Patah Hati Terhebat chapter 5: Terbawa Perasaan [GIVE AWAY PULSA]

Perjuangkan apa yang patut diperjuangkan. Walau kenyataannya ada beberapa usaha yang tampaknya sia-sia; tapi mereka punya makna.  


***


Surya menimang nimang Asus Zenfone 2-nya sambil mendengar ceramah adiknya, Ghayatri  yang tidak kunjung usai. Dari tadi Ghayatri mencoba untuk menyemangati kakaknya, ia tidak mau Surya menyerah begitu saja pada Wulan.

"Tapi Aya.. Wulan itu udah hijaban, dia emang gak tertarik pacaran." Tegas Surya di tengah tengah kalimat Ghayatri. Gadis itu menggeleng, "aku juga udah hijab, Bang. Tapi aku masih kok pacaran sama Ariel."

"Ya kamu beda.. Wulan itu udah hijrah, dia cuman percaya sama jodoh yang serius."
Ghayatri terdiam lalu mengangguk, "kalo gitu ya emang Abang harus move on sih.."
"Nah kan, temen Abang bilang sih, Abang suruh balikan aja sama Adilah."
"Eh? Siapa, Bang?" Tanya Ghayatri agak heran. "Aku gak pernah denger nama itu."
Surya tersenyum kecil, "pacar Abang pas kelas X..."

Ghayatri mencoba berpikir dan seketika ingatannya melayang pada cerita Abangnya pada suatu sore 2 tahun yang lalu. Saat itu hujan deras dan ia ingat betul Abangnya tampak begitu kecewa. Ghayatri tersentak, "Hah? Mba Dilah maksudnya? Cewek yang mutusin Bang Surya gara gara cowok yang bawa mobil? Cewek yang bikin Abang mati-matian minta ke Ayah biar bawa mobil?!"

Surya tertawa kecil, "udahlah, itu kan masa lalu..."
"Tapi, Abang... Jangan deh, Abang kan udah disakitin sama dia!"
"Daripada gak bisa move on dari Wulan.."
"Abang tuh sebenernya cuman masih penasaran aja sama Mba Wulan, kenapa gak jujurin perasaan Abang aja sih?"
"HAH? Gila kamu, de! Makin dijauhin, bentar lagi graduation!"
"Justru kalo Abang udah nyatain gak ada beban lagi, Bang. Setidaknya Abang udah berjuang..."
"Tapi apa gunanya kalo berjuang gak ada hasilnya?" Tanya Surya dengan agak menghentak.

Ghayatri tersenyum, "enggak Bang, bahkan usaha yang terlihat sia-sia pun punya makna yang bisa jadi pelajaran. Terkadang, itu yang jauh lebih berharga..."


***

Tiya merasa kesal luar biasa pada Nabil. Setelah insiden Tiya memberi sarapan dan Nabil tidak merespon dengan baik, mereka benar benar berhenti bicara pada satu sama lain. Keadaan ini bertambah parah ketika Refal juga mulai menjauhi Tiya, padahal beberapa hari lagi Ujian Nasional di mulai dan Tiya berada pada satu ruangan yang sama dengan Refal.

Tiya merasa ada yang aneh pada perasaannya kepada Nabil. Ia seakan akan hanya "mencoba mempertahankan" tanpa benar benar ingin memperjuangkan Nabil kembali. Ia tidak bisa berbohong bahwa hatinya merasa Refal jauh lebih baik daripada Nabil.

Namun ia sendiri bingung, kenapa ia begitu sulit melepaskan Nabil? Padahal Nabil tidak merespon perjuangannya dan Refal yang jelas jelas menyayanginya malah ia "usir" begitu saja. Tiya tidak ingin menyesal, tapi ia tidak mau gegabah.

Baginya, ia sudah terlalu trauma untuk jatuh hati pada sahabatnya. Karena ia percaya, ketika kita jatuh cinta pada sahabat kita, kita tidak akan pernah bisa merasakan perasaan kebahagiaan kecuali pihak tersebut juga mencintainya. Karena cinta dan persahabatan begitu saru untuk dipersatukan. Terkadang mereka hanya bersatu karena sebuah situasi yang membawa mereka ke perasaan yang sementara.

***

Kali ini Fauzan mencoba bicara lagi pada Naufal setelah Ami mulai galau karena cowok itu. Naufal dan Ami sudah mulai menunjukkan perasaan masing masing, namun Naufal tidak kunjung menyatakan yang membuat Ami merasa usahanya untuk bersama Naufal akan sia sia.

