Since You've Been Gone chapter 9

The worst thing of being cruel person is.....
Ketika kamu menjadi perusak persahabatan orang.

***


"Kamu ngapain, Dy?" Tanya Jessi heran saat melihat Maudy terus menerus memandangi fotonya dengan Refal yang dipasang di sebuah frame ungu muda. Maudy tersentak kaget. Ia hampir saja menjatuhkan frame tersebut. "Eh.. Eh sorry, Jess.."


Wajah Maudy seketika memerah, ia tidak harus merespon apa akan ucapan Jessi. Maudy berusaha membuyarkan pikirannya namun wajah Refal terus menerus berada di benaknya. Ia selalu berharap bahwa dirinyalah yang bisa bersama Refal.


Jessi tersenyum, "aku selalu berharap kami selalu bersama." Ujarnya kecil lalu disambut senyum tipis dari Maudy. Hari ini Jessi meminta Maudy datang ke rumahnya karena ia ingin meminta pendapat tentang dirinya dan Refal.

"Aku juga. Aku selalu suka kalian." Kata Maudy berbohong. Air mata Jessi pun menetes sedikit demi sedikit. "Tapi makin lama aku makin sadar hubungan kami gak akan berakhir kemana mana. Jika cinta dipersatukan karena perbedaan, maka perbedaan satu ini malah memisahkan..."


Maudy mengerutkan dahinya, "masa kamu mau ninggalin Refal sih, Jess?"

"Aku juga gak tahu..." Jessi menyeka air matanya. "Australia itu jauh dan mungkin salah satu di antara kami gak akan benar benar meneruskan kesana."

"Jarak bukan penghalang, Jess.."
Jessi mengerang, "tapi aku tidak bisa meninggalkan Tuhan-ku, Dy. Seperti dia yang tidak bisa meninggalkan Tuhan-nya."
"Setelah semua hal yang kamu lakuin sama Refal, apa kamu sanggup melupakan dia nantinya? Apa kamu bisa meninggalkan semua kenangan yang kalian buat?"

Jessi semakin menangis sementara Maudy terus memeluknya. Ia berujar, "mungkin ini namanya cinta. Semakin cinta, semakin harus berani melepaskannya.."

***

Setelah beberapa minggu Refal dan Maudy jalan bareng, akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk pacaran setelah Maudy terus mendesak Refal atas hubungan mereka. Awalnya hanya Reva yang tahu tentang hubungan ini karena Maudy belum siap memberi tahu kedua sahabatnya, Jessi dan Jason.

Refal ingin segera mempublikasikan hubungan mereka sehingga ia bisa benar benar lepas dari bayangan tentang Jessi. Semenjak Jessi memutuskan dirinya begitu saja, Refal berusaha keras untuk merubah segala hal dalam hidupnya. Ia tidak ingin terus menerus menjadi Refal yang terpuruk karena perginya Jessi.

Tapi hari kecil Refal tidak bisa berbohong. Meski sekarang Refal memiliki Maudy dan ia juga tahu bahwa Jason sudah tertarik pada Reva (yang jelas membuatnya berhenti berasumsi bahwa Jason adalah perusak hubungannya), ia masih tetap penasaran akan apa yang membuat Jessica Alesia meninggalkannya. 

Refal ingin dunia dan tentu saja Jessi tahu bahwa semenjak gadis itu pergi, dia bisa bangkit dari keterpurukannya. Walau sebenarnya dia tahu betul, dia sedang membohongi dirinya sendiri...

***

Jessi datang menghampiri Maudy yang sedang duduk di pinggir lapangan dengan wajah merah. Amarah dapat terlihat dari matanya sementara pipinya sudah begitu basah. Di belakangnya ada Jason dan Reva yang berusaha mengejar langkah Jessi yang begitu cepat.

Maudy memasang tamengnya. Walau detik itu ia begitu panik setengah mati, ia harus tenang. Ia pura pura tidak melihat Jessi sampai gadis itu sampai di hadapannya dan langsung menampar Maudy begitu saja. Jessi begitu kecewa.

"Jadi ini yang namanya sahabat?"

***

"Kamu beneran putus?" Tanya Maudy pada Jessi detik dimana ia menemukan tidak ada lagi nama Refal dan Jessi di masing masing status BlackBerry Messanger mereka. Jessi dengan mata sembabnya langsung memeluk Maudy dan menangis lagi. Tubuh Maudy kaku. Ia ingin melonjak bahagia tetapi ia tidak berani.

"Aku harus ninggalin dia..."
Maudy mengigit bibirnya, "kamu bilang apa?"
"Lebih baik kami berteman aja. Aku gak berani bilang masalah Agama. Aku takut."
"Jess..."
"Aku sayang Refal, Dy.. Aku sayang banget..." Jessi terus menangis dan tenggelam dalam pelukan Maudy sementara gadis itu membelai rambutnya dan bergumam kecil dalam hati, aku juga sayang Refal, Jess.

