Breakeven chapter 8

Really, I'm so sorry sangat telat. Personal reason but thanks to Muhammad Rasyid Ridho. Gue ketampar kemarin sama dia (lagi) (lagi) (lagi lagi lagi!!). So mulai minggu ini setiap Senin & Sabtu cerbung Breakeven ini bakal hadir juga di wattpad gue. Tujuannya untuk menjangkau pembaca yang belum kenal Alice in Tipluk's World. Bisa langsung dicek aja barangkali kalian lebih seneng baca di wattpad;)



"I miss you. I always miss you. And if I don't tell you, it's because I miss you too much."

***

Dia masih takut ya? Padahal baru naik-naik sedikit..

Abbyan diam diam memperhatikan gadis yang ada di sampingnya dari pantulan kaca jendela bus. Sabira tampak tidak nyaman, ia seperti orang yang panik dan ketakutan. Berulang-ulang kali ia mencoba untuk menyembunyikan ketakutannya namun akhirnya ia menyerah dengan memejamkan mata.

Ketika mulai memasuki daerah berupa tanjakan, Sabira langsung gemetaran. Ia tidak pernah suka ketinggian. Pernah terjatuh dari pohon ketika SD membuatnya sangat trauma dengan segala hal yang berbau ketinggian. Sementara itu Abbyan yang sedari tadi sudah memperhatikannya pun menoleh ke arah Sabira.

Entah setan apa yang merasuki Abbyan namun cowok itu meraih tangan Sabira lalu menggenggamnya. Ia pun berkata, "jangan takut, Bia.. Ada Aby disini.."

Abbyan merasakan tubuhnya mendadak terasa panas, seakan-akan ia baru saja menyentuh sesuatu yang tidak  boleh ia sentuh. Ia jelas jelas sangat bahagia setelah 2 tahun tidak menggenggam tangan gadis yang ia cintai. Sementara itu Sabira merasa dadanya sesak seperti tidak lagi  bisa bernapas. Abbyan yang beberapa hari  terakhir ini tiba-tiba menggenggam tangannya? Yang benar saja!

Setelah jalan yang mereka lewati mulai datar, entah mengapa Abbyan tiba-tiba teringat kilasan kilasan tawa antara Sabira dan Sam selama beberapa hari terakhir ini. Abbyan bahkan tahu saat Sabira dijemput oleh Sam di asrama. Hal tersebut membuat Abbyan tidak habis pikir, kenapa Sabira tidak berusaha mencari cara untuk bicara dengan Abbyan? Padahal dulu dia bilang....

Abbyan langsung melepaskan tangannya secara kasar lalu berdehem dan kembali tidak menghiraukan Sabira. Sabira pun mengerutkan dahinya lalu berbisik pelan, "apa-apaan sih kamu, By?"

***

Purwokerto, 2016

Tumpukan majalah fashion dan secangkir coklat panas yang sudah tinggal setengah menemani pagi Yara. Ia sudah berkutat di depan laptop sedari tadi malam. Selain menjadi seorang jurnalis di kampus, Yara kerap mengisi rubrik fashion untuk beberapa majalah remaja.

Yara meregangkan badannya lalu melihat kesekitar. Kamar kostnya tampak sudah tidak karuan. Yara sendiri lupa sudah berapa lama ia tidak membereskan kamarnya itu. Namun mengingat nanti sore ia harus berangkat ke Jakarta membuatnya tidak bisa lari dari pekerjaannya yang satu ini. Yara menatap layar laptopnya dengan tatapan kosong. Tubuhnya sudah merasa lelah namun di kepalanya masih banyak ide yang ingin ia tuangkan. Lalu tiba-tiba sekelebat ingatan muncul di pikirannya dan ia pun tertawa. Yara akan selalu merasa geli setiap kali ingat apa yang terjadi di hidupnya.

Sebenarnya ia tidak ingin tinggal di kota kelahiran Ibunya, Purwokerto tapi ia harus kabur dari Jakarta. Semenjak Ayah dan Ibunya bercerai, Yara dan Ibunya kembali ke Indonesia sementara kakaknya, Sandara Valencia Isabelle ikut dengan Ayahnya yang bekerja di Australia. Awalnya Yara dan Ibunya tinggal di Jakarta namun ketika Neneknya meninggal ketika Yara kelas 4 SD, Ibunya harus pindah ke Purwokerto untuk mengurusi bisnis keluarga. Karena Ibunya adalah anak tunggal, jadi Yara tidak bisa menuntut dan mencoba untuk mengerti. Namun ia sendiri tidak ingin meninggalkan Jakarta ataupun ikut dengan Ayahnya dan Kak Dara.

