Breakeven chapter 2



"I've been in love with someone that didn't love me back and I've been loved by someone that I didn't love back. And I don't know which is worse: to be broken or to break another soul."

***

Fakultas Hukum Universitas Jendral Soedirman, 2016

"Gue ambil SP kayaknya, haduuuuh ribet banget sih mau balik nih. Penat di Purwokerto!" Seru seorang cowok dengan rambut acak acakan dan beberapa lembar kertas di tangannya. Sedari tadi ia terus mengeluh tentang beberapa nilai akhir mata kuliah yang menurutnya tidak wajar dan menyebabkan ia harus mengambil semester pendek. Sementara itu cewek yang duduk di hadapannya hanya tertawa tanpa mengomentari sembari meminum es jeruknya. Belakangan ini Purwokerto mendadak sangat panas dengan matahari yang begitu terik. 

Cowok itu tiba-tiba terdiam dan memandangi cewek yang di hadapannya dengan saksama, "lo gak ada nilai yang kurang, Yar?"
"Hmmm.." Cewek itu melihat sekilas ke folder yang ada di meja dan menggeleng, "enggak, Ham. Tapi gue gak mau pulang ke Jakarta..."
"Jangan bilang gara-gara..."
"Mas Aby pasti gak akan pulang kayak semester kemarin. Orang tuanya kan jauh, adiknya juga gak di Indonesia.."
Ilham memandang Yara dengan tatapan menyelidik, "lo tuh udah ditolak mentah mentah lho sama Mas Abbyan, kenapa sih masih aja maksa?"
"Gimana ya Ham.. Suka sih, lucu orangnya. Calon dokter lagi, siapa sih yang gak mau?" Ujar Yara sambil tersenyum.


Ilham tiba-tiba merengkuh wajah Yara lalu mengarahkan kepalanya menuju salah satu meja di kantin itu yang berisi banyak kakak tingkat."Noh liat, tuh cowok cowok hampir ada selusin yang ngantre buat elu! You don't have to beg them to get their attention.. and priority.. and love."
"Berisik! Lo sendiri masih aja terpaku sama cewek yang sama bertahun-tahun!" Seru Yara sembari menepis kedua tangan Ilham dari wajahnya. Ilham berdehem lalu pura-pura merapikan rambutnya.
"That's why you should find another man who absoulutely like me; sangat setia." Ujarnya mencoba mengalihkan topik.
Yara tertawa lalu bangkit dari duduknya. "Setia gak cukup Ham kalo gak bikin cinta.. Udahlah, gue ada kerjaan nih ngeliput. Cabut ya!"

Ia berjalan menjauhi Ilham menuju perpustakaan untuk bertemu teman temannya yang sesama jurnalis kampus. Dalam perjalanan tiba-tiba sesosok pria hadir di benaknya dan langsung membuat Yara tersenyum kecil. Ia yakin apa yang ia katakan sangatlah benar, bahwa setia tanpa ada cinta tidak akan bisa membuat semuanya berjalan lancar. 

***

Surat tugas di tangan Abbyan sudah berkali-kali ia baca dan tentu saja membuatnya tidak percaya. Ia dan beberapa temannya ditunjuk oleh para dosen mereka untuk mengikuti acara studi banding untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran yang di adakan oleh Pemeritah. Setiap Universitas yang terpilih diharuskan mengirim sekitar 3 orang dan mengikuti berbagai kegiatan selama 1 bulan. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Universitas Padjajaran dan hanya mahasiswa berprestasilah yang berhak mengikuti acara tersebut karena akan mendapatkan banyak keuntungan dari segi akademis maupun nonakademisnya.

Abbyan tidak ada rencana untuk mengisi libur semester kali ini kecuali pergi menengok adiknya, Dhafir. Tapi melakukan perjalanan dengan seluruh mahasiswa kedokteran memungkinkan ia untuk bertemu dengan seseorang yang tidak ingin ia temui lagi. Ia memang masih ingin mendapatkan penjelasan, tapi disisi lain ia tidak ingin bertemu dengannya. Lamunan Abbyan seketika buyar saat ia menyadari kehadiran seseorang di hadapannya. Ia menghela napas seakan akan begitu lelah. Ia sedang tidak ingin basa-basi sekarang.

