Breakeven chapter 3



"Have you ever wondered which hurts the most: saying something you had not, or saying nothing and wishing you had?"

***

Universitas Padjajaran Jatinangor, Juli 2016

"Bia, lu jadi ketua tim kan?" Tanya Arul dengan nada agak sedikit memerintah karena ia tidak ingin terlalu ribet di acara ini. Sabira menoleh lalu menoyor teman satu timnya itu dan sukses membuat Arul kaget. Sementara Karen, teman mereka yang satunya lagi malah tertawa melihat tingkah Arul yang kelewat seperti anak kecil. "Lu udah nanya ratusan kali dari bulan Mei awal kita dapet surat! Iya iya gue jadi ketua tim, udah lu berdua gak usah khawatir."

Merasa direndahkan oleh cewek, Arul pun mencoba membela diri. "Bu-bukan gitu.. Lu kan tau gue-"
"Iya kita berdua tau kok Rul, elo males kan sama organisasi? Iya kami paham. Sabira juga paham.." Sahut Karen memotong ucapan Arul. 
Sabira tertawa kecil, "udah sampe di Unpad.. Mending lo berdua kumpul deh sama anggota tim dari univ lain, gue ke tempat panitia dulu registrasi."
"Koper lo gimana Bi? Mau Arul bawain?" Tanya Karen sambil melihat sebuah koper besar berwarna merah maroon yang Sabira geret sedari tadi. Arul menggeleng, "kapan gue mengajukan diri bersedia bawain koper Bia?"
"Ya kita harus membantu ketua tim dong, Rul.." Ujar Karen agak kesal. 
Sabira menggeleng, "gak perlu, gue bisa kok. Udah sana, ngeceng lu pada! I'll see you there." Kata Sabira sambil tersenyum.

Setelah Karen dan Arul berjalan meninggalkannya, Sabira menghela napas cukup panjang lalu berjalan sambil menggeret kopernya menuju tenda panitia. Selain sebuah koper besar, Sabira membawa tas ransel berisi beberapa barang berharga termasuk laptop dan juga kamera poket yang selalu ia bawa kemana-mana. Sabira melihat sekeliling sambil tersenyum kecil, sudah lama ia ingin sekali mengikuti acara semacam ini.

Acara studi banding mahasiswa kedokteran se-Indonesia ini diadakan Pemerintah dalam rangka meningkatkan potensi calon dokter muda serta mengapresiasi para mahasiswa kedokteran yang berprestasi. Sabira adalah salah satu anak yang beruntung. Di acara ini, mereka tidak hanya bertemu dengan mahasiswa dari universitas lain, mendapat seminar dan pengajaran tambahan, namun mereka juga akan ikut serta terjun ke lapangan. 

Terlebih dengan adanya program BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dari Pemerintah membuat lebih banyak kesempatan para calon dokter muda mengenal dunia kedokteran di lapangan yang sebenarnya. Karena Pemerintah tidak ingin para dokter ini hanya peduli pada di mana tempat mereka kerja dan berapa bayarannya. Pemerintah ingin membantu mengembangkan rasa simpati dan empati calon dokter muda kepada pasien pasien mereka.

Sabira memang ingin menjadi dokter sejak kecil. Namun keinginannya bertolak belakang dengan restu orang tua dan kondisi keuangan mereka. Karena kakak Sabira tidak dapat menyelesaikan studi di universitasnya dengan baik, orang tua Sabira cukup kecewa dan sempat melarang Sabira untuk memilih jurusan yang terlalu berat. Karena itulah semenjak masuk SMA, Sabira harus belajar dengan giat supaya bisa masuk Fakultas Kedokteran dengan kepintarannya bukan melalui jalan belakang seperti beberapa temannya yang lain.

Ketika sampai di tenda itu, beberapa ketua tim yang lain sudah kembali ke kerumunan para anggota timnya. Tampaknya belum banyak yang datang padahal open gate sudah berlangsung selama satu jam. Acara pembukaan akan dilaksanakan sekitar tiga puluh menit lagi. Sabira menghentikan langkahnya tepat di antrean paling belakang. Ia mengeluarkan handphone-nya dan mengirimkan kabar pada ibunya.

Entah apa yang terjadi, namun Sabira berani bersumpah seketika ia bisa merasakan euforia masa SMA yang hadir dalam mimpi-mimpinya beberapa minggu belakangan ini. Sabira melihat ke sekelilingnya, ini masih di lingkungan UNPAD. Namun rasanya seperti kembali ke SMA.

Lutut Sabira tiba-tiba terasa sangat lemas ketika ia melihat sesosok cowok yang tidak asing baginya. Ia tidak melihat wajah cowok itu, tapi rasanya ia sangat mengenali punggung kokoh itu....

Sabira tidak kuat berdiri lagi dan tanpa ia sadari, ia telah menjatuhkan dirinya.

***

"Are you okay?

