[FLASH FICTION] 1989 Series: Bad Blood

The hardest part of losing us isnt when I miss you.

The hardest part is when I walk to every place we've visited...

And I feel that de javu.

***
Did you have to do this?
I was thinking you could be trusted...

Satria tidak mau bicara. Ia masih diam di salah satu pojokan ruangan kelas sambil pura pura sibuk dengan ponselnya. Di pojok lain, Nikita masih menahan tangis seusai pertengkarannya dengan Satria.

Nikita sebenarnya sudah biasa bertengkar seperti ini. Ia tahu tabiat Satria yang keras dan terkadang suka lepas kendali. Satria memang tidak main fisik, tapi ucapannya saja sudah membuat hati Nikita terasa perih.

Kalender menunjukkan tanda pengingat bahwa 6 hari lagi pelantikan OSIS-MPK pun akan dilaksanakan. Nikita tak pernah menyangka ia akan sampai pada tahap ini berjuang bersama Satria. Ia juga tak pernah punya pikiran bahwa perjuangannya akan selalu dihiasi dengan pertengkaran masalah hati seperti ini.

"Kamu ngomong dong, Sat." Ujar Nikita memecahkan keheningan.
Satria berdecak kesal, "apa sih, Nik?"

Nikita diam lagi, ia meredam emosinya.

Did you have to ruin what was shining now it's all rushed?

Kali ini masalah yang diributkan sedikit berbeda. Biasanya Satria lah yang marah ketika melihat Nikita lebih dekat dengan cowok lain. Tapi kali ini Nikita yang panas bukan main melihat Satria berlaku manis pada cewek lain.

Setiap kali Satria marah, ia pasti minta maaf pada Nikita walau sebenarnya harus Nikita pancing terlebih dahulu. Tapi kali ini posisi Satria lah yang salah dan ia malah lebih marah daripada Nikita.

"Kamu kenapa sih marah banget kalo aku main sama Dhika?"
"Ya kamu ngapain main terus terusan sama dia?"
Nikita menghela nafas. "Ya aku kan cuman temenan...."
"Ya temenan juga gak deket deket terus, Nik."

Nikita menggelengkan kepalanya, "kalo gitu aku wajar dong marah kalo kamu deket sama Marissa?"
"Ya itu beda lagi." ujarnya kesal. "Marissa temanku dari SD."
"Ya berarti kamu gak adil."
Satria berjalan mendekati Nikita lalu menatap cewek itu dalam dalam, "kamu bilang gak adil? Apanya sih yang gak adil!"

Did you think we'd be fine?
Still got scars on my back from your knife
So don't think it's in the past
These kind of wounds they last and they last

Nikita tidak bicara lagi, ia mulai menangis. "Kenapa sih harus kasar?"
"Sorry, Nik.. Kelepasan." Ujar Satria dengan nada merendah.

Band-Aids don't fix bullet holes
You say sorry just for show
You live like that, you live with ghosts


"Udah sering kamu bilang maaf, Sat."
"Terus aku harus apa?" Tanya Satria kesal.

Nikita menghela nafas. Ia tak bisa mengalah terus. Nikita mulai lelah dengan semua ini. "Sat.. Kamu sadar gak sih? Kita itu cuman temenan, gak lebih. Terus kenapa kita berdua saling memproteksi tanpa ada status yang jelas?"

Skakmat. Wajah Satria memerah.


It's so sad to think about the good times, you and I...



Cirebon, November 19th 2014
Taylor Swift's 1989 - Track 9
It's okay.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}