Graduation Syndrome: Another Old Friends Conversation

Hari ini ngobrol cukup banyak sama Silvy. Dia tiba tiba ke rumah gue setelah sekian lama menghilang dari peredaran. Kita ngobrol cukup banyak; update kehidupan sekarang, flashback jaman dulu, ngobrolin masa depan.

Gue dan Silvy sudah bersahabat selama 6 tahun terakhir. Tentu saja banyak hal yang baru dan asing di antara kami berdua. Terlebih selama SMA ini gue dan dia jarang punya waktu untuk bareng. Tapi anehnya, feels like home setiap kali punya waktu sama dia.

Kalo ngobrol sama Silvy, rasanya 6 tahun yang kemarin terasa cepet banget. Gue cerita pada akhirnya ada beberapa orang yang gue sesali kehadirannya, tapi menurut dia gue harusnya bersyukur dan jadiin itu sebagai ajang lucu lucuan aja.

Silvy sekarang berubah seperti gue yang juga berubah. Entah ke arah positif ataupun negatif, tapi kami berdua bukan lagi Titi dan Silvy yang dulu. Kami jauh lebih dewasa dalam menyikapi hidup. Silvy sekarang less drama sekali, dia cenderung pasif sama hal hal yang bikin baper. Gue selalu mantau dia dan sehari sebelum graduation ketiga kami bareng bareng gue baru sadar betapa dewasanya dia sekarang.

Silvy mengajarkan gue untuk berani jadi diri sendiri dan pertahankan orang orang yang emang patut ada di kehidupan kita. 


Gue emang bukan sahabat yang baik, tapi Silvy selalu bikin gue merasa dihargai usahanya untuk mempertahankan persahabatan kami. Gue tidak menyesali hari hari yang gue lalui tanpa Silvy di SMANDA. Yang jelas gue tahu, dari dulu, walaupun kami gak bareng, gue selalu punya rumah buat pulang.

Terima kasih ya anak pertanian UNPAD. Keren banget dapet SNMPTN!

***


Kali ini gue jadi supir Afra lagi.

Dulu gue selalu jadi orang yang paling manja ke Afra; nunggu dijemput, minta dianter balik, minta disuapin, kalo nangis ya ke Afra. Sekarang, semenjak gue udah bisa melakukan semuanya sendiri dan lebih kuat, gantian saatnya Afra yang manja sama gue.

Ngobrol sama Afra emang gak pernah ada habisnya. Tapi obrolan malam ini jelas membuat gue tahu langkah apa yang harus gue lakukan sebelum kelulusan. Gue harus benar benar membersihkan hati gue dari yang namanya penyesalan, kekecewaan atau salah paham sama orang orang yang terdekat.

Persetan dengan orang orang jahat dan menyebalkan yang gak ada dalam kehidupan gue. Ada sih satu dua orang yang gue males banget liatnya, ya namanya juga gue manusia, gue juga bisa kesel kan? Wkwkwk. Tapi kata Afra, kalo gak penting, tinggalin aja.

Yang jelas, gue harus bikin clear pada orang orang yang telah menyakiti atau tersakiti oleh gue.

Sepulang dari rumah Afra, gue cuman berpikir.. Bahwa sebenarnya saat kita merasakan kekecewaan terhebat, hal yang membuat kita bertahan lama adalah kita selalu berusaha mencari jawaban; kita semacam penasaran. Padahal untuk beberapa kasus, semakin penasaran kita, semakin gak ada jawabannya.

Jadi Afra baru membuka jawaban untuk beberapa pertanyaan gue setelah itu semua lewat 1,5 tahun. Gue langsung buka roomchat Kesatria dan mencoba menghubungi dia. Gue cuman pengen hati gue clear, gak ada prasangka buruk ataupun saling gak suka. Jujur, tersiksa juga selama ini.

Tapi ketika gue chat, dia langsung bales which is membuat nyali gue ciut! HAHA. Jadi, besok aja deh.

Semoga masih ada waktu buat memperbaiki.

Semoga waktu masih memberi kesempatan..



Ya begitulah senior year gue, di hari hari menuju kelulusan gue malah galau sebulan penuh gara gara overthinking yang membuat hubungan gue kacau. Tapi gue sedang berusaha menatanya kembali, semoga bisa baik baik aja.

Dan banyak hubungan hubungan gue dengan manusia manusia lain yang berubah menjadi lebih baik. Gue cuman berharap saat besok gue resmi lulus, gak ada lagi yang ngeganjel dan ketinggalan di Cirebon.....



Karena sebenarnya semua orang cuman butuh alasan.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}