Biru. Tapi ia selalu berharap bisa membahagiakan Pevita dengan caranya walau Raka tahu, menjadi dirinya sendiri takkan pernah cukup untuk Pevita. Karena di hati gadis itu, Biru masih tetap menjadi yang utama.

Raka tahu, ia takkan bisa membuat Pevita melupakan Biru. Ia hanya ingin gadis itu melihatnya dan berhenti membuatnya merasa bodoh jika dibandingkan dengan Biru. Tapi bagaimana caranya?

Raka terdiam, ia menarik nafas panjang.

Belum saja mereka resmi pacaran, Pevita sudah berani berbohong tentang Biru. Bagaimana jika mereka sudah pacaran? Bagaimana jika mereka terus berlanjut?

Raka dapat merasakan ada yang Pevita sembunyikan darinya tentang Biru. Ada sesuatu yang lain yang membuat Pevita tak bisa melupakan Biru. Ada patahan hati yang terus bergantung dan tidak mau pergi semenjak Biru merebut bagian hati yang lain.

Ada perasaan cinta yang begitu kuat sehingga walau Pevita disakiti pun, ia akan terus berpegang pada Biru.

Tapi apa? Tapi kenapa Raka tidak boleh tahu? Bukannya cinta harus selalu jujur? Lalu kenapa Pevita menutupi semua itu?

Lamunan Raka buyar ketika seseorang duduk disampingnya sambil menghela nafas. Ia berbisik, "sob, life is never easy."

***

"Tapi kamu bisa ngerjain Fisikanya? Kan dadakan banget tuh, biasanya kamu suka ketiduran gitu hahahaha." Tawa Pevita meledak ketika Biru bercerita di hari pertama pekan ulangan ia sudah bertemu dengan Fisika dari Pak Indra. Biru terkekeh.

"Aku sih udah ada firasat bakal ulangan Fisika pas liat jadwal, Vi. Jadi aku udah antisipasi bikin contekan rumus. Taunya aku gak bisa ngerjain juga..." 
Pevita tertawa kecil. "Kebiasaan banget sih bikin contekan. Gak bakal pernah keluar juga!"
"Ya aku kan usaha Vi hehe kayak usaha deketin kamu lagi..."
Pipi Pevita merona, "apa sih Bi..."
"Tuhkan mukanya merah haha. Seneng banget deh kalo lagi skype-an gini terus ada yang salah tingkah gitu." Ujar Biru merasa menang. Pevita tertawa lagi.

Malam ini setelah belajar Bahasa Jerman, Pevita mengecek akun skype-nya. Ia membalas beberapa pesan yang belum terbalas lalu tiba-tiba Biru mengirim permintaan video call. Mereka pun bicara sampai larut malam.

Pevita tidak bisa berbohong, ia begitu bahagia malam ini. Sudah lama ia tidak sebahagia ini. Rasanya seperti Biru yang dulu kembali lagi. Malam ini tidak ada bahasan tentang Resha ataupun Raka antara mereka. Semuanya tentang Biru dan Pevita. 

Jam menunjukkan pukul 12.43 menit ketika Pevita memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dengan Biru. Biru tersenyum kecil lalu mematikan sambungan video call mereka. Setelah merapikan buku dan MacBook-nya, Pevita meraih iPhone-nya di meja belajar.

Pevita tersenyum kecil menyadari tidak ada satupun pesan dari Raka. Malam ini Raka tidak menelponnya. Ia menghela nafas dan mencoba berpikir mungkin Raka terlalu lelah hari ini. Tapi pada akhirnya ia memutuskan mengecek segala social media milik Raka dan mendapati diri semakin galau saja. Raka update di beberapa social media, ia bicara dengan beberapa temannya, tapi ia tidak bicara dengan Pevita.

Pevita bingung harus bagaimana. Ia memang sudah berjanji pada Iraz akan memberi tahu Raka tentang apa yang terjadi, tapi ia belum menemukan jalan untuk memulai percakapannya. Pevita sadar betul ia salah. Ia tahu Raka pantas marah padanya. 