Namun Fauzan tidak menemukan titik temu dari pembicaraan mereka. Seakan masih belajar berenang, Naufal masih mengambang saat berenang; belum berani bergerak tapi sudah bisa bertahan dalam keadaan baru.

Naufal sendiri belum yakin dengan perasaannya. Hatinya takut perasaan yang ada di antara ia dan Ami hanya perasaan sesaat. Ia tidak mau lagi merasakan patah hati karena salah memilih.

Sementara Ami sudah menunggu Naufal setiap harinya. Ia hanya ingin berbahagia dengan Naufal, ia hanya ingin sesuatu yang jelas. Ami tidak butuh sebuah status, ia hanya ingin sesuatu yang pasti; kalau Naufal memang bersamanya, setidaknya buatlah komitmen antara mereka berdua.

Fauzan mengerti perasaan Ami yang tidak bisa "digantung" seperti ini, tapi perasaan Naufal juga penting. Naufal tidak bisa berjalan dengan perasaan setengah setengah. Naufal harus yakin. 

"Jadi.. Ya kalo Ami nanya tentang kami, gue bingung jawabnya gimana."
"Tapi gak ada cewek lain kan, Fal?"
"Ya... Ya ada gak ada...."
Fauzan menyipitkan matanya, "apa maksud lo?"
"Marissa.. Marissa sebenernya deket sama gue."
"Hah? Terus Marissa baper sama elo?"
"Ya awalnya gue iseng chat aja, malah jadi keterusan.. Gue jadi bingung harus gimana."
"Tapi.. Tapi kan udah jelas lo sama Ami?" Fauzan bertanya dengan heran.

"Gak tahu, Zan.. Gue bingung sama perasaan gue sendiri."


Shit, Ami bakal patah hati! Umpat Fauzan sambil menggeleng.

***

Hubungan Ghina dan Syivia mulai membaik. Mereka mulai pulang bareng lagi. Seperti sore ini, Syivia membonceng Ghina pulang dengan motor Mionya. Mereka mulai belajar dan tertawa seperti biasanya. Sementara Ghina dan Helmy benar benar putus hubungan, mereka hanya saling tersenyum tapi tidak bicara di dalam kelas.

Sesampainya di depan rumah Ghina, Syivia membuka helmnya lalu tersenyum kecil. "Wih, akhirnya aku bisa anter kamu pulang ya, Yuy!"
"Hahaha iya.. Akhirnya kamu boleh naik motor juga. Dasar anak kostan!"
"Yeee kan latihan biar di UGM-nya gampang!" Seru Syivia sambil tertawa. Mereka berdua tertawa bersama lalu Syivia membuka handphone-nya ketika ada bunyi pesan masuk. Ia membacanya lalu tersenyum kecil.

"Waduh senyum senyum.." Celetuk Ghina yang tidak dihiraukan oleh Syivia. Gadis itu asik sendiri sampai akhirnya Ghina bertanya dengan suara kecil, "Syivia sekarang sama siapa? Perasaan gak pernah cerita lagi."

"Eh? Apa Ghin?" Tanya Syivia kaget. Ghina yang mendengar sahabatnya menyebut nama 'Ghina' karena tidak pernah Syivia memanggilnya seperti itu kecuali sedang marah atau gugup.
"Syiv? Kamu kenapa? Mana aku liat!!" Ghina merebut handphone Syivia dan membuat Syivia kelabakan. Tiba tiba jantung Ghina seperti berhenti berdetak. Ia merasa dibohongi dan dikhianati.

Syivia menatapnya dengan tatapan bersalah namun gadis itu tidak bicara apa-apa. Ghina menatapnya dengan penuh kecewa, "Aldo? Reinaldo Sihite, Syiv?"


Kenapa persahabatan itu sesulit ini?




Nah lho, malah gue yang baper. To be continued...





GIVE AWAY PULSA 10k

Jawab pertanyaan ini, mention ke @rizkirahmadania atau LINE aku ke rizkirahmadania


Menurut kamu siapa yang akan Tiya pilih; Nabil atau Refal? Alasannya?


Aku tunggu sampe besok jam 9 pagi. Yang paling menarik dapet hadiahnya.. 
Terima kasih!;3


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}