[CERPEN] Sahabat Tanpa Waktu

In the end of our journey, we'll realize there are 2 type of bestfriend as time goes by;
leaving or stay.

***

            Rafi terus menghiraukan ketukan pintu yang iramanya tak asing di telinganya. Itu sudah pasti ketukan Maudy. Rafi tahu lama kelamaan Maudy akan bosan sendiri. Sepuluh menit berlalu dan Maudy masih mengetuk pintu. Rafi yang sudah lapar karena tadi pagi tidak sahur langsung bangkit dari tempat tidurnya dengan muka garang. Dia terlihat sangat kesal.
            “Mau ngapain lo kesini?” Tanya Rafi dingin. Maudy tersentak lalu tersenyum kecil sambil menyodorkan kotak berwarna biru muda ke arah Rafi. Rafi menatap Maudy heran.
            “Ada atau enggak ada gue sih pasti gak ngaruh buat elo. Tapi selamat ulang tahun, Rafi. Ini tahun ke enam dari persahabatan kita. Gue cuman pengen ngasih elo sesuatu sebelum kita bener bener pisah semakin jauh…” Suara Maudy bergetar. Matanya berkaca kaca.
            “Gue.. Gak bisa ngasih apa apa selain ini. Gue bukan sahabat yang baik buat elo. Gue terlalu nuntut elo, ngebebanin elo. Yaudah, baik baik ya sama Vika. Good luck di SMA lo…” Maudy tertawa ketika air matanya mulai jatuh. “Aduh kenapa gue jadi nangis gini sih…”
            Rafi tak bisa bereaksi apa apa. Ia bingung harus berkata apa. Di satu sisi ia merasa senang Maudy sadar bahwa ia terlalu membebani Maudy tapi disisi lain ia tidak tega…
            “Gue berharap persahabatan kita tanpa batas waktu supaya gak pernah berhenti. Gue pengen ngelewatin Ramadhan ini bareng sama elo. Kita bikin Ramadhan jadi berwarna lagi. Tapi kayaknya cukup usaha gue balikin kita kayak dulu.. “
            Rafi tertegun melihat Maudy menangis. Seakan akan film yang terputar di bioskop, banyak kenangan lama yang silih berganti memenuhi otak Rafi. Rafi tak tahu harus bicara apa. Rasa kesal dan jenuh berkeliaran di kepalanya sementara hatinya meminta ia untuk mengalah.
            Tapi ia tidak bisa terus diam begini. Maudy harus mengerti yang sebenarnya terjadi.

***

            Persahabatan Maudy dan Rafi dimulai saat enam tahun yang lalu gadis itu pindah ke dekat rumahnya. Walaupun pada awalnya Maudy menyukai Rafi, lama kelamaan ia lebih nyaman Rafi menjadi sahabatnya. Mereka berdua sangat menyukai bulan Ramadhan dan selalu menghabiskan waktu bersama.
            Maudy selalu membanggakan persahabatannya dengan Rafi sementara cowok itu tidak terlalu perduli. Baginya ia akan berteman dengan siapa saja. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja Maudy yang paling dekat dengan Rafi.
            Maudy selalu bergantung pada Rafi. Setiap cowok yang mendekatinya selalu ditolak oleh Maudy jika Rafi tidak mengizinkan. Begitu juga ketika Rafi hendak mendekati cewek, ia akan bertanya dulu pada Maudy. Jika Maudy tidak setuju, ia akan cari orang lain.
            Awalnya, Rafi tidak masalah dengan Maudy yang selalu bergantung padanya. Sampai pada akhirnya Desember tahun lalu ia mulai berpacaran dengan Vika, gadis kelas sebelah. Dari tatapan mata Maudy, Rafi yakin betul sahabatnya itu tidak suka ia bersama Vika. Tapi Maudy merasa Rafi benar benar menyukai gadis itu, jadi ia meminta Rafi untuk segera menjadikan Vika pacarnya.
            Tapi siapa yang sangka apa yang Maudy perbuat malah membuat persahabatannya hancur? Rafi sedikit demi sedikit menjauhi Maudy semenjak Vika bilang ia cemburu pada sahabatnya itu. Awalnya Maudy tidak menyadari hal tersebut, tapi ketika ia sadar ada jarak diantara ia dan Rafi, ia tak berhenti memperjuangkan Rafi.
            Maudy sendiri sebenarnya bingung siapa yang salah atas keretakan persahabatan mereka. Apakah karena kedatangan Vika atau ulahnya sendiri? Tapi Maudy sadar betul suatu saat hal ini pasti terjadi karena salah satu diantara mereka akan jenuh.
            Rafi memang jenuh pada Maudy. Benar benar jenuh. Maudy terlalu mengekangnya dan bertindak layaknya Rafi miliknya seorang. Maudy selalu menyebut nyebut seberapa lama mereka bersahabat sehingga Rafi merasa terbebani. Rafi jadi merasa persahabatan mereka harus terus berjalan karena lamanya waktu yang telah mereka lalui, bukan karena kenyamanan bersama orang tersebut.
            Jadi Rafi berpikir, untuk apa terus bersahabat jika tak ada kenyamanan seperti dahulu?

