Breakeven chapter 5



"I felt a hole in my chest form and a sudden emptiness when I realize how easily you could forget me and all the memories we shared."

***

"Aku gak mau aku tetep di sampingmu hanya karena aku ngerasa berhutang perasaan sama kamu. Aku gak mau ada sama kamu karena kasihan sama kamu. Maaf Sam, but I can't stay this way anymore."

Sam diam untuk beberapa saat sampai akhirnya ia mencerna seluruh perkataan gadis yang ada di hadapannya. Dia sudah berkali-kali bolak balik menghampiri gadis yang berbeda 3 tahun darinya ini. Dia tahu dia pantas mendapatkan orang lain, tapi hati tidak pernah bisa dengan mudahnya sejalan dengan pemikiran.

"I've been waiting for you.. So long..." Suaranya agak bergetar.
Gadis itu menggeleng, "that's why you should leave, apa yang kamu harapkan dari aku di saat masih banyak gadis yang bisa mencintai kamu?"
"But you're different..." Ujarnya meyakinkan si gadis tersebut. "Aku udah coba dengan banyak orang, tapi di hatiku selalu kamu. Aku tahu kamu cuman pergi sebentar-"
"I've been dating banyak cowok dan tetep menolak kamu, kamu itu mau gini terus? Asal pacaran dan kembali lagi ngejer-ngejer aku?"
"Tapi kamu selalu kasih aku kesempatan-"
"That's why aku mau berhenti, aku gak bisa maksain diriku lagi. Aku gak bisa sayang sama kamu lebih dari sahabat. Kita sahabat dari kecil, kita saling menyayangi, tapi bukan berarti kamu bisa melewati batasnya, Sam. I thought you're understand, kamu jauh lebih tua dariku. Kamu sudah mau masuk perguruan tinggi, aku baru mau jadi anak SMA. Kamu bakal ketemu orang yang jauh lebih baik daripada aku."

Sam menggenggam jemari gadis itu, "tapi aku hanya sayang sama kamu."
"Sayang dan obsesi adalah dua hal yang berbeda, kamu hanya gak mau berpaling dariku. Lagian kamu tahu, aku gak bisa jatuh cinta. Aku trauma sama Mom dan Dad yang cerai, aku gak mau kamu bersamaku yang gak bisa mencintai orang lain."
"Tapi aku bisa sayangi kamu, kamu butuh seorang pendamping..."
"As a bestfriend..  Itu saja sudah lebih dari cukup, Sam. Aku mohon mengertilah. Aku gak mau mempermainkan perasaan kamu."
"Kenapa gak dicoba?"
"Kenapa kamu mau bersama orang yang gak mencintai kamu sementara kamu memberikan seluruh hati kamu untuk dia?"



"Pada saatnya kamu akan mencintaiku kok." Ujar Sam yakin.
Gadis itu menggeleng, "pada saatnya kamu akan benar benar mencintai orang yang pantas kamu cintai.."


***

"Ugh... Samuel?" Suara erangan kecil itu membuyarkan lamunan Sam. Ia langsung menoleh dan tersenyum kecil. Sam bangkit dari duduknya, pergi ke dispenser di dekat pintu masuk Medical Room dan mengisi cangkir yang sedari tadi ia pegang. "Kamu jatuh lagi.. Kali ini jatuh dan pingsan."

Sam berjalan menuju tempat tidur kedua di ruangan Medical Room dan menyodorkan cangkir berisi air hangat tersebut. "Diminum dulu.."
"Maaf, aku gak tahu kenapa, it's just-"
"Kamu pingsan setelah ketemu Abbyan anak UNSOED. Kamu pingsan di depan kamarnya, Sabira." Ujar Sam dengan ekspresi wajah campur aduk, ada sedikit kelegaan karena akhirnya Sabira terbangun setelah 2 jam tidak sadarkan diri, ada pula tatapan penasaran darinya disertai pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawabkan.

Sam kebetulan sedang melakukan pengecekan ke kamar-kamar dan melihat Sabira pingsan di depan kamar Abbyan tepat setelah Abbyan berjalan pergi. Sementara itu Rayen dan Arul berdiri di sekeliling Sabira dan berteriak satu sama lain tentang siapa yang harus menggendong gadis itu. Akhirnya Sam datang dan menggendong Sabira. Ia membawanya ke Medical Room yang berada di lantai dasar.