Alhasil Yara pun tinggal dengan pembantunya dan hanya ditengok sebulan sekali oleh Ibunya. Setiap dua kali dalam setahun Ayahnya dan Kak Dara akan ke Indonesia atau Yara akan dibelikan tiket untuk mengunjungi mereka ke Australia. Yara cukup berani dan mandiri untuk ukuran anak kecil namun tidak bisa dipungkiri, ia pun sering merasa kesepian dan bermasalah dalam hal bergaul. Namun suatu sore ketika ia kelas 5 SD, ia bertemu dengan seorang cowok yang berumur 3 tahun lebih tua darinya. Cowok itu selalu menjaga Yara dan pada akhirnya menjadi sahabat dekat Yara. Orang tua Yara juga sudah mengenal cowok itu.

Namun ketika Yara kelas 1 SMP, cowok itu menyatakan cinta pada Yara dan tentu saja membuat Yara kaget pada awalnya. Yara tidak pernah mengenal konsep pacaran tapi ia tahu betul jikalau ia harus berpacaran, bukanlah cowok itu yang akan menjadi pacarnya karena ia sudah begitu menyayangi cowok itu sebagai kakaknya. Tapi cowok itu terus menerus mendekatinya hingga kesannya memaksa sehingga Yara pun menyerah dan mencoba mencintainya.

Yara menghela napas lalu meneguk coklat panasnya ketika ia teringat hari di mana ia mencoba mencintai cowok tersebut. Ia merasa sangat berdosa sekaligus menjadi pembohong. Ia berusaha mencintai cowok itu karena ia menghargai dan juga menyayanginya. Ia pikir hatinya akan berubah seiring berjalannya waktu, namun Yara sadar semakin ia berusaha semakin ia tidak bisa mencintainya.

Karena bagi Yara ketika kita sudah terlalu dekat sebagai seorang sahabat, terkadang itu juga berarti kita tidak bisa merubah perasaan kita begitu saja.

Cowok itu terlalu agresif sehingga membuat Yara gerah sendiri. Ia tidak ingin kehilangan cowok itu namun ia tidak mau hidup sengsara seperti ini. Jadi ia mencoba pacaran dengan banyak cowok yang membuat cowok tersebut beberapa kali mencoba pacaran dengan cewek lain, tapi mereka  tetap masih bisa bersahabat. Namun pada akhirnya cowok tersebut tidak bisa ditolerir lagi, ia sering membuat dirinya seakan akan korban dari Yara yang tidak bisa mencintai sahabatnya. Yara mencoba baik baik padanya namu meski Yara mengancam meninggalkannya jika masih menyukainya, cowok itu masih saja kembali dan kembali pada Yara.

Akhirnya Yara pun memilih untuk kabur dan meninggalkan cowok itu. Ia meninggalkan cowok itu bukan karena benci, tapi ia hanya ingin cowok itu sadar bahwa masih banyak gadis yang lebih pantas dicintainya daripada Yara.

Yara membuyarkan lamunannya lalu mematikan laptopnya. Ia membereskan meja belajarnya yang semakin berantakan. Kadang ia ingin sekali pulang ke rumahnya, namun ia bertekad untuk tinggal sendiri selama kuliah supaya bisa menjadi jauh lebih mandiri. Jadi ia segera mengambil sapu yang berada di belakang lemari pakaiannya dan membereskan kamarnya.

Beberapa saat kemudian setelah ruangannya rapi, Yara pun berniat untuk mengepak pakaiannya karena ia akan pergi bertemu dengan kakaknya yang nanti siang akan sampai di Jakarta. Saat ia membuka lemari pakaiannya, ia tersentak sendiri melihat foto yang ia pajang dalam lemarinya. Ia memandanginya lalu berbisik, "hai kamu... Apa kabar?"

Foto tersebut adalah foto seorang cowok memakai toga yang merupakan sahabat Yara. Foto itu diambil saat hari kelulusannya. Yara dimintanya untuk datang dan mengabadikan beberapa momen. Semenjak hari itu sampai sekarang, Yara selalu menyimpan foto itu di kamarnya.

"Seharusnya kamu lulus ya sebentar lagi.. Aku rindu kamu. Tapi..."

Tiba-tiba Yara teringat pada Abbyan. Ia tertawa lagi.

Sejak kejadian dengan sahabatnya itu, Yara tidak pernah mau menerima cowok yang mengejar ngejarnya karena ia merasa ia tidak bisa membalas cinta orang yang tidak ia cintai. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Abbyan yang menarik namun tidak tertarik padanya. Yara merasa ia ingin mencoba mencintai daripada dicintai dan hatinya pun terpaut pada Abbyan. Namun sejujurnya setiap kali ia melihat Abbyan, ia akan selalu meringis... Ia rindu pada sahabatnya.