Pevita bisa saja meninggalkan Raka dan kembali pada Biru. Ia jelas jelas masih mencintai Biru. Tapi hatinya tahu orang yang terbaik adalah Raka sementara Biru hanya menjadi pengganggu untuk Pevita mendapatkan kebahagiaannya.

Pevita tahu setiap ucapan manis Biru pasti ia ucapkan pada Resha juga. Ia tahu pasti Biru berbohong pada Resha demi berbicara semalaman dengan Pevita. Ia juga tahu sesuatu yang dimulai dari kebohongan takkan berakhir semanis yang diinginkan.

Pevita begitu menyayangi Raka tapi ia juga menyayangi Biru.

Ia menyayangi kedua laki laki itu dalam keadaan berbeda. Ia merasa bersalah pada Raka, tapi ia merasa begitu menang setiap kali Biru terus menggoda dan mendekatinya. Pevita sadar kepastian berada ditangan Raka dan kesemuan berada pada Biru.

Pevita ingin bicara pada Raka. Tapi bagaimana caranya?

***

"Lo udah bicara sama Raka, Vit?" Tanya Salma tiba-tiba saat bell istirahat berdering. Pevita mengerutkan dahinya karena tidak mendengar ucapan Salma.
"Apa, Sal?" Tanya Pevita bingung.
"Duh elo tuh cantik cantik bego banget sih, segitu Raka sayang sama elo juga..."
"Siapa yang bego sih, Sal.. Kan elo sendiri yang nyuruh gue buat lanjutin revenge ini."
Salma menggerutu. "Tapi kan lo bisa cerita ke Raka biar dia gak salah paham kayak gini."
"Dia gak mau dengerin gue ngomong, Sal.."
"Lo udah nyoba berapa kali?" Tanya Salma kesal.
"Eum.. Kemarin pagi, pas dia nyamperin gue."
Salma menghela nafas. "Setelah itu, Vit?"

Pevita menggeleng. Salma mencubit pipi sahabatnya. "Oh my God, Khansa Pevita Raisana! Lo ngapain sih sibuk sibuk skype-an sama Biru tapi bicara sama masa depan lo aja enggak? Sasa... Khansa.. Please lo harus ngomong sama Raka. Raka pasti ngerti kok."

"Tapi dia pasti mikir gue cewek jahat, Sal.."
"Akan lebih jahat kalo lo kayak gini terus, Vit. Dia berhak menerima penjelasan dari elo. Dia pasti dengerin elo kok. Dia sayang banget sama elo.."
"Gue juga sayang sama dia, Sal.."

***

"Wey, Rak! Sendirian?" Sapa Faldy saat melihat Raka melintasi meja makannya di kantin. Raka menoleh lalu tertawa.
"Iya nih, habis dari sekret Paskib." Ujarnya pelan.
"Sini aja sama gue.." Ajak Faldy sambil terkekeh. Raka melihat kesekeliling kantin dan mendapati tidak ada meja yang kosong. Akhirnya ia mengangguk lalu duduk disamping kanan Faldy.

"Tadi malem elo enggak ngehubungin Pevita kan?" Tanya Faldy sambil melahap batagornya. Raka menggeleng.
"Enggak, Fal. Gue juga gak ngomong apa apa pas tadi ketemu."
"Dia gak ngomong ke elo?"
Raka menggeleng sambil menyeruput Milo dinginnya. "Enggak."

"Wah.. Dia merasa bersalah banget tuh. Pevita tipikal orang yang susah ngomong kalo udah ngerasa salah banget. Kata Salma sih dia galau semalaman. Sebaiknya elo diemin aja deh gak usah ngomong. Biar dia yang datengin elo duluan."
"Gue juga males sih Fal.. Masih ngerasa gondok aja gitu."
"Wajar, sob.. Ngomong ngomong, LKS gimana tuh kelanjutannya?" Tanya Faldy. Raka pun menjelaskan sistematikanya lalu mereka berbicara panjang lebar.

