[CERPEN] Unforgettable Stranger

I thought I was moving on...
Until one day someone asked me; "if you had one wish, what would it be?"
And the first thing I thought of was to waste that wish on you.

***


Berantakan.

Setidaknya itu kata pertama yang muncul di kepala Al ketika ia terbangun dari tidurnya. Hatinya gelisah bukan main beberapa hari belakangan ini. Bahkan ketika ia tahu apa yang membuatnya merasa berantakan, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Kata orang, setiap perempuan akan hancur di momen yang bersamaan dengan hancurnya hubungan mereka. Namun tidak begitu dengan laki-laki. Laki-laki akan merasakannya ketika sudah berjalan jauh. Keadaan apapun tidak akan bisa menghindarkan mereka dari rasa penyesalan sekalipun mereka sudah punya orang lain.

Tapi kali ini Al sendirian. Ia baru saja putus dengan pacarnya yang ia temui di kantornya, kebetulan mereka teman satu SMA. Al tidak mengerti kenapa berkali-kali ia mencintai perempuan yang datang dari masa lalunya. Dulu ia pernah pacaran dengan teman SMP yang pernah satu kelas, lalu teman SMA yang pernah jadi bahan ejekan bahwa mereka saling suka saat mereka masih sekelas dan beberapa yang lain pasti punya hubungan dengan masa lalunya.

Setiap kali Al memulai, ia pasti berpikir, 'kenapa tidak dari dulu kita sedekat ini?' dan segelintir penyesalan lainnya. Al selalu bertekad untuk mempertahankan hubungannya namun pada akhirnya selalu gagal untuk alasan yang sama; Al tidak bisa digenggam terlalu erat.

Jemari Al meraba-raba meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia mencari sebuah undangan yang membuatnya berpikir keras beberapa hari ini. Ketika sudah ada digenggamannya, ia tersenyum kecil dan merasa sangat miris.

Ia selalu berharap lubang di hatinya akan semakin membaik semenjak ia melepaskan gadis itu. Namun bahkan setelah bertahun tahun, rasa sakitnya masih tertinggal.

***

Jakarta, 1 Agustus 2016

"Lo dateng kan, Al?" Suara Niko membuatnya cukup kaget mengingat belakangan ini ia lebih banyak melamun ketimbang bekerja. Ia sedang menunggu hasil promosi jabatan yang harusnya keluar dalam beberapa hari ini. Al sudah menunggu momen ini sejak beberapa bulan yang lalu. Ia sudah bekerja selama hampir 5 tahun dan selalu mendapat posisi yang bagus di kantornya. Jadi setiap ada promosi jabatan, ia akan berusaha sangat keras.

Hidup Al beberapa tahun belakangan ini masih sama; bangun pagi, pergi ke kantor, pulang malam. Terkadang ia datang ke gathering perusahaan yang sebidang dengan perusahaannya untuk sekedar melongok hasil kerja tetangga atau mencari teman untuk semalam. Al sering pergi kencan namun tidak ada yang pernah berhasil. Kalaupun ia pacaran, cerita akhirnya akan sama; sebaik apapun perempuan itu, Al akan mencampakkannya.

Niko sudah mengenal Al sejak masih kecil. Mereka bertetangga dan sering bermain bersama. Mereka berdua sudah seperti saudara. Mereka sama-sama berkuliah di UGM dengan jurusan yang berbeda, Al memilih Teknik Kimia sedangkan Niko memilih Manajemen. Mereka menghabiskan masa kuliah bersama dan kembali ke Jakarta sekitar 6 tahun yang lalu. Mereka berada di perusahaan yang sama sekarang. Niko lebih dulu bekerja di perusahaan tempat mereka bekerja, namun Al lebih beruntung karena kariernya di perusahaan ini jauh lebih cemerlang.

Jika orang melihat Al dan Niko tentu saja akan menemukan perbedaan yang sangat besar. Al layaknya anak yang nerd, dia terkesan cuek dan tertutup. Sementara Niko sangat ramah dan tahu bagaimana bergaul dengan baik. Tapi Niko tidak sepintar Al sehingga otaknyalah yang selalu jadi keunggulan untuk Al.

