We Are Liars chapter 3

Terkadang manusia harus kehilangan dulu supaya bisa menghargai sesuatu..


***



 RAMADHANA ILHAM SATRIA'S POV

“Ra,kamu ngga bosen natap layar komputermu itu terus?” tanyaku pada akhirnya bosan setelah memandangi Aurora sibuk dengan pekerjaannya sendri selama berjam-jam dan hanya direspon dengan gelengan pelan Aurora. “Terus buat apa kamu ke rumah aku? Cuma buat ngerjain tugas?” tanyaku mulai kesal.

Aurora menghela nafas. “Ham,kamu itu gimana sih… tadikan aku udah bilang aku lagi sibuk banyak project. Kamu maksa mau ketemu. Aku suruh ke rumah aku katanya kamu ngga boleh keluar rumah. Aku ke rumah kamu malah di omelin” omel Aurora panjang lebar. Namun,semua itu justru membuatku tersenyum kecil.

Aku berfikir keras mencari kegiatan yang menyenangkan. Aku memandangi halaman luar dari balik kaca jendela. Semuanya basah. Ya,hujan mengguyur kota dari dua jam lalu hingga saat ini belum berhenti juga. “Ra,hujan hujanan yuk!” ajakku spontan. Ntah,ide darimana itu begitu saja terlintas dalam fikiranku.

Aurora menatapku sejenak. “Kamu yakin?” ucapnya malah bertanya.

Tanpa banyak basa-basi lagi aku menarik tangan Aurora. Mengajaknya keluar rumah dengan paksa. Bercengkrama dengan air hujan yang jatuh satu demi satu dihiasi tawa yang mengalir alami begitu saja. Gemericik air hujan,bau wangi tanah,suara tawa Aurora cukup membuktikan kepadaku bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana melihat orang yang kamu sayangi tertawa lepas.

Beberapa menit kemudian hujan reda. Aurora duduk disudut taman dengan bajunya yang masih basah terguyur air hujan. “Ham,sini deh duduk” ucapnya mengayun-ngayunkan tangannya memimtaku duduk. “Makasih yaa…” ucapnya tiba-tiba dengan senyum lebar setelah aku duduk di sampingnya.

“Makasih untuk apa,Ra?” tanyaku bingung. Bagiku,tak ada yang perlu diucapkan terima kasih.

Aurora menatapku lekat-lekat masih dengan senyuman lebarnya. “Makasih udah mau ngertiin aku. Maaf ya,aku sering sibuk dengan duniaku sendiri” ucapnya lembut.

Aku hanya membalas dengan senyum simpul. Aku sendiri tidak dapat berkata apa-apa tentang itu. Aku memang tidak pernah marah apalagi melarang Aurora sibuk dengan segala macam aktivitasnya. Aku sadar aku sama sekali tidak punya hak, karena aku sendiri belum bisa sepenuhnya memberikan perasaanku pada Aurora. Hati ini belum seutuhnya milik Aurora. Ntah berapa bagian hati ini masih tertuju pada Saras. Aku tahu aku bodoh. Manusia bodoh,sudah disakiti berulang kali. Bahkan Saras sendiri sudah punya laki-laki lain yang menjadi kebahagian barunya. Iya,aku juga tahu aku ini laki-laki brengsek yang hanya bisa mempermainkan hati perempuan demi egoku sendiri.

“Ham,sudah jam 5. Aku pulang ya? Ada janji sama mama nih.” ucap Aurora kemudian bangkit berjalan kembali memasuki rumah.

“Tapi,kamu ngga apa-apa,Ra pakai baju basa begini? Nanti kamu sakit” ucapku khawatir melihat kaos dan celana pendek yang dikenakan Aurora basah kuyup.

Aurora menggeleng pelan. “ Ngga apa-apa,Ham. Biar bukti,aku habis bahagia sama kamu” ucapnya di iringi tawa kecilnya yang menggemaskan. Kemudian melangkah pergi.

