Since You've Been Gone chapter 3

You cut your hair.

***


Jessi segera berlari keluar kelas Biologi setelah bell pertama berbunyi. Ia tidak mau duduk berdampingan dengan Refal lebih lama lagi. Semakin lama ia bersama Refal, semakin hatinya tercabik cabik dengan sikap Refal yang kini sangatlah dingin.

Jason yang melihat Jessi berlari dari kejauhan pun segera mengejar sahabatnya itu. Ia agak panik melihat Jessi seperti itu. Ia mengerti bahwa setelah keputusan Jessi meninggalkan Refal, dunia gadis itu tidak akan sama seperti dulu lagi.

Akhirnya Jason berhasil meraih tangan Jessi. Dengan nafas satu dua, ia langsung memeluk sahabatnya sambil berkata, "lo kenapa lagi, Jess?"

Jessi yang sejak tadi menahan tangisnya pun kini sudah tidak tahan. Ia mulai menangis cukup kencang, ia memeluk Jason lebih erat. "Gue kira meninggalkan Refal enggak akan sesulit ini.. Gue gak bisa tanpa Refal..."

***

"Lo kenapa Fal?" Tanya Reva saat minuman kaleng yang Refal genggam sejak tadi ia lemparkan begitu saja ke tanah. Mata Refal menatap ke arah lapangan parkir dengan kesal. Ia benar benar marah.

Reva melemparkan pandangannya ke arah pandangan Refal. Ia tersentak kaget melihat apa yang terjadi di depannya. Ia tidak percaya seorang Jessica Alesia akan melakukan hal ini kepada sahabatnya.

"Dia jelas jelas ninggalin gue buat orang lain, Rev." Ujar Refal ketus. Reva menggeleng.
"Engga, Fal.. Gak mungkin. Jason itu sa..."
Refal menyentakkan kakinya, "sahabat lo bilang? Sejak lama gue tau Jason berusaha buat menyingkirkan gue. Sekarang dia berhasil kan?"
"Fal.. Please, lo lagi emosi.. Jangan membuat keputusan begitu saja."
"Yasha Revaline! Ini udah berjalan lama, gue yakin!"
"Lo tau kan alasan Jessi ninggalin elo?!" Tanya Reva dengan emosi memuncak. Refal tersentak lalu memalingkan pandangannya.
"Ta.. Tapi gak secepet ini juga dia cari pengganti gue."
Reva menghela nafas, "lalu kalo emang Jessi udah sama Jason apa masalahnya buat lo, Fal? Bukannya kalian udah putus? Bukannya elo udah gak perduli sama Jessi?"
"Arrgh, shit!" Hentak Refal sembari berjalan meninggalkan Reva. Reva menggerutu sendiri sembari terus melihat ke arah Jessi dan Jason.

Jessi tidak mungkin mengkhianati Refal hanya untuk Jason. Reva tahu itu.

***

Refal membuang semua foto foto dirinya dengan Jessi. Ia tidak mau ada sedikitpun yang tertinggal di kamarnya. Ia tidak ingin Jessi berada lagi di kehidupannya. 

Banyak hal yang Refal pikir tidak akan bisa dia lakukan ketika Jessi meninggalkannya. Refal takut dirinya akan terus menerus terbayang bayang akan Jessi. Tapi kenapa dia tidak bisa meninggalkan Jessi saat gadis itu saja bisa pergi darinya?

Ketika patah hati, semua manusia berusaha keras untuk pergi dan lari. Berusaha mencari sesuatu yang baru supaya bisa meninggalkan kebiasaan kebiasaan lamanya. Refal ingin segera memulai hidup barunya. Ia tidak mau lagi teringat akan Jessi.

Di sisi lain Jessi sedang menangis meratapi hubungannya dengan Refal. Ia memutuskan hubungannya dengan Refal karena merasa hubungan mereka tidak ada akhirnya. Jessi dan Refal berbeda keyakinan. Hal itu membuat orang tua Jessi tidak terlalu setuju akan hubungan mereka selama beberapa tahun ini.

Jessi merahasiakan segalanya dari Refal bahkan sampai hari dimana ia memutuskan meninggalkan pujaan hatinya itu. Jessi melontarkan alasan alasan konyol pada Refal. Ia bilang ia ingin fokus mengejar masa depannya dan lebih suka berteman saja untuk saat ini.

Padahal semua itu hanyalah kebohongan belaka. Dalam hati Jessi selalu menangis. Ia selalu berdoa kepada Tuhan setiap saat. Ia selalu menangis di Gereja. Ia tidak mengerti kenapa rasa patah hati sesakit ini.

Kenapa Tuhan mempersatukan rasa ini jika pada akhirnya mereka tidak akan bisa bersama?

***

Jangan bertemu Jessi lagi. Kalimat itu terus berputar putar di kepala Refal. Andai saja menghindari gadis itu adalah hal yang mudah, ia akan melakukannya. Entah kenapa setiap langkahnya selalu saja bertemu dengan gadis itu.

Kali ini ia sudah memutari sekolah untuk mencari tempat yang tidak biasanya ia dan Jessi kunjungi. Tapi ia baru sadar bahwa sekolah ini adalah tempat favorit mereka berdua. Setelah Adzan Dzuhur nanti, Refal berniat bolos kelas Seni Budaya karena di kelas itu ia akan berada satu kelompok bersama Jessi.

Refal memutuskan duduk di depan kelas Kimia sambil tertegun. Ia teringat banyak hal yang ia lalui bersama Jessi. Besok adalah hari Minggu, hari yang biasanya menjadi hari terberat bagi mereka. Hari dimana perbedaan antara mereka mulai terlihat.

Refal tidak pernah mau mengingat perbedaan ini, tapi semenjak berpisah, ia berpikir mungkin ini salah satu alasan kenapa mereka berakhir begini. Refal akan mengantarkan Jessi ke Gereja setiap Minggu, sementara gadis itu menunggunya shalat Jum'at setiap minggunya.

Mereka berdua selama ini tidak pernah mempermasalahkan perbedaan itu, tapi ketika berpisah, rasanya begitu terlihat sekali. Sendi sendi Refal terasa nyeri setiap mengingat Jessi. Entah sampai kapan rasa ini akan terus begini.

Refal berusaha keras untuk merubah segala kebiasaannya. Kebiasaan yang selalu ia lakukan selama 5 tahun terakhir bersama Jessi. Ia percaya, kebiasaan itu akan membuatnya lupa akan Jessi.

Tapi semakin ia berusaha semakin ia merasa sakit itu benar benar nyata. Bukan hanya sakit sementara karena ditinggal atau luka yang masih terlalu basah untuk ditinggalkan. Ia takut. Ia benar benar takut.

Ia merindukan Jessi lagi....


To be continued...

***

LATE POST!
By: Rizki Rahmadania Putri
March 24th, 2015



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}