"Lo bukan hanya harus dateng, tapi harus pake baju seragam juga ya!" Seru Niko sambil tertawa.
"Lho? Seragam apaan? Lo mau nikah?" Tanya Al keheranan.
Niko tertawa, "lo terlalu sibuk sih sama kerjaan lo, sampe gue udah ngelamar cewek aja lo gak tahu."
"Waaaaah! Keren banget! Hahaha ini cewek yang lo bilang waktu itu kan? Sayang banget kita gak pernah ketemu dan gak sempet jalan bareng. Selamat ya, Nik!" Seru Al girang. 
"Kok gak sempet jalan bareng?" Niko tidak menggubris ucapan selamat dari Al. Ups, Al langsung terdiam. Niko selalu menceramahinya setiap Al putus dengan pacar pacarnya.

Niko dan Al tidak pernah mengenalkan pacar mereka masing masing karena menurut mereka itu bukanlah hal yang penting. Tapi mereka akan bercerita pada momen momen besar, baik cerita menyenangkan ataupun hal buruk sekalipun. 

"Kenapa bisa putus lagi, sih? Umur lo udah 27 tahun, Alghazali Nura Ammar! Mau sampe kapan pacaran gak jelas gini?"
"Kali ini sampe 7 bulan kok.. Cuman gue mau fokus aja sama kerjaan gue."
Niko menggeleng, "mau fokus apa lagi-lagi lo bosen?"
"Udah deh gak usah bahas gue. Jadi kapan gue ke rumah dan fitting baju?"
"Acaranya satu setengah bulan dari sekarang. Kalo bisa akhir minggu ini lo ke rumah gue, nanti gue kenalin sama calon istri gue. Gue balik ke ruangan gue ya." Sahut Niko sambil menaruh surat undangan di meja Al. Al mengangguk lalu melambai tangan saat Niko berpamit.

Al menghela napas kecil saat menyadari sahabatnya akan menikah sebentar lagi ketika dirinya masih saja berkutat dengan pekerjaan yang tiada henti. Al tersenyum kecil saat matanya menatap undangan pernikahan Niko. Namun matanya terkesiap saat melihat nama itu muncul kembali di kehidupannya.

Andrea Nura Azizah.

***

"Al udah dateng?" Suara lembut khas Ibunda Niko selalu membuat Al teringat akan Ibunya. Ibunda Al telah meninggal saat ia masih SMA. Sejak saat itu setiap Al rindu pada Ibunya, ia akan pergi ke rumah Niko yang tidak jauh dari rumahnya.

Al tertawa kecil, "sudah Bu, saya tadi mampir ke kantor dan beliin Ibu Garrett. Kata Niko, Ibu lagi ngidam popcorn." Ujarnya sambil menyodorkan sebungkus kecil Garrett rasa keju & karamel. Ibunda Niko pun tertawa.
"Itu mah akal akalannya Abang aja pengen makan popcorn. Masa iya sih Ibu udah mau punya mantu masih pengen ginian..."
"Hehehe barangkali aja, Bu.." Sahut Niko sambil mengikuti Ibunda Niko ke dapur.
"Abang lagi keluar dulu. Kamu ngapain sih hari libur gini ke kantor? Sudah makan?"
Niko menggeleng, "biasa, Bu. Ada kerjaan yang harus saya selesaikan secepatnya. Belum Bu, tapi nanti aja nunggu Niko."
"Kayaknya dia makan di luar deh sama Drea.. Eh, kamu udah tau kan calon istrinya Niko?" 

Pertanyaan Ibu membuat rasa sakit di hati Al yang sudah mereda muncul lagi. Tidak salah lagi, dia memang Andrea Nura Azizah yang Al kenal. Tapi.. Tapi bisa saja kan orang lain? Bisa saja kan namanya sama?

"Eh.. Belum, Bu. Saya belum ketemu."
"Kok gitu sih..."

Terdengar suara klakson mobil dari luar pagar dan sontak membuat senyum kecil terlukis di bibir Ibunda Niko. "Nah, tuh, calon penganten dateng."

Al menghela napas. Ia berdoa dalam hatinya supaya orang yang dinikahi oleh sahabatnya bukan orang yang ada di masa lalunya. Al berjalan perlahan menuju ruang tamu rumah Niko dan langsung terdiam saat melihat perempuan yang ada di hadapannya. Ia kaku. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

"Alghazali?"

Suaranya masih membuat bulu kuduk Al berdiri.

***

"Aku bakal nungguin kamu!" Seru Drea sambil setengah menangis namun Al tidak mampu berkata apa-apa. Hatinya dingin.