"Ada apa Nayara?" Tanyanya ketika cewek itu sudah duduk di hadapannya. Yara, seorang mahasiswi asal Fakultas Hukum yang beberapa bulan terakhir mengejar ngejarnya itu malah tersenyum lebar seakan tidak sadar kehadirannya cukup mengganggu Abbyan.
"Udah lama gak ngorbol sama Mas Aby, terakhir katanya kan mau fokus UAS."
Abbyan mendengus pelan, terdengar agak menyepelekan. "Oh.. Iya."
"Mas Aby pulang ke Jakarta gak? Aku juga orang Jakarta lho kita bisa-"
Sontak Aby menggeleng cepat, "enggak, aku ada kerjaan Yar dari dosen."
"Oh.. Jadi asdos? Ih keren banget.."
"Bukan gitu...." Abbyan menghela napas. "Kamu kalo mau pulang ya pulang aja."
"Kalo Mas Aby disini kenapa aku harus pulang?" Tanya Yara sambil tertawa. Abbyan tiba-tiba ikut tertawa walau ia sendiri tidak tahu harus menertawakan apa.

Sebenarnya Abbyan tahu betapa bodohnya ia melewatkan kesempatan bersama Yara. Gadis ini adalah blasteran cantik keturunan Indonesia-Belanda-Jepang, suatu perpaduan menarik yang menyebabkan ia memiliki wajah yang menarik. Abbyan mengakui kecantikan Yara dan sebenarnya ia tidak bermasalah dengan warna rambut asli Yara yang berwarna gelap saat pertama kali mereka bertemu. Namun saking tidak bisanya Abbyan menerima cinta Yara, ia pernah melakukan hal gila pada gadis itu.

Tiga bulan yang lalu..

Yara tiba tiba menghela napas panjang. "Mas? Are you there? Aku lagi ngomong lho.."
Abbyan yang duduk di hadapannya pun menatapnya lalu mengangguk, "ya keliatan kan aku disini."
"Mas kenapa sih memperlakukan aku kayak gini?"
Abbyan mengerutkan dahinya, kebingungan.
"Mas kenapa begini sama aku? Suka gak sih sama aku?"
"Ya.. Aku belum suka aja sama kamu."
"Mas Aby kenapa sih gak suka sama aku? Maksudku gini deh, Mas Aby tuh mau lho kalo aku ajak jalan, tapi setiap jalan aku kayak jalan sama patung. Mas Aby gak pernah mau pergi sama cewek lain selain sama aku, tapi Mas Aby suka flirting ke cewek cewek yang nyapa Mas Aby. Mas tuh kenapa sih?"
Karena terlalu dicecar Abbyan sontak menjawab cepat, "aku gak suka sama warna rambut kamu."
"Hah? Apa Mas?" Yara menyipitkan matanya, takut-takut ia hanya berhalusinasi saja.
"Iya, aku gak suka sama warna rambut kamu. Hitam coklat gak jelas begitu. Aku gak suka, kalo kamu blasteran kenapa warnanya gelap? Aneh. Yang di film film tuh warnanya gak gitu."



Yara tersentak kaget lalu kembali menyuapkan nasi goreng ke mulutnya sementara Abbyan kembali terdiam dan mengawang awang dalam lamunannya.

Setelah itu Yara tiba-tiba hadir dengan mengecat rambutnya yang sukses membuat Abbyan semakin bingung bukan kepalang. Gadis itu terlalu baik pada Abbyan sampai sampai Abbyan semakin tidak bisa meninggalkannya. Namun ia sendiri belum mampu memulai karena ada sesuatu dalam hatinya yang belum benar-benar selesai.

Yara terbatuk kecil lalu berkata, "iya kan Mas bakal disini?"
"Aku mau ke Bandung. Ada urusan fakultas." Sahutnya pendek. "Eh, aku mau cari Ali dulu ya. Sorry, duluan." Abbyan langsung bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Yara.