Sabira hanya terdiam setelah mendengar nama Abbyan. Ia lalu meneguk secangkir air putih hangatnya lalu menyodorkannya pada Sam. Sam meraih cangkir itu lalu tertawa kecil, "maaf, saya gak maksud mencampuri-"




"Samuel..." Ujar Sabira pelan. Sam menaruh cangkir tersebut di meja lalu ia kembali memperhatikan Sabira. "Apa kamu.. Pernah.. Mencintai seseorang dengan cara yang salah? Apa kamu pernah.. Hanya memperdulikan tentang hatimu? Apa kamu pernah... Bersalah tapi tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya?"

Suara Sabira semakin bergetar dan entah mengapa, jemari Sam langsung bergerak menggenggam jemari kanan Sabira. Gadis itu pun menangis, menangis bagai orang paling bersalah di dunia.


***

Gadis itu hilang.

Sam tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia hanya meninggalkan gadis itu selama beberapa minggu dan ia hilang begitu saja. Ia biasanya ada di sebelah rumahnya, siap sedia kapan pun Sam jemput dan ajak pergi. Seorang teman kecil yang ia anggap sebagai adik namun mampu membuatnya jatuh cinta.

Sam pun mencoba mencari gadis itu, tapi Jakarta sangat luas dan tidak ada pesan yang tertinggal. Seluruh isi rumahnya sudah tidak ada, nomer telponnya juga sudah tidak lagi aktif. Sam tidak tahu kemana perginya gadis ini, yang ia ingat adalah pertengkaran mereka lewat telpon di akhir bulan November.

Gadis itu merasa Sam kelewat over protektif dengan statusnya sebagai sahabat. Gadis itu mengaku ada beberapa cowok yang ia taksir tidak mau bersama gadis itu karena tahu tentang Sam. Padahal Sam yakin, gadis itu tidak mungkin dengan mudahnya mempunyai seseorang yang ia sukai. Semenjak perselingkuhan ayahnya terkuak, gadis itu berkata ia  tidak lagi percaya dengan laki-laki kecuali Sam.

Sam sendiri tidak yakin sejak kapan perasaannya ini berubah, dari sayang sebagai sahabat menjadi sayang yang ingin memiliki. Sam berusaha keras untuk menjaga hubungannya, namun ia tidak bisa, ia ingin menjadikan gadis itu miliknya.

Sampai akhirnya gadis itu mau memulai dengan Sam namun tiba-tiba ingin menjauh dan pertengkaran mereka pun pecah di akhir bulan November. Sam pun mundur teratur seperti biasanya, memberikan ruang beberapa saat untuk akhirnya kembali lagi. Karena ia tahu, pasti ia bisa membuat gadis itu bahagia dan juga mencintainya.

Namun gadis itu malah pergi tanpa pamit, membawa seluruh hati Sam, sampai-sampai pemiliknya bingung. Haruskah ia membenci gadis itu atau sebaliknya meminta maaf karena membebani perasaannya?

Karena hati kecil Sam sebenarnya tahu bahwa selama ini gadis itu menyiksa dirinya untuk menghargai perasaan Sam padanya: ia memaksa gadis yang ia cintai untuk tinggal  bersama orang yang tidak dicintainya.

***

Universitas Jendral Soedirman, 2016

"Pokoknya gue mau berangkat ya ke Bandung!"


Yara sejak tadi berusaha keras membujuk Salma, ketua Jurnalistik UNSOED untuk mengirim dia sebagai reporter di acara mahasiswa FK se-Indonesia di Bandung. Seluruh orang sudah tahu gadis blasteran ini sangat jatuh cinta pada Abbyan, namun mereka juga sadar bahwa Abbyan tidak pernah benar benar merespon Yara.

"Lo kesana ngapain tujuannya?" Tanya Mas Dana dengan nada meledek.
"Gue mau ngeliputlah! Elu lagi pake nanya, Mas!" Seru Yara agak kesal. Salma menghampiri meja tempat Yara, Dana dan beberapa anggota Jurnalistik lain berkumpul.
"Lagian lo ngapain sih Yar menghabiskan waktu ngejer ngejer si Abbyan?" Tanya Salma heran. "Maksud gue ya.. Lo tuh bisa kali sama siapapun disini selain Abbyan, banyak orang yang tertarik sama elo! Elo malah ngincer yang ngelirik elo aja enggak..."
"Justru itu, Mba! Karena itu gue makin makin makin makiiiiin penasaran deh sama Mas Aby!" Kata Yara dengan tampang over-excited. "So please, kasih gue jobnya yaaa?"

