[CERPEN] He Should Have Told Me That He Loves Me

Fahreza Heyzel tidak berani menatap mata gadis yang duduk di hadapannya. Ia heran sekaligus penasaran terhadap perasaannya sendiri. Kenapa ia bisa berjalan sejauh ini? Kenapa baru sekarang ia berani bertatap muka dengan gadis ini?

Sementara gadis yang ada di hadapannya tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia sesekali tersenyum kecil kala memandang 2 cangkir coklat panas dan sepiring egg rolls rasa original yang dari dulu Heyzel janjikan untuk mereka nikmati kala senja datang. Cukup terlambat, bahkan sangat terlambat mengingat Heyzel yang terus mengumbar janji namun tidak pernah ditepati.

Sudah 2 tahun dari perpisahan mereka namun baru sekarang Heyzel berani mengajaknya keluar. Gadis bernama Kanaya itu tahu bahwa Heyzel juga merasakan hal yang sama namun ia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya. Heyzel pasti tahu, Kanaya sudah menunggunya saat itu. Namun Heyzel tak kunjung bergerak, ia ragu untuk membuat keputusan. Hingga akhirnya Kanayalah yang menyerah dan memilih pergi.

Kanaya kesal setengah mati ketika Heyzel tak bicara apa-apa saat ia memilih untuk jadian dengan Alvero. Heyzel malah main dengan cewek-cewek lain, padahal Kanaya tahu cowok itu masih sering memperhatikannya dari jauh.

Kanaya bisa saja memperjuangkan Heyzel, membantunya tersadar akan perasaannya dan mempunyai akhir yang bahagia bersama Kanaya. Tapi Kanaya tidak mau lagi bermain dalam sandiwara cinta khas anak SMA -mengumbar perasaaan yang tidak nyata atas nama kesenangan semata. Kanaya dan Heyzel awalnya hanya bercanda menggoda satu sama lain. Dimulai saat Kanaya baru putus dengan Rey dan Heyzel ada di dekatnya. Sebuah candaan singkat dari "sahabat jadi cinta" yang membuat mereka berdua terjebak pada perasaan yang fana.

Kanaya akhirnya menyerah saat Heyzel mulai mundur perlahan. Kanaya sendiri tidak mengerti kenapa Heyzel tidak lagi berusaha, namun saat itu Kanaya tahu mereka berdua sudah tidak bisa diselamatkan.

Heyzel masih saja diam sementara waktu terus berlalu. Bahkan setelah 5 kali Kanaya meneguk coklat panasnya, Heyzel masih saja menyembunyikan pandangannya. Kanaya semakin geram, ia tidak mau lagi menunggu. Ia ingin hatinya segera tenang atau tidak perlu ada obrolan sama sekali.

"Makasih udah nepatin janji kamu." Ujar Kanaya lembut yang jelas jelas membuat Heyzel tersentak. Wajahnya yang putih cerah pun tanpa ia sadari langsung memerah.
Heyzel mengangguk, "iya."
"Jadi, ada apa?"  Tanya Kanaya lagi. Ia tidak bisa duduk lebih lama di sini, 2 tahun bukan waktu yang sebentar untuk melupakan Heyzel dan sejujurnya sampai sekarang ia belum berhasil sama sekali.
"Hah? Apanya?" Tanya Heyzel heran. Kanaya berdecak kecil, respon Heyzel cukup membuatnya kesal sore ini.
"Kalo gak ada yang diomongin aku mau pamit, ada yang harus aku kerjain di kampus."
"Eh, Nay... Please stay."

Kanaya menghela napas lalu duduk, "cepat."
"Aku mau bilang sesuatu yang gak pernah bisa aku omongin sama kamu. Aku tahu ini telat, sangat telat malah. Tapi aku gak bisa sayang sama orang lain selain kamu, Kanaya. Aku udah coba cari orang lain tapi gak bisa, perasaanku ketinggalan terus di kamu."
"Mora guyo? Ya! Michyeoseo?!" Kanaya panik bukan main sampai bicara dalam Bahasa Korea. Heyzel tahu betul setiap Kanaya marah, sedih ataupun kaget, ia akan bicara dalam bahasa ibu milik Bundanya. Karena dekat dengan Kanaya lah Heyzel jadi mengerti Bahasa Korea.
"Aniyo, aku serius."
"Gimana ketinggalannya kalo kita aja gak pernah mulai apa apa?" Tanya Kanaya kesal.
"Justru karena itu... Justru karena kita gak pernah bener bener mulai, perasaanku gak pernah bisa lupain kamu."
"Terus kamu mau apa dengan bilang itu sekarang? Aku udah punya Alvero."
"Ya aku gak rela kamu sama Alvero! Aku gak rela sama sekali!" Seru Heyzel kesal.

