Patah Hati Terhebat chapter 3: Untuk Sebuah Kekecewaan

Perjuangkan apa yang patut kamu perjuangkan; sesuatu yang menghargaimu juga akan pantas untuk kamu pertahankan.

 
Cerita sebelumnya...

***

"Ibu gagal mendidik kamu!"

Lengkingan Ibu masih terus bergema di kepada Hafidz bahkan ketika ia sudah sampai ke sekolah. Rasanya masih saja merinding tidak karuan, ia merasa begitu bersalah. Nilai try out terakhirnya benar benar berantakan sementara ekspektasi menjadi seorang mahasiswa teknik di universitas negeri ternama membuat beban dipundaknya semakin besar.

Tiga minggu lagi Ujian Nasional Berbasis Komputer akan dilaksanakan tapi Hafidz masih tidak yakin dengan kemampuannya. Sebenarnya sejak awal ia tidak menyukai jurusan IPA, ia lebih suka berkutat dengan perhitungan uang dan perbankan. Ia sangat ingin mengikuti peminatan Ekonomi namun terbentur restu orang tua, ia tidak berani melanggar.

Apalagi Ibu adalah satu satunya orang tua Hafidz sekarang. Semenjak Ayah meninggal tiga tahun yang lalu, Hafidz tinggal bertiga bersama Ibu dan satu adik perempuannya. Hafidz adalah anak sulung, beban kehidupannya cukup besar. Beruntung Ayahnya sudah mempersiapkan asuransi sampai Hafidz lulus kuliah minimal S1. Tapi Ibunya berambisi supaya Hafidz mengikuti jejak Ayahnya masuk jurusan teknik.

Hafidz tahu betapa ibu menyayanginya dan ingin Hafidz menjadi orang sukses. Tapi disisi lain ia tidak bisa hidup sebagai orang lain. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya akan dihabiskan dengan sesuatu yang tidak ia sukai.

Sejujurnya ia kecewa pada tekanan yang diberikan Ibunya, namun apa daya, ia sendiri bingung harus memilih yang mana; ego atau doa restu orang tua?

***

"Refal coba deh menyatakan perasaan Refal sama Tiya. Sasa yakin, Tiya pasti luluh."

Kalimat itu membuat Refal memberanikan diri datang ke rumah Tiya sepagi ini di hari Minggu hanya untuk mengajaknya jogging pagi. Tiya keluar dari rumah dengan kerudung ungu dan baju olahraganya. Seperti biasa earphone sudah ia pasang dengan lagu lagu kesayangan yang terputar.

"Udah lama ya, Fal?" Tanya Tiya sambil cengengesan. Refal menggeleng, untuknya menunggu 15 menit demi Tiya bukanlah apa apa.
"Gakpapa, santai aja."
"Hari ini aku pengen makan bubur ayam."
Refal mengangguk, "boleh, terus apalagi?"
"Terus mau cari.. Cireng! Euuum kayaknya enak deh panas panas gitu."
"Yaudah ayo naik dulu ke motor, mumpung masih jam 6 pagi."
"Eh...." Sejenak Tiya terdiam lalu menatap Refal keheranan, "kita gak cuman pergi berdua kan?"

Refal tersentak. "Lho? Emangnya salah jalan berdua?"
"Gak salah sih.. Tapi bukannya lebih asik ramean?"
"Emang Tiya gak mau berdua doang sama Refal?"

Skakmat. Tiya akhirnya sadar, ketakutannya selama ini terjadi. Refal benar benar menyukainya. Tiya tidak mau persahabatannya dengan Refal ternodai karena perasaan suka satu sama lain. Tiya masih menyukai Nabil dan ia sedang menyusun kembali hubungannya dengan Nabil.

"Ti?" Refal berusaha mengembalikan Tiya ke kehidupan sebenarnya.
"Eh, iya Fal.."
"Kamu gak mau jalan berdua doang sama aku?"
"Ya.. Gakpapa sih, kita kan sahabat. Iya kan? Yuk!"

Tiya lalu naik ke motor Refal sementara Refal menghela napas dan tersenyum masam. Tiya memang tidak ada perasaan padanya. Sementara Tiya yang dibonceng Refal komat kamit berdoa supaya hari ini tidak menjadi sangat canggung.

Karena Tiya bisa merasakan kekecewaan Refal padanya.