"Kalo kamu nungguin takutnya saya tinggalin beneran.."
"Emang kamu gak sayang sama aku, Al? Emang gak ada yang bisa kita perjuangin lagi?"
"Kalo kita berjuang juga kayaknya percuma, Dre. Saya bakal sibuk untuk magang di semester 6. Saya gak akan punya banyak waktu lagi untuk kamu."
Drea terisak, "ini bukan karena cewek lain kan, Al?"

Al terdiam. Hatinya ingin ia menyangkal supaya Drea tidak lebih sakit lagi. Tapi ada ataupun tidaknya perempuan lain, Al sudah tidak bisa lagi mempertahankan hubungan mereka.

"Dre.. Saya rasa kita udah sama sama dewasa untuk-"
"Untuk ngelanggar omongan masing masing? Al, kamu lupa sama semua omongan kamu? Kamu janji sama aku untuk memperbaiki ini."
"Saya gak pernah janji sama kamu." Ujarnya dingin.
Drea tertawa sinis, "jadi buat apa kamu mengiyakan semua permintaan aku kemarin-kemarin? Apanya yang terserah aku kalo ujung ujungnya kamu juga yang mutusin?!"
"Andrea.. Jangan mempersulit keadaan."
"Aku berusaha buat kamu setiap harinya. Aku selalu tanya keinginan kamu supaya aku gak salah lagi, supaya kamu gak marah sama aku. Aku gak mau bikin kamu kecewa. Apa setelah semua usaha aku masih gak cukup buat kamu?"
"Ini useless, Dre..."

Drea menangis sesegukan namun itu tidak merubah sikap dingin Al. "Cewek mana yang bikin kamu gini, Al?"
"Ada gak adanya dia pun, saya sama kamu udah gak bisa diperjuangin lagi, Dre."
"Aku tau kok udah hambar rasanya, pacaran 2 tahun ini mulai gak-"
"Kalo kamu udah ngerasa hambar, kenapa masih maksa untuk bertahan?"

Drea terkesiap lalu berhenti menangis. Ia menggeleng tidak percaya. Selama ini ia memperjuangkan orang yang tidak menghargai perjuangannya.

"I've given you everything I have, even those little pieces that I didn't have, I would try hard to get it for you. But it seems never enough for you."
"So what's the point of us if we both know we should ended up here?" Tanya Al sambil mental mata Drea dalam dalam.
"Once I left, I won't ever go back." Kata Drea dengan tatapan mata yang tajam. Kesedihannya tadi telah berubah menjadi amarah.
Al mengalihkan pandangannya, "then I won't ask you to stay."

"I've wasted my time on loving someone who doesn't really love me- or worst, you never love me."
"Jangan sok tau. Udahlah, kalo kamu maksa buat bertahan, jangan salahin saya kalo saya akan semakin dingin nantinya."
"Kamu bahkan gak minta maaf sama aku! Kamu jahat!"
"Andrea..... Tolonglah."
"Terus sekarang aku harus apa? Aku harus relain kamu gitu aja setelah kita usaha mati matian?"
"Temenan biasa aja atau kalo itu nyakitin kamu... Just treat me like a stranger."

Drea langsung melepaskan kalung yang Al berikan lalu melemparkannya ke jalan. "Fine." Ia lalu berbalik dan berjalan dengan cepat. Hatinya terlalu sakit sampai berharap seseorang mengejarnya untuk memintanya kembali.

Namun di sisi lain pria yang mencampakkannya menarik napas lega sekaligus kecewa. Lega karena ia telah melepaskan orang yang tidak bisa ia bahagiakan. Kecewa karena perempuan itu tidak lagi berbalik untuk kembali padanya.

***

"Jadi, Andrea ini anak UGM juga. Dia dulu kuliah di jurusan Komunikasi, satu angkatan sama kita. Dulu gue kenal sama dia juga gak sengaja, taunya kita dipertemukan lagi setahun yang lalu. Gue dari awal sama dia gue gak mau pacaran. Gue maunya serius. Gue lihat Drea dan  langsung mikir... Dia bakal jadi ibu dari anak anak gue." 

Niko bercerita di ruang makan tentang pertemuannya dengan Drea. Ia merasa ia berhutang cerita dari awal pada sahabatnya itu. Al hanya menimpal cerita Niko seadanya sambil sesekali melirik Drea yang asyik melihat lihat katalog suvenir.

