Regrets and Revenge chapter 24

Let's gone with the rain, kesatria....

***


Raka langsung membuang muka ketika ia menyadari Biru dan Pevita sedang melintasi lapangan sekolahnya. Raka meringis ketika ia harus melihat adegan Biru merengkuh wajah Pevita di depan umum ketika dirinya sendiri tidak bisa bicara apalagi menyentuh gadis itu.

Raka sangat merindukan Pevita.

Dalam hati, pikiran dan jiwanya, telah terukir nama Khansa Pevita Raisana yang sulit dihapus walaupun gadis itu telah berulang kali menyakiti dirinya. Raka mungkin bukanlah manusia sempurna, tapi ia yakin, ia pasti bisa membahagiakan Pevita.

Pikiran Raka pun terbang menuju sisa sisa memori beberapa bulan yang lalu..

Raka memberanikan menggenggam jemari Pevita ketika gadis itu tak menolak pergerakan tangannya. Pevita hanya tersenyum malu sambil kembali berjalan di samping Raka. Mereka pun berjalan melewati lapangan sekolah menuju tempat parkir mobil.

Tawa dan canda menghiasi mereka berdua beberapa saat yang lalu sampai pada akhirnya Pevita terdiam dan tidak lagi menjawab. Berkali kali Raka memanggil nama Pevita tapi tidak ada sahutan dari gadis itu.

Gadis itu sedang memandang sesuatu. Raka menoleh dan ikut mencari arah pandangan Pevita sampai ia menyadari masih cowok itu yang ada di pikiran Pevita, Biru Samudra Nusantara. Raka berdehem, ia sedikit kesal.

"Vi, kenapa mukanya merah?" Tanya Raka agak gusar.
Pevita langsung memalingkan pandangannya. "Enggak kok Rak, aku gakpapa."

Raka lalu mempererat genggamannya dan terus berjalan sembari menghilangkan pikiran menyedihkannya tadi. Bahwa Pevita hanya setengah hati dengannya. Bahwa hati Pevita masih berlabuh pada Biru.

Tapi dirinya tidak mau berhenti begitu saja. Sudah lama ia memperhatikan Pevita. Sudah lama dirinya tak bisa tidur karena gadis itu. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Pevita dan Biru tetapi Raka tak mau menyerah. Ia tak akan melepaskan kesempatannya merebut hati Pevita.

Walaupun peluang mendapatkan Pevita begitu kecil, selama masih ada kesempatan, takkan ia biarkan sedetik pun segala peluangnya menjadi kemustahilan.'

Biru menarik nafas dalam dalam sambil tersenyum. Ia tidak akan menyerah, ia pasti bisa melewati semua ini. Ia harus lebih bersabar lagi. Pevita takkan meninggalkannya.

"I promise you, Pevita-ku..." 

***

Mata Biru menangkap sosok Raka yang sedang berdiri di balkon depan kelasnya sambil memperhatikan Biru dan Pevita. Biru tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Pevita lebih erat. Ia tahu Pevita tidak fokus mendengarkan ceritanya tapi ia terus bicara. Ia mau terlihat bahagia. Ia mau semua -terutama Raka tahu bahwa dirinya begitu beruntung bisa mendapatkan Pevita lagi.

Sekelebat ingatannya berlari ke hari di mana Biru melihat Pevita berjalan berdua bersama Raka di lapangan. Ia ingat betapa menyakitkannya melihat orang yang ia sayangi bersanding dengan cowok lain.

Biru sadar betul saat itu ia tidak seharusnya merasa seperti itu. Ia sudah punya Resha, cewek yang membuatnya rela meninggalkan Pevita. Tapi ternyata kebahagiaannya bukan berada pada Resha, ia lebih ingin bersama Pevita.

Biru ingat ia begitu menyesal meninggalkan Pevita. Andai waktu bisa berputar, ia ingin kembali ke hari dimana ia berkenalan dengan Resha. Ia ingin langsung membangun pagar pembatas supaya ia tidak pernah tergoda dengan Resha. Ia seharusnya lebih berpikir tentang Pevita.

Pevita semakin cantik semenjak ia tinggalkan dan ia tampak bahagia. Biru bersyukur melihat kebahagiaan gadis itu. Sudah sepantasnya ia bahagia. Tapi ia tetap saja tidak rela jika Raka yang membahagiakan gadis itu. Tetapi ia sendiri tidak bisa meninggalkan Resha.

Biru bergidik ngeri. Untung saja masa kelam itu sudah lewat, ia sudah bersama Pevita lagi sekarang. Ia tidak mau membuat Pevita menangis lagi. Namun matanya berlari cepat menangkap sosok orang yang sudah sebulan ini tidak pernah ia temui.

