Tragedi Untuk Menjadi Dewasa; Nothing Lasts Forever

The bad news; Nothing lasts forever.

The good news; Nothing lasts forever.

Because there are only hello & goodbye between the vow of forever.

***


Malam ini gue duduk dan berpikir cukup keras ketika gue selesai membaca beberapa postingan lama gue. Seperti membaca sebuah buku harian yang sudah lama tidak dibuka, masih ada rasa sakit dan penyesalan yang tertinggal.

Sebuah hal yang gue sadari ketika menutup tab posting lama gue adalah ada hal yang kini gue miliki setelah bertahun-tahun semenjak menulis posting itu. Gue bisa mengatur perasaan gue, gue bisa mengerem dan memilah milih. Gue bisa tenang melihat orang pergi.

Gue sadar gak semua orang bisa gue perlakukan dengan "baik" dan gak semuanya akan selalu baik baik saja. Pada akhirnya akan ada yang datang dan pergi, itulah hukum kehidupan. Atau lucunya ketika dulu gue memilih untuk "menjauhi" seseorang karena gue gak suka dia, tapi dia penting buat orang yang penting untuk gue. Karena gue gak mau orang itu pergi, gue pun berkompromi dan mau mengalah untuk melihat sisi positifnya; buat apa gue terus membuat tembok sementara itu malah semakin menjauhkan gue dengan sahabat gue?

Gue pun mulai membuka diri dan meruntuhkan tembok itu, mencoba untuk lebih santai dan menghargai dia supaya dia juga bisa menghargai gue. It works, guys. It really works. Itu salah satu saat di mana gue menyadari bahwa mengalah demi mempertahankan sesuatu adalah salah satu bentuk kedewasaan yang gak bisa dibayar oleh apapun.

Ada lagi saat gue sudah berusaha super keras untuk memperbaiki hubungan dengan sahabat gue tapi kami sudah ada di titik di mana gue sendiri menyadari ini gak akan berjalan dengan baik. Gue berusaha untuk membuat semuanya tetap manis, tapi rasanya seperti hanya gue yang berusaha. Kali ini bukannya gue gak menghargai setiap usaha kecil dia, tapi rasanya setiap kalimat yang dia lontarkan berakhir jadi omong kosong.

Daripada gue grasak grusuk berisik dan berakhir ghibah gak baik, gue pun memutuskan untuk let her go saja. Jika dia memang ditakdirkan untuk jadi sahabat gue selamanya, saatnya dia yang mengusahakan kami. Tapi jika dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang, apa yang bisa gue lakukan? Gue gak mau jadi perusak kebahagiaan seseorang..

Dari situ gue sadar bahwa ketika kita bisa mundur dan melepaskan seseorang untuk pergi, kita sudah mencapai salah satu titik kedewasaan lagi untuk menjadi lebih baik.

Ada lagi masa di mana orang orang itu membicarakan gue dengan segala kejelekan gue di mata mereka. Mungkin Tipluk 4 tahun yang lalu akan menangis meraung raung sambil menulis bad-tweets atau memaki maki lewat postingan blog. Tapi Tipluk sudah 17 tahun dan gue sangat senang melihat diri gue bisa tersenyum mendengar omongan sarkasme mereka. Mulai dari cara gue bergaul, cara gue berdandan, cara gue bermedia sosial, cara gue berkarya sampe sama siapa gue berhubungan pun dikomentarin udah kayak Facebook hikhik. But that's life dan itu gak akan pernah selesai.

Jadi daripada gue nanggepin atau ngambil pusing hate-comment gitu, mending gue filterisasi yang baik untuk introspeksi yang mana dan yang gak penting ya jadikanlah angin lalu. Seperti yang gue bilang tadi; gue gak mau ngerusak kebahagiaan orang lain. Kalo ngejelekin gue adalah kebahagiaan mereka, ya let them talk gitu;D

But yes, bisa legowo, menjaga emosi dan introspeksi diri adalah kedewasaan yang datang dari pantulan pribadi kita di lingkungan. Mungkin omongan mereka bener, mungkin juga salah. Ngebela diri atau ngejelasin sampe berbusa cuman buangin waktu, jatohnya tetap bullshit. Jadi mari bahagia masing masing saja, ya?

Last but not least, gue mendengarkan orang yang gue sayangi menceritakan tentang orang yang dia sayangi. Deep down in my heart kalo dia ngomongin ini beberapa bulan yang lalu, gue pasti udah ngebakar rumah dia dan bilang "YAELAH LO GAK PEKA BANGET SIH" HAHAHA. But yes, inilah sayang yang sebenarnya. Perasaan sayang yang gak bisa diungkapkan oleh kata-kata dan gak bisa diberikan kepada siapa saja.

Ketika kita bisa merelakan orang yang kita sayangi mengejar apa yang dia inginkan, mungkin rasanya sakit, tapi itu adalah salah satu kebahagiaan karena berarti kita sudah bisa menyikapi perasaan itu dengan dewasa.

Ada orang yang datang untuk tinggal.
Ada juga yang datang hanya untuk memberi pelajaran dan pergi membawa masa lalu kita.

Mendengar dia bersedih karena seorang cewek membuat gue ingin bilang "kalo aja elo sama gue, lo gak akan begini" tapi itulah hidup; apa yang lo mau, gak selalu yang lo butuhkan. Mungkin kalo gue dan dia berlanjut, detik ini gue gak akan bisa cerita seenaknya sama dia dan hubungan kita gak akan everlasting.

Kali ini gue sudah mencoba "mengenal" orang lain setelah gue memagari diri untuk gak balik baper sama dia dan dia juga sudah ketemu sama beberapa orang lain. Tapi emang dasarnya belum dapet jodoh dan lagi disayang sama Allah, kita berdua "belum berhasil" mendapatkan yang terbaik.

Kedewasaan yang lain adalah ketika gue sadar bahwa dekat dengan seseorang tidak menjadikan elo punya jalan yang pasti untuk berhubungan serius dengan dia. Mungkin saja detik ini kalian akan berkelana cari pasangan padahal kalian berdua "sedang bersama" atau mungkin kalian memang dipertemukan untuk saling mengisi sambil mencari.

Dewasa saat jatuh cinta adalah ketika kebahagiaan itu disyukuri dan patah hati itu dijadikan motivasi. Gak banyak orang yang bisa moving on dengan cepat, tapi bersyukurlah atas hari cerah yang kalian lalui bersama dan bangkitlah setelah patah hati itu elo rasakan.

Bicara masalah hati, gak ada yang pasti. Perasaan orang siapa yang tahu, sih?

Nyaman saja gak cukup, butuh komitmen, butuh restu Allah. Ini gue serius!! *gue jitakin satu satu*

Jadi dewasa itu bukan masalah punya KTP, udah punya SIM dan bawa kendaraan atau bisa balik malem karena ngerasa "udah gede" lho. Jadi dewasa itu di saat kamu bisa mensyukuri apa yang kamu punya setelah perjuangan untuk mendapatkannya.

Hidup itu sulit, jendral. Seperti bersyukur. Namun kalau kamu mau mencoba menikmatinya, kebahagiaan akan datang seiring dengan berjalannya waktu...

Dan malam ini gue pun gue cuman bisa tersenyum sambil mendoakan yang terbaik buat dia. Semoga dia bahagia dan gue bahagia -bertemu siapapun yang baik, ditemukan siapapun yang baik. 




Gue cuman gak mau lagi jadi orang yang menyayangi dan berakhir ditinggalkan. Cukup.


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}