Since You've Been Gone chapter 1

HALOOOO! Selamat datang di project Titi & Stefani Putri. Cerbung Since You've Been Gone akan ditulis secara urut oleh Titi & Stefani. Titi di chapter ganjil dan Stefani di chapter genap. Keseluruhan berjumlah 12 chapter dengan publikasi 2 chapter / minggu.

FOR YOUR INFORMATION challenge dari cerbung ini adalah baik Titi dan Stefani TIDAK MERENCANAKAN ALUR CERITA. Kita hanya bicara tentang basic things. Jadi apapun bisa terjadi di cerbung ini.

Selamat membaca!^^

***


"Bodoh." Umpat seorang cowok berambut hitam ikal dengan tinggi 175cm saat sebuah mobil mendahuluinya di tempat parkir. Cowok itu menggerutu lalu membelokkan stir ke arah yang lain. Ia melirik jamnya dan baru sadar tinggal 5 menit lagi sebelum kelas pertama di mulai.

Namanya Refal Aryasatyo atau yang lebih akrab disapa Refal. Cowok ini sama dengan cowok kebanyakan di sekolahnya; datang paling telat, pulang paling cepat. Matanya berlari lari mencari spot parkir yang tepat sembari mengetukan kakinya mengikuti beat musik yang berbunyi.

Mobil Ford Fiesta milik Refal akhirnya ia parkirkan di salah satu sudut lapangan parkir sekolah. Ia menghela nafas sambil melihat keluar jendela. Tetes tetes air yang ditinggalkan oleh hujan subuh tadi masih menempel di kaca jendela seakan akan ia bertahan untuk tidak pergi.

Refal memukul stirnya. Ia mengumpat sendiri. "Shit."



Pagi ini radio kesukaannya kembali memutarkan lagu yang sama dengan apa yang ia dengarkan sebulan yang lalu saat menjemput pacarnya untuk berangkat bersama. Refal menggeleng pelan. Bukan, bukan pacar. Dia adalah seorang mantan pacar yang seharusnya menjadi masa lalu.

Refal tidak pernah menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Sekelebat kenangan selama 5 tahun bersama terus mengusik pikiran Refal semenjak sebulan yang lalu gadis itu memilih pergi. 

Apa yang harus Refal lakukan sekarang?

Rasanya hambar, sepi dan dingin. Ia tahu ia seharusnya pergi. Tapi kemana?

"Pagi, Fal.." Sapa Reva sambil membenarkan ikatan rambutnya. Refal hanya mengangguk kecil, ia sedang tidak punya selera untuk bicara belakangan ini. Yasha Revaline adalah salah satu sahabat dekat Refal dari SD.

Reva tahu sahabatnya pasti masih berpikir keras tentang berakhirnya hubungan Refal dengan pacarnya. Ia maklum jika Refal merasa terpukul. Tapi ia sendiri tidak mau melihat cowok yang biasanya paling bersemangat di sekolah malah jadi berubah pendiam gini.

"Gue gak berniat bahas apa yang lo pikirin sekarang..." Ujar Reva pelan.
Refal mengangguk, "thats good."
"Apapun yang lo pikirin, itu hak lo.."
"You always know.."
"Dan gak ada yang salah dalam berduka cita karena patah hati..."
Seseorang menyapa Refal lalu cowok itu menangguk kecil. "Yes, bro!" Seru Refal berusaha bersemangat.
Reva menghadang Refal lalu menatap sahabatnya dalam dalam. "But hey, get a life." 

Refal terdiam, menghela nafas lalu melirik jamnya. "I'm late. I'll talk to you soon." 

Reva menghela nafas sembari melihat punggung sahabatnya yang semakin lama menghilang jauh. Reva tahu seorang Refal Aryasatyo akan kuat menghadapi apapun juga. Tetapi jika di hadapkan dengan hati dan perasaan, who'll think he'll be the first one who falling to pieces?

***

"Gue pinjem catetan lo ya, Nad.." Ujar Refal lalu menghilang secara cepat dari kelas. Sedari tadi ia tidak mau melihat ke belakang ataupun menoleh ke arah manapun. Ia merasa kacau.

Kelas Kimia kini terasa lebih lama daripada biasanya. Langit Bandung dan awan awannya tampak sedang berbalik rasa dengan apa yang ada di hati Refal sekarang. Cowok itu sudah mencoba membiarkan semua kekacauan ini pergi, tetapi ternyata tidak semudah itu.

Refal memilih berjalan melalui koridor yang lain, membeli makanan yang lain, memarkirkan mobilnya di tempat lain dan bertekad berhenti mendengarkan radio kesukaannya. Setiap hal kecil yang terjadi di kehidupannya selalu mengingatkannya kepada mantan pacarnya.

Refal bergidik ngeri setiap pikirannya mengucapkan kata "mantan pacar" untuk seseorang yang selama 5 tahun ini menemani Refal dalam senang maupun sedih. Refal tahu dalam sebuah hubungan pasti akan ada akhirnya, entah kapan dan bagaimana. Tapi siapa yang akan siap merasa kehilangan?