Gadis yang sebulan lalu tampak rapuh, kini berdiri kokoh sambil berlatih cheers bersama teman temannya. Gadis yang telah Biru sakiti, sekarang sudah semakin cantik dari biasanya. Biru menggerutu dalam hatinya, "kok setelah aku tinggalin malah makin cantik sih, Resh?"

Lalu ia menggeleng cepat menyadari kekhilafannya. Sejak tadi kalimatnya mulai terbata bata dan kali ini ia hentikan ucapannya saat melirik Pevita yang sedari tadi melamun. Biru tersenyum kecil, "Vi, kamu kenapa sayang?"

***


"Vit, jangan liat ke lapangan!" Seru Faldy sambil membalikkan tubuh Pevita. Pevita yang sedang memegang es krimnya pun sontak kaget dan menjatuhkannya. Ia menggerutu sambil mengelap tangannya dengan tisu.

"Apaan sih, Fal.. Baru aja dimakan..." Katanya sambil menoleh ke arah lapangan. Tiba-tiba perutnya seperti terlilit, jantungnya melemah dan pandangannya menjadi buyar. Dia tidak ingin menangis lagi tapi rasanya air mata jatuh dengan mudahnya dan membasahi pipi.

Pevita mengigit bibirnya, "gakpapa kali, Fal.. Gue harus terbiasa dengan semua ini.."
"Vita.. Vit... Jangan gini...."

Di tengah lapangan sedang berjalan dua pasangan baru SMA Bakti Wardhani, Mereka berdua saling bergandengan tangan dan tersenyum kecil saat orang orang mulai menyoraki. Pevita meringis kesakitan, hatinya perih melihat cowok yang begitu ia sayangi dengan mudahnya mengkhianati dia.

Pevita ingat betul dulu ia yang selalu berada di samping Biru saat melewati lapangan itu. Jemarinya yang digenggam oleh Biru. Dirinyalah yang akan tersenyum pada sorakan teman temannya yang melihat Biru dan Pevita melewati lapangan.

Namun sekarang dirinya tergantikan oleh seorang gadis yang baru Biru kenal.

Dulu gadis ini tidak pernah percaya bahwa orang yang paling menyakiti kita adalah orang yang paling sulit dilupakan. Ternyata semuanya benar, semakin Pevita berusaha melupakan rasa sakit yang Biru berikan, ia makin tidak bisa melupakan Biru. Apalagi setiap hari ia harus melihat Biru bersama Resha..



Rasanya ia ingin menumpahkan segala ingatannya bersama Biru dan membiarkan semuanya pergi bersama hujan. Ia ingin hilang ingatan dan berhenti mengingat serpihan kecil cerita tentang Biru supaya hidupnya kembali normal.

Andai ada seseorang yang bisa membuat harinya lebih berwarna setelah kepergian Biru.. Andai hatinya tak perlu sesakit ini setiap kali melihat Biru bersama Resha..

Karena ia merasa sangat bodoh menangisi seseorang yang menyakitinya.

"Vi, kamu kenapa sayang?" Tanya Biru sambil menggenggam jemari Pevita erat. Pevita mengigit bibirnya, seketika ia sadar telah terbawa pada tumpukan kilasan balik yang membuat perutnya terasa nyeri sekarang. Pevita menggeleng.

"Aku gak kenapa kenapa, Bi..."
Biru merengkuh wajah pacarnya sambil tersenyum, "kamu pasti gak dengerin aku kan dari tadi?"
"Bi.. Sorry..." Pevita mengacak acak rambutnya. "Aku.. Gak enak badan..."
"Kalo gitu kita pulang aja..." Ujar Biru sambil tersenyum.
Pevita tidak punya hasrat untuk berpura pura bahagia. Ia tersenyum lalu mengangguk mengiyakan, "makasih ya, Bi..."

Cowok itu kembali menggenggam tangan Pevita lalu mereka berdua melanjutkan langkah mereka di tengah lapangan. Kilasan balik itu jelas mengingatkan Pevita betapa kehidupan ini bisa dibolak balik dengan cepat oleh Tuhan pada garisan takdir seorang Biru.

Biru bisa menghabiskan hari hari melewati lapangan itu bersama Pevita, lalu tiba tiba bersama Resha dan kini ia malah kembali berjalan dengan Pevita lagi. Biru tidak pernah berubah. Ia selalu berjalan lurus tanpa pernah sadar kerikil kecil yang ia lewati merupakan tumpukan masalah yang nantinya akan meledak.