***

            Maudy tak bisa menahan air matanya. Ia terus menangis. Ia tahu ini konyol dan ia sendiri sudah berjanji tak akan pernah menangis di depan orang yang tega membuangnya. Tapi Maudy tak bisa. Bahkan scrapbook yang berada di tangan Maudy pun seharusnya tidak pernah ada jika saja gadis itu bisa berhenti perduli pada Rafi.
            Sayangnya tidak akan pernah ada kata berhenti perduli pada kamus Maudy.
            Rafi berdehem lalu meraih scrapbook itu dari tangan Maudy. Dia membukanya sambil duduk di pinggiran tempat tidur. Scrapbook itu penuh kenangan konyol miliknya dan Maudy. Ia terus tertawa sampai di akhir halaman, Maudy menempelkan foto mereka berdua yang dibawahnya ada tulisan ‘sahabat tanpa waktu’ dengan tinta merah.
            “Sahabat tanpa waktu…” Gumam Maudy sambil duduk di samping Rafi.
            “Dy, makasih ya atas scrapbooknya. Akhirnya ada yang bikin ini buat gue. Gue seneng banget. Tapi banyak flashback nya ya..”
            “Fi… Fi, please jawab gue. Kenapa elo terus ngehindarin gue?” Erang Maudy.
            “Ini bukan salah siapa siapa, Dy. Emang udah waktunya kita berubah tapi elo yang nuntut kita buat tetep sama. Kita butuh dunia baru diluar dunia kita, Dy..”
            “Maafin gue Fi.. Elo gak pernah ngasih tau gue jadi…”
            “Dy.. Sebenernya gue ngejauhin elo karena gue pengen elo sadar kita tuh udah gak bisa gini terus. Elo gak bisa minta gue terus sama padahal elo sendiri berubah. Kita butuh berubah dan berpindah, Dy. Gue ngerasa jenuh dengan kita yang gini gini aja..”
            “Tapi gue memperjuangkan kita. Kita udah ngelewatin enam tahun sama sama.”
            “Nah itu yang bikin gue jenuh. Elo bikin gue merasa terbebani dan jadi gak nyaman jalanin persahabatan kita Dy. Sahabat itu gak dihitung dari lamanya kita bersama, tapi seberapa kita nyaman sama dia.”
            Maudy terisak. Ia ingat betapa egoisnya dia meminta Rafi untuk tetap sama padahal ia sendiri terus berubah. Betapa jahatnya ia menyalahkan Vika padahal ia tak punya salah apa apa. Betapa konyolnya dia mempertahankan persahabatan karena lamanya waktu yang sudah di lewati.
            “Sahabat itu gak ada batasan sejak kapan ketemu dan sampai kapan bersama, Dy. Nothing lasts forever except bestfriend. Karena sahabat sejati itu tanpa waktu…”
            Rafi menarik nafas lega akhirnya ia bisa bicara pada Maudy. Ia kira semuanya akan baik baik saja bahkan ketika ia tidak bicara. Tapi ternyata semua hal harus dibicarakan supaya ada jalan keluarnya. Maudy melepas pelukan Rafi lalu mengelap air matanya.
            “Kita bakal bikin setiap Ramadhan seru lagi, kan?”
            Rafi mengangguk pasti. “Selalu. Tanpa batasan waktu.”


***

Note: This just kinda cheesy story, I really hope you guys enjoy it, I will be back with others soon. Have a great sunday, everyoneeee!

Diikut sertakan dalam lomba cerpen Kejutan Sebelum Ramadhan by nulisbuku
2013


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}