Review HAMILTON (An American Musical) performed by LSPR Teatro : The Power of Performing Arts Communication

Look around.. Look around...

*berputar putar*

Hari Jumat, 18 November 2016 gue dan setengah anak kelas gue nonton teater hasil LSPR Teatro di kampus B. Sayangnya gue dapet tiket di bagian paling belakang, tapi seneng bangeeeeet nontonnya hahaha. Hari itu gue seharian di radio setelah mengurusi beberapa tugas gue termasuk rombak lucu script teater PAC gue. Seperti yang gue ceritakan di beberapa postingan gue yang kemarin, kelas gue kebagian jadwal perform teater untuk kelas Introduction to Performing Arts Communication itu Januari 2017. DAN! DAN! Berarti dua bulan dari sekarang;)

Karena kemarin kita baru kelar UTS, jadi dosen kelas kita, Miss Patricia Vicky Sihombing menginstruksikan untuk nonton teater dari LSPR Teatro hitung hitung buat nilai tambah dan observasi tempat. Oh iya, teater gue itu diadakannya di auditorium di kampus lho dan insya Allah dibuka untuk umum, nonton ya!

Kalo kalian mau tau sinopsis dari Hamilton, boleh cek di link ini ya;)


Teater yang dibawakan oleh LSPR Teatro untuk produksi ke 16nya ini berjudul Hamilton. Kalo kalian suka broadway, musical, teater dan lalalalanya pasti udah sering denger ya. 

Sementara gue, gue adalah orang yang awam dalam dunia teater tapi gue cukup mengerti dalam dunia performing sebatas vocal dan dance. Serunya di teater Hamilton ini karena emang musikal jadi SUPER PUAS! Mulai dari musiknya, nyanyinya, dancenya, actnya, lightingnya:”}

Teater ini terbagi dari 2 ACT dan durasinya sekitar 2 jam. Di ACT pertama ada 20 lagu dan di ACT kedua ada 15 lagu. Teater ini di direct oleh tiga orang yaitu Kak Rizky Alfiandri, Kak Hawila Septiana dan Kak Putri Saud. Untuk Producer Managernya ada Kak Christie Marine dan asstnya ada Kak Shafinaz Nachiar. Ohiya dalam produksinya ada dosen gue dan asdosnya lho! Kalo Miss Vicky jadi Executive Producer sementara asdosnya, Kak Fadi Hafizan S bermain sebagai George Washington.

Gue disini gak ngebahas tentang cerita Hamilton atau mengkritiknya, karena gue awam banget tentang teater. Tapi kalo liat dari hasil produksi LSPR Teatro ini bikin gue sadar kalo bikin pertunjukkan kayak gini tuh sulit banget, sister! Dan gak ada satupun orang yang perannya bisa dikategorikan “paling penting” menurut gue, karena banyak aspek yang harus kita lihat.

Kayak lihat deh panggungnya, kalo lo gak punya set designer yang bagus, lighting yang tepat dan musik yang asik, pertunjukkan lo ya cuman gitu gitu aja. Kalo lo punya pertunjukkan yang wow tapi tim publikasi lo gak cihuy, lo gak punya sponsorship yang bagus, ya sia-sia aja. Jadi sebuah pertunjukkan, artis, producer manager, director dan lain-lainnya bukan apa-apa tanpa satu sama lain. Mungkin ini yang pengen Miss Vicky kasih tau ke kami, kalo kelas PAC kami bukanlah apa apa kalo kami gak mendukung satu sama lain.

Main cast dari teater ini juga punya suara yang luar biasa menurut gue. Ada Kak Gerardo Tanor sebagai Alexander Hamilton, Kak Anindita Alifani sebagai Elizabeth Schuyler dan Kak Elhaq Latief sebagai Aaron Burr. Ketika banyak temen temen gue yang terpaku pada tokoh Elizabeth, gue malah lebih suka tokoh Angelica Schuyler yang diperankan oleh Kak Neliz Samala.

Pada ACT 1 di lagu Satisfied, entah kenapa gue merasakan patah hati terhebat. Jadi ceritanya, Angelica mengenalkan Hamilton pada saudara perempuannya, Elizabeth. Lalu Hamilton dan Elizabeth jatuh cinta, mereka pun menikah. Pada lagu Satisfied, awalnya Angelica mendoakan saudaranya supaya berbahagia dengan Hamilton. TAPI TERNYATAAAAA Angelica suka sama Hamilton dan ya Allah subhanallah, dia ngelepasin Hamilton buat saudaranya walau sebenarnya dia kecewa dan gak rela. Berikut lirik yang paling gue suka dari lagu Satisfied.

I know my sister like I know my own mind
You will never find anyone trusting or as kind
If I tell her that I love him she’ll be silently resigned
He’d be mine
She would say, “I’m fine”

She’d be lying

He will never be satisfied
I will never be satisfied

Menurut gue, Kak Neliz Samala berhasil membawa suasana penonton ke perasaan marah, kecewa dan patah hati sekaligus. Didukung dengan suara merdunya, musik dari LSPR Band yang keren, tarian dari LSPR Dance yang pas banget (ya Allah gak ngerti lagi gimana orang bisa mengkomunikasikan perasaan mereka lewat movement, itu keren banget sih) dan lightingnya yang cakep. Pokoknya gue patah hati banget deh, best scene menurut gue;)



Ohiya yang main di teater ini atau masuk ke club teater, dance, choir, band dan hal hal yang termasuk performing arts gak semuanya anak PAC lho. Jadi kalo di LSPR tuh kayak semua orang bisa melakukan “komunikasi” lewat caranya masing masing. IH SERU BANGET SEBEL MAU PAC!!! Hastag #AnakGagalGakBolehPAC #BingungPRatauMassComm #MauNikahAjaTapiBelumPunyaCalon :{

Hamilton masih main nih sampe hari ini, tapi gue gak tahu masih ada tiketnya atau enggak. Cuman dari nonton satu teater ini, gue menyimpulkan bahwa jurusan Performing Arts Communication itu gak gampang. Bukan cuman sekedar gimana musik, vokal, movement lo lewat dance dan acting lo harus jago. Tapi gimana caranya kita bisa menyampaikan pesan kita, mengkomunikasikannya pada audience kita lewat elemen elemen performing arts.

YUHUUUUUU!

Tadinya gue sempet pesimis gitu lho sama teater gue, tapi setelah nonton ini, YES MAN! Kita harus kuat! Semangaaaaaat! *pelukin anak anak 20-9A satu satu* *kecuali Yoyon soalnya Yoyon jahat sama aku* *dan kecuali Nicky soalnya nyebelin* *dan Evan* *dan Chelsea juga gak mau mami peluk ah* HAHAHA.



Ih sebel! Gak sempet foto bareng! Kebiasaan deh 9A:[ But overall, goodjob LSPR Teatro!


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}