Penulis, pembaca, pendongeng dan pendengar

Kamu adalah cerita yang selalu kutulis. Tapi aku bukan cerita yang pernah kamu baca.

Selalu banyak pertanyaan yang hadir kala senja datang dan kamu selalu ada di sana. Apa yang sedang aku lakukan?

Ada koneksi yang menyatukan kita tapi tak pernah ada komunikasi yang mengisi kita.

Siapa yang salah? Aku? Kamu?

Kamu pun mulai mendongeng. Cerita kali ini tentang seorang kera yang salah jatuh cinta, ia jatuh pada cinta terlarang. Cinta kepada sesama.

Lengkingan demi lengkingan, desahan nafas serta sorot mata tajam menghiasi setiap sudut ceritamu. Aku tersenyum puas.

Kamu adalah seorang pendongeng yang selalu kutunggu setiap ceritanya. Tapi aku bukan pendengar yang kamu ingin mendengar ceritamu.

Sayatan hati menancap, meradang dan menyebar luas. Apa rasanya patah hati? Aku sudah lupa.

Pernahkah kamu berpikir bahwa suatu saat apa yang selalu kamu harapkan untuk pergi malah hal yang kamu inginkan untuk kembali?

Aku adalah seorang penulis yang ingin dongengnya kamu ceritakan. Tapi kamu bukanlah seorang pendongeng yang akan membaca ceritaku dan menceritakannya kepada pendengarmu.

Dulu kita bicara.

Apa mungkin karena aku terlalu pakai hati, semua jadi begini?

Kamu adalah pemeran utama dalam setiap ceritaku. Tapi aku belum pernah menjadi pendengar pertama dari semua dongengmu.

Apa yang sebenarnya aku lakukan disini, wahai kesatria pendongeng?

Telah kuarungi samudra, mencari kebahagiaan dan meninggalkan kamu sehingga aku lupa segalanya.

Telah kuhabiskan semua kertasku untuk menulis semua tentangmu dan menceritakannya kepada bintang jatuh.

Tidakkah kamu mengerti betapa sengsaranya perasaan ini?

Mencintai sesuatu yang bahkan tak mau untuk dicintai.

Pembacaku bilang aku harus pergi.
Pendengarmu bilang aku harus lari.

Tapi kemana, kesatriaku?

Jika diseluruh pelosok alam semesta ini selalu tersimpan kamu..

Tidakkah aku terlalu naif wahai kesatria?

Berulang kali berkata ingin pergi tapi pandangan mata ini masih melihat kamu?

Pendongeng pun mulai bercerita dan kembali cerita itu bukan tentangku ataupun harus kudengarkan.

Aku hanya bagian dari semesta yang tertimbun jutaan kenangan akan keterbiasaan di dalam ribuan bintang ketidakpastian hati dan mimpi bahagia.

Sebenarnya tak ada kamu pun tak apa. Sebenarnya kamu sendiri tak butuh aku bukan?

Hanya saja aku terbiasa ada kamu.
Terbiasa bersama kamu.
Terbiasa menulis kamu.
Terbiasa mendengar kamu.

Jadi harus kulepaskan semua keterbiasaan itu agar semesta bisa pergi dan membuat orbit barunya.

Dan kamu lebih bisa menghargai orang lain, kesatria...






Kesatria pendongeng yang tidak percaya cinta.



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}