Breakeven chapter 4



"We fall in love with one version of someone and we expect them to stay that way, but unfortunately they never do."

***

Jakarta, Mei 2011

Apotek kecil itu akan selalu ramai pada sore hari dan Abbyan tahu itu. Namun entah kenapa ia memberanikan diri untuk datang sambil membawa tas ranselnya. Setelah turun dari angkot, ia hanya berdiri di depan pintu kaca Apotek tersebut sambil menatap keramaian yang ada. Beberapa menit kemudian seorang cowok yang tampak beberapa  tahun lebih tua dari Abbyan keluar dengan terburu buru, ia mengenakan jaket hitam dan membawa ranselnya. Cowok itu sempat melirik Abbyan sebelum ia benar benar meninggalkan Apotek tersebut. 

Abbyan berbalik dan matanya memperhatikan cowok yang tampak familiar untuknya itu bergegas pergi dengan motor Ninjanya. Setelah itu tiba-tiba pintu Apotek di buka dengan kasar. Sontak Abbyan berbalik dan menemukan seorang pria paruh baya tengah berdiri di hadapannya. Wajahnya merah padam, tampaknya ia sedang marah besar. Namun matanya juga berkaca kaca. Lalu mata pria itu melihat Abbyan dan menghela napas, "oh sore ini kamu datang, Mas?"

Abbyan tergagap lalu mengangguk, "ah i-iya Om.. Maaf mengganggu."
"Bia ada di dalam sedang membantu. Kamu langsung ke sana aja." Ujarnya pelan. Abbyan tersenyum kecil, "iya Om, terima kasih saya masuk dulu."
"Tapi Mas, tolong, sebaiknya jangan terlalu sering kesini kalau sedang ramai seperti ini. Om yakin kamu pasti tahu waktu.." Kata pria itu dengan suara yang agak bergetar. Abbyan hanya bisa mengangguk kaku. Ia sudah tahu akan mendapatkan teguran seperti ini.

Abbyan segera masuk Apotek dan meminta izin pada salah satu pegawainya untuk masuk, kebetulan karena Abbyan sering datang jadi hampir semua orang tahu siapa dia. Abbyan pun langsung menuju dapur apotek dan menatap seorang cewek yang menjadi tujuan utamanya datang ke sana. Cewek itu sedang fokus dengan tugasnya memberi label nama obat ketika Abbyan menghampirinya dan tertawa kecil, "aku pengen ketemu kamu."

Cewek itu menoleh dan menemukan Abbyan di hadapannya. Matanya tampak memerah seperti sehabis menangis namun belum sempat Abbyan bertanya, ia langsung menghentikan pekerjaannya dan menarik Abbyan menuju lantai 3, tempat biasanya mereka belajar bersama. Abbyan hanya mengikuti cewek itu tanpa bicara apa apa.

Ketika sampai di ruangan lantai 3, cewek itu berdiri membelakangi Abbyan dengan tubuh yang bergetar. Abbyan pun panik, ia langsung berpindah tepat di depan cewek itu lalu menggenggam tangan cewek itu.

"Aby... Mas Majid di DO dari jurusan kedokteran.. Dan tadi Ayah bilang dia gak bolehin aku jadi dokter.. Aku harus gimana, By?"

Tangisnya pun pecah seketika, ia tampak sangat hancur berantakan.

***

“Ab… Aby?”
Suara Sabira terdengar sangat bergetar begitu juga dengan tangan dan sekujur tubuhnya. Mata mereka berdua sempat saling bertemu sampai akhirnya Sabira tidak lagi berani menatap mata Abbyan. Abbyan terpaku tanpa bicara apa-apa. Keheningan melanda mereka selama  hampir beberapa menit sampai Arul dan Rayen menyadari situasi yang sangat tegang di depan pintu kamar mereka.

“By, ada siapa tuh?” Tanya Arul sembari tetap sibuk dengan makanannya.
Sabira memberanikan diri menatap mata Abbyan tepat ketika cowok itu berpaling dan beranjak pergi, “someone you know.”
Ketika Abbyan beranjak meninggalkan pintu, tiba-tiba tangan Sabira yang masih bergetar menggenggam tangan Abbyan. “Aby…”

Abbyan geram, ia pun melepas tangan Sabira dan berbalik. Sambil menatap Sabira dengan sinis, ia bergumuam, “gue rasa kita gak punya hubungan yang akrab sampe elo bisa manggil gue Aby.”

