Regrets and Revenge chapter 19

Coba jangan lihat ke belakang terus. Lihat ke depan.

Ada aku.

***


Sudah terlalu larut untuk Iraz terjaga tapi cowok itu masih saja betah di depan laptopnya. Ia sudah menghabiskan seharian penuh untuk mengerjakan tulisan terbarunya tapi ia tak pernah merasa cukup. Iraz selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pembacanya.

Jam menunjukkan pukul 2 pagi ketika Iraz memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil susu hangat yang ketiga-nya saat ia menyadari bahwa adiknya belum tidur selarut ini. Lampu kamar Pevita masih menyala. Dengan ragu Iraz membuka pintu kamar adik sematawayangnya.

Ia menemukan gadis itu sedang duduk di depan laptopnya dengan kaca mata. Wajahnya terlihat serius tapi jelas terlihat matanya begitu lelah. Iraz berjalan perlahan dan duduk di sofa yang berada di depan tempat tidur Pevita.

"Sa.. Kok belum tidur?" Ujarnya sambil membuka iPhone-nya.
Pevita terisak, "gak bisa tidur." Sahutnya parau.
"Sa.. Elo nangis?" Tanya Iraz agak kebingungan ketika mendengar suara parau Pevita. Pevita menggeleng. "Enggak.. Gue gak nangis."

Iraz beranjak bangun dari duduknya dan menghampiri Pevita di meja kerjanya. Ia mendapati banyak tumpukan tisu bekas di meja Pevita dan sebuah frame biru yang pecah berantakan di lantai. Iraz menghela nafas saat menyadari ada foto adiknya dan Biru di antara pecahan kaca tersebut.

"Sa.. Kenapa nangisin Biru lagi? Lo bilang ini semua revenge?" Tanya Iraz perlahan.
Pevita berusaha keras menahan tangisnya, ia menggeleng sambil terus mengetik. "Enggak, gue gak nangisin Biru..."
"Sa.. Khansa, lo gak bisa bohong sama gue. Ada apa, Sa?" Tanya Iraz lagi.

Kali ini Pevita sudah tidak tahan, ia kembali menangis lagi setelah menangis sepanjang malam. Iraz langsung memeluknya dan mengajak Pevita untuk duduk di sofa. Pevita terus menangis sementara Iraz tak bisa berbuat apa apa. Ia terus membelai rambut adiknya sampai tangisnya mulai reda.

"Gue kira Biru beneran sayang sama gue. Gue kira dia bisa berubah. Gue kira semua yang dia omongin tuh mau dia jalanin. Taunya dia bohong sama gue, Raz.. Dia masih sayang banget sama Resha, gue bisa liat itu.. Gue ngerasa bodoh percaya sama dia."
"Lho.. Bukannya gue, Faldy dan Salma udah selalu ingetin kalo ini cuman revenge? Kenapa elo bawa perasaan elo, Sa?"
Pevita menatap mata kakaknya, "gua gak bisa lupain Biru, Raz.. Gue sayang sama dia.."

"Gue tahu Sa.. Tapi gini deh, kalo dia beneran sayang sama elo, dia gak bakal ninggalin elo. Dia seharusnya sekarang sudah meninggalkan Resha walaupun dia berpikir elo bisa aja tiba-tiba sama Raka. Kalo dia sayang sama elo, dia berani ngambil resiko terburuk untuk kehilangan apapun demii berusaha mendapatkan elo.. Tapi ini enggak kan, Sa?"

"Gue tahu Raz dan sadar betul semua yang gue lakukan adalah untuk balas dendam. Gue tahu gue bodoh kalo balik ke Biru dan menyianyiakan Raka. Tapi apa daya hati gak bisa bohong, gue masih sayang sama Biru. Dan gue percaya, Biru emang masih sayang sama gue.."

"Tapi sayang aja gak cukup, Sa. Perasaan butuh diperjuangkan. Sementara dia gak memperjuangkan elo seperti elo sudah memperjuangkan dia."

"Gue harus gimana, Raz? Perasaan gue campur aduk untuk Biru maupun Raka. Gue gak mungkin melupakan semua rencana ini lalu berbalik arah, fokus sama Raka dan menganggap semuanya gak pernah ada apa apa. Gue gak bisa. Hati kecil gue selalu marah sama diri gue sendiri. Gue hanya akan menyakiti Raka lebih daripada ini."

Iraz menghela nafas. "Lo sayang kan sama Biru?"
Pevita mengangguk.
"Lo sayang sama Raka?"
Pevita mengangguk lagi.

