Everything happens for a reason; bukan bullshit.

Kadang dalam hidup ini kita sering melontarkan pertanyaan konyol atas semua hal yang terjadi. Kebanyakan sama; "kenapa hal ini terjadi?"

Lucunya hari ini setelah 4 tahun yang panjang, akhirnya gue menemukan jawaban dari pertanyaan gue saat SMP. Pertanyaan yang membuat dada gue sesak. Pertanyaan yang membuat gue menunggu hingga mengorbankan banyak orang baik. Pertanyaan yang membuat gue rela bertengkar dengan sahabat gue demi sebuah ketidakpastian.


"Kenapa perasaan ini ada kalau akhirnya kita gak bisa bersama?"

Malam ini duduk dihadapan dia bukan lagi hal yang asing, bahkan nyaman walaupun Cirebon cukup panas. Kami terus berbagi cerita setiap hari dan gue selalu memberikan tempat untuknya dalam setiap cerita. 

Ini bukan kali pertama gue membuat dia harus menyisihkan waktunya untuk gue dan Alhamdulillahnya dia mau. Sebuah hal kecil yang dulu gak pernah gue bayangkan bisa jadi kenyataan. Jangankan membayangkan, sekedar berpikir saja gue gak berani. Masa itu sangat kacau di mana perasaan bercampur hasrat keinginan mendalam sehingga logika tidak lagi dipercaya. Hanya satu pegangan saat itu, bullshit yang dijunjung tinggi dalam masalah percintaan; perasaan.

Ketika kami sama sama tertawa pada cerita cinta gue yang fail dan cerita cinta dia yang absurd, gue menyadari satu hal........... Jawaban gue sepertinya baru saja tiba.

Butuh kedewasaan untuk bisa duduk dihadapan dia sambil sesekali mendengar ceritanya tentang seorang gadis sementara butuh sebuah keberanian untuk bisa menatap matanya dan bercerita tentang cowok yang nyakitin gue. 

Dulu ketika gue akan meninggalkan dia, gue selalu gak bisa. Gue selalu mikir kalo pada akhirnya gue akan tetap kembali pada dia, gak ada satupun yang bisa gantiin dia.. Hal itu membawa gue pada kehilangan orang orang baik untuk gue. Gue akan sangat merasa sedih jika dia tertarik pada cewek lain yang cantik, imut, kurus, putih sementara gue phisically emang sampah banget. Gue gak ada cantik cantiknya, I admit it. 

Tapi sekarang, gue malah bertanya; "jadi kamu sekarang sama siapa?"

It's a really simple question, but has a big effect to my life.

Akan sangat lucu jika dia tahu setelah gue meninggalkan cerita tentang dia, gue malah disakiti oleh cowok cowok yang mampir di hadapan gue. Dari mulai yang tadinya serius malah pergi, ada yang dateng tapi gak sreg, udah deket banget malah jadian sama yang lain, suka sama cowok yang gak punya waktu buat cinta sampe keep telling myself untuk jatuh cinta pada seseorang yang jelas jelas has bad effect for me. 

Tapi sekarang, gue malah berkata; "aku mau lupain dia.. Dia jahat sama aku."

It's a really simple statement, but has a big effect for both of us.

Gue rasa dia juga menyadari apa yang mulai gue telaah.. Hahahaha:"}

Well.. Setelah 4 tahun, akhirnya gue mengerti.. Kenapa gue dipertemukan dengan dia.. Kenapa gue harus mengenal seluk beluknya.. Kenapa gue bisa tahan menunggu padahal kepastian benar benar mustahil didapatkan dari dia.. Kenapa gue bisa melewatkan orang lain yang pasti untuk dia...

Dunia ini lucu, guys. Omongan orang itu memang benar. Kadang kita dipertemukan hanya untuk saling berbagi cerita, saling menyakiti bahkan untuk saling meninggalkan. Ada orang yang datang hanya untuk membawa pergi luka lama tanpa benar benar tinggal. Ada juga orang yang datang untuk tinggal tanpa pernah lihat apa yang terjadi di masa lalu.

Jadi, gue mulai menemukan jawaban itu.

"Kenapa gue dipertemukan dengan dia tapi kita gak bisa sama-sama?"

Jawabannya simpel.

"Karena gue dipertemukan dengan dia untuk mempelajari rasanya jatuh cinta, memperjuangkan, patah hati, penolakan, menunggu, berusaha dan menghargai."

Karena sebuah perasaan yang tidak terbalas pasti punya alasannya; sebuah alasan yang gak pernah bisa kita jawab detik ini juga saat kita memutuskan meninggalkannya atau ketika dia benar benar meninggalkan kita.

Matanya menatap mata gue dan berkata, "boleh sih baik, tapi jangan kebaikan.."

"Ih.." Gue pun menyeruput minuman gue, "emang ya aku dari dulu tuh kebaikan.."

Dia tertawa kecil, "enggak ah, enggak.. Menurutku enggak.. Hahahaha."

Gue hanya ikut tertawa sambil mencoba menerjemahkan semua kejadian yang terjadi 4 tahun belakangan ini. Bagaimana gue berpikir bahwa gue gak bakal bisa move on taunya ada aja yang bisa bikin gue move on. Gue pikir gue gak bakal bisa deket sama dia taunya ada aja jalan buat tetep keep in touch..

Gue kira gue gak akan bisa ngobrol sama dia sejauh ini tapi ternyata...

Ternyata pertemuan kami memang punya alasannya. Mungkin gak terjawab 4 tahun yang lalu, tapi 4 tahun kemudian itu muncul..

Bahwa pertemuanku dengannya adalah untuk belajar memperjuangkan dan menghargai keputusan orang yang kita sayang. 






Dulu gue mengutuk dunia. Gue berkata, "apaan sih? Sia sia banget deh selama ini sama dia."



But right now I believe gak ada yang sia sia dari pertemuan kami. Justru aku percaya everything happens for a reason itu nyata, bukan bullshit.










Lalu dia kembali berceloteh, "kalo gratisan mah senenglah hahahaha."

"3 tahun dari kelulusan dan kamu gak pernah berubah!" Seru gue sambil ikut tertawa.









Mungkin inilah kebahagiaan sebenarnya. Saat di mana kita bisa bersyukur dan menghargai pilihan orang yang kita sayangi. Saat kita bisa melalui hidup dan mau memulai cerita baru dengan yang lain. 



Orang lain gak akan ngerti, tapi gue percaya, elo dan gue sama sama ngerti. Bahwa keadaan ini jauh lebih baik, jauh, jauh dan jauh lebih baik..... Dari 4 tahun yang lalu;)




Ps; aku rindu kamu, sangat rindu, tapi rindu bukan berarti ingin kembali....


You may also like

4 comments:

  1. Semua memang hadir bukan tanpa alasan. Bahkan untuk segala susah payah yang menimpa diri kita, bisa jadi itu cara paling tepat untuk membuat kita menjadi lebih baik.

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}