"Eh, Mas Aby ngapain di Bandung?!" Tanya Yara dengan suara agak menjerit. Yang ditanya malah sibuk senyum-senyum sendiri.

***

"Ini di mana?" Sabira menggumam nyaris tak terdengar. 

Ia melihat ke sekelilingnya secara saksama, ini adalah lingkungan SMA-nya. Sudah hampir  lama Sabira tidak pernah ke SMA-nya lagi. Samar samar ia mendengar gelak tawa dari arah lapangan saat dua tim sedang bertanding futsal dan banyak suporter yang duduk duduk di pinggir lapangan. Ia bahkan melihat Nath dan Adel, kedua sahabatnya perempuannya. Tiba-tiba Sabira merasa bulu kuduknya merinding tatkala kedua sahabatnya itu beradu pandang dengan dirinya, seakan akan jantungnya menggebu-gebu ingin segera menghampiri mereka berdua. Namun sesegera ia mencoba melangkahkan kaki, ia pun tersadar dan mengurungkan niatnya untuk bergerak. "Kenapa aku disini?"

Sabira pun akhirnya melihat sekelilingnya lagi. Ini sepertinya hanya kilasan memori atau mungkin hanya bunga tidur belaka. Tapi mengapa tatapan mata tadi rasanya begitu nyata?

"Bia, duduk di sana aja yuk sama aku." Suara itu nyaris membuat dirinya jatuh lunglai. Sabira menoleh tapi asal suara itu tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
"Aku udah mikirin obrolan kita kemarin.. Iya kamu bener juga, gak ada salahnya ya aku jadi dokter biar seperti apa yang orang tuaku bilang. Lagian nanti juga kita akan sama sama terus kan?" Tanya cowok itu sambil tertawa. Sabira hanya terpaku sambil memandangi wajahnya, wajah yang sudah lama ia rindukan.

Cowok itu meraih tangan Sabira dan menggenggamnya. "Ahaha.. Aku harusnya beruntung kan ya Bi? Dari kecil saja aku udah didukung untuk bersekolah dan mengambil profesi sebagai seorang dokter. Iya Bi, aku akan mencoba untuk lebih berpikir dewasa.. Lagian teknik mah bisa belajar otodidak ya Bi.. Kamu percaya kan Bi aku mau berusaha untuk jadi dokter kayak kamu?"

Sabira ingin bicara namun tiba-tiba cowok itu seperti menjauh dan melepaskan genggamannya lalu hilang begitu saja. Ia menyesal.

***

Mimpikah aku? Sabira menghela napasnya sembari bertanya dalam hati. Ia terbangun di meja belajarnya. Ia yakin ia sedang mengerjakan makalah yang harus ia kumpulkan besok pagi dan tertidur begitu saja. 

Ia menekan salah satu tuts MacBook-nya dan mengetikkan passwordnya. Tepat saat MacBook-nya terbuka, iTunes-nya memutarkan lagu milik Bruno Mars yang semakin membuat penyesalannya tidak kunjung berhenti.

Ia seharusnya bisa mengungkapkannya. Ia tidak seharusnya membuat jalan hidup cowokitu seperti ini. Ia tahu betul cowok itu pasti sengsara. Cowok itu tidak mungkin mencintai apa yang ia kerjakan karena itu bukanlah keinginannya yang sebenarnya. 

Sabira salah.
Sabira jahat.
Sabira kejam.
Sabira tidak pantas bahagia.
Sabira tidak pantas membahagiakan dia.
Sabira tidak pantas mencintai dan dicintai olehnya.

Mungkin pada saat itu, Sabira hanya egois memikirkan dirinya sendiri. Tapi belakangan ia sadar, ia bukan sekedar menyelamatkan hatinya, tapi ia sekaligus menghancurkan hati orang yang mencintainya. Sehingga hati Sabira selalu membenarkan diri bahwa meninggalkannya adalah jalan yang terbaik..



To be continued...


You may also like

6 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}