"Maaf membuat kamu jadi korban.. Tapi aku.. Aku pun korban. Aku harap sekarang kamu udah ketemu cewek yang jauh lebih baik daripada aku... Kamu yang bahagia ya.."

Karena ketika sebuah friendzone berakhir sebagai cinta sepihak, sebenarnya ada pihak lain yang juga terluka karena ia sudah berusaha mencintai sahabatnya namun ia tidak bisa.


***

Pedesaaan di Bandung, Jawa Barat 2016

"Tolong para cadok bantu mendistribusikan sembako dan keperluan obat dasar!" Suara tersebut terdengar cukup lantang dari para petinggi tim pembimbing acara studi banding ini. Pada mahasiswa calon dokter semester 5 ini diajak untuk melatih rasa simpati dan empati mereka pada masyarakat kecil dan berkebutuhan. Mereka tidak diminta untuk menganalisis penyakit seperti dokter pada umumnya, namun mereka dilatih untuk menghadapi pasien dari berbagai kalangan.

Karena peserta acara studi banding sangat banyak, mereka di bagi dalam 5 perkampungan berbeda. Setiap tim dari satu universitas dipecah dan dibiarkan berbaur dengan peserta dari universitas lain. Bagi Sabira kegiatan seperti ini bukanlah hal yang asing. Ia sudah melakukan kegiatan bakti sosial sejak duduk di bangku SMP. Ia sangat senang membantu orang lain sehingga Sabira memutuskan untuk menjadi seorang dokter.

Para peserta perempuan ditugaskan untuk membawa obat obatan dasar sementara yang laki-laki akan membawa sembako. Ketika semua orang sudah turun, Abbyan masih duduk di kursi busnya dan memandang keluar dengan saksama. Ia bertanya tanya pada dirinya sendiri apakah ini sesuatu yang ingin ia lakukan seumur hidupnya? Bersedia membantu, melayani dan menyembuhkan orang lain padahal dirinya sendiri masih sakit? Rela menghabiskan hari-harinya untuk siap siaga di ruang dokter dan mendengar rintihan rintihan para pasiennya?

Abbyan masih membayangkan dirinya menghadapi fisika dasar yang benar benar ia sukai semenjak SMA dan mesin mesin yang harus ia operasikan bahkan harus ia benarkan sendiri.........

"Abbyan!" Suara seorang gadis membuyarkan lamunan Abbyan dan menghilangkan senyum yang mulai mengembang di wajahnya. Gadis itu berdiri sambil memandang Abbyan heran, "kerjaannya di bawah banyak, ngapain lo malah ngelamun disini?"
Duh, Sabira.... Abbyan menggerutu.
"Gue mual." Jawab Abbyan singkat.
Sabira memutarkan bola matanya, "gak usah sok jutek gitu, gue tau lo tadi juga cuman refleks doang karena kebiasaan kita dulu-"
"Gak usah bahas dulu." Sahut Abbyan memotong ucapan Sabira, "tau apa lo masalah dulu?"
Mampus! Umpat Sabira mengingat ialah yang meninggalkan Abbyan. "Udah deh, By.. Cepet turun. Cadok tuh harus punya simpati dan empati-"
"Gak perlu ceramah, gue juga cadok, gue ngerti-"
Sabira mulai emosi, "gue tau lo ngehindarin hal hal seperti ini, gue tau lo gak suka baksos besar besaran kayak gini karena lo ngerasa pencitraan atau apalah. Tapi lo cadok, By. Dan lo punya tanggung jawab untuk masyarakat."
"Lo mengharapkan gue ngapain?" Tanya Abbyan ketus.
"Ya turun kek, kerja kek. Lo ngapain ikut acara ginian kalo gak mau terjun ke masyarakat? Lebih tepatnya elo ngapain masuk kedokteran kalo gak ngapa ngapain?"


Abbyan hanya diam tidak menjawab, ia memalingkan pandangannya dari Sabira. "Itu urusan hidup gue, lo udah gak berhak ikut campur lagi."
"Mending lo balik deh, By!" Suara Sabira terdengar menghardik, emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi. "Makanya dulu gue ninggalin elo karena elo sudah memilih tapi elo gak bisa bertanggung jawab akan pilihan lo. Gue tau kok nilai lo bagus bagus sekarang, tapi apa gunanya kalo lo gak mencintai diri lo sendiri?"

Abbyan menggeleng tidak percaya saat mendengar perkataan Sabira. Sabira meninggalkannya hanya karena masalah kedokteran?