Tiba-tiba seorang cowok sambil membawa semangkuk baso dan es jeruk pun duduk di samping kiri Faldy. Ia menggerutu, "parah kantin BW udah kayak pasar ayam aje. Untung gue lulus tahun depan!" Serunya.

Raka yang sedang asyik membincangkan tentang STJ Bridge bersama Faldy pun langsung menghentikan makannya ketika melihat siapa yang duduk di samping Faldy. Ia memutarkan bola matanya. Ia tak tahu harus bersikap apa sekarang.

"Eh, Mas Ketos... Makan, boy!" Serunya sambil tertawa canggung. Raka hanya mengangguk sambil tersenyum masam sementara Faldy menutup mulutnya sambil menahan tawa. Cowok yang duduk di depan Raka pun terlihat mengalihkan pandangannya ke segala penjuru kantin.

Faldy, mati lo! Kenapa gue harus duduk semeja sama Biru?! Raka menggerutu dalam hati.

***

Konter es krim begitu ramai siang ini. Mungkin karena panas Jakarta sudah tidak manusiawi lagi membuat pembeli es krim meningkat. Pevita dan Salma sama sama menggerutu kesal melihat beberapa anak kelas 10 yang bolak balik menyerobot antrean.

Beberapa saat kemudian Pevita menyerah untuk mengantre dan memutuskan menitipkan saja pesanannya pada Salma. Dengan setengah hati Salma mengiyakan sambil mengomel. Pevita tertawa kecil lalu menjauhi kerumunan.

Ketika sedang menunggu, Pevita memutuskan membuka iPhone-nya dan mengecek akun instagram-nya. Tangannya terhenti pada foto Summer, ketua eskul Cheers yang meng-upload fotonya dengan Resha. Ia memperhatikan foto itu dengan seksama.

Mata Resha begitu bulat dan bagus. Wajahnya sudah terbentuk cantik. Tidak terlalu tirus dan memiliki lesung pipi. Rambutnya hitam dibiarkan tergerai. Badannya begitu bagus mengenakan pakaian apa saja. Resha begitu fashionable dan mempunyai gayanya sendiri.

Resha juga manis dan mempunyai suara lembut. Ia cukup aktif di CMA divisi Paduan Suara. Dia menjadi sekretaris divisi Padus dan hampir semua proposal yang ia tulis tembus dengan lancar baik di tingkat wakasek maupun kepala sekolah -setidaknya itu yang Stefani, ketua umum Creative, Music & Arts ceritakan pada Pevita.

Resha tidak terlalu pintar tapi ia cukup rajin dibanding teman temannya yang lain. Banyak kebaikan kebaikan Resha yang membuat Pevita iri. Namun ada hal yang membuat segala kesempurnaan Resha terasa sia sia. Ia mudah sekali berganti pacar dan untuk kasusnya yang terbaru, ia merebut pacar orang.

Semua orang tahu bagaimana kedekatan Pevita dan Biru. Mereka berdua bisa dibilang pasangan favorit di Bakti Wardhani. Tapi semua berubah ketika Resha datang dan tak heran semua orang tahu berita ini. Resha telah merusak kebahagiaan dari pasangan paling manis di sekolah.

Setiap membicarakan kejahatan Resha, Pevita selalu ingin marah. Ia selalu ingin meminta pertanggung jawaban gadis itu akan apa yang telah ia lakukan terhadap hubungannya dengan Biru. Tapi Pevita teringat bahwa setiap hal yang dilakukan manusia pasti punya alasan yang logis didukung oleh pengalaman atau sakit hati yang membentuk sifatnya menjadi seperti itu.

Selama ini Pevita tak pernah bicara dengan Resha. Mereka hanya mem-follow akun masing masing tanpa pernah mengirimkan pesan ataupun bertegur sapa. Setiap kali Pevita bertemu dengan Resha dan Syena, hanya Syena sajalah yang ia sapa. Sementara Resha seperti tidak ada di samping Syena.

