Ini Bukan Karena Terpaksa, tapi Rela..

Have you ever feel like you really want to be with someone but you know the worst part of your story will be?

Berpisah.

***

Kali ini gue akan bercerita bagaimana kebenaran dari kesalahan adalah guru terbaik yang pernah ada. Ketika gue beranjak dewasa, seiring dengan banyak hal yang terjadi, gue gak lagi berpikir tentang masalah klasik; cewek lain yang lebih cantik, gue cuman mau liat dia bahagia doang, dia sama yang lain juga gakpapa.

Hati gue belajar untuk jauh lebih jujur.

Mungkin untuk kalian yang mengikuti gue selama 6 tahun belakangan ini, gue akan terjebak pada cinta segitiga, cinta berakhir friendzone, cinta karena kesepian atau naasnya adalah cinta yang kandas di atas kalimat "kamu terlalu baik untuk aku."

Udah banyak orang yang datang dan pergi di kehidupan gue. Some of them stay, tapi sebagai teman baik. Cowok yang pertama kali gue kenal di SMA udah punya pacar sekarang setelah dia desperate berhari hari. Gue sering bilang sama dia, "udah, lo sama gue aja!" dan dia bilang "anjir lo kan adek gue."

AYO SEMUANYA HASTAG #KAKAADE BE LIKE. *berguling*

Ada juga cowok yang membuat gue gila setengah mati pas kelas XI saking penasarannya, tapi sekarang kita udah gak ngobrol lagi. Sering sih ketemu, saling papasan, ketemu dalam pandang dan berlalu begitu saja. Terkadang ada beberapa orang dalam kehidupan kita yang lebih baik berakhir seperti itu... Walau sebenarnya gak baik juga kayak gitu wkwkwkwkwk.

Dan yang terakhir, friendzone. Like, totally friendzone.

Siapa ih Tip? Kok gak dibahas? Ah, malesin lu! Gak penting! Skip skip.. Well, dari garis besar cerita gue di atas, gue jelas sering merasakan susah move on kayak remaja pada umumnya. Tapi kali ini, ketika gue dipenghujung SMA, rasanya beda..

Bukan tentang move on, tap bagaimana kita mendewasakan perasaan kita. Gue sudah melewati cukup banyak rintangan ketika menemukan si dia. Gue sering mencoba sekuat tenaga untuk menolak perasaan gue. Gue bersugesti, gue gak mau suka sama dia, gue gak mau kehilangan dia.

But at some point.. When you met someone that really fun to be with... Can you just let him go?

The answer absolutely no.

Banyak adik kelas gue yang masih susah move on dan selalu berpikir bahwa perasaan harus berakhir dalam sebuah status atau akhiri semua perasaan itu. But unfortunately, gue sudah berubah. Gue tidak lagi berpikir tentang itu.

Gue pengen bilang sama kalian.. Once, kalian akan bertemu sama seseorang di waktu dan tempat yang gak tepat, tapi you guys really think he/she is the one you've been looking for. Entah penghalangnya dia suka sama orang lain, punya pacar atau emang mau pisah jadi gak bisa buat bareng, tapi ketika kalian ketemu sama dia...

Kalian akan bisa melihat dia dan tersenyum kecil sambil berdoa pada Allah agar mempertemukan lagi jikalau memang ada kesempatannya. Yang kalian pikirin bukan lagi "gimana yaa nanti gue sama dia?" tapi "gimana yaa caranya untuk menikmati setiap detik sama dia?"

Karena kalian bisa menghargai setiap detik kebersamaan itu. Bukan lagi bicara tentang sesuatu yang lebih besar, tapi mensyukuri setiap hal hal kecilnya.

Kalian akan sampai pada titik di mana kalian gak peduli tentang perasaan dia sama orang lain atau perpisahan yang akan terjadi dalam beberapa saat ke depan. Yang kalian usahakan adalah bagaimana waktu yang kalian punya bersama orang itu menjadi berharga.

Karena waktu gak akan kembali lagi, guys;)

Setiap kali gue ngeliat dia, gue tau perasaan ini aneh. Rasanya nyaman dan kayak di rumah sendiri. Berkali kali dikecewain, dibikin sedih, dibikin cemburu, tapi selalu dia bisa balikin senyum gue, Berkali kali gue bilang mau lupain dia, tapi semakin inget sama dia. Berkali kali kita bicarain tentang pisah, tapi gue malah semakin menunggu nunggu hari esok untuk ketemu sama dia, walau itu berarti waktu gue sama dia semakin berkurang.

Tapi rasanya.. Gue akan sangat lega pergi dan melepaskan dia. Gue gak tahu akhirnya gue sama dia bagaimana, tapi kehidupan kami masih panjang. Gue yakin kami berdua akan bertemu orang yang tepat, yang membahagiakan dan bisa mengisi kekurangan di hidup kami.

Bukan salah gue kalo sekarang gue gak jadi apa apa buat dia. Dan bukan salah dia kalo dia gak sadar sama perasaan gue. Gue cuman mau begini. Cukup begini. Menikmati setiap detik terakhir sama dia...

Pada saatnya ketika lo menyayangi seseorang, lo hanya bisa berdoa untuk dia, berdoa untuk kalian berdua. Entah doa untuk bisa bertemu lagi atau supaya menemukan kebahagiaan masing masing. Tapi yang jelas dengan begitu, ketika hari di mana elo harus berpisah dengan dia, gak ada tuh perasaan gak bisa move on.

Lo bisa lepasin dia pergi. Bukan karena terpaksa, tapi karena elo rela...


Well.. Apa yang salah kalau kamu sangat menyukai seseorang dan kamu hanya ingin melewatkan setiap momen kalian dengan kebahagiaan? Tanpa harus baper takut pisah? Baper karena ada orang ketiga? Apalagi baper karena gak ada status?

Apa yang salah?

Apa yang salah dari jatuh cinta dan mendoakan dia diam diam?

Apa yang salah dari jatuh cinta dan merelakan dia pergi saat waktunya pergi?

Apa yang salah dari jatuh cinta yang sederhana?


Sesederhana senyuman saat berjumpa, gelak tawa di sela bertatap muka dan emosi emosi kecil yang membuat setiap detiknya berharga.


"I just want to enjoy every single last moment with you. Is it too much too ask?"


I really hope you do answer, "No. It's not too much."



Karena Allah gak akan tidur. Allah mendengar doa kita. Allah tahu yang terbaik.




You may also like

6 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}