We Are Liars chapter 5

The heart wants what it wants.

***


AURORA ADHIWINATA'S POV

            “Aurora?” panggil sebuah suara yang tak asing di telingaku. Suara yang selama ini aku rindukan. Iya,itu suara Alvin. “Sendirian? Boleh aku duduk di sini?” tanyanya sembari menarik kursi yang berada tepat dihadapanku. Aku hanya mengangguk pelan.

            Ya,hari ini aku sendirian duduk di kafe berkutat dengan seluruh project bulananku tanpa Ilham. Ilham sibuk,entah sibuk apa aku sendiri sama sekali tak peduli. Justru rasanya aneh kalau bersama Ilham. Rasanya ada yang mengganjal. Aku sendiri tidak mengerti. Namun,kedatangan Alvin disini justru membuatku lebih kacau lagi. Selama tiga bulan bersama Ilham aku berusaha keras untuk melupakan Alvin. Berusaha keras untuk mencintai Ilham sepenuhnya. Ya, lebih tepatnya bukan berusaha keras tapi memaksa lebih tepatnya.

            “Ra, kok ngga sama Ilham?” tanya Alvin tiba-tiba membuatku mengangkat wajahku dari layar laptop. Alvin juga tahu tentang semua ini? Ya tuhan,sampai kapan drama ini berlanjut. 
“Kamu sekarang pacaran sama Ilhamkan?” tanya Alvin sekali lagi.
           “Kamu tahu darimana,Vin?”tanyaku spontan.


            Alvin tertawa kecil. Suara tawa yang aku rindukan selama ini akhirnya terdengar lagi. “Ra, aku itu kenal sama kamu bukan sehari dua hari. Ya aku pasti tahulah semua tentang kamu” jawab alvin entang.

          Sayangnya kamu ngga tahu bagaimana perasaan aku ke kamu dari dulu sampai saat ini,vin.

            “Kamu bahagia,Ra sama Ilham?” tanya Alvin lagi. Pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab. Aku hanya diam seribu bahasa tak tahu harus menjawab apa. Alvin tersenyum seketika menatapku.”Ra,udah jujur aja aku tahu kok yang ada dalam isi hati kamu” ucap Alvin mendesakku untuk menjawab.            Kamu bohong vin. Kalau kamu tahu isi hatiku kenapa kamu berlagak seolah-olah tidak tahu bahkan tidak mau tahu.   

         “Aku bahagia kok,Vin.” Jawabku setelah lama diam dengan memasang senyuman palsu. “Kamu sendiri gimana sama Farah?” tanyaku balik.

           Farah Rastanty,pacar baru Alvin yang baru resmi lima bulan lalu. Dua bulan lebih awal dari aku dan Ilham. Alvin selalu bergonta-ganti pacar. Namun,pada akhirnya akulah tempat pemberhentiannya. Mungkin,aku hanyalah sebuah tempat pelarian Alvin. Namun,Alvin untukku lebih dari itu dan tak akan pernah berubah.

            Alvin tersenyum getir. “Ngga,Ra aku udah ngga ada apa-apa lagi sama Farah” jawab Alvin singkat. “Aku sadar,aku salah selama ini. Seharusnya aku tidak memaksa. Hatiku sudah punya tautannya sendiri jadi pasti akan kembali lagi pada tautannya” ucap Alvin lagi. Pernyataan darinya membuat hatiku terus berputar-putar. Mencari siapa yang dimaksud Alvin sebagai tautan hatinya. “Kamu tahu ngga,Ra siapa tautan hatiku itu?” tanya Alvin tiba-tiba. Aku hanya menggeleng pelan.

“Tautan hati aku kamu,Ra. Tapi,aku sadar diri kamu punya Ilham. Yang perlu kamu ingat aku bakal tetap nunggu kamu dan ngga bakal pergi ke perempuan lain seperti apa yang aku lakukan dulu” ucap Alvin berjanji. Aku sendiri bingung harus senang atau sedih. Seandainya kamu katakana itu 3 bulan lalu,Vin kamu ngga perlu tunggu aku lebih lama lagi dan aku ngga perlu sakit terlebih dahulu.

***

RAMADHANA ILHAM SATRIA'S POV      

      Saras menggenggam tanganku lembut. Memasukkan jari-jemarinya di sela-sela jari jemariku selama film berlangsung. Perlakuannya masih sama seperti saat Saras masih menjadi perempuan satu-satunya dalam hatiku. Aku tahu aku berkhianat pada Aurora dari beberapa hari yang lalu. Akhir-akhir ini Saras mulai menghubungiku kembali,mengajak bertemu untuk sekedar makan siang atau nonton film. Bahkan tadi siang ia menelfonku memintaku untuk mendengarkan curahan hatinya.

            “Aku baru putus sama Haekal,Ham” ucapnya  dengan air mata yang meleleh di pipnya, “Aku sekarang sadar,Ham. Aku salah menilai kamu dulu. Aku harusnya bahagia sama kamu. Tapi,aku bodoh aku malah melepas kamu demi seorang laki-laki brengsek seperti Haekal. Aku bodoh sangat bodoh baru sadar akan itu saat kamu sudah milik orang lain” ucap Saras memaparkan seluruh penyesalannya.

           Satu setengah jam kemudian film selesai. Aku sendiri tak begitu memperhatikan jalannya film. Dalam otakku terus berputar-putar dengan pernyataan Saras tadi siang sebelum menonton film. Aku sendiri bingung saat itu harus berkata apa dan harus bereaksi apa. Bingung,aku ini sudah menjadi milik Aurora namun hanya jasad bukan hatinya. Kamu mengatakan semua itu di waktu yang salah,Saras. 

           Aku berjalan menyusuri koridor demi koridor mall sore itu. Kali ini aku berjalan tak seperti biasanya yang membiarkan Aurora berjalan lebih dulu dan aku hanya berjalan di belakangnya demi menjaga keselamatan Aurora. Kali ini berbeda,aku berjalan di depan lebih awal dari Saras,sengaja demi menjaga perasaan Aurora dan aku. Perasaan ini tidak boleh kembali lagi bertaut pada hati Saras,tidak boleh. Aku melangkah cepat jangan sampai langkahku sama dengan langkah Saras lalu menjadi berjalan berdampingan.

            Sampai pada suatu ketika aku memperlambat langkahku,mataku tertuju lurus pada suatu bayangan nyata dua orang manusia sedang bercanda gurau. Ya,itu Aurora bersama Alvin terlihat bersenda gurau di sudut kafe. Tawa Aurora begitu lepas alami tanpa dramatisasi apapun. Tidak seperti ketika Aurora bersama aku. Semuanya penuh dramatisasi. 

Sesungguhnya aku rindu dengan semua itu. Rindu dengan tawa lepas Aurora selama bersama denganku dengan status teman. Harusnya dulu aku sadar kami lebih tepat dengan status teman tidak lebih dari itu. Sayangnya aku hanyalah manusia brengsek tidak lebih. Hanya manusia yang mengedepankan egoku sendiri. Bodoh? Iya aku tahu. Jahat? Iya sangat. 

Mungkin dramatisasi ini harus di selesaikan secepat mungkin. Aku tidak mungkin melukai perasaan Aurora lebih lama lagi. Toh,Aurora lebih bahagia dengan Alvin bukan? Dan lebih bahagia bersamaku dengan status teman bukan pacar.

To be continued....

***

By: Afifah Zahra
March 20th, 2015


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}