Heavenly Blessed: Untuk Jarak dan Waktu #6

Malam ini adalah salah satu malam yang paling buruk selama 2016 berlangsung. Gue kecewa akan sesuatu yang gue tahu akhirnya. Gue dan dia percaya kalo setiap usaha gak akan mengkhianati hasil. Tapi hasil yang gue dapat gak jauh beda dari sebuah kesia-siaan.

Dia kembali jadi salah satu yang nemenin gue ketika gue acak acakan kayak gini. Entah sampai kapan gue manja gini sama dia. Semenjak gue dan Ridho sibuk satu sama lain, gue merasa dialah yang menggantikan sosok Ridho, seperti dulu saat dia sibuk, Ridho yang ada di samping gue.

Kali ini seperti biasanya dia buat gue ketawa ketika gue sedang menangis gak karuan. Gue tau dia selalu jadi obatnya, salah satu obat penenang. Sahabatan sama dia bikin hidup gue  jadi lebih simpel tapi masih selalu berkesan seperti biasanya.

Gue sampe lupa tadi lagi nangis tersedu-sedu, tiba-tiba jadi senyum lagi.

Malam ini dia lagi latihan seperti biasanya. Sit up, pull up dan segala macam kegiatannya yang super olahraga. Gue mendengarkan setiap detak jantungnya lewat sambungan telpon, iramanya begitu berani walau terbesit rasa lelah. Tapi dia gak berhenti gitu aja, dia tetap berusaha.

Usahanya yang lain adalah bagaimana caranya dia bisa nemenin sahabatnya yang lagi nangis tapi tetep olahraga. Sepanjang gue cerita, gue malah denger nafas dia yang gak karuan dan berakhir ketawa sama dia.

Tapi tiba-tiba gue diem.... Kita bicara soal masa depan lagi. Ini rahasianya; bulan depan dia sudah tidak available lagi di kehidupan ini. Dia harus melanjutkan sekolahnya which means selama 6 bulan tanpa komunikasi. 6 bulan yang akan sangat panjang dengan banyak cerita baru di antara kami. Mungkin kami akan bertemu lagi di pernikahan kakaknya.

Dia akan sangat jauh dengan waktu yang sangat lama.

Tapi gue tahu kenapa gue harus menunggu dia pulang, karena dia adalah rumah gue, dia adalah sahabat gue. Dia pantas gue perjuangkan karena kami sama sama memperjuangkan persahabatan ini. Sebisa mungkin gue ikuti ritme cerita dia yang kadang acak acakan dan sebisa mungkin dia selalu ada ketika gue lagi dalam keadaan kritis.

Salah satu alasan kenapa gue percaya LDR itu nyata untuk semua hubungan adalah LDR akan berjalan baik-baik saja selama kamu percaya dan sama-sama mau  berusaha. Ini juga alasan kenapa melepaskan sesuatu yang tidak menghargai usahamu adalah jalan terbaik daripada selalu sakit.

Di kepala gue topiknya selalu sama; gimana ya kalo dia udah pergi nanti? Kalo gue udah pergi nanti? Gak ada kabar 6 bulan? Masih sahabatan gak ya?

Ini dia jawabannya.......

Sesayang apapun kamu sama seseorang, kamu harus realistis. Perjuangkan, pertahankan dan tunggu orang orang yang pantas mendapatkannya. Jangan mau memberi jika tidak dihargai. Dan jangan berharap sesuatu akan berjalan baik kalau yang bertindak hanya satu pihak.

Jadi demi jarak dan waktu yang akan sangat jauh dan panjang, gue sangat berharap sahabat gue yang satu ini akan lulus dan bisa menjalankan segala keinginannya. Semoga di ulang tahun kami yang ke 19, dia akan benar benar kaget dengan gue yang sudah kurus hahahahaha.

Dulu gue sebut dia Baymax, tapi semenjak ketemu Descendants of the Sun, gue lebih percaya bahwa dia adalah Big Boss. Dia orang yang tenang, humoris tapi selalu bisa jadi kesatria gue.

Untuk jarak dan waktu, semoga kamu bisa menyembuhkan luka di hati kami berdua, mempertemukan kami dengan orang yang lebih baik dari mereka para tokoh cerita hubungan kami terdahulu dan selalu menjaga persahabatan kami sampai kapanpun.


Here I have a good quotes; kehilangan satu orang yang kamu cintai namun tidak mencintaimu lebih baik daripada kehilangan semua orang yang kamu cintai dan mencintaimu juga.



Sometimes all we need is just chill and talk to old friend.




And last, once again, thank you for saving my nights, Bigboss.




Ps; kalo dia baca, ntar dia kegeeran. Dia kagak perlu tau ya HAHAHA.




I'm fuckin greatful to have my own bigboss & baymax!


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}