Kanaya tertawa kecil, "kamu ngajak bercanda ya? Udah lama ya gak main sama aku? Hahahaha."
"Aku serius, aku juga tau kamu juga suka sama aku! Aku mau sama kamu, aku gak bisa kayak gini terus."
"Kamu tau apa sih, Zel? Setelah sekian lama kamu baru nyamperin aku dan bilang suka sama aku, gak bisa lupain aku, sekarang kamu bilang kamu gak rela aku sama Alvero? Kamu berharap aku ngapain? Tinggalin Alvero buat kamu?" Emosi Kanaya cukup meledak ledak sampai air matanya mulai menetes. Ia sangat kecewa dengan sikap Heyzel.

"Aku tahu aku salah.. Aku ngegantungin kamu..."
"Aku nunggu kamu lama, Zel."
"Aku berusaha ngertiin perasaanku dulu, aku gak mau sama kamu tapi hatiku belum yakin.."
"Tapi kamu gak bisa seenakna minta aku tinggalin Al gitu aja, Heyzel.. Gak bisa..."
"Kamu belum melupakan aku kan?" Tanya Heyzel sambil menatap mata Kanaya.

Kanaya terdiam.

Separuh dirinya ingin berlari dari Alvero dan memeluk Heyzel. Perasaannya pada Heyzel masih sama bahkan ia yakin tidak pernah berkurang sedikit pun. Ia memang bahagia dengan Alvero, tapi hatinya masih penasaran akan Heyzel.

Ia tidak mau menghabiskan waktunya dengan berandai-andai bagaimana jika ia bersama Heyzel, bagaimana jika Alvero tidak pernah jadi pacarnya. Namun separuh dirinya lagi bertanya-tanya, apakah dengan meninggalkan Alvero untuk Heyzel, ia akan merasa bahagia? Lebih bahagia daripada saat bersama Alvero?

Alvero telah memperjuangkan dirinya cukup lama sampai akhirnya Kanaya menerima cintanya. Alvero berjuang untuk Kanaya, ia berusaha meyakinkan Kanaya akan perasaannya yang tulus dan sampai saat ini, setelah 2 tahun mereka pacaran, Kanaya masih sama bahagianya seperti dulu.

Tapi dengan Heyzel.....

Mata Kanaya menatap Heyzel saksama. Heyzel masih seperti yang dulu, bahkan jauh lebih baik dengan penampilan yang lebih rapi dan yang paling penting Heyzel sudah jujur akan perasaannya. Ia bahkan meminta Kanaya untuk bersamanya.

"Aku akan buat kamu bahagia, aku akan menebus 2 tahun kita ini..."
"Heyzel... Heyzel aku gak bisa."

Kanaya Alezia Ralinesyah pun menimang nimang perasaannya. Apakah ia harus meninggalkan Alvero demi Heyzel? Apakah ia harus meninggalkan orang yang mencintainya demi orang yang dicintainya?

Tidak, Kanaya tidak bisa.

Mata Heyzel tampak kecewa. "Kenapa gak bisa? Kamu sayang sama aku juga kan?"

Kanaya bingung setengah mati. Ia harus jawab apa?

"Aku sayang kamu, Kanaya. Aku sayang kamu!"
"Iya, Zel..  Tapi apa dengan kita  bersatu kita akan bahagia?"
"Jangan pikirin Alvero, aku juga udah ninggalin pacarku. Aku tahu kita pasti bahagia.."
"Kamu tahu darimana, Zel?" Tangis Kanaya mulai membuat dadanya semakin sesak.
Heyzel bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan Kanaya. "Kamu sayang aku kan?"