"Sekarang.. Lupain rencana lo sejenak dan pikirin apa kata hati lo. Biru atau Raka?"
Pevita mengerang, "gue gak tahu, Raz.."
"Pilih, Khansa Pevita Raisana. Pilih."
"Gue gak tahu, Kendira Keenan Razanto."

"Perjuangkan apa yang pantas diperjuangkan. Tinggalkan apa yang gak pantas ditinggali.."

***

Apa gue harus putusin Resha?

Pertanyaan itu terus berkecamuk dipikiran Biru semalaman suntuk. Hatinya sangat kacau. Semenjak kejadian tadi sore, Biru berpikir keras. Siapa yang seharusnya ia perjuangkan?

Pevita dan Resha sama sama menempati hati Biru. Biru memang sudah bahagia dengan Resha yang sekarang, tapi kebahagiaan itu tak pernah cukup jika tak ada Pevita di sampingnya. Biru ingin ada Pevita dan Resha.

Tapi Biru sadar semua itu tidak adil untuk mereka berdua. Biru harus berani memilih tapi untuk melakukannya Biru tak mampu. Resha menyediakan kepastian karena ia sudah berada di genggaman Biru. Tapi Pevita punya sejuta pesona yang tidak bisa Biru relakan untuk dimiliki oleh orang lain.

Biru menyayangi Pevita tapi ia juga menyayangi Resha.

Biru menghela nafas satu dua. Ia memberanikan diri mengambil iPhone-nya dan mulai mengetik pesan. Ia harus berani. Ia tak mau terus terusan seperti ini.

Ia mulai berlari.

Ghinaa Varesha Girsang (Mobile)

Resh... Aku bosen sama kita.

***

Raka membuka seluruh pesan di iPhone-nya sambil menyeruput coklat panasnya. Pagi ini akan terlalu dingin jika Raka tak membuat secangkir coklat panas. Hujan yang turun saat subuh tadi membuat hawa Jakarta jauh lebih dingin daripada biasanya.

Raka tersenyum kecil saat membaca ulang pesan singkatnya dengan Pevita. Ia merindukan kehadiran gadis itu. Sudah lama mereka berdua tak punya waktu  bersama. Tapi Raka cepat cepat menepis perasaannya saat menyadari mereka berdua sedang kacau sekarang.

Sejak kemarin Raka terus berpikir, kenapa Pevita terus melihat ke belakang saat Raka ada di hadapannya. Raka selalu menawarkan kepastian karena ia tahu pasti, Pevita sadar bahwa hanya gadis itulah yang ada di hati Raka.

Ia membandingkan dirinya dengan Biru. Apa yang akan Pevita dapat dari cowok yang sudah menyakitinya dan kini sudah mempunyai pacar baru? Pevita hanya akan disakiti untuk kedua kalinya.

Raka sudah siap merelakan segala hal untuk Pevita. Namun Raka sendiri bisa melihat, jika Pevita ingin kembali dengan Biru, cowok itu tak kunjung bergerak melepaskan Resha. Lalu apa yang bisa Pevita harapkan dari Biru?

Mungkin Biru memiliki banyak cerita masa lalu dengan Pevita. Tapi Raka mampu menawarkan segala kepastian di masa depan untuk Pevita. Hanya saja...

Kapan Pevita sadar bahwa Raka selalu ada untuk memperjuangkannya saat Biru tak kunjung berjuang untuk dirinya?

***

"Selamat pagi, Bu Ketum!" Sapa Faldy sembari menyodorkan kebab kesukaan Pevita. Pevita yang sejak pelajaran ke 4 tadi tertidur langsung terbangun dengan wajah tak bersemangat. Salma yang berdiri di belakang Faldy memperhatikan wajah Pevita dan panik saat menemukan kantung mata di kedua mata sahabatnya.

"Vit, lo habis ngapain aja sih semaleman? Ngeronda?" Cecar Salma keheranan.
Pevita tertawa kecil, "ngerjain banyak hal. Bentar lagi kan STJ..."
"Lo kan punya wakil dan ketua divisi, Vita.. Jangan terlalu memaksakan diri." Ujar Faldy khawatir.
"Ah, lo berdua sok romantis gini. By the way thanks kebabnya! Tau aja gue belum makan.." Kata Pevita sambil membuka bungkus kebabnya. Faldy duduk di depan Pevita sementara Salma duduk di sampingnya.