Al mulai berpikir, Drea sangat cantik sekarang. Menurut cerita Niko, perempuan itu sudah punya event organizer miliknya sendiri. Drea kini memakai kawat gigi dan melepaskan kaca matanya. Mata hitamnya selalu cantik dipadukan dengan rambutnya yang tebal nan hitam. Tapi rambut yang dulu sering Al belai tidak sepanjang saat ini. 

Drea juga tampak lebih kalem. Cara berpakaiannya cukup dewasa dan sopan, walau sayangnya dia belum berhijab. Padahal dulu Drea selalu bilang dia pasti berhijab ketika ia akan menikah.

Menikah.... Drea menikah dengan Niko. Drea yang tidak bisa Al lupakan menikah dengan Niko sahabatnya yang tidak tahu cerita masa lalunya.

Kenapa harus Drea? Kenapa pula Al merasa sakit hati lagi? Bukannya ia yang mencampakkan Drea? Kenapa ia malah merasa tidak rela?

"Al? Al! Woy! Ngelamun mulu! Lo pergi ke Wedding Organizernya sama Drea aja ya, gue mau nganter nyokap ke tempat saudara."
"Hah? Gue berdua doang?" Al sontak kaget sementara Drea tampak tenang tenang saja.
"Iya, lo bawa mobil kan? Sekalian temenin dia ngurus suvenir ya. Kalo di keluarga gue, sebelum menikah, pamali bawa bawa calon istri ketemu keluarga."

"Tapi, Nik.. Gue harus-"
"Gue cuman percaya sama elo."

Skakmat. Al tidak bisa lari kemana-mana.

***

Perjalanan menuju arah Ancol memang selalu membuat Al geram apalagi di akhir pekan seperti ini. Lebih geramnya lagi karena ia harus duduk semobil dengan mantan pacarnya. Bukan sembarang mantan pacar. Ini Andrea Nura Azizah. Perempuan yang berhasil membuatnya selalu menyesal setiap kali ia pacaran dengan orang lain.

Namun ia mungkin berhak marah untuk Drea yang tiba-tiba hadir lagi di kehidupannya setelah 7 tahun mereka tidak pernah berhubungan. Ia berhak penjelasan atas semua ini. 

"Kenapa harus dia?" Tanya Al memecah keheningan. Drea masih diam, ia berusaha tenang namun jemarinya terus saja ia remas.
"Jawab saya, kenapa harus dia?" Tanya Al dengan nada agak naik. "Kenapa harus dia setelah 7 tahun kita gak ketemu? Kenapa?"
"Seharusnya aku yang nanya gitu sama kamu. Kenapa setelah akhirnya aku memutuskan menikah, kamu malah muncul lagi? Kenapa harus kamu sahabatnya Niko? Kenapa harus kamu yang nemenin aku ngurus pernikahanku?"

Al langsung meminggirkan mobilnya dan mematikan radio. "Bukan aku yang dateng, tapi kamu!"
"Terus kenapa kalo aku dateng? Bukannya kamu yang minta kita jadi orang asing? Sekarang aku udah jadi orang asing kan buat kamu? Kenapa kamu gak bisa nerima aja kalo aku adalah calon istri sahabat kamu?!"

Al terdiam. Ia tidak bisa menjawab apa apa.
"Kamu gak perlu marah marah gini kalo kamu cuman anggap aku orang asing. Kamu kan gak pernah sayang sama aku, jadi biarkan aku bahagia. Tolonglah.."
Al bergumam, "aku gak rela....."
"Apa kamu bilang?" Tanya Drea kaget.
"Aku gak rela kalau kamu masuk lagi ke kehidupanku, aku gak rela harus hidup dengan sakit hati kayak gini. Setiap pagi aku sering teringat sama kamu. Apa kabarnya Andrea? Kenapa dia mengabaikanku? Kenapa dia tidak lagi mencariku? Bertahun tahun aku berpikir seperti itu -bahkan ketika aku pacaran, aku selalu inget sama kamu."