***

Koordinator kelas untuk acara Graduation sudah mulai meminta video video saat KBM berlangsung pada kelas masing masing. Setiap tahunnya OSIS memang akan membuat video untuk acara Graduation. Seorang gadis bernama Ilma memperkenalkan diri ke XII IPA 4 dan sukses membuat seisi kelas gaduh. 

Ilma punya wajah yang manis dengan kerudung yang ia kenakan. Berkali kali Aza tersenyum lebar dipojokkan kelas sampai berebut tempat duduk paling depan saat Ilma mulai menjelaskan project untuk kelas XII. Semua anak cowok seperti itu termasuk Helmy.

Ghina memperhatikan Helmy dari jauh. Ini bukan kali pertama Helmy genit dengan cewek cewek. Ghina tidak pernah suka itu walaupun Helmy hanya bercanda. Namun kali ini Ghina sudah kesal. Ghina tidak berkata apa apa, ia hanya memperhatikan Helmy saja.

"Ilma, Ilma udah punya pacar belum?" Tanya Aza sambil tertawa kecil.
Gadis itu menggeleng, "belum..."
"Sama Mas aja mau gak?"
"Cieeeeee." Seisi kelas langsung gaduh tak menentu. Helmy tiba tiba bangkit lalu berteriak, "Ma, mau foto bareng gak?"
"Cieee Helmy!!"
"Woy, Helmy itu ada Yuyah!"
"Ciee Ilmaaa!!"
Ilma hanya tersenyum lalu berkata, "ayo Mas, Mba.. Fokus lagi ya ke project kita."

Ami yang duduk disamping Ghina langsung meraih tangan Ghina, "Yuy, yang sabar ya.."
"Emang dia pikir dia ganteng apa bisa gituin Yuyah!" Seru Acit yang duduk di depan Ghina.
"Yuy, udah Yuy becanda doang kali.." Ujar Marissa mencoba menenangkan.

Ghina tidak berkomentar apa apa, ia melemparkan pandangannya pada Syivia yang memperhatikannya dari pojok kelas. Syivia hanya diam dan langsung buang muka. Pada saat itu Ghina tahu bahwa ada hal hal yang lebih baik dilepaskan ketika kita sadar apa yang lebih berharga untuk kita.

Ghina langsung mengambil handphonenya yang ada di dalam kantong rok lalu mengetik cepat pada chatroom LINE nya. Ia lalu menghela napas. 

Kadang kita harus tertampar sampai kecewa supaya sadar mana yang lebih pantas diperjuangkan.

Emyyyyyyy;)

Ini bukan kali pertama, My. Aku capek sama cara becanda kamu. Kita putus aja.

***

Naufal melemparkan sebuah kertas pada Ami yang duduk di depannya. 

Naufal
Mi, sore ada acara gak?

Ami tersenyum kecil saat melihatnya. Ia langsung membaca dan menuliskan jawabannya.

Ami
Gak ada, Fal. Kenapa?

Naufal terdiam, entah tidakannya ini benar atau tidak. Ia melemparkan jawabannya pada Ami.

Naufal
Temenin aku yuk cari kado

Ami terdiam membaca jawaban Naufal. Kado? Kado untuk siapa?

Ami
Buat siapa?

Ami menunggu cukup lama, sekitar 10 menit kemudian balasan dari Naufal baru ia terima.

Naufal
Untuk orang yang spesial. Nanti aku antar kamu pulang

Jantung Ami berdegup kencang, hatinya terasa patah tak karuan. Spesial? Siapa? Apa Naufal sudah punya pacar? Ah, tapi kenapa Ami harus merasa patah hati? Naufal kan hanya sahabatnya. Ami tidak boleh cemburu.

Ami menulis kata "gak bisa" namun segera ia hapus ketika setengah hatinya begitu penasaran untuk siapakah kado itu. Jadi Ami pun menulis lagi lalu melemparkannya pada Naufal. Ia menghela napas, perasaan ini tidak boleh terus ada.

Ami
Okay





Kadang kecewa yang membuat kita belajar bagaimana untuk bersikap. Kadang kecewa yang membuat kita sadar perasaan kita yang sebenarnya. Namun kecewa tidak pernah memberikan alasan untuk sebuah kepergian tiba tiba. To be continued...


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}