Question of The Week; Kenapa kita bertahan ketika kita tidak bahagia?

Jadi kemarin setelah gue kerja, gue minta Ghorby sama Nisa merapat ke McD karena gak ada orang gitu deh di rumah. Setelah udah lama gak ngumpul, akhirnya kita main lagi. Cuman 1,5jam dengan pembicaraan sampah tapi lumayan menyenangkan. Gue, Ghorby dan Nisa lebih sering cerita "tentang personal" kalo lagi kumpul.

Kali ini Ghorby yang jadi narasumber dan gue-Nisa hanya mejadi pendengar sekaligus tim pencela biar suasana gak begitu serius. Obrolan kali ini masih seputar Ghorby yang ngerasa gagal jatuh cinta. Di antara kita bertiga, emang Nisa yang paling beruntung. Eh, gak juga sih. Dia berjuang setahun gitu HAHAHA. *senyum aja gue sekarang*

Sementara gue udah 7 bulan terakhir masih "menjalani" kehidupan dengan manusia yang sama dan Ghorby udah beberapa kali ganti-ganti gebetan. Gue dan Nisa menyadari ritme yang sama setiap kali Ghorby lagi mau move on; udah nyaman tapi keadaan gak bisa menyatukan mereka.

Gue pun bertanya tanya, kenapa kita bertahan ketika kita tidak bahagia? Okay, untuk beberapa occasion, mungkin karena sudah terbiasa bareng dan males mulai dari awal lagi. Kalo boleh jujur, semenjak gue kenal sama si manusia ini (cowok yang sekarang sama gue), gue jadi ngerti kenapa orang kadang pengen giving up ketika ada di suatu hubungan. Kadang rasa gak nyaman dan ngerasa perjuangan sama hasil gak sebanding bikin kita jadi males bertahan.

Tapi semakin sering berpikir kita gak bisa bertahan, semakin kita sulit melepaskan orang tersebut; ini fakta, bukan opini. Semakin sering kamu bilang kamu mau melupakan, semakin sering kamu insecure dan gak berhenti mikirin dia.

Kenapa orang gak berani melangkah dan memulai yang baru ketika tempat yang lama sudah tidak lagi memberi kebahagiaan? Apa esensi dari kebersamaan kalau tidak bahagia? 

Kadang keadaan yang memaksa kita pergi, kadang juga hati yang udah gak bisa disitu lagi.

Gue gak pernah bisa menemukan alasan dari pertanyaan itu. Perasaan capek berjuang malah terkadang bikin kita makin susah buat pergi. Tapi kenapa? Kenapa begitu? Bukannya itu harusnya jadi alasan buat melangkah maju?

Sampai akhirnya gue berpikir...... 


Waktu dan jarak yang bisa menyembuhkan perasaaan kita. Iya gak, sih?


Jadi gue dan Nisa bilang sama Ghorby untuk mencoba melepaskan, memberi kesempatan untuk waktu dan jarak mengerjakan tugas magisnya; memperbaiki hati yang kecewa.






You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}