Refal mengunyah sandwich ayam yang baru saja ia beli sambil berjalan menuju kelas berikutnya. Ia sengaja melalu koridor kelas 10. Walaupun itu berarti ia harus berkeliling sekolah menuju kelas Bahasa Inggris, tapi ia berusaha tetap tenang dan tegar. Ia hanya tidak ingin melakukan apa yang biasanya ia lakukan saat bersama mantan pacarnya.

Tepat saat sandwichnya habis, ia sampai di kelas Fisika lalu menarik nafas. Beberapa bulan yang lalu ia masih berdoa untuk bisa masuk kelas ini di jam yang sama dengan mantan pacarnya. Tapi detik ini jika ia boleh memilih, ia ingin lari dan masuk kelas Sejarah Wajib. Ia lebih rela menahan kantuk sambil diceramahi tentang cerita Perang Dunia ke II daripada harus duduk di samping seseorang yang mematahkan hatinya.

Patah hati kali ini tampaknya belum bisa membuat Refal menemukan titik apa yang salah dan dimana sebenarnya kesalahan itu berada. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu pergi. Ia selalu ingin marah setiap ingat gadis itu. Tapi siang ini ia hanya tersenyum kecil dan duduk di sampingnya.

Gadis itu berusaha tersenyum, "kamu udah makan?"
"Udah." Jawab Refal singkat, ia bahkan tidak melihat mata gadis itu.
"Eum.. Pasti sandwich telor!" Seru gadis itu berusaha ceria.
"Bukan, sandwich ayam."
Gadis itu mengerutkan dahinya. "Sejak kapan kamu suka makan sandwich ayam?"

"Since you've been gone."

***

Gadis berambut lurus dengan mata sipit itu bernama Jessica Alesia. Jessi adalah cewek yang cantik dan manis. Refal bahkan ingat ada 2 tahi lalat di tangan kiri Jessi. Refal dan Jessi mulai pacaran ketika duduk di kelas 7 SMP. Saat itu masa masa perubahan dari anak anak menjadi remaja. Refal dan Jessi sempat mengalami masa masa shock ala ABG.

Mereka sering putus nyambung di bulan bulan pertama mereka pacaran. Namun ketika menginjak tahun kedua dan ketiga, semuanya berjalan lancar. Refal dan Jessi semakin mengerti satu sama lain.

5 tahun menghabiskan waktu bersama jelas jelas membuat mereka tahu kebiasaan masing masing. Mereka juga punya banyak cerita dan kenangan yang takkan pernah terulang dengan siapapun itu.

Entah apa yang terjadi tapi di suatu sore Jessi tiba tiba memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Refal. Hal itu membuat Refal benar benar terpukul. Ia mencoba untuk membenahi dirinya tapi ia sendiri tidak mengerti apa yang membuat Jessi meninggalkannya.

Hari hari pertamanya tanpa Jessi terus diisi oleh ingatan ingatan tentang Jessi. Tapi akhirnya Refal sadar, semakin ia terus memikirkan apa yang biasa ia lakukan dengan Jessi, semakin ia tidak bisa meninggalkan bayangan Jessi.

Refal pun berusaha keras meninggalkan segala hal yang pernah ia lakukan dengan Jessi. Ia menghindari hal hal yang biasanya ia lakukan. Kebiasaan kebiasaan kecil yang tumbuh saat bersama Jessi pun sebisa mungkin ia tinggalkan. Ia tidak mau teringat oleh Jessi lagi.

Ia ingin benar benar pergi. Seperti Jessi yang seenaknya pergi di detik detik menuju kelulusan mereka dari bangku SMA. 

Namun semakin Refal berusaha melupakan dan menghilangkan kebiasaannya, Jessi semakin sering hadir di pikirannya. Ia kalut, ia kacau. Ia harus pergi, ia harus melupakan Jessi. Tapi apa yang bisa Refal perbuat setelah Jessi pergi?

He's lost.

***

"Dia sepertinya udah melupakan gue, Rev..." Ujar Jessi saat ia bertemu dengan Reva di Lab.Komputer. Reva menghela nafas kecil.

"Apa yang buat lo berpikir seperti itu, Jess?"
"Dia bahkan udah gak makan sandwich telor lagi... Dia bener bener pergi."
Reva menggeleng, "bukan seperti itu maksudnya..."
"Lalu kenapa dia berhenti melakukan segala hal yang biasanya dia lakukan sama gue? Gue padahal masih pengen temenan sama dia. Masih pengen bisa ngabisin waktu kayak dulu lagi. Hanya saja enggak dengan status pacaran..."

"Dia berhenti terbiasa supaya dia bisa berhenti merasa sakit. Karena setiap dia inget elo, dia selalu ngerasa patah hati, Jess.."


To be continued....


***

By: Rizki Rahmadania Putri
March 15th 2015


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}