[FLASH FICTION] Spektrum Rahasia: Who am I to you?

Cause after all this time no matter how I've tried to find another one, 
it's never been enough but you are more than just precious.
Please, stay alive. 
Be happy.

***

Rachel menundukkan kepalanya, berusaha mengalihkan pandangannya. Ia mungkin berhasil kabur dari apa yang ada di hadapannya,  namun pikiran dan pendengarannya tidak begitu. Suara gelak tawa yang khas dari laki-laki itu terdengar nyata di telinga Rachel. Tidak, tidak hanya suara itu tapi ada suara lain. Iya. Dia. Perempuan itu.

Abigail Christa Rachellita beberapa menit yang lalu yakin ia akan baik baik saja. Tetapi kini pertanyaan mulai bermunculan di benaknya, kenapa Marco kenapa? Kenapa permainan siapa yang lebih bahagia dari siapa masih saja membunuhnya?

Rachel sadar betul sebenarnya setelah Marco menarik diri, lelaki itu sudah memberi kejelasan bahwa hubungan mereka sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Terlepas dari ia merupakan Production Manager dari teater yang dipimpin oleh Rachel.. Terpelas dari ia adalah kakak tingkat yang berhasil membuat Rachel sadar akan apa yang selama ini ia bisa berubah sejauh ini.. 

 Rachel sadar bilamana Marco pergi, ia tidak punya hak untuk menahannya tetap tinggal. Bahkan untuk alasan apapun, ia tidak pernah bisa.

"Chel, bentar lagi kita masuk ke act 2 ya. Lo langsung ke Audit dong!" Seru Livia, kakak senior Rachel dari belakang. Suara Livia yang cukup menggelegar tidak membuat fokus Rachel berubah, telinganya masih saja berusaha mendengarkan percakapan Marco dengan gadis itu. 

Livia menghela napas lalu berkata, "if you love him,  let him go."
"Kadang aku bingung,  Ci.." Suara Rachel terdengar lirih. "Aku bingung kenapa semudah itu Marco melupakan aku -atau mungkin aku yang terlalu mengecewakannya sehingga buat dia aku gak sebegitu berharganya."
"Gak gitu, Chel.." Livia menghampiri Rachel lalu membelai rambut adik tingkatnya itu. "Namanya juga dua orang yang berhubungan, sekedar cocok saja tidak membuat kalian bisa bertahan lama. Mungkin bukan Marco orangnya, atau untuknya, bukan kamu yang dia cari.."

"Rachel iri deh, Ci." Ujar Rachel sambil tertawa kecil. "Kenapa ya Marco bisa secepat itu dekat dengan orang lain? Selama ini apa arti kehadiran Rachel buat dia? Apakah ketika kita kecewa, kita akan dengan mudahnya menggantikan posisi seseorang dengan orang lain?"

Livia memilih untuk diam, ia tahu bukan kapasitasnya untuk menyampaikan apa yang sebenarnya Marco rasakan. Sesungguhnya dari kejauhan pun Livia sadar gelak tawa Marco tidak setulus yang orang lain lihat; ia diam-diam masih memperhatikan Rachel. Ia tahu permainan siapa yang lebih bahagia dari siapa bukan tujuan utama Marco, ia hanya ingin Rachel juga bisa menemukan kebahagiaan di hidupnya meski mereka sudah tidak bersama.

Sementara Rachel memandang Marco dari sisi lain. Ia marah, ia kecewa, ia merasa apa yang dilakukannya untuk Marco selama ini sia-sia. Jika setelah ia pergi Marco tetap baik baik saja, bahkan jauh lebih bahagia, lalu apa arti dari kebersamaan mereka selama ini?

Karena untuk Rachel, laki-laki itu bukan sekedar teman yang pernah mengisi hari-harinya. Ia bukan sekedar orang yang membuat Rachel menjadi lebih pandai dalam segala aspek. Ia bukan hanya orang yang bisa menjadi pendengar dan penyembuh luka dari segala luka yang ada.


Marco lah dunianya.




Jakarta, 13 April 2017
Pertanyaan klasik yang belum terjawab:
Jika tidak pernah bertanya, lalu sekarang apa yang terjadi?


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}