Why don't you just say sorry?


Ada apa dengan kata maaf?

Sebenarnya zaman sekarang orang mulai acuh tak acuh dengan kata tolong, maaf dan terima kasih. Apalagi semenjak ada kata lebay (berlebihan) dan "baper" yang merupakan singkatan dari "bawa perasaan" semakin populer di kehidupan sehari-hari. Kenapa menurut gue begitu? Karena semenjak ada kata lebay dan baper, orang jadi lupa akan cara memaknai dan menghargai perasaan orang lain.

Suatu sore disela sela lain main ke London School Radio, gue dan beberapa teman gue dihampiri oleh kakak kakak dari kelas Public Relation Excellent Batch 19. Mereka memperkenalkan diri sebagai Group 3 Creative PR & Publicity yang lagi punya project bertajuk "Say Sorry" dan butuh bantuan kami buat ikut kampanyenya.

Say Sorry cukup menampar gue dengan fakta bahwa gak semua orang minta maaf dengan tulus dan ikhlas. Jangankan cuman tabrakan dan bilang "sorry" atau "maaf" dengan cepat, kadang ketika kita bener bener melakukan kesalahan, kita hanya bilang kata "maaf" untuk sekedar formalitas. Sebenarnya apa sih maaf itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata maaf adalah pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan; ungkapan permintaan ampun atau penyesalan; ungkapan permintaan izin untuk melakukan sesuatu.

Gue suka pengertian poin yang kedua: ungkapan permintaan ampun atau penyesalan. Gak semua orang benar benar memaknai kata maaf itu makanya kampanye "Say Sorry" mengajak kita untuk lebih sadar akan makna penyesalan.

Banyak di antara kita yang menganggap di dunia ini tuh pasti wajar aja kalo kita melakukan kesalahan. Jadi buat apa sih kita minta maaf? Nah, itu tuh mindset yang salah. Gue pribadi walaupun tahu gue akan melakukannya lagi, tapi gue lebih suka minta maaf karena semakin lama gue akan semakin sadar diri dan prilaku buruk itu akan perlahan lahan menghilang.

Seperti kata Kak Nada Mulya, salah satu anggota grup tersebut, dia percaya akan proses. Walaupun dia tahu orang yang menyakiti dia bakal melakukan hal itu lagi, dia lebih suka menerima maafnya, karena secara gak langsung akan ada interaksi di mana Kak Nada bisa kasih semacam wejangan supaya orang tersebut bisa berubah. Berubah memang sebuah proses, gak ada yang bisa kayak Cinderella dengan tongkat ajaib Ibu Peri langsung menjadi orang yang baru. Tapi kalau mau usaha, pasti bisa kan?

Jadi kampanye "Say Sorry" ini bertujuan ingin mengajak anak bangsa di generasi ini untuk gak cuman menggunakan kata "maaf" tapi juga memaknainya. Yuk yang kepo sama PR Project ini, langsung aja buka instagramnya disini.



Let's say sorry because its never too late;)



Sincerely,
Tipluk
Calon Public Relations yang galau soalnya MassComm juga seru.


You may also like

2 comments:

  1. Iya. Banyak orang ngelakuin kesalahan dan berkilah, "Kan aku uda minta maaf!"

    Ya kali kalok dimaafin. Kalok enggak? Bikin gemes -_-

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}