"Demi Menyelamatkanmu, Tuhan Mematahkan Hatimu."

"Ini bukan karena gak ada yang mau usaha, tapi kalo usaha pun emang gak ada ujungnya kan?" Tanya gue sambil harap harap cemas, alih alih dia menyangkal dan gue tambah sedih lagi.

Dia bales cukup cepat, "iya kayak udah ngeprint ppt dari dosen buat belajar UTS tapi dosennya malah minta kita presentasi, useless."

Kali ini gue gak sok kuat, gak pura pura bahagia dengan ngomong "iya gue udah baik baik aja kok" atau caper biar dia stay.  Enggak kok. Gue cukup lega.

Kemarin gue minta sama dia buat balik sama persis ke hari pertama kita mulai ngobrol, jelas dari segi bahasa dan bahasan gak akan lagi ada pertanyaan "kamu dimana" "aku udah makan yaa" "kamu tidur gih kalo gak tidur sekarang aku gigit nih!" dan lain lain.

Nyesel gak? Enggak.

Karena dia sebenarnya datang di saat yang sangat tepat di mana gue butuh tamparan untuk bisa berjuang lebih keras di LSPR. Semalem dia bilang, "udah cari sana yang lebih dari gue, banyak tuh di LS" and I'm like, "masih banyak yang mau gue kejer" HAHAHA. Because its true, ketika gue ketemu dia, gue membuat banyak excuse untuk gak melakukan A, menunda B, lebih mending nunggu telpon dia dan lain-lain. Membuktikan bahwa sampai saat ini gue gak bisa mengurusi kerjaan dan hati secara bersamaan dengan becus.

Dia itu adalah kumpulan segala kebaikan dari cowok cowok yang dulu mampir di kehidupan gue. Sosok Greys, Romeo, Jasper, Seth, Kesatria, Cody, Kakak kelas gak tahu diri itu HAHA dan mantan terakhir gue ngumpul jadi satu di dia. Semuanya serba kebaikan. Punya goals, punya passion yang dia dalami, loyal sama sahabat sahabatnya, belum pernah aneh aneh sama cewek, sayang keluarga, konsisten, punya organisasi, pinter ngelola duit, punya strategi ini itu, perhatiannya luar biasa, mau usaha, dewasa, taat sama agamanya....

Iya, sayangnya cuman satu kok... Berbenteng sama gue.

Jadi seperti yang gue bilang di snapchat gue, kalo mau move on, jangan setengah setengah. Jangan pergi sambil bilang "aku gakpapa kok, aku harap kamu bahagia ya sama yang lain" because that's totally a bullshit. Gue gak mau suatu hari nanti gue lagi ke kampus B/C dan ketemu dia, gak bisa nyapa dan kita jadi stranger gitu aja. Gue gak mau hati gue egois dengan bilang, "dia udah nyakitin gue, males banget sapa sapain dia" gue gak mau.

Lagian ceritanya sekarang adalah bukan gak mau usaha, maksud dia juga bukan nyakitin gue. Gue yakin kok dia akan sangat berusaha untuk gue, tapi usaha kita buat apa nantinya... Pointless.

Lalu gue teringat pada quotes yang anak kabinet LSRadio kirim pas gue lagi dicengcengin masalah dia di grup...

"Demi menyelamatkanmu dari orang yang salah, Tuhan mematahkan hatimu."

Dia bilang sama gue, "jangan salahin Agama kita. Tuhan kamu dan Tuhanku gak salah. Keadaannya yang gak bisa."

Mungkin Allah mempertemukan kami supaya gue sadar ada hal yang lebih besar yang harusnya gue kejar. Allah tahu dia bisa nampar gue. Allah tahu gue harus merasakan pengalaman ini supaya gak jatuh untuk kedua kalinya lagi. Allah menyelamatkan gue sebelum gue lebih sayang lagi sama dia dan malah putus begitu saja. Alhamdulillah, inilah yang gue percaya.

Seperti dia juga percaya pada Tuhannya, apa yang dianutnya dan segala hal yang harus dia pertahankan. Gue salut banget dia gak lewatin benteng kami.

Gue sangat bersyukur pernah menyayangi orang yang lebih sayang sama Tuhannya daripada sama gue.

Jadi setelah kemarin sore gue ngomong sama dia, dia kembali jadi dia yang dulu, dia yang asik, dia yang pertama kali gue kenal. Kami sempat bahas tentang kami sampai akhirnya gue bilang, "doain kek biar aku gak sedihin kamu terus."

"Simple, just dont put me on your mind."

Iye, I won't. Hidup gue aja ribet sekarang wek. Terima kasih Ya Allah, untuk mempertemukanku dengan dia.

Jadi begini guys namanya perasaan..

Kita bisa bertemu dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat tapi keadaan malah yang menjadi penghalangnya. Kalo gini ceritanya bukan lo gak worth it, lo sangat worth it ketemu sama orang yang lebih baik dari dia.

Kita butuh jujur untuk bisa benar benar melepaskan orang yang kita harapkan. Emang gak enak sih, posisi di mana elo mau berjuang, elo mau diperjuangkan, tapi malah kayak gini jadinya. Lah mau gimana lagi? Yasudah.

An ex-almost, hopefully, you do find your happiness.


ps: Kalo gue sampe cerita soal dia lagi, berarti gue orang bego yang gak mau move on dari keadaan kayak gini. Sayangnya gak bakal lagi kok gue nulis. This is my last. We've already letting go each other:)



You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}