***

Aku mengendarai mobil sedan putihku dengan fikiran bercampur aduk. Kamu kenapa,Ra? Ada apa sama kamu? kamu dimana sekarang? Pertanyaan itu terus berputar-putar dalam otakku. Tak ada secercah kabarpun sejak tadi pagi. Tak dapat dihubungi sama sekali. Bahkan di sekolahpun Aurora tak terlihat seharian ini. Tak beberapa lama mobilku terhenti di depan pintu gerbang rumah Aurora. Aku menekan tombol klakson memberi tanda meminta satpam rumah Aurora membukakan pintu gerbang. Dalam waktu singkat mobilku sudah terparkir rapi.aku bergegas turun dengan cepat.


“Pak,maaf Auroranya ada?” tanyaku kepada satpam penjaga rumah Aurora.

“Ada,den masuk saja” jawabnya kemudian mempersilahkan.

Aku memasuki rumah Aurora dengan segera. Rumah ini bukan tempat asing lagi bagiku. Aku tahu seluruh seluk beluk rumah ini. Maka,bukanlah hal yang sulit untuk menemukan kamar Aurora. Aku membuka pintu kamar Aurora dengan hati-hati. Mataku tertuju langsung pada tubuh Aurora yang terbaring lemah di ranjangnya. Aku melangkah pelan berjalan menghampirinya.

“Raa…” panggilku liriih sembari mengelus lembut rambut hitam ikal Aurora yang terurai

Aurora membuka matanya secara perlahan. “Hai,Ham” ucapnya parau hampir tak terdengar. “Maaf ya… aku ngga kabarin kamu sejak tadi pagi. Aku flu” ucap Aurora mencoba menjelaskan semuanya dengan suara parau terbata-bata.

Aku hanya tersenyum memandangi Aurora. “Maaf ya,Ra… gara-gara aku kemarin kamu sakit gini” ucapku merasa tidak enak hati melihat keadaan Aurora.

Aurora tertawa kecil. “Bukan salah kamu kok.” ucap Aurora sembari tersenyum simpul

Aku diam seribu bahasa. Kamu itu polos,Ra seperti anak kecil. Aku yang jahat,jahat nyakitin kamu. Bikin kamu flu,Ra. Dan ntah cepat atau lambat. Ntah kapan kamu sadar kalau aku ini jahat. Cuma bisa nyakitin perasaan wanita demi egoku sendiri.

***

AURORA ADHIWINATA'S POV

“Aaaaakkk” ucap Ilham meminta aku membuka mulutku ia mencoba untuk memaksaku makan sejak tadi. Namun,aku sendiri sama sekali tak punya selera untuk makan. Tetap menutup mulutku rapat-rapat menolak permintaaan Ilham. Ntah,aku sendiri sudah lelah dengan kepura-puraan Ilham. Aku tahu,Ilham memang pada dasarnya peduli. Namun,semua ini aku rasa terlalu dibuat-buat. Terlalu banyak dramatisasi.

“Ham… kamu ngga capek?” tanyaku pada akhirnya sudah lama menyimpan pertanyaan itu.

Ilham terdiam sesaat memandangiku. Masih,mencerna maksud pertanyaanku,mungkin. “Capek gimana maksudnya Ra?” tanyanya.

“Ya,kamu ngga capek dengan kepura-puraan ini Ham?” tanyaku berusaha memperjelas maksud pertanyaanku. “Aku rasa semua ini penuh paksaan,Ham. Penuh dramatisasi. Rasanya aneh,ngga tahu kenapa. Iya,aku bahagia tapi rasanya aneh,Ham.” Ucapku lebih memperjelas lagi.

Ilham menaruh mangkuk berisi bubur diatas meja dekat ranjang kamarku. Kemudian menggenggam tanganku lembut. “Ra, kamu itu kalau mau tahu rasa kopi kamu harus meneguknya perlahan-lahan dan mengecapnya dengan hati di tiap tegukannya. Sama seperti hubungan kita. Mungkin kamu hanya belum terbiasa dengan perbedaan status ini,Ra:” ucap Ilham panjang lebar. “Sekarang kamu makan ya…” bujuknya lagi. Kali ini aku luluh kemudian membuka mulurku perlahan.

Ham,kalau seandainya ini hanya dramatisasi. Ini hanya peran belaka tolong hentikan. Semua ini hanya menyiksa aku dan dirimu sendiri. Iya,aku bahagia tapi rasanya aneh. Rasanya seperti terlalu kental dengan kebohongan. Tolong,ham hentikan semua ini.

To Be Continued...

***

By: Afifah Zahra
March 18th, 2015


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}