Pertanyaan yang jelas jelas jawabannya selalu Kanaya nantikan untuk ia ucapkan. Ia begitu meyayangi Heyzel. Namun rasa sayangnya pada Heyzel tidak bisa membuatnya meninggalkan Alvero begitu saja. Justru semakin ia menyayangi Heyzel, semakin ia harus melepaskan Heyzel. Karena apalah arti sebuah perasaan jika sang pemiliknya membuat orang lain menunggu terlalu lama?

"Kamu buat aku menunggu terlalu lama...."
"I know, I'm so sorry to hurt you..."
"Gwaenchana, Zel. Terima kasih sudah jujur."
"Tinggalin Alvero dan bahagialah sama aku, Kanaya. We can do it."
"Aku...... Aku sayang Alvero."
"Kamu bahagia sama dia? Oke, aku tahu dia udah berusaha sama kamu. Dia ada buat kamu saat aku gak jelas buat kamu-"
"Nah, kamu sadar! Kamu emang gak jelas dari dulu! Kamu gak pernah bener bener nunjukin perasaan kamu, semuanya seperti bercanda!"
"Tapi tunggu dulu, kalo kamu sayangnya sama aku, kenapa kamu masih sama Alvero? Jelas jelas aku udah ada di hadapan kamu... Bukannya kamu lebih dulu sayang sama aku?"
"Gak segampang itu, Heyzel..."

Heyzel menghela nafas, "aku tanya sekali lagi. Kamu sayang aku, kan?"

Kanaya mengigit bibirnya dan meremas jemarinya sendiri. Ia tidak bisa terjebak dengan hal seperti ini lagi. Sekarang waktunya ia pergi.

"Enggak semua sayang berarti harus bersama, Heyzel...."

Heyzel langsung tertunduk lemas lalu tertawa kecil. Matanya berkaca kaca, "aku terlalu terlambat ya?"
"Maaf.. Tapi aku udah punya Alvero."
"Kenapa? Kenapa kamu gak ninggalin dia seperti aku ninggalin pacarku demi kamu? Bukannya cinta harus diperjuangkan?"

"Tapi ada beberapa cinta yang lebih baik berhenti diperjuangkan. Kita gak akan bahagia bareng bareng, Zel. Kita cuman penasaran satu sama lain. Aku cuman nunggu kamu bilang suka sama aku seperti kamu yang menunggu ada waktu untuk bilang suka sama aku. Kita saling suka, tapi bukan berarti kita diciptakan untuk sama sama."

"Aku harusnya bilang sama kamu dari dulu..."
"Kamu sama aku pun belum tentu bahagia, Heyzel. Tapi setidaknya, kita sudah jujur. Iya, aku juga sayang sama kamu. Tapi terlambat,  terlalu terlambat untuk mulai lagi. Aku juga punya Alvero dan aku gak mungkin mengorbankan orang yang selama ini berjuang untukku buat perasaan semacam ini."

Heyzel yang masih berlutut menatap Kanaya dalam dalam. Matanya seperti warna hazel jika terkena cahaya matahari, namun sebenarnya lebih ke warna coklat muda agak keemasan. Kanaya masih menyukai mata itu, sama seperti dulu. 

Ia tidak pernah merasakan rasa sedamai ini saat bertemu Heyzel. Perasaannya sudah jelas, hatinya sudah mendapat jawabannya. Heyzel memang menyukainya juga, namun ia tahu, bahwa perasaan mereka tidak bisa diperjuangkan lagi.

Heyzel bergumam, "Hmm, I should've told you that I love you."
"Yeah, you should've."


Untuk beberapa perasaan memang hanya perlu diungkapkan tanpa perlu dipersatukan; karena gak semua rasa bisa membantu kedua pemiliknya membangun hubungan yang bahagia.




Thursday, June 23rd 2016
7.45 - 8.28 am
Ketika kalian saling berusaha namun berpisah adalah jalan yang terbaik,
kalian cukup dewasa untuk menemukan kebahagiaan masing-masing.

****


Mora guyo? Ya! Michyeoseo : Apa yang kamu katakan? Kamu gila ya?
Aniyo : Tidak
Gwaenchana : Tidak apa-apa



You may also like

2 comments:

  1. Pas abis baca ini kok rasanya pingin guling-guling galau yaaaa...?? :'(

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}