Skakmat. Sabira tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

***

Malang, Juli 2009
Study Tour SMP Vanda Sinathrya Jakarta

“Itu siapa sih kok duduk sendirian aja?” Tanya Sabira pada Nath, sahabatnya yang duduk sebangku dengannya di bus. Sedari tadi  Sabira memperhatikan anak laki-laki yang dari tadi duduk di deretan paling depan, tempat yang biasanya dihindari oleh para siswa karena dekat dengan guru. 

Nath tertawa kecil, “itu Abbyan, anak cowok sih manggil dia Aby. Elo sih seminggu pertama sekolah malah sakit! Dia itu anak 7.3 yang dipindahin ke 8.4 soalnya ada skandal gitu pas kelas 7 nya. ”

Sabira terperajat, “hah? Kenapa?”
“Gue denger pas kelas 7 dia kan pindahan dari Kanada or somewhere gitu, nah banyak lah cewek yang ngedeketin, sampe ada yang obssessed banget sama dia tapi dia gak suka gitu. Akhirnya tu cewek kesel kali ya gara-gara cintanya ditolak mulu, jadi dia minta BK mindahin Abbyan dari kelas 3 ke kelas yang lain.” Ujar Nath diselingi tawanya.
“Gokil juga ya hahaha. Gue cuman gak masuk seminggu terus langsung study tour aja udah ketinggalan banyak cerita.” Sabira ikut tertawa. “Emang siapa sih yang naksir banget sama tu anak?”
“Keziya Joy, mereka sama-sama anak diplomat.”
“Wow, diplomat? Cool juga.. Joyie kan cantik, masa dia kagak mau.”

Nath tiba-tiba menaikkan kedua alisnya, “wah.. Elo juga ngerasain hal yang sama ya..” Suara Nath berubah menjadi setengah berbisik, “gue kasih tau yaa, kabarnya Abbyan itu homo. Jadi cewek-cewek pada berhenti suka sama mereka. Gue sih percaya, tapi pas gue ngobrol sama anak cowok, gue malah ditoyor sama Ariq-“ Nath menyikut Sabira sambil menatap Ariq yang duduk tepat di samping kursi mereka berdua, “Ariq ngebelain Abbyan gitu, gue kira mereka sama-sama homo jadi saling melindungi.”

“HAHAHAHAHAHA.” Tawa Sabira pecah ia lalu menoyor kepala Nath juga. “Gue juga kalo jadi Ariq bakal noyor elu, Nathalie! Kebanyakan main Twitter sama nonton Glee ya jadi begini.”
Sontak Nath pun cemberut karena sahabatnya itu tidak sepemikiran dengannya, “ih gue serius kali!” Tiba-tiba Sabira bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kursi Abbyan. Nath yang kaget pun memanggil Sabira sambil setengah berteriak, “Bia! Ngapain gila?!”
“Ssssh berisik!” Seru Sabira lalu duduk di samping Abbyan.

Kesan pertama Sabira pada Abbyan adalah cowok ini sangat misterius, ia sangat yakin Abbyan memiliki pribadi yang menyenangkan, tapi entah kenapa ia seperti punya trauma dengan cara bersosialisasi. Sementara Sabira tersenyum sumeringah di sampingnya, Abbyan hanya menoleh dan menatapnya heran.

“Eh, kok duduk sendirian?” Tanya Sabira membuka percakapan. Cowok itu hanya menatap Sabira lalu kembali duduk dengan posisi menatap kursi di hadapannya tanpa menjawab pertanyaan Sabira.


“Gak suka ramai ya? Gue juga gak suka, apalagi tuh anak cewek sama cowok berisik banget di belakang hahaha. Gue suka mual kalo lagi jalan-jalan gini denger sesuatu yang terlalu keras. Kita sama berarti ya!”