Sampai kapan Bi kamu mau segampang ini memperlakukan hati?

***

Seminggu menjelang hari ulang tahun Pevita.

Raka telah mempersiapkan peluncuran novel pertamanya. Ia berkali kali membolak balikkan bukunya sambil tersenyum. Pevita tidak pernah tahu apa yang Raka tulis dalam buku itu. Ia sendiri tidak pernah bercerita bahwa dia akan meluncurkan karyanya. 

Raka berharap apa yang telah ia persiapkan tidak akan sia sia. Ia hanya ingin melihat Pevita tersenyum dan menyadari bahwa seseorang yang selalu setia menunggu dan berusaha akan jauh lebih baik daripada orang yang hanya bisa mengejar lalu meninggalkannya.

Raka tertawa kecil lalu tersenyum lebar. Ia tidak menyangka sehebat ini perasaan jatuh cinta.

***

Biru terus menerus melumat bibir Pevita sementara gadis itu meremas jemarinya sendiri. Biru cukup sopan karena ia tidak pernah menyentuh area lain dari tubuh Pevita. Namun tetap saja hal tersebut membuat Pevita risih.

"Aku sayang sama kamu..." Ujar Biru ketika berhenti mencium bibir Pevita. Pevita tersenyum kecil, "aku juga.." sahutnya sambil memberi kecupan kecil di pipi Biru. Lagi lagi Biru menciumi Pevita. Beberapa kali ia memeluk Pevita begitu erat lalu memainkan rambut gadis itu dan menciumnya lagi.

"Bi.. Stop... Ingat..." Nafas Pevita tersengal sengal satu dua. Biru menarik tubuhnya.
"What's wrong? Kamu gak suka?" Tanya Biru kesal.
Pevita menyipitkan matanya, "apa kamu melakukan hal seperti ini sama Resha?"
"Kamu kenapa sih, Vi? Aku cuman meluk kamu, nyium kamu, apa salahnya sih? Kamu pacar aku kan?  Aku gak pernah minta lebih dari itu. Aku tahu batasnya." Cecar Biru kesal.

Pevita mengigit bibirnya, "tapi itu udah over, Bi.. Aku gak pernah punya pikiran kamu akan minta lebih tapi please, jangan terlalu seperti itu." 

Biru berdecak kesal. Ia lalu menggenggam kedua tangan Pevita dan menciumi Pevita lagi. Mulai dari wajah, leher hingga pundak Pevita. Pevita terus melawan, ia tidak suka dengan perlakuan Biru yang seperti ini.

"Biru! Stop it! Jangan paksa aku walaupun kamu gak minta lebih. Ini udah jauh dari batas!"
Biru menggeram, "kenapa kamu terus nolak aku kayak gitu? Aku makin kesel, Vi!"
"Apa sih yang ada dipikiran kamu? Kenapa kamu kayak gini?"
"Kamu beda sama Resha! Resha gak pernah protes. Resha gak pernah nolak aku!" Seru Biru kesal. Ia berbalik badan lalu menggeram.

Pevita tercengang. Biru berani membandingkan dirinya dengan Resha. Ia mengambil tasnya lalu berjalan meninggalkan ruang tamu rumah Biru menuju pintu keluar. Cowok itu berlari mengejar sambil mencoba meraih tangan Pevita.

"Maafin aku, Vi.. Maaf.. Maafin aku..."
Pevita menahan tangisnya, "sampai kapan kamu mau kayak gini Bi? Kamu mainin semuanya. Aku bukan boneka, Bi. Aku punya hati dan gak semudah itu luka lukaku sembuh, Bi..."
"Vi.. Maaf.. Aku khilaf..."
"Aku gak pernah masalah kamu mau mencium aku, meluk atau apapun yang penting kamu tahu batasnya. Kamu gak pernah minta lebih ataupun berlaku seagresif itu, Bi. Itu yang membuat aku memperbolehkan kamu. Aku gak ngerti jalan pikiranmu, Bi.."

Biru mengacak acak rambutnya, ia kesal pada dirinya sendiri. "Aku kalut kalau kamu menolakku. Maaf aku terlalu terbawa suasana tadi... Aku janji akan lebih bisa tahan diri aku.."

"Kamu terus janji, Bi.. Kamu janji sayang sama aku, kamu janji gak akan ninggalin aku.. Kamu.. Kamu bahkan membandingkan aku sama Resha, Bi! How dare you, Bi? Aku capek kalo gini terus..." Pevita berlutut sambil menangis.