Drea tertawa kecil, terdengar sinis sekaligus menyakitkan. "Toh kamu yang memilih meninggalkan aku di atas nama kebaikanku, kebaikan kita. Kamu yang memilih pergi. Kamu yang memilih sama dia."
"Demi Allah ada ataupun gak ada dia, saat itu kita gak bisa lagi. Aku bakal terus nyakitin kamu, Andrea.."
"Tapi apa dengan ngelepasin aku, kamu berhenti nyakitin aku? Enggak, Al.. Gak gitu."
"Seenggaknya aku sudah berusaha kasih yang terbaik sama kamu, karena emang gak bisa diapa apain lagi."
"Terus apa gunanya kamu terbangun dan inget sama aku kalo kamu gak pernah nyari aku, Al?" Drea mulai menangis. Sementara jemari Al meraih tangannya lalu menggenggamnya erat.
"Aku selalu berharap kamu datang lagi.... Seperti kamu yang biasanya...."
"Aku gak bisa, Al. Apa kamu pikir aku bisa bertahan memperjuangkan kamu yang gak ngehargain aku?"

"Aku selalu ngehargain usaha kamu!" Seru Al dengan mata mulai  berkaca-kaca. "Aku berusaha untuk lupain kamu, tapi Niko  tiba tiba menikah sama kamu. Sampai sekarang aku masih gak bisa lupain hari itu. Kenapa aku ngelepasin kamu.. Kenapa kamu gak berbalik.. kenapa aku gak ngejer kamu..."

Drea menangis terisak, "kamu gak pernah usaha untukku...."
"Aku usaha dengan caraku sendiri. Aku sayang sama kamu, Andrea Nura Azizah. Tapi buat kamu, gak pernah cukup, Dre..."
"Terus kenapa kita harus bahas ini lagi? Tolong lepas sebentar lagi aku akan meni-" Drea berusaha melepas genggamannya namun tiba-tiba bibirnya terasa hangat.

Al mendaratkan bibirnya begitu saja pada Drea. Ia tidak mengharapkan balasan, namun ternyata perempuan itu juga merindukannya. Mereka berciuman cukup lama sambil menggenggam jemari satu sama lain dan menangis.

Namun akhirnya Al berhenti dan menatap Drea dalam dalam. "Inikah balasan dari rasa sakit kamu 7 tahun yang lalu? Ini perasaan yang kamu rasain?"
"Aku gak pernah mendoakan kamu untuk dapet karma. Aku selalu berharap kamu bahagia. Berbahagialah, Al... Lupakan aku.."
"Aku menyesal melepaskan kamu."
"Aku sudah bilang sekalinya aku pergi, aku gak akan balik lagi."
"Aku gak mau lepasin kamu..."

Drea tersenyum kecil, "kalo kamu emang sayang sama aku, kamu harus lepasin aku. Biarkan aku bahagia dengan Niko. Biarin aja cerita itu jadi masa lalu kita berdua, jadi kenangan manis yang bakal bikin kita tersenyum suatu saat nanti. Tapi mungkin, jalan kita emang bukan buat sama sama, Al..."

Al mengecup bibir Drea sekali lagi. Ia selalu merasa lubang di hatinya tidak akan pernah tertutup oleh siapapun. Tapi hari ini, Drea cukup membuatnya merasa lebih baik. Mungkin memang lebih baik seperti ini.

"Kamu bahagia kan sama Niko?"
"Janji sama aku, kamu akan bahagia." Drea menyodorkan kelingkingnya lalu disambut oleh kelilingking Al. Laki-laki itu mengangguk kecil.
"Oke, aku juga akan bahagia."

Kini Drea mengecup bibir Al lalu melepaskan jemari Al dari tangannya. Sementara Al langsung menghapus air mata Drea lalu menghapus miliknya juga. Ia tersenyum kecil.

"Sampai sekarang aku masih berharap kamu kembali...."

Kebenarannya akan selalu sama; setiap cerita akan selalu punya akhir yang tidak terduga. Bahkan ketika kamu mengira kamu sudah sampai di garis finish, sebenarnya masih ada cerita lain yang menjadi lanjutan kisahmu.

Kedewasaan adalah ketika kita mencintai seseorang dan berani melepaskannya, bahkan ketika kita sendiri sakit hati. Tidak perlu kita mendoakan karma untuk orang yang menyakiti kita. Dunia ini punya hukum alam dan setiap manusia harus merasakannya; bukan sekedar untuk mendapatkan hukuman atas perbuatannya, namun supaya merasa sedikit lebih baik.

Karena sejatinya rasa suka, sayang dan cinta akan selalu membawa kebahagiaan bagi mereka yang tahu bagaimana cara menikmatinya.