Abbyan tetap diam namun kali ini ia berdehem dan mempererat jaket hitam yang ia kenakan. Sabira mendadak cemberut sembari bertanya tanya, kenapa cowok ini tidak menggubrisnya?

“Elo gak ngomong Bahasa Indonesia ya? Katanya lo dulu tinggal di Kanada? Ih pasti seru banget yaaa. Gue dari dulu pengen keluar negeri tapi gak pernah boleh sama kedua orang tua, sebel banget. Selalu Mas Majid yang diprioritaskan atau gak gue harus ngalah sama Kila, adik gue…”
Abbyan tampak semakin risih, ia pun berujar.“Eh-”
“Oh iya! Nama lo Aby kan? Gue Sabira! Ashadiya Sabira Pane, dibacanya Pen ya.. Itu nama keluarga gitu deh. Panggil aja gue Bia, temen-temen akrab gue panggil gue gitu.”
“Gue Abbyan, bukan Aby.”
Sabira mengerutkan dahinya, “tapi anak cowok kan manggil elo Ab-“
“Itu karena mereka udah akrab sama gue.” Jawab Abbyan ketus.

“Hmm.. Kalo gitu…” Sabira menyodorkan tangan kanannya, “kita temenan akrab yuk!”
Abbyan menaikkan alisnya, “hah? Temenan akrab? Lo yakin? Semua cewek ngira gue homo karena gue nolak Joy.”
“HAHAHAHA jadi lo tau?” Tawa Sabira pecah, ia menurunkan tangan kanannya. Abbyan ikut tertawa, “mereka kira gue gak punya telinga apa..”
“Gue baru tau sih, soalnya gue kemarin kemarin kan sakit jadi-"
"Iya lo sakit tifus kan ya? Makan lo gak bener pasti." Kata Abbyan pelan. "Padahal kata orang-orang elo tuh anak yang punya toko obat, masa bokap nyokap lo gak merhatiin makannya elo?"
Sabira ternganga mendengar Abbyan tahu tentang dirinya, ia lalu tertawa kecil, "gila ya, tau juga lo..."
"I just listening much, jadi gue tahu banyak info baru. Senangnya mendengar sesuatu yang ternyata benar adanya." Jawab Abbyan dengan suaranya yang terdengar seperti membanggakan dirinya sendiri.
"Gue juga mau tau cerita tentang elu, tapi yang real, bukan tentang elo dan cerita homo lo  yang beredar..." Ujar Sabira dengan suara yang sungguh-sungguh.


"Boleh, asal elo percaya kan kalo gue gak homo dan suka sama Ariq? Ya, gue gak homo, tapi gue gak jamin sih Ariq juga gak homo.."

Mereka saling bertatapan lalu tertawa bersama.

***

Rayen menghentikan kunyahannya lalu memberikan isyarat pada Arul sedetik setelah ia menyadari suasana antara Abbyan dan Sabira semakin tegang. Mereka pun beranjak menuju pintu dan menemukan Abbyan dan Sabira terdiam sambil saling bertatapan. Wajah Abbyan tampak sangat keras sementara Sabira terlihat takut dan cemas.

Arul lalu berujar, "Bia kalo butuh gue tinggal telpon aja, gue yang akan ke kamar elo.. Masa elo nyamperin laki-laki, kan aneh ya Ray, hahaha." Arul mencoba mencairkan suasana diikuti oleh tawa Rayen. Sabira mengangguk, "i-iya.. Maafin gue.."

"Ini Sabira Pane, By. Dia ketua tim gue.."
Rayen membuka suara, "gue Rayen Chia, Aby ini ketua tim gue. Kami dari UNSOED."
"Elo udah kenal sama Aby sebelumnya, Bi?" Tanya Arul pelan.
Sabira mulai mengangguk dan berujar, "iy-"
Tapi tiba-tiba Abbyan angkat bicara, "sorry gue mau keluar dulu." Abbyan berjalan keluar pintu tanpa sempat melihat Sabira lagi, hatinya sakit bukan main. Sementara Sabira berbalik dan mencoba mengejar Abbyan, namun kakinya saja tidak bisa bergerak.

"Ma.. Maafin aku, By....."





Sabira terjatuh tak sadarkan diri.



To be continued....


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}