***

Maudy tersentak, "apa salahku, Jess?"
"Gak usah sok suci lo!" Seru Jason kesal. Reva berusaha meraih tangan Jessi namun gadis itu menepisnya. Sebenarnya Reva agak tidak setuju jika Refal bersama Maudy karena gadis itu adalah sahabat dari Jessi. Tetapi ia lebih tidak setuju lagi jika Refal terus memikirkan Jessica Alesia.

Jessi menggeram, "jadi ini alasannya kenapa selama ini elo ngehindarin main sama kita berdua? Apa udah sejak dulu lo ngincer Refal? Segitu murahannya kah elo?" Tanya Jessi sambil menangis. Maudy menggeram, "jaga omongan kamu!"

"ELO YANG HARUS JAGA OMONGAN!" Bentak Jason dengan begitu kasar. Reva dan Maudy tersentak. "Sejak dulu gue selalu curiga kalo elo naksir sama Refal! Gue bingung kenapa cewek secantik elo gak mau sama siapapun! Ternyata bener dugaan gue." Cecar Jason. 

Jessi terus menangis. "Gue kira elo sahabat gue." Ujar Jessi dengan begitu kecewa. Ia berhenti bicara dengan kata aku-kamu karena begitu kesal dengan Maudy.

Maudy tertawa kecil, "aku emang sahabat kamu, Jess. Aku gak pernah ganggu kamu selama kamu sama Refal. Tapi kali ini, ketika kamu ninggalin Refal, apa aku gak boleh perjuangin dia? Toh kamu juga gak bisa bahagiain dia."

Jessi menampar Maudy lagi dan menggeram, "jaga ucapan lo. Gue ninggalin dia karena gue sayang sama dia."
"Kalo gitu biarin dia sama aku karena sekarang dia sudah bahagia!"
"Dia gak mungkin lupain gue secepat itu!"
"Tapi kamu milih untuk ninggalin dia kan?"
"Itu karena gue sama dia gak ada jalan untuk bersatu. Elo tahu semuanya, gue cerita semuanya sama elo. Gue berharap ada cewek yang bahagiain dia. Tapi elo adalah sahabat gue, gue gak pernah mengharapkan elo yang akan melakukan semua ini."

Jason menggeleng, "sahabat itu gak seperti ini, Dy..."
"Putuskan saja persahabatan kita. Beres kan?" Tanya Maudy kesal. Jessi dan Reva menggeleng bersamaan. Reva menghela nafas, "gue gak nyangka elo ternyata begini..."

Jessi melangkah mundur, ia terus menangis. Wajahnya begitu kecewa. "Aku kira kita sahabat, Dy..." Ujar Jessi. Maudy tersenyum kecil.

"Biarkan aku membahagiakan Refal, Jess."

***

"Kita temenan aja ya..." Ujar Jessi sambil menahan tangisnya. Refal tersentak. Ia langsung menatap mata Jessi namun mata coklat itu berlari dari tatapannya.
"Tapi kenapa.. Ada apa, Jess? Bukannya selama ini kita baik baik aja?"
Jessi mengangguk, air matanya jatuh. "Iya kita emang baik baik aja.."
"Lalu kenapa kamu mau ninggalin aku?"
"Kita temenan aja ya..."
"Kamu suka sama Jason?!" Tanya Refal dengan suara bergetar.
"Dia sahabatku.. Kita temenan aja ya.."
"Apa karena aku gak ngertiin kamu?"
Jessi menggeleng, "kamu segalanya untukku.. Kita temenan aja ya..."

"Please Jessica Alesia.. Berhenti berkata seperti itu..."
"Aku sayang kamu... Jadi kita temenan aja ya..."

Jessi bangkit dari duduknya dan mengecup pipi Refal. "Aku pergi ya..."

***

Amarah berkecamuk di kepala Reva. Ia begitu kebingungan. Sebenarnya wajar saja jika Maudy jatuh cinta pada Refal, tetapi secara etika, rasanya semua seperti sebuah pengkhianatan mengingat Maudy adalah sahabat Jessi.

Terlebih Reva akhirnya tahu alasan utama Jessi meninggalkan Refal karena Agama mereka yang berbeda adalah benar adanya. Reva bingung setengah mati. Reva tahu Refal mulai membenci Jessi dan ia ingin sahabatnya tahu bahwa apa yang Jessi lakukan tidak seburuk apa yang Refal pikirkan.

Kisah ini semakin rumit, semakin mendalam, hingga membawa Reva terlelap ke alam mimpi...


To be continued...

***

ALMOST FINAL
By: Rizki Rahmadania Putri
April 19th, 2015


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}