[FLASH FICTION] Spektrum Rahasia: Senja Pertama Bertemu Denganmu

Sore itu aku tidak punya rencana untuk bertemu denganmu. Hanya saja rasa penasaran muncul begitu saja kala kamu bilang kamu ada di sekitar situ. Aku bertanya-tanya apakah ini terlalu cepat untuk mengutarakan hal ini.. Aku ingin bertemu denganmu namun aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya.

Kamu pun bertanya, "kamu di mana? Kok aku gak lihat kamu?"

Melihat pesan itu pun aku tersenyum. Sejujurnya sore itu Natasha sudah dijemput oleh Ibunya dan aku sudah berjalan kembali menuju rumahku. Namun aku masih penasaran.. Penasaran ingin melihat wajahmu. Penasaran ingin mendengar suaramu. Penasaran ingin memastikan apakah degup jantung itu akan sekencang saat pertemuan pertama di kafetaria hari itu.

Lalu aku berbohong, "aku deket situ kok. Kenapa? Kamu mau ketemu?"

"Hmm.. Hahaha." Jawabanmu tidak jelas. Kamu tampak agak berpikir atau sebenarnya kamu sama ragunya denganku? Kamu sama ragunya tentang tindakan ini? Apakah ini benar atau tidak?

Lalu aku pura pura berkata, "hmm yaudah tunggu. Aku samperin kamu."

Siapa sangka senja kali itu akan terasa sangat menyenangkan? Bahkan melewati koridor luar kampus yang tidak pernah aku suka karena keramaiannya pun jadi terasa tidak masalah. Beberapa langkah kemudian aku menemukan kamu bersembunyi di balik hoodie-mu dan duduk di pinggir kursi.

Kamu tersenyum kecil, salah tingkah, "di.. Disini ada ATM BCA gak sih?"

"Hmmm, ada. Kenapa? Kok kamu di luar sih?"

"Hmm.. Aku mau transfer, yang balikin uang itu lho -temenin yuk."

Lalu senja itu, pertama kalinya, untuk pertama kalinya, aku berjalan bersama kamu.

Kamu  berjalan jauh lebih cepat dari siapapun yang pernah aku kenal dan aku tidak pernah suka itu. Sembari berjalan, kamu membuka sedikit cerita dan diselingi tawa dari masing-masing; memang terdengar canggung, tapi rasanya selalu menyenangkan bersama kamu.

Setelah itu kamu mengantarkan aku pulang sambil bercanda tentang tugas tugasmu yang mulai menumpuk. Aku masih saja mengeluh tentang kamu yang berjalan sangat cepat dan kamu masih saja berjalan secepat itu.

Lalu kita berdua berdiri di depan rumahku dan sama sama terdiam. Terdiam cukup lama, saling tersenyum satu sama lain dan mencoba mencairkan suasana.

Kamu berbisik, "aku sampe malem ya.."

"Kamu pulang malem terus, gak cape apa?"

"Ya.. Mau gimana lagi.."

"Kapan kamu istirahatnya? Weekend ini istirahat dong.."

"Nanti juga kamu ngerasain." Katamu sambil tertawa.

"Yaudah, kalo udah kelar kabarin.."

Kamu mengangguk kecil, "iyaa. Aku nugas dulu ya, dadah."

Kita saling melambai dan aku melihat punggungmu berjalan menjauh meninggalkanku. Cerita ini mungkin terdengar klise, tapi setiap kali aku berjalan di tengah senja, aku selalu ingat cerita ini dan semua tentangmu.

Lalu ketika aku tersadar, aku hanya bisa berdiri terpaku. Mencoba menerjemahkan segala yang telah berubah; kamu tidak ada lagi. Kamu dimana? Apakah kamu baik baik saja? Cukupkah tidurmu di malam hari? Apakah kamu akan melewatkan setiap makan siangmu? Ataukah kamu terlalu sibuk sampai hanya secangkir kopi yang menemanimu?

Kepergianmu kali ini mungkin tidak lagi sementara; mungkin kamu akan pergi selama-lamanya. Namun aku masih saja menunggu kabar darimu atau sekedar mengingatkan semua jadwal harianmu. Kamu dan segala ketidakpastianmu, kamu dan segala kejutanmu, kamu bagaikan kotak penuh kebahagiaan untukku.


Untukmu, Marco..


Tidak ada senja lain yang lebih baik daripada senja pertama kala aku bertemu denganmu.


Tapi bilamana kamu adalah yang baik,
mengapa kamu pergi?



Ayo, pulang kembali..



Rachel.




Jakarta, 25 April 2017
Terkadang rindu
Terkadang benci
Namun lebih banyak bersyukur.


You may also like

1 comment:

  1. Wah, baru berkunjung ke blog ini lagi dan templatenya udah berubah.

    Keren,

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}