"Apa segitu cintanya elo sama kedokteran sampe elo ninggalin gue yang setengah setengah di bidang itu? Iya?!" Bentak Abbyan pada Sabira yang menyebabkan gadis itu mundur satu langkah.
"Kalo lo gak bisa mencintai diri lo sendiri, gimana lo mau mencintai gue?" Tanya Sabira dengan suaranya yang bergetar.
Abbyan ternganga, "Bia...."
"Makanya gue ninggalin elo, By. Karena gue gak bisa mencintai orang yang gak mencintai dirinya sendiri. Terlebih.." Sabira menghela napas, ia mengumpulkan keberaniannya, "untuk apa yang lo lakukan satu setengah tahun terakhir setelah kita putus. Kasar, gue terus terusan lo bentak. Gue tau gue salah, tapi elo.. Elo sendiri yang membuat gue memilih untuk pergi."



Abbyan merasa hatinya tercabik cabik hari ini. Ingatannya kembali ke tiga setengah tahun yang lalu... Betapa sabarnya Sabira menghadapi Abbyan.. Betapa tidak tahu dirinya Abbyan terus membentak Sabira...

***

Stasiun Gambir, Jakarta 2016

"Gue kira lo mau nginep di rumah dulu. Gila lo langsung mau cabut lagi, De..." Ujar Dara, kakaknya Yara setelah mendengar penjelasan adiknya mengapa ia minta untuk dijemput di Gambir. Yara biasanya melakukan semua hal sendiri. 


"Lo kapan ke Purwokerto, Kak?" Tanya Yara mengalihkan pembicaraan. Kakaknya menggeleng, "gak tau, De. Yang jelas sebelum balik ke Australia, gue mau jemput nyokap dan elo juga kalo lo bisa.. Bentar lagi kan gue wisuda."
"Daddy apa kabar?"
Dara hanya tertawa kecil, "masih mencari cinta kali, gue udah pisah rumah sama Daddy semenjak awal tahun ini. Lo mau kemana tadi?"
"Bandung."
"Ngapain? Ketemu dia?" Tanya Dara dengan nada menggoda adiknya.
Yara tertawa, "bukan dia, Kak.. Gue kan udah lost contact lama banget sama dia. Gue mau ada tugas jurnal gitu, sekalian gue ketemu sama gebetan gue."
"Ah masa sih lo punya gebetan? Akhirnya ada juga yaaa yang menarik buat adik gue ini."
"Tapi gue di UNPAD nih, Kak. Semoga gak ketemu deh ya.."
Dara mengerutkan keningnya, "kok gitu?"
"Gue kangen... Tapi gue takut...."


***

Perjalanan kembali ke Jatinangor terasa memakan waktu 2 kali lipat lebih lama daripada tadi pagi karena dinding pembatas antara Abbyan dan Sabira menjadi jauh lebih tinggi lagi. Setelah adu mulut tadi siang, Sabira pergi sambil menangis sementara Abbyan hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya. Akhirnya setelah 2 tahun ia menyalahkan Sabira setiap harinya, ia baru sadar bahwa perginya Sabira juga ada sangkut paut dengannya.

Sesampainya di Asrama, Abbyan langsung mandi dan meraih jaketnya. Ia lalu keluar dari kawasan UNPAD dan berjalan kaki menyusuri jalan Jatinangor. Ia ingin mencari tempat untuk berpikir, ia rasanya ingin sekali meminta maaf pada Sabira tapi ia belum yakin sepenuhnya bahwa itu adalah alasan yang logis untuk Sabira meninggalkannya.

Langkah kakinya cukup jauh sampai akhirnya ia berhenti di depan salah satu kedai kopi di pinggir jalan. Abbyan lalu masuk ke kedai tersebut dan duduk di salah satu meja dekat dengan jendela. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan laptop serta earphonenya. Beberapa saat kemudian seseorang menghampirinya sambil membawa menu.

"Selamat malam, selamat datang di Cafe Hampavala, dengan saya ownernya Ashqamajid, mau pesan apa malam ini, Mas?"
Abbyan tidak membuka menu yang di letakkan di mejanya, ia hanya berkata, "satu Ice Americcano ya, Mas. Password wifinya apa?"
"SabiraSyakilaPane. Disambung ya, Mas. Terima kasih..."

Ketika orang tersebut berbalik meninggalkan Abbyan, cowok itu baru tersadar akan password wifi dengan nama yang sangat familiar untuknya. Ia langsung bangkit dari duduknya dan mengejar pelayan itu.

"Mas Majid?"

"Aby?"


To be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}