Patah Hati Terhebat chapter 2: Untuk Perasaan Lain dalam Persahabatan

Untuk sebuah hubungan dimana kamu gak tahu harus memperjuangkan atau meninggalkan: friendzone.




***

Fauzan menarik narik kursi yang sedang diduduki Ami sampai gadis itu hampir terjatuh. Fauzan memang sering menjahili Ami, tapi entah mengapa Ami selalu tersenyum setiap kali bertengkar dengan Fauzan. Ia malah merasa sedih jika sehari saja Fauzan tidak bermain dengan dia. Padahal Fauzan punya seorang pacar yang sedang LDR dengannya. Mereka berdua jarang bertemu, itu sebabnya Fauzan lebih sering menghabiskan waktu dengan Ami.

Semua orang akan melihat Ami seakan akan ia menyukai Fauzan tapi tidak ada yang pernah tahu mata Ami tidak pernah lepas dari cowok yang selalu duduk dipojokkan dan asyik menggambar. Kali ini pun Ami masih mencuri curi pandang pada cowok bernama Naufal itu. Ami juga bersahabat dekat dengan Naufal tapi tidak ada seorang pun yang benar benar menyadari bahwa ada yang berbeda dari tatapan mata Ami pada Naufal.

Ami tahu Naufal juga sering memperhatikannya, tapi mereka terus bungkam seakan akan tidak terjadi apa apa. Naufal sendiri sering digosipkan dengan Farah yang memang mantannya ketika SMP kelas 9.

Fauzan tiba tiba berhenti menarik narik kursi Ami dan tertawa, "nah lho, ketauan kan!"
"Ih apaan sih, Zan!" Seru Ami dengan suara melengkingnya.
"Lo tuh gak suka sama gue!"
Ami menyipitkan matanya, "Zan? Pusing ya mau UN sampe ngomong gitu?"
"Yaa semua orang bilang lo suka sama gue, lo sukanya sama si Naufal kan!"

Ami terdiam, pipinya memerah seketika. Ia langsung menutup wajahnya, "duh ngomong apa sih!!"
"Ya Ami gak pernah jujur.. Nih bentar lagi mau lulus, harus jujur kalo ada rasa."
"Gimana mau jujur? Orang kita cuman sahabatan?"
"Sahabatan mah gak saling curi pandang gitu kali, Mi...."

Belum sempat Ami mengelak, Fauzan sudah bangkit dari duduknya sambil bergumam, "lucky I'm in love with my bestfriend..."

Shit, beneran friendzone nih! Gerutu Ami dalam hati.

***


"Fathur.. Fathur!! Ama mau perkedelnya Fathur!!" Seru Ama sambil menggoyang-goyangkan tubuh Fathur dari samping. Pacarnya itu langsung memindahkan perkedel yang ada di kotak makannya lalu kembali makan.

Ama memandangi perkedel itu lalu terdiam. Ia baru sadar ia sedang tidak ingin makan kentang saat ini. Ia pun menggoyang-goyangkan tubuh Fathur lagi. "Fathur! Ama gak jadi perkedelnyaaa."

"Lho tadi katanya Ama mau?" Tanya Fathur heran.
"Ama gak mau lagi, Fathur gak peka banget sih jadi cowok!" Seru Ama lalu bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Fathur yang melongo. Surya datang dengan kotak makannya dan wajah yang lesu. Ia duduk di samping Fathur yang sebenarnya adalah tempat duduk Abel.

"Kok suntuk banget, sih?" Tanya Fathur heran.
Surya mengangguk, "Wulan kayak Bulan, makin cantik, makin jauh, makin sulit digapai.."
"Anjir masih siang, Sur! Kenapa galau banget sih?"
"Ya abis, gue udah berusaha untuk jadi seperti apa yang dia mau. Jadi kalem, rajin belajar, gak neko neko.. Gue ditarik ulur mulu kaya layangan!"

