"Aku pamit, ya"




Gue gak tahu cara mendeskripsikan ini seperti apa. 

Tapi, kali ini gue merasa sangat hebat untuk pamit pergi dan menghadapi semuanya sendirian. Jakarta pagi ini ramai luar biasa, flight gue jam 1 siang menuju ke Changi Airport. Gue sedang duduk di calon kamar gue setelah pindah ke Jakarta sambil mendengarkan playlist berisi lagu easy listening di Spotify.

Ya Allah, perasaan apa ini?

Gue selalu berdoa untuk dipermudah segala urusannya. Kali ini memang jauh lebih mudah dan ringan. Gue main cantik, sama seperti apa yang dia lakukan. Dia membiarkan gue pergi jadi gue pun pamit begitu saja.

Gak ada rasanya.

Hambar sehambar hambarnya rasa, sampai gue sendiri gak bisa nulis. Percaya gak gue udah bikin 10 draft post kemarin dan gak ada satupun yang jadi?

Iya, kemarin begitu. Gak tahu besok besok.

Rasanya jauh lebih ringan, sih. Lebih lega. Gue udah biasa dikecewakan sama dia, tapi selalu bisa memaafkan. Gue gak bisa diemin dia lama lama. Tapi kali ini.. Kok... 

Dulu dia bilang "sensenya beda ya" dan gue selalu berpikir bahwa, okay, gue ngebosenin. Tapi at somepoint, hari ini, ketika kemarin gue pergi dan dia gak nahan gue, gue juga pengen bilang sama dia "sensenya udah beda ya."

Hari ini gue masih gak bisa mikir apa apa lagi. Gestu, sahabat gue, yang tahu semua ceritanya dari nol cuman bisa ngata ngatain gue. Dari yang ketawa sama gue, dengerin gue nangis, ikut sedih sampe sekarang marah kalo gue nangis...

Gue merasa gue sangat hebat bisa melepaskan dia. Seperti sangat hebatnya dia bisa melepaskan gue gitu aja. Iming iming "kalo itu yang terbaik untuk gue" lebih bisa gue artikan sebagai "ya udah mending kita udahan aja" secara halus.

Jadi daripada gue harus insecure tiap malem kayak selama setengah tahun ini, gue pamit aja.

Tapi ini perasaan apa, sih sebenarnya ya Allah.. Tuhanku.. Maha Segala Cinta...




Ini perasaan apa....






Mungkin nanti gue akan menemukan jawabannya setelah pergi lebih lama. Mungkin.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}