What I Have Been Believing

Gue semakin percaya bahwa banyak orang yang dipertemukan dengan kita untuk kasih pelajaran dan tamparan. Allah akan selalu punya caranya sendiri buat bikin hidup umat-Nya menjadi jauh lebih baik.

Gue belajar bahwa dalam hidup ini ada tiga komponen penentu yang merupakan acuan kita untuk menentukan sikap dan pilihan kita; persepsi, logika dan perasaan. Gue percaya tiga hal tersebut punya peran dan porsi masing masing, gak bisa benar benar disama rakatakan. Ada racikan tersendiri bak bumbu masakan yang pastinya punya resep masing masing. Beda koki,  beda juga takarannya.  Mungkin ada yang satu sendok makan gula,  ada yang hanya setengah, sejumput atau tidak sama sekali. Tidak pernah pasti,  tapi sama sama punya alasan tersendiri.

Gue gak bisa bilang bahwa gue telah melakukan kesalahan dan tidak mau dihakimi karena gue juga langsung memaafkan orang tersebut setelah dia menyakiti gue. Gue juga melakukan kesalahan bukan karena ingin membalaskan dendam gue. It just happened as gue berpikir hanya lewat persepsi dan perasaan gue,  tanpa pakai logika dimana hal yang gue lakukan akan berdampak fatal bagi hubungan gue sama dia.

Gue juga gak bisa menyalahkan dia dengan persepsi dan logikanya. Logikanya bahwa dia gak bisa mengerti apa yang gue rasakan atau persepsinya yang berbeda dengan persepsi gue. Jelas beda,  karena kami mengambil dari perspektif yang berbeda.
Pertama kalinya dalam 18 tahun gue dibentak saat gue nangis dengan kalimat,  "cuman orang bodoh yang nangisin kesalahannya sendiri" dan pada saat itu berasa Sudirman Park kebakar,  boom!

Gue menyakiti orang lain demi tidak menyakiti diri sendiri.

Gue pun bertanya tanya pada diri gue,  apa yang harus gue lakukan ketika dia bilang maaf gak akan mengembalikan patahan piring yang sudah pecah? Gue harus gimana?
Sampai akhirnya gue sadar bahwa ketika kita melakukan sesuatu,  kita harus bisa menyeimbangkan ketiga faktor tersebut.  Lo punya hati dan otak. Biarkan kedua hal tersebut yang membentuk persepsi lo akan suatu hal, bukannya menyampingkan salah satunya.  Walau porsi logika dan perasaan gak akan sebanding,  tapi setidaknya,  semua hal harus dipertimbangkan dulu.

Gue pun menulis plot untuk trilogi cerpen Atas Nama Persepsi,  Logika dan Perasaan di mana gue akan menceritakan kenapa sih lo harus melakukan pertimbangan untuk mendapatkan A,  B, C dan D..

Kelihatannya sih ribet,  tapi gue percaya banget kalo dilatih,  lama lama kaya biasa aja.
Karena lucunya di dunia ini saat lo merasa jadi korban,  justru elo lah penjahatnya. Dan bisa jadi kebalikannya:)

Malam itu dia bilang,  "pikir dong udah 18 tahun masih kayak anak anak gini."

Waktu itu gue nangis dan kecewa, tapi saat gue pikir pikir lagi..  Mau cari solusi sampe ujung dunia pun,  semesta alam akan bilang,  "itu kan salah lo,  ya biarin aja deh kalo dia pergi" tapi gak bisa gitu.  Allah pasti punya maksud tersendiri dan gue berkesimpulan bahwa...

Pada akhirnya gue harus belajar untuk tahu tempat, kapan bisa egois,  kapan harus logis,  kapan harus mikirin hati..  Semuanya harus dipikirin dampaknya. Biar gak kayak gini.
Karena kalo gue cuman liat dari persepsi dan perasaan gue,  gue akan membela diri bahwa yang gue lakukan atas nama menenangkan hati sendiri.  Tapi kalo liat dari persepsi dan logikanya,  gue tidak menghargai dan meragukan dia.  Which means,  sangat pantas jika dia kecewa sama gue.

Andai hari itu perasaan gue mencoba menambahkan logika ke dalam racikan keputusannya sebelum menbentuk sebuah persepsi...

Tapi tanpa kejadian ini gue gak pernah tahu kalo Allah sayang sama gue. Terima kasih banyak. Ini bukan sekedar gue yang gak berani lagi,  tapi ternyata sikap gue malah merugikan dan menyakiti orang lain. Gue sangat belajar dan tertampar kali ini:)

Btw,  selamat ketemu Irgi-Chita-Kila ya Jumat ini.  Hopefully cuman selang beberapa hari untuk rilis ketiga serinya:)


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}