Pevita ingin sekali bicara dengan Resha. Ia ingin tahu gadis seperti apa yang membuat Biru bisa meninggalkan dirinya begitu saja. Tapi hatinya selalu melarang. Ia takut dirinya akan menyakiti Resha. Ia tidak mau reputasinya jatuh hanya karena gadis seperti Resha.

Pevita memutuskan untuk mematikan iPhone-nya lalu menaruhnya dikantong rok ketika seorang gadis sudah berada di hadapannya sambil tak berani menatap matanya, "Pevita.. Bisa ke sekret CMA sekarang? Dipanggil Bu Andriana." Ujar gadis itu terpatah patah.

Ups, well.. She talks to me first. Kata Pevita dalam hati sambil mengangguk dan mengikuti jalan gadis itu.

***

Makan siang Raka tidak begitu enak ketika Biru datang dan duduk di hadapannya. Selama sisa jam istirahat, Faldy terlihat kewalahan menghadapi keheningan antara Raka dan Biru. Keduanya sama sama sibuk dengan iPhone masing masing sehingga jarak yang dulu tidak pernah ada kini begitu jelas terlihat.

Raka duduk di salah satu kursi taman sekolah sambil memainkan gitar yang ia bawa. Raka memang suka menyanyi dan bermain musik. Tapi itu hanya hobi biasa yang tidak terlalu ia geluti. Raka lebih suka bermain basket.

Tiba-tiba dari kejauhan Pevita datang sambil membawa kotak makanan. Raka menghela nafas ketika Pevita datang. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Gadis itu berdiri tepat di hadapan Raka.

"Hai Rak.. Kamu kemana aja tadi malam? Aku nungguin kamu." Kata Pevita pelan. Raka tersenyum masam.
"Aku belajar." Jawab Raka ketus.
Wajah Pevita berubah kecewa beberapa saat lalu ia tersenyum lagi. "Oh... Eh iya Rak, kamu pasti gak makan bener kan? Pevita bikinin ini buat kamu.." Ujar Pevita sambil menyodorkan kotak berisi dua potong makaroni skotel buatannya.

Raka suka sekali dengan masakan Pevita dan dia tak tahu harus menerima atau menolak disaat seperti ini. Ia ingin menolak tapi kasihan. Ia ingin menerima tapi masih tidak mau bicara dengan Pevita. Raka akhirnya bangkit dari duduknya sambil membawa gitarnya. Ia lalu meraih kotak itu dan tersenyum kecil.

"Makasih ya, Vi. Biru udah dikasih?" Tanya Raka pelan. Pevita tampak kaget. Ia mengigit bibirnya sambil berusaha menjawab.
"Err...."
"Ah udahlah, pasti dia udah. Duluan ya, Vi." Ujar Raka sambil pergi begitu saja meninggalkan Pevita. Ia menghela nafas lagi lalu berjalan ke arah mobilnya.

Raka menaruh gitarnya di jok belakang lalu memutarkan bola matanya. Tak habis pikir kenapa Pevita masih saja bersikap seperti itu? Kenapa ia tidak langsung bicara saja? Kenapa ia harus bilang bahwa ia menunggu Raka kemarin malam?

"Skakmat, Vi. Skakmat."


To be continued...

***

HAI GUYSSSS! Maaf banget nih aku lagi mentok-tok-tok banget. Huhuhu.
Demi menebus kesalahanku & celebrate 9 chapter lagi cerbung ini kelar, aku bikin give away pulsa lagi nih!

Ada pulsa 10k untuk semua operator!

Caranya gampang banget! Jawab pertanyaan dibawah ini:Siapa nama kakaknya Pevita?

a. Rizki Raditya Perfernandi
b. Kendira Keenan Razanto


Kirim jawabannya ke twitter @rizkirahmadania dengan format:

Nama - Operator kartu kamu - Jawaban (A/B) - Link chapter 17 #RegretsAndRevenge

ATAU yang jawab via comment di post line Titi dengan format:

Nama - Operator kartu kamu - Jawaban namanya (Rizki Raditya Perfernandi / Kendira Keenan Razanto)

Pemenang diumumkan Hari Selasa malam via Twitter. Ciao!



You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}