Ama kembali ke tempat duduknya sambil menggerutu, "ya jadi cowok tuh harus usaha lagi dong, usaha gak bakal mengkhianati hasil!"
"Ama mikir dong, apa yang gue usahain kalo Wulannya aja gak mau diusahain?"
Fathur berdehem, "coba usahakan biar Wulan yakin sama elu, Sur."
"Gimana caranya?"

"Waktu Ama jadian sama Fathur, Ama juga gak yakin sama Fathur. Tapi Fathur ngeyakinin dengan gak berhenti nungguin Ama. Jadi Ama mau deh!"
"Tapi 2 bulan lagi kita lulus, terus kapan gue bisa jadiannya?"

"Sur... Dengerin gue..." Kata Fathur perlahan. "Yang namanya sayang gak mesti jadian, kan? Lo usahain aja dulu, goalnya kemana biar Allah yang nentuin."

Surya terdiam. Skakmat.

***

Sore itu Ghina kusut sekali. Ia tahu Syivia pasti marah besar karena kali ini lagi lagi Ghina membatalkan janjinya pergi dengan Syivia. Tapi disisi lain, Helmy selalu minta waktu untuk pergi bersama.Ghina tidak ingin persahabatannya hancur karena ia menyayangi Syivia. Tapi kalau ia tidak menuruti Helmy, bisa bisa hubungannya dan Helmy malah berantakan.

"Kamu kenapa sih? Mikirin apa?" Tanya Helmy.
"Aku mikirin Syivia..."
"Hah?" Helmy heran.
Ghina menghela napas, "aku udah bilang kan, aku udah janji sama Syivia.."
"Yaudahlah sayang, dia pasti ngerti."

"Tapi ini bukan yang pertama kalinya, My. Aku tuh mau main sama Syivia..." Kata Ghina sambil mengaduk-aduk Pop Ice coklatnya. Helmy terdiam, ia tidak bicara apa apa lagi.

"Tapi kamu selalu aja bikin aku sama Syivia gak punya ruang untuk bareng bareng.. Syivia kan sahabatku, My.."
"Ya tapi aku pacar kamu."
Ghina menghela napas, "emangnya kalo pacaran harus 24 jam sama sama?"
"Tapi bentar lagi kan kita LDR, apa aku salah minta waktu sama kamu, Ghin?"
"Ya enggak sih..."
"Yaudah bikin simpel deh, kamu milih aku apa Syivia?"


***

"Woy pacaran mulu nih Putri sama Rayen! Kacau!" Seru Aza sambil melempar jaketnya. Putri dan Rayen yang baru jadian beberapa minggu pun tertawa tawa lalu meninggalkan kelas berdua. Sementara itu Aza kembali membereskan bukunya dan menunggu Refal selesai dengan bekal makan siangnya.

"Asik ya Rayen udah punya gandengan." Celetuk Aza, seakan akan menyindir Refal.
Refal mendengus pelan, "iya, dulu aja pas belum sama Putri kemana mana sama gue."
"Ya elo juga cari kek, Fal. Udah mau Graduation nih. Masa mau pergi ke Graduation sendirian?" Tanya Aza sambil cekikikan.

Refal menoleh ke arah Aza, "tunggu dulu.. Elo lagi nyindir?"
"Hahahaha bagus deh ngerasa. Mau sampe kapan lo gak bergerak deketin Tiya?"
"Yaa mau gimana, Za. Dianya sukanya sama Nabil."
"Ya kalo gitu cari yang lain dong!"
"Ya gue gak mau..."
"Kenapa lo gak mau cari yang lain padahal  jelas jelas lo ditolak gitu?"

Refal terdiam lalu kembali menyuapkan nasinya. Aza tertawa kecil, "hati hati Fal. 8 dari 10 cowok terjebak suatu hal buruk yang bikin dia malah gagal punya pasangan dan berakhir mengenaskan; friendzone."




Ada apa sih dengan gue dan Friendzone?! To be continued....


MAAP LAMA. KEPALANYA PUSING KEMARIN. HAHA.








You may also like

4 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}