***

"Nik... Aku mau ngomong sama kamu." Ujar Drea pelan. Niko menepikan mobilnya lalu menatap calon istrinya dengan lembut. Suara Drea selalu bisa membuat dirinya merasa sangat tenang.

"Ayo cepetan, Al pasti udah nunggu kita. Aku harus kenalin kamu sama sahabatku. Dia harus setuju sama calon istriku."
"Mungkin dia gak akan setuju." Sahut Drea.
Niko mengerutkan dahinya, "kenapa? Kamu pernah berbuat salah sama Al? Aku kira kamu gak kenal sama-"
"Dia mantanku yang selalu bikin aku gak bisa serius sama yang lain. Dia yang mencampakkan aku begitu saja setelah 2 tahun kita pacaran. Dia orangnya, Nik. Dia orang yang kadang buat aku ingin meninggalkan kamu."

Niko menghela napas, "kenapa harus dia, Dre? Kenapa?"
"Aku gak tahu kamu sahabatan sama dia, Niko..."
"Tapi kamu gak berhubungan lagi kan sama dia?!"
"Demi Allah aku gak pernah berhubungan sama dia. Cuman.... Aku gak siap.... Hatiku gak siap.... Aku gak mau setiap paginya aku terbangun dan berpikir untuk bahagia sama orang lain dan melupakan dia. Aku gak bisa begini terus, tapi sudah 7 tahun dan perasaan ini masih aja berlanjut. Aku pengen tahu apa dia nyesel ninggalin aku.. Apa dia bener bener gak sayang sama aku..."

Niko menggenggam jemari Drea, "Dre... Jangan tinggalin aku..."
"Gak akan. Tapi aku gak bisa ketemu dia lagi. Aku takut aku ninggalin kamu.."
"Bicaralah sama dia, Dre. Legakan hati kamu. Aku yakin dia pasti nyesel, karena selama ini dia gak bisa pacaran serius. Tapi dia gak pernah mau bilang alasannya kenapa. Aku yakin, masalahnya di kamu."
"Tapi.. Gimana dengan kamu?" Drea mulai menangis. Sementara Niko malah tersenyum.
"Tuntaskan rasa penasaran kamu. Aku percaya sama kamu."

***

"Lho.. Abang gak pergi juga? Kok cuman Mas Al sama Mba Drea? Pamali atuh Bang kalo calon istri malah jalan sama cowok lain.." Cecar Nisa, adik semata wayang Niko yang sedang duduk di teras sambil minum teh bersama Ibu mereka.

"Hush, ngomong apa sih kamu, Nis!" Tegur Ibu agak keras.
Niko tersenyum kecil, "mereka gak bakal ngapa ngapain kali."
"Ya.. Barangkali aja.. Kan Abang gak tahu.."
"Aih, si Ade ngomong aja.. Udah sini ikut sama Ibu ke dapur."

Nisa pun bangun dengan wajah cemberut sementara Ibu menghampiri Niko lalu berbisik, "nanti kita ke rumah saudara bawa Drea, ya. Pamali kalo calon istri gak dikenalin ke saudara."

Niko tersenyum kecil lalu mengangguk. Matanya menerawang jauh memperhatikan mobil Al yang mulai hilang dari pandangannya. Rasanya sedikit sakit, namun ia tahu, ia harus rela berkorban untuk melihat orang yang ia cintai bahagia...

***

To: Calon Suami-ku

Nik, I'm done. Terima kasih... I love you.



Namun kau terlanjur berjalan pergi
Namun ku terlanjur tak mengejarmu lagi

Bahkan sampai sekarang rasa masih ada
Takkan pernah hilang walau terpisah jarak
Kadang aku merindukan setiap hadirmu
Sampai sekarang ku masih berharap kau kembali






Sunday, June 26th 2016
7.45 - 10.02 am
Untuk semua rasa penyesalan yang ada, 
semoga rasa sakit ini akan segera hilang.
Semoga kamu bisa melewatinya nanti;)


You may also like

2 comments:

  1. Ah, baca ini jadi rindu nulis cerpen lagi. Sudah lama sekali gue nggak nulis cerpen di blog. :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mas nulis lagi! Saya juga jadi kangen makanya nulis HAHAHA

      Delete

Leave me some comment! Thank you, guys:}