"Lo belum makan dari kemarin?" Tanya Faldy pelan. Pevita diam saja dan memulai mengigit kebabnya.
"Atau dari 2 hari yang lalu?" Tanya Salma. Dengan ragu Pevita mengigit lagi kebabnya lalu mengunyah perlahan.
"Kenapa gak makan? Akhir minggu ini lo STJ. Lo mau sakit? Gimana nasibnya Jurnalistik kalo ketumnya sakit?" Cecar Salma lagi. Pevita tersenyum kecil.

"Gue baik baik aja..."
"Enggak, Vit. Gue tahu lo habis nangis semalaman. Lo kenapa sih? Kenapa gak cerita?" Tanya Faldy sambil memandang Pevita. Pevita menggeleng lalu menaruh kebabnya ke tempatnya lagi.
"Gue gak mau ngerepotin kalian..."
"Apaan sih, Vit? Kita kan sahabat. Tugas gue adalah untuk direpotin sama elo!" Keluh Salma yang disahut oleh senyum lebar Pevita.
"Ayo sekarang cerita, elo kenapa?"

Pevita menghela nafas. "Gue.. Gue masih sayang sama Biru..."

***

"Kenapa kamu bosen? Bukannya kita mulai banyak hal baru?" Tanya Resha heran saat ia akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Biru di kelasnya. Tadi pagi saat baru bangun, Resha kaget bukan main saat menemukan pesan dari Biru.

Resha tidak mengerti apa yang membuat cowoknya tiba tiba merasa bosan saat ia dan Biru sudah mulai akur kembali. Resha tak mau nasibnya berujung seperti Pevita, ditinggalkan karena Biru bosan dengan Pevita.

"Ya.. Aku bosen aja. Kita gini gini terus."

Entah apa yang ada dipikiran Biru saat itu tapi Resha yakin ada yang tidak beres dengannya. Hatinya begitu sakit ketika mendengar perkataan Biru. "Emang Birunya mau kita gimana? Kemarin kan kita..."

"Ya itu kan kemarin, Resh. Aku bosen sama kita. Aku bosen sama kamu." Kata Biru ketus.

Skakmat. Resha terkena karma.

***

"Buku lo kapan rilis, Rak?" Tanya Iraz saat Raka menelponnya. Raka terkekeh.
"Sepertinya bulan depan, Mas..."
"Oh.. Pas Pevita ulang tahun dong?" Goda Iraz sambil tertawa.
Raka tersenyum kecil. "Emang sengaja, Mas.. Buat hadiah ulang tahunnya."

"By the way apa kabar sama Pevita? Dia gimana sekarang di sekolah?"
"Waduh..."  Raka menghela nafas, "dia lagi sibuk mau STJ."
"Dia emang selalu sibuk. Gue titip adik gue ya sama elo."
Raka merengut keheranan, "kenapa gak ke Faldy, Mas? Dia lebih deket sama Pevita-"

Iraz memotong kalimat Raka, "karena dari semua cowok yang ada di deket adik gue, gue percaya sama elo."

***

Biru terus mencoba menghubungi Pevita tapi tak ada jawaban dari gadis itu. Besok STJ basket dan Jurnalistik bergabung jadi satu. Biru berencana mengajak Pevita keluar malam ini untuk mencocokkan jadwal acara supaya tidak bentrok  tempat antar kedua eskul mereka. Tapi Pevita tak ada kabar sama sekali.

Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika akhirnya Pevita menelpon Biru. Biru senang setengah mati, ia langsung mengangkat telpon dari gadis itu.

"Halo Ibu Ketua Umum Jurnalistik...."
"Gak usah basa basi. Ada apa?" Tanya Pevita jutek.
Biru tercekat, "hah?"
"Aku banyak kerjaan, kalo mau ngomongin yang gak penting mending gak usah."
"Sorry.. Aku ganggu kamu ya, Vi?"
"Ada apa?"
"Ini.. Mau nyamain acara..."
"Udah aku kirim ke e-mail kamu dari seminggu yang lalu." Ujar Pevita pelan.

Biru memutar otaknya, apa yang harus ia bicarakan lagi?

"Ada yang mau ditanyain lagi, Bi?"
"Vi.. Maafin aku...."
Pevita menghela nafas, "minta maaf buat apa sih, Bi? Udahlah gak usah dibahas lagi.."

Harus ada sesuatu yang bisa membuat Pevita tak pergi darinya. Walau tak yakin, Biru harus bicara. Biru harus menahan Pevita sebelum gadis itu pergi.

"Bi? Aku tutup ya?" Tanya Pevita kesal setelah lama Biru tak kunjung bicara.
Biru segera berkata, "aku mau mutusin Resha. Demi kamu."


SUMPAH AKU SEBEL BANGET SAMA BIRU!!! To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}