Suara berat seorang cowok yang terdengar di telinganya sontak menyadarkan Sabira. Ia rasa ia telah menjatuhkan dirinya, namun ternyata ada seseorang yang bersedia menahannya dan membangunkannya lagi. Tangan kiri cowok itu ada di punggung Sabira dan tangan kanannya menggenggam erat tangan kiri Sabira. Wajahnya tenang, namun matanya panik.

Sabira segera membenarkan posisi berdirinya. "Ah.. I'm so sorry, sumpah malu-maluin pasti." Wajahnya merah padam.
"It's okay.." Cowok itu melepaskan tangannya dari Sabira dengan canggung. "Anemia ya? Perlu ke pos?"
"I'm good. Maaf gak maksud buat jatoh tiba-tiba gitu, it just happened I don't know why."
"Yaudah kalo kamu gakpapa. Kamu dari UI ya?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan lalu kembali berjalan ke belakang meja panitia. Orang orang yang ada di sana sempat menatap Sabira dengan tatapan heran bercampur khawatir, namun kini setelah cowok itu kembali ke posisinya, mereka kembali kepada pekerjaan masing-masing.

Sabira tersenyum canggung, jelas-jelas dia memakai jaket kuning khas anak UI. "As you can see.."
"You must be Ashadiya Sabira Pane... If I'm not mistaken." Kata cowok itu sambil membuka salah satu map berwarna kuning. Sabira mengangguk.
"Wow, jarang lho orang bisa baca Pane dengan tepat!"
Cowok itu tertawa lalu menyodorkan tangannya, "107,9 FM setiap Hari Sabtu dan Minggu jam 4 sore sampai jam 7 malam..." Sabira ternganga lalu tertawa kecil.
"Kok.. Kamu tahu?"


Cowok itu menyodorkan tangannya, "Kenalin nama saya Sam, Samuel Althavano. Hukum 2013, saya ketua BEM-nya jadi ditunjuk sebagai panitia. Dulu saya mau masuk Hukum UI karena kakak saya juga di situ, jadi tau cukup banyak tentang UI. But somehow... jodohnya disini."
"Ah.. I see.. Sabira Pane, it's a pleasure to know there's someone outside the club listening to our show." Ujar Sabira sembari menjabat tangan Sam. "Ketua BEM pasti jadi ketua juga ya di acara ini? Keren ya kamu!"
"My pleasure too.. Ahaha saya panitia saja kok sama kayak yang lain. Oh iya, siapa aja nama teman satu tim kamu?"
"It's.. Karen Alicia dan Amirul Fadhli Joviar."

Sam menulis beberapa hal lalu menyodorkan file untuk Sabira tanda tangani. Setelah itu ia memberikan nametag untuk tim Sabira dan berkata, "setelah ini lebih baik ke asrama dulu, taruh barang barang kamu. Masih ada waktu kok sebelum acara pembukaan."

Sabira mengangguk lalu tersenyum kecil. Ia lalu mengucapkan terima kasih tanpa suara yang disambut oleh anggukan hangat dari Sam. Sabira pun berbalik dan berjalan menuju timnya ketika seorang tangan cowok meraih tangan kirinya lalu berdiri tepat di hadapannya dan tanpa ragu ia berkata, "saya boleh minta ID Line kamu?"

***

Abbyan cukup terbiasa dengan kondisi AC di kamar kostnya yang sering mati sehingga ia tidak terlalu bermasalah dengan ruangan asrama yang hanya difasilitasi kipas angin. Dari UNSOED ia berangkat bersama temannya Farah dan Rayen. Karena Farah seorang cewek, jadi ia bertukar tempat dengan anggota tim dari UI yang kamarnya tepat di depan mereka. Di kamar UI ada 2 cewek dan 1 cowok sehingga cowok bernama Arul itulah yang kini berada satu kamar dengan Abbyan dan Rayen.

Setelah upacara pembukaan, para mahasiswa diberikan waktu rehat selama seharian penuh sebelum esoknya sudah memulai berbagai kegiatan. Abbyan tidak terlalu bersemangat dengan acara ini, namun ide berada jauh dari Yara adalah faktor utamanya pergi kesini. Abbyan sudah kehabisan cara membuat cewek itu menjauhinya.

Ketika kembali ke kamar dan Arul sudah berpindah ke kamarnya, sebenarnya ada sedikit perasaan penasaran yang timbul dari dirinya. Terlebih saat upacara pembukaan tadi, ia seperti melihat sosok yang ia kenaii. Abbyan tahu cewek itu masuk Universitas Indonesia, tapi ia tidak pernah tahu lagi bagaimana kabar kehidupan cewek itu. Sebagian diri Abbyan ingin bertanya pada Arul siapa saja anggota kelompoknya, namun sebagian lainnya memilih untuk pergi keluar asrama untuk berkeliling.

