[FLASH FICTION] Terjebak

Siapa yang bisa membohongi perasaannya sendiri?

Marco sebenarnya tahu dari awal apa maksud dan tujuannya mendekati gadis itu. Ia hanya ingin menarik gadis itu lebih dalam lagi supaya tidak meninggalkan club teater kampus mereka. Bukannya Marco pesimis dengan Carla yang sudah lebih dulu menjadi kandidat directornya,  tapi ia sebagai production manager tahu siapa yang lebih pantas memegang script tersebut.

Gadis itu berjalan di belakang Marco sambil agak terseok seok,  kakinya memang baru saja terkilir. Sementara itu Marco tidak pernah bisa jalan lebih lambat dari yang sedang ia lakukan, ini sudah menjadi kebiasaannya. Baginya tidak ada waktu untuk bersantai santai.

"Kak Marco!" Seru gadis itu mencoba menghentikan langkah Marco. "Kak, Rachel tuh lagi sakit. Nih lihat, Kak Marco tau sendiri." Keluh gadis itu lalu seketika menghentikan langkahnya,  "kamu jalannya pelan pelan kek,  Kak!"

Marco menoleh lalu tertawa,  "aku gak bisa, udah kebiasaanku Chel."
"Ya cobalah lebih pelan kalau sama aku, kamu juga tahu aku gak suka buru-buru." Sergahnya kesal.
Marco menghampiri gadis itu lalu tersenyum kecil,  "masa gak suka buru-buru?" Goda Marco sambil tertawa.
"Ih Kak Marco!" Rachel tersipu malu. "Nikmatinlah proses yang ada."
"Iyaa,  pokoknya kamu latihan yang bener di teater. Masih ada 2 minggu lagi sampai pemilihan director dan bakal ada 2 director, kan keren kalo kamu bisa.."

Rachel terdiam, "aku kan baru setahun di teater. Masa sih,  udah bisa jadi director?"
"Kalo kamu mampu kenapa enggak?" Suara Marco melembut, "lagian aku yakin kamu bisa."
"Kita begini..  Apa gakpapa?" Tanya Rachel tiba tiba.
"Maksud kamu?"
Rachel menggeleng,  "eng..  Enggak. Kamu gak akan ninggalin aku gitu aja kan, Kak?"

Marco langsung mundur beberapa langkah,  ia tiba tiba merasakan atmosfer yang berbeda. Kenapa jadi... Begini?

"Ya enggaklah,  kita kan teman."

Wajah Rachel berubah menjadi kecewa,  "haha iya,  teman ya,  Kak."
"Dan teman yang baik gak akan ninggalin temannya."
"Iya,  aku setuju sama kamu.. Udah yuk,  aku mau beli dolce latte." Ujar Rachel sambil berjalan mendahului Marco.

Sementara itu Marco terdiam memperhatikan Rachel dari belakang.  Ia nyaman dengan gadis itu,  namun disisi lain perasaan nyaman itu tidak bisa dideskripsikan dalam bentuk sebuah hubungan.

Padahal Marco hanya ingin dekat dengan Rachel, karena itulah ia jadi sering menghabiskan waktu dengan gadis itu. Namun siapa disangka bila mereka malah berakhir dengan saling flirting dan mengabari tanpa jeda setiap harinya?

Jika Rachel akhirnya memiliki perasaan pada Marco, bukan salah gadis itu.  Marco paham akan teori dimana bisa karena terbiasa. Namun ia sendiri ragu apakah dirinya akan merasakan yang sama atau tidak...

Mungkin saja tidak,  jika ia masih teringat pada Ayu, mantan teman berkomitmennya yang berpisah dengan Marco pertengahan tahun lalu. Tapi jika Ayu tidak ada dibenaknya ia malah semakin penasaran untuk menggali dan menggali lagi semha tentang Rachel.

Seharusnya Marco tidak begini. Ia harusnya bisa profesional. Ia harusnya hanya berteman secara dekat supaya Rachel semakin mau untuk menjadi pendamping Marco pada posisi director. Semua ini awalnya hanya masalah pekerjaan. Tapi begitu ia tersadar hatinya malah terjebak pada permainannya sendiri.



produktif2017
team no sleep 2 hari



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}