Teman teman Jurnalistik lain sibuk tertawa sekaligus menggeleng melihat kelakuan Yara. Sementara gadis itu senyum senyum sendiri sambil sibuk membenarkan perkataannya tadi di kepala; kalo udah pasti mau, gak seru lagi kan buat diusahain?

***

"Abang gak tahu kapan bisa ke Jakarta, ini aja Abang udah masuk karantina yang perkumpulan anak FK itu lho, se-Indonesia. Lo baik baik aja kan disana, Fi?" Suara Abbyan terdengar parau pagi ini. Sembari menunggu jadwal perkenalan diri yang diadakan 30 menit lagi, ia pun menelpon adiknya, Dhafir yang berada di Jakarta.

Dhafir berdehem mengiyakan, "gue baik-baik aja. Malah gue yang khawatir lo kenapa kenapa. Ibu bilang lo kelihatan gak sehat, Bang."
"Masa sih?" Abbyan merengutkan dahinya lalu tertawa kaku, "haha, Ibu aja lebay."
"Gue ketemu dia Bang, pas lagi mau daftar ulang.."
"Afi, please jangan-"
"Dia kayaknya gak ngenalin gue, pantes lah udah lama juga kan-"
"Afi-"
"Dia disini tampaknya populer banget, setiap kali orang sebut nama dia pasti tau deh. Gue jadi inget elo, Bang. Gue yakin elo pasti ka-"
"Gue gak kangen sama dia, Fi." Ujar Abbyan tegas. "Dan gue yakin, ada ataupun gak ada dia bukan lagi masalah besar dalam hidup gue. Gue sudah bahagia dalam kesalahan gue sekarang."

Dhafir memutuskan untuk tidak lagi bicara, ia yakin ia telah menyakiti hati kakaknya. "Fi, nanti gue telpon lagi. Lo baik baik ya..." Ujar Abbyan mencoba menetralkan suasana hatinya. Belum sempat Dhafir membuka mulutnya, "dan jangan bicarain dia lagi depan Abang, jangan. Dia bukan bagian dari hidup Abang lagi."

"Iya, Bang."

***

Sabira mengenakan jaket kuningnya dengan lunglai. Ia teringat percakapan singkatnya dengan Abbyan tadi malam. Ia tahu Abbyan sangat marah tapi Abbyan tidak pernah tahu alasan Sabira meninggalkannya. Ada rasa menyesal di hati Sabira, seharusnya ia bicara pada Abbyan, bukannya kabur dan menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi kalau ia dulu bicara dengan Abbyan, cowok itu pasti memaksa untuk tinggal, sementara Sabira tidak bisa dengannya lagi.

Sabira membuka pintu kamarnya lalu memakai flatshoesnya. Ketika ia melangkah keluar, seorang cowok juga keluar dari kamar di depannya. Abbyan berdiri di hadapannya dengat jas almamater milik UNSOED. Mata mereka bertatapan lalu saling kabur dan menutup pintu kamar masing-masing.

Sabira berjalan duluan karena ia tahu Abbyan tidak akan mau berjalan berdampingan dengannya. Namun tiba-tiba cowok itu berjalan di sampingnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mereka saling diam namun Sabira bisa merasakan sakit yang luar biasa. Bagaimana seharusnya ia bisa menjelaskan dan meminta maaf, bagaimana seharusnya ia tidak kabur begitu saja.

Di sisi lain Abbyan merasa sakit bukan main. Ia sangat ingin memeluk gadis itu, menangis dipelukannya dan menahannya untuk tidak pergi lagi. Tapi ia telah ditinggalkan tanpa alasan. Meski ia berhak untuk sebuah alasan, namun ia rasa ia tidak lagi punya kewajiban untuk menagih haknya tersebut.

Abbyan dan Sabira pun terus berjalan menuju ruang pertemuan dan saling berdampingan. Tidak pernah mereka melirik satu sama lain ataupun mencoba bicara. Mereka hanya diam, diam dan diam. Karena bahkan di keheningan pun, rasa sakitnya masih terasa; justru jauh lebih besar daripada biasanya..



To be continued...




You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}