"Maafin aku masih gak bisa jaga emosiku. Resha bukan apa apa, Vi.. Kamu yang segalanya buat aku. Aku menyesal telah meninggalkan kamu buat nafsuku, buat keinginan sesaatku sama Resha. Maafkan aku, Vi.. Aku sayang sama kamu...  Jangan tinggalin aku...."

Biru memeluk Pevita erat sementara gadis itu menangis.

Kenapa aku jatuh cinta pada pria yang tidak bisa menghargai cinta?

***



Resha membakar semua kenangannya dengan Biru sembari menangis sesenggukan. Ia harus melakukan ini, ia tidak mau hidup dalam bayangan Biru lagi. Hatinya begitu sakit meski ia sudah merelakan Biru pergi bersama Pevita.

Resha tak punya hak untuk meminta Biru kembali meski dirinyalah yang kali ini disakiti. Salahnya telah merebut Biru, salahnya telah mengambil milik Pevita. Ia tidak punya hak apa apa.

Syena menyusul Resha ke taman belakang rumah Nenek mereka sambil tersenyum kecil. Ia begitu bangga dengan apa yang saudaranya lakukan.

"Gue dengar mereka bahagia..." 
Resha tersenyum kecil, "iya..."
"Elo rela liat Biru sama Pevita?" Tanya Syena pelan. Resha mengangguk.
"Gak ada alasan bagi gue untuk menghentikan kebahagiaan Biru. Biru harus bahagia sebahagia gue saat bertemu dengan dia..."

Syena menepuk pundak Resha, "dan Pevita? Apa lo gak benci sama dia?"
"Enggak, Syen.. Gue gak berhak benci gadis itu. Dia pantas mendapatkan Biru kembali."
"Gue bangga sama elo, Resh. Elo telah banyak berubah.. Semoga dengan kejadian ini elo bisa lebih menghargai arti cinta ya..."

"Gue sadar gue bukan orang baik, Syen.. Gue udah sering gonta ganti cowok gara gara Radit. Tapi Biru yang bikin gue sadar bahwa sekalinya gue bisa mendapatkan sesuatu yang berharga, jangan pernah gue melepaskannya. Gue selalu berpikir bahwa Biru adalah orang yang akan membahagiakan gue, ternyata gue salah.. Segalanya akan kembali pada titik di mana kita menemukan kebahagiaan kita dan kebahagiaan gue adalah Radit...."

***

"Apa rencana Sasa gak akan membahayakan?" Tanya Iraz ketika sedang berbincang dengan Salma dan Faldy di rumahnya. Kedua sahabat adiknya itu menggeleng.

"Semoga aja enggak, Mas. Pevita gak punya jalan lain. Satu satunya cara untuk membuat semua aksi balas dendamnya berakhir dengan sukses ya.. Ya begini..." Jelas Faldy.
Salma mengangguk, "walau sebenarnya kita berdua juga gak sependapat tapi... Kita hanya ingin membantu sahabat kita, Mas. Salma tahu pasti niat baik Pevita untuk Biru.."
"Kita sayang banget sama Pevita, Mas.. Kita gak mau Pevita salah pilih.."
"Bukan berarti Biru gak baik hanya saja ada yang jauh lebih baik, kenapa gak dipilih?"

Iraz tersenyum kecil, "beruntung sekali Sasa punya kalian. Terima kasih ya..."


***

Pevita membasuh mukanya beberapa kali lalu menarik nafas satu dua. Sebentar lagi hari ulang tahunnya tiba. Banyak hal yang bermunculan di kepalanya. Ia terus berpikir kapan aksi balas dendamnya harus ia akhiri? Ia tidak mau terus menerus seperti ini.

"Pev... Pevita.." Seorang gadis tiba tiba muncul di belakang Pevita. Melihat bayangan gadis tersebut Pevita melonjak kaget. Nafasnya tersengal sengal. Gadis itu tampak takut melihat Pevita tapi ia terus mengigit bibirnya.

Pevita berusaha menenangkan diri. Jantungnya masih berdegup kencang namun kali ini tatapan penuh kedamaian dari mata gadis itu membuatnya berpikir lebih keras lagi. Gadis itu menyodorkan tangannya lalu tersenyum.

"Namaku Ghinaa Varesha Girsang.. Maaf telah merebut kepunyaanmu, telah kukembalikan dan telah kudapatkan karma dari semua hal yang kulakukan. Jaga Biru ya, Pevita.. Semoga kalian bahagia..."

Mata gadis itu berkaca kaca begitupula dengan mata Pevita. Pevita tersenyum kecil lalu meraih tangan gadis itu dan menjabatnya. Ia berkata, "terima kasih telah merebut Biru dan akan kupastikan ia akan bahagia, selamanya..."




2 chapters left. To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}