Seakan-akan lindah Abbyan menari-nari sendirian, ia pun memutuskan untuk mencari kantin terdekat dari asrama. Sesampainya di sana ia menemukan penjual siomai dan memesan sembari duduk di salah satu meja. Tangannya kembali menari-nari di atas layar handphonenya sembari menyantap siomainya. Setiap kali ia teringat pada cewek itu, Abbyan akan melakukan hal yang sama seperti apa yang ia lakukan sekarang; pergi ke tempat ramai, memesan seporsi makanan lalu sibuk dengan handphonenya. Ia hanya ingin ramai dan sibuk, niscaya ia akan lupa pada gadis itu.

Setelah menghabiskan setengah jam duduk di sana, Abbyan pun bangkit dan membayar siomainya. Ia menarik napas cukup dalam, seharusnya ia sudah baik-baik saja sekarang. Namun beberapa langkah dalam perjalanannya balik ke asrama, ia malah semakin sakit lagi...

Apa yang harus ia lakukan jika memang gadis itu berada di tempat ini?

***

"Bia ayooooooo!" Seru Karen saat ia berbalik dan menemukan Sabira tertinggal beberapa langkah darinya. Sabira tetap terdiam di tempatnya. Ia melepaskan earphonenya dan  berusaha mencerna apa yang telah  terjadi tadi. Sedari tadi ia memang sedang asyik bermain handphone sambil mendengarkan omongan Karen, namun tiba-tiba semua rasanya seperti berbeda.


Sabira merasakan hal yang berbeda saat seseorang dari kerumunan yang ramai itu berjalan dan berpapasan dengannya. Ia tidak melihat wajah orang itu, tapi lututnya kembali lemas seperti tadi pagi.

"Bi? Bia kenapa?" Karen berjalan menghampiri Sabira yang tampak pucat. Banyak orang yang berlalu lalang di jalanan itu, tapi Sabira malah diam tidak bergerak samasekali. Sampai akhirnya Karen meraih tangannya lalu berkata, "Bia jangan bengong, Bia harus fokus."

Entah kenapa ia bisa merasakan sesuatu yang besar akan datang padanya, walau ia sendiri tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau kabur sebelum semuanya terlambat.

***

Asrama Universitas Padjajaran Jatinangor, Juli 2016, 10.26 PM

"Besok adalah hari perkenalan, jadi kita harus presentasi kampus dengan baik. Cuman dikasih waktu 3 menit, semoga cukup ya!" Seru Sabira sembari menutup laptopnya. Karen yang tidur di ranjang tepat di sampingnya hanya mengangguk lalu langsung membaringkan dirinya. Sementara Farah, anak UNSOED yang tidur sekamar dengan mereka pun sudah tidur lebih dulu.

"Udah ya Bi latihannya, gue capek.. Udah bagus juga kok cara ngomong kita."
"Hmm, tapi Arul gimana? Arul kan malu depan orang banyak."
Karen terdiam, "iya juga ya.. Kalo gak elo ke kamarnya Arul aja. Pas depan kamar kita kok, sana gih. Gue udah ngantuk banget, Bi."
"Yeee, elu gimana sih!" Sabira melemparkan bantal ke arah Karen. "Arul sekamar sama anak UNSOED ya?"
"Iyaaa.. Lo kenapa sih nanya nanyain UNSOED mulu deh?" Tanya Karen sambil memakai selimutnya, udara Jatinangor malam ini cukup dingin.
"Hah? Masa sih? Udah ah gue cek Arul dulu biar tenang, sleep tight Princess Karen!"

Sabira lalu bangkit dari tempat tidurnya dan memakai jaket merahnya. Ketika menuju pintu kamar, ia berhenti di depan kaca lalu terdiam. Apakah cowok itu masih berkuliah di tempat yang sama? Apakah cowok itu bisa bertahan? Apakah cowok itu ada disini juga? Apa yang harus ia lakukan jika bertemu dengan cowok itu?

Tapi tiba tiba Sabira tersenyum kecil, terlihat agak sinis. Ia tahu cowok itu tidak akan totalitas pada kehidupannya sebagai calon dokter. Mana mungkin dia bisa dipilih mengikuti acara semacam ini? Namun ingatannya membawa Sabira ke sosok yang ia temui hari ini, mereka berdua tampak mirip sekali dengan cowok itu. Tapi mana mungkin?

Sabira memantapkan hatinya lalu membuka pintunya. Cowok itu tidak akan muncul, setidaknya tidak sekarang. Sabira belum siap dan ia sepertinya tidak akan pernah siap untuk bertemu dengannya lagi...

***
"Buka lu sana!" Seru Arul sambil tertawa.
Rayen menggeleng, "elu sana woy bukaa! Lagi makan nih gue!"

Setelah beberapa kali ketukan, suara riuh di dalam kamar mereda dan pintu itu terbuka. Seketika Abbyan ingin membanting pintu itu lagi, namun tangannya gemetar. Ia tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.


"Sorry, Arulnya ad----" suara cewek itu pun melemah seketika. Ia mundur beberapa langkah. "Ab... Aby?"


Dia adalah seseorang yang Abbyan rindukan namun selalu ingin ia lupakan.


Sabira.



To be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}