Patah Hati Terhebat chapter 6: Kejujuran Untuk Perasaan

Untuk pemenang give away chapter minggu lalu ada 2 orang karena gue bingung milih yang mana hahaha. Ada Neng & Farah! Masing masing 10k! Selamaaaaat! Segera kirim nomer kalian yaaa;)

Yang nanya PHT berapa chapter.. Sepertinya sekitar 10 chapter. Gue belum bisa nentuin. Tapi terus baca yaaa! Oh iya PHT keluar SEMINGGU SEKALI. Harinya terserah gue. HAHAHA. Maaf lagi cinta banget sama Drama Korea. Jadi begini deh..... 
Biarkan gue bahagia:"}


***


Marissa tahu apa resiko dari menyimpan perasaan lebih jauh pada Naufal. Ia tidak berani menaruh harapan lebih banyak. Terkadang ia merasa bingung pada sikap Naufal yang seakan akan berubah seperti angin. Awalnya Marissa menyimpulkan bahwa Naufal hanya butuh teman chat karena cowok itu mulai mengiriminya pesan setelah tragedi terlambat jam pengayaan Pak Totong. Jika ada yang terlambat, Pak Totong akan memberikan 100 soal untuk masing masing murid dan harus dikumpulkan 5 hari setelah pemberian tugas tersebut.

Marissa mengerjakannya dengan Naufal karena soalnya sama, mereka saling berbagi tugas. Semenjak itu, Naufal semakin sering mengirimi Marissa pesan singkat. Marissa tentu senang ada Naufal yang selalu menghiburnya setiap hari. Tapi ia juga tidak menutup mata dan telinganya, ia tahu Naufal juga dekat dengan Ami. Semua orang membicarakan itu dan sekarang Marissa merasa dirinya sangatlah tidak beruntung.

Naufal sering bilang, ia berharap bisa dekat dengan Marissa sejak kelas X saat mereka pertama kali bertemu. Namun baru belakangan ini ia berani bicara banyak dengan Marissa. Marissa sediri bingung kenapa Naufal masih mendekatinya jika sudah ada Ami di sampingnya?

Apa semua cowok begitu? Mencoba menyeleksi satu persatu cewek yang ada di sekelilingnya dalam waktu bersamaan? Lalu apa yang akan terjadi setelah salah satu di antara mereka dipilih?

Marissa jujur kesal melihat tingkah Naufal di sekolah yang tidak mencerminkan kedekatan mereka. Naufal memang sering menyapanya duluan, tapi Naufal seakan-akan tidak sebegitu dekatnya dengan Marissa. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan Ami. Memang, tempat duduk Naufal berada di depan Ami sedangkan Marissa berada di pojok kelas.

Jarak antara Naufal dan Marissa semakin ketara semenjak Fauzan terlihat secara terang terangan menjodohkan Naufal dengan Ami. Marissa bingung harus apakah ia sekarang? Mundur perlahan atau tetap menunggu Naufal memilih?

Kadang Marissa mencuri pandang pada Ami. Betapa sedihnya hati Ami jika Ami tahu Naufal   sedang mendekatinya juga. Tapi Marissa sendiri punya hati, ia juga penasaran apa tujuan Naufal sebenarnya.

Apakah Naufal benar benar serius kepadanya atau ia hanya jadi pelarian saat Naufal tidak menemukan hal yang menarik pada Ami?



***

"Aku mau ngomong."

Suara itu bak petir di siang bolong untuk Tiya. Tiya menoleh lalu menatap sang pemilik suara dengan saksama. Apa yang sedang direncanakan lagi oleh cowok ini?

"Kamu gak berhak minta apa apa setelah kejadian kemarin, Bil." Jawab Tiya ketus.
Nabil menghela napas, "oke, aku minta maaf."
"Apa dengan minta maaf bisa bikin aku gak kecewa lagi?"
"Aku gak pernah minta kamu untuk segitu perhatiannya sama aku."
"Bil.. Please..." Air mata Tiya mulai menggenang entah kenapa. 
Nabil menggeleng, "aku gak habis pikir, aku udah bilang Ti, aku gak bisa lagi."
"Ya tapi aku butuh alasan, Bil!" Seru Tiya. "Kamu gak bisa seenaknya begini."
"Lebih baik kamu sama orang yang sayang sama kamu daripada kamu terus terusan sayang sama aku."
"Apa salah aku memperjuangkan kamu? Memperjuangkan kita?"
"Enggak, tapi kita udah gak ada harapan lagi."
"Kamu gak pernah ngeliat usaha aku, Bil. Kamu gak pernah bilang kamu mau apa!"
"Karena ngomong pun akan sia-sia, Ti..""
Emosi Tiya memuncak, "kamu yang bilang kita punya kesempatan, kita bakal memperbaiki, kita bisa coba lagi. Kamu bilang terserah aku! Sekarang, aku udah usahain kamu, tapi kamu malah begini."

Nabil menduduk lesu. Matanya tidak lagi menyala berapi-api. "Maaf..."

"Aku yang keterlaluan atau kamu yang gak mau kasih kesempatan sih, Bil?"

Tiya bangkit dari duduknya lalu berlari meninggalkan Nabil di Kantin. Ia menyeka air matanya dengan kerudungnya yang terlanjur basah. Ia kecewa.

Kenapa Nabil mengiyakan semua perkataan Tiya jika pada akhirnya ia hanya mengingkarinya?

***

Bu Annis mengakhiri obrolannya di telpon ketika Hafidz, Surya, Astrid, Ain dan Adilah sampai di ruang BK. Surya, Astrid dan Ain akan mendaftar ke Telkom University sedangkan Adilah ingin konsultasi tentang rencananya pergi ke luar negeri. Akhir akhir ini Surya jadi lebih dekat dengan Adilah semenjak tempat duduk mereka saat UN akan sangat dekat.

Sementara itu Hafidz masih uring-uringan tak menentu. Cerita tentang keinginannya dan keinginan orang tua masih saja membayangi isi kepalanya. Bu Annis mulai mengurus surat surat untuk pendaftaran ketika Wulan tiba-tiba saja sudah duduk di samping Hafidz.

"Kamu masih bingung, Pid?" Tanya Wulan tiba-tiba.
Hafidz menoleh lalu tertawa, "habis UN saya ngobrol lagi sama Ibu saya. Mungkin SBM akan ambil Teknik sesuai keinginannya."
"Rasanya emang begitu mengecewakan ya saat apa yang kita inginkan gak sesuai sama keinginan orang yang kita sayang.."
"Yaa begitu deh, Wul. Kadang saya ngerasa sangat patah hati sampai pengen lari aja, gak usah kuliah deh kalo ribet gini hahahaha."
"Fidz, menurut kamu saya salah gak?" Tanya Wulan dengan tatapan menerawang. Hafidz mengerutkan dahinya sambil mengusap usap alisnya, kebiasaannya selama ini.
"Salah kenapa, Wul?"
"Kalo saya nolak orang yang sayang sama saya karena saya mau fokus sama kehidupan pribadi saya dulu?"

Mata Hafidz langsung menemukan sosok Surya yang duduk di samping Adilah. Ia langsung menatap Wulan keheranan, "lho? Saya kira kamu gak peduli sama perasaan Surya ke kamu."
"Justru saya peduli makanya saya pengen dia tinggalin saja. Kalo jodoh juga pasti ketemu lagi. Toh sekarang dia udah deket kok sama Adilah."
"Kalo itu keputusan kamu, yaa.. Mau gimana lagi?" Sahut Hafidz sambil tertawa. "Hahaha tapi jangan sampai dia gak tahu alasannya."
"Memangnya salah kalo kita meninggalkan seseorang tanpa penjelasan?" Tanya Wulan heran.

Hafidz tersenyum kecil, "apa lagi yang lebih menyedihkan dari ketika sedang berjuang, di minta berhenti namun tidak tahu apa alasannya?"

***

"Kholifah nanti pergi sama Izh aja, biar Syivia sama Yuyah ya!" Seru Izh saat sedang bagi tugas kelompok. Ghina dan Syivia tampak canggung belakangan ini, padahal beberapa hari lagi mereka akan melaksanakan Ujian Nasional. Izh sudah memperhatikan kejadian ini sejak lama.

Kholifah tampaknya mengerti maksud Izh dan langsung mengamit tangan Izh sebelum mereka dapat persetujuan dari Syivia dan Ghina. Tugas kelompok Fisika kali ini tidak terlalu rumit. Setiap kelompok hanya perlu mencari data data yang tersedia di internet atau di Perpustakaan.

Syivia tampaknya sudah lelah bermain "siapa yang paling tahan diam" bersama Ghina. Akhirnya ia meraih botol minumnya, menenggak sedikit lalu mulai berdehem -sebuah kebiasaan Syivia saat ingin memulai percakapan yang serius.

"Aku mau bicara." Ujar Syivia pelan. Ghina diam seribu kata, ia bahkan tidak mau menoleh ke arah Syivia dan sibuk dengan buku cetak Fisikanya. Syivia mulai bicara.

"Maaf untuk mengkhianati kamu, Yuy. Aku gak maksud.... Aldo tiba-tiba dengan seenaknya masuk ke kehidupan aku, aku gak bisa larang itu gitu aja. Apalagi pas itu kita lagi gak akur. Kamu tau kan aku gak gampang deket sama orang."
Ghina menghela napas, "aku ini apa buat kamu, Syiv? Persahabatan kita itu apa? Kenapa kamu gak mau cerita sama aku?"
"Ya aku gak mau ngerusak persahabatan kita.."
"Kenapa kamu gak buat semuanya jadi lebih mudah aja, sih? Aku udah ninggalin Helmy lho. Tapi kenapa kamu untuk jujur aja gak bisa?"
"A.. Aku..."
"Kamu udah jadian kan? Semua orang udah ngomongin ini. Cuman aku doang yang gak tahu. Kita masih sahabatan? Kamu yakin?" Tanya Ghina dengan nada yang meninggi.

Syivia mulai kelabakan, ia langsung meraih tangan Ghina. "Yuy, please... Please aku cuman gak tahu gimana caranya kasih tau kamu..."

"Udah selesai ngomongnya? Aku mau ke Perpus." Ujar Ghina dengan nada begitu sinis. Syivia melepas genggamannya secara perlahan dari tangan Ghina. Ghina pun bangkit dan pergi meninggalkan Syivia. 

Ghina begitu terpukul, ia sangat kecewa. Bukan karena sahabatnya jadian dengan cowok yang begitu ia sukai, tapi karena sebuah ketidakjujuran pada perasaan sendiri.

***

"Lepasin Tiya, Bil. Gak seharusnya lo giniin dia."
"Gue udah bilang sama dia, kita gak bisa diapa-apain lagi. Dianya aja yang ngotot usaha."
Refal menggeleng, "sebaiknya lo lepasin Tiya! Gue gak rela orang yang gue sayang malah diinjek injek gitu sama elo. Jangan karena dia sayang sama elo jadi elo bisa seenaknya sama dia."
"Liat Tiya, dia selalu dateng kalo gue minta dan pergi juga sesuai kemauan gue. Dia gak akan sayang sama elo, kenapa sih lo ngotot banget?!"
"Berengsek lo, Nabil Bawazier!!!!!" Sebuah pukulan pedas langsung Refal layangkan ke arah Nabil yang tepat mengenai perutnya. "Ada cewek yang sayang dan berjuang buat elo, malah elo sia-siain gitu aja?"
"Gue gak sia-siain dia! Dianya yang gak realistis, ada elo, malah minta sama gue!"
"Lo harus lepasin dia, Bil!" Bentak Refal.
Nabil tertawa sinis, "kalo gue gak